Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XXVII - Ujung Persahabatan
Pukul 18.30, kantor Cipta Prada Land sudah mulai kosong, Sebagian besar karyawan sudah pulang Kembali ke rumah masing-masing. Kirana duduk di ruang rapat kecil di lantai eksekutif, laptop Nadia masih terbuka di depannya, layarnya menampilkan log yang sama sejak siang tadi. Nadia berdiri di dekat jendela, lengannya bersedekap, menunggu Kirana mengucapkan sesuatu sejak setengah jam yang lalu.
"Lu yakin mau ketemu dia sekarang?" Nadia akhirnya bersuara. "Bisa nunggu besok, Kir. Lu masih belum tenang."
"Kalau gua tunggu besok, dia bakal punya waktu buat siapin alasan," Kirana menjawab, matanya masih terpaku ke layar laptop. "Gua mau lihat reaksinya begitu dikasih bukti ini sekarang, bukan reaksi yang udah dia latih, jaga-jaga kalau dia ketahuan."
Nadia mengangguk pelan, meski di wajahnya masih terlihat menyimpan keraguan. "Gua tunggu di ruangan gua. Kalau lu butuh apa-apa, telepon aja."
Kirana mengetik satu pesan singkat ke Dimas begitu Nadia keluar dari ruangan.
Ke kantor gua sekarang. Penting.
Balasan datang dua menit kemudian.
Otw. Ada apa?
Kirana tidak membalas pertanyaan itu. Ia meletakkan ponselnya, menatap layar laptop di depannya, mencoba menyusun kata-kata yang harus ia ucapkan begitu Dimas sampai. Bagian dari dirinya masih berharap ada penjelasan lain, sesuatu yang bisa membuat log itu memiliki arti lain selain yang tampak jelas di layar.
...****************...
Dimas masuk ke ruang rapat pukul 18.45, masih mengenakan kemeja kantor, rambutnya sedikit berantakan seperti baru selesai rapat panjang di tempat lain. Ia berhenti sejenak di ambang pintu begitu melihat wajah Kirana, seolah bisa membaca sesuatu yang salah sebelum Kirana sempat membuka mulut.
"Kir, ada apa?" Dimas bertanya, duduk di kursi seberang meja. "Lu kedengeran serius banget di WA tadi."
Kirana memutar laptop itu menghadap Dimas tanpa berkata apa-apa. Dimas menatap layar itu, matanya bergerak dari satu baris ke baris lain, dan Kirana melihat sesuatu berubah di wajahnya — perubahan kecil yang cuma bisa dikenali orang yang sudah lima tahun mengenalnya.
"Ini log akses Kamis malam," Kirana berkata, suaranya datar. "Akun lu download tiga file rahasia, terus dikirim ke email di luar domain kantor kita dua jam setelahnya. Lu mau jelasin ini apa?"
"Kir, ini bisa dijelasin," Dimas berkata cepat, tapi suaranya terdengar panik, kehilangan ketegasan yang biasanya ia miliki. "Gua emang download file itu buat siapin presentasi —"
"Siapin presentasi jam sebelas malam, dari luar jaringan kantor?" Kirana memotong. "Terus dikirim ke email yang bukan email kerja lu sendiri?"
Dimas terdiam. Untuk pertama kalinya sejak Kirana mengenalnya, ia tidak punya jawaban di ujung lidahnya.
"Gua udah minta Pak Bayu lacak alamat email tujuannya," Kirana melanjutkan, tangannya mengambil selembar kertas dari map di sampingnya, meletakkannya di atas meja. "Domainnya terdaftar atas nama sebuah firma humas. Firma yang sama yang menangani Valerie Anggasetya Wijaya."
Dimas menunduk, tidak lagi menatap mata Kirana.
"Lu kerja sama Valerie," Kirana berkata, bukan pertanyaan lagi. "Sejak kapan, Dim?"
"Tiga bulan," Dimas akhirnya menjawab, suaranya pelan. "Gua ketemu dia pas gala amal awal tahun ini. Dia tau gua deket sama lu, dia tau gua punya akses ke data internal Cipta Prada Land."
"Terus lu setuju gitu aja bocorin data perusahaan gua? Perusahaan yang gua bangun bareng lu, Dim?" Suara Kirana mulai meninggi. "Lu tau apa akibatnya? Satu investor besar udah narik dukungan. Gua telepon puluhan orang seharian buat nenangin mereka, ngejelasin kalau nggak ada masalah apa pun di perusahaan ini."
"Gua nggak pernah ada niat buat ngehancurin lu, Kir," Dimas berkata, akhirnya mengangkat wajahnya. "Valerie cuma minta info soal stabilitas keuangan, katanya buat bahan negosiasi dia sama keluarga Wibowo. Gua kira nggak akan sampe segininya."
"Lu kira?" Kirana hampir tertawa, tapi suaranya justru pecah di tengah jalan. "Lu udah bantu gua bertahun-tahun, Dim. Lu tau persis gimana cara kerja rumor di dunia bisnis, seberapa cepat itu bisa ngehancurin reputasi yang gua bangun susah payah. Lu bukan orang bodoh yang nggak ngerti akibat dari apa yang lu lakuin."
Dimas diam cukup lama sebelum menjawab, tangannya mengepal di atas pahanya. "Ada alasan lain, Kir. Bukan cuma soal Valerie."
"Apa?" Kirana bertanya, suaranya masih tajam, tidak sedikit pun melunak.
"Ayah gua," Dimas berkata pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Tiga puluh tahun lalu, ayah gua punya perusahaan konstruksi kecil. Hartono Wibowo juga ngehancurin dia, cara yang dia pakai sama kayak dia ngehancurin ayah lu. Bikin proyeknya gagal, bikin investor narik dukungan satu per satu, sampe akhirnya bangkrut total. Ayah gua kehilangan semuanya, Kir, terus meninggal karena stroke lima tahun setelahnya. Gua tumbuh dengan denger cerita itu dari ibu gua. Setiap hari, sejak gua kecil."
Kirana menatapnya, sesuatu di dalam dirinya ingin percaya, ingin memahami, tapi kemarahan di dalam dadanya masih terlalu besar untuk memberi ruang bagi simpati saat ini.
"Terus lu pikir, ngehancurin gua bisa balikin apa yang hilang dari keluarga lu?" Kirana bertanya, suaranya kini bergetar. "Gua bukan Hartono, Dim. Gua nggak pernah nyakitin lu atau keluarga lu. Kenapa gua yang harus nanggung akibatnya?"
"Gua tau ini salah, Kir," Dimas menjawab, suaranya bergetar. "Tapi Valerie janji, kalau proyek gabungan ini gagal, gua bisa dapet akses ke dokumen lama yang bisa buktiin kesalahan Hartono ke ayah gua tiga puluh tahun lalu. Gua pengen bukti itu, sampe gua nggak mikirin lu bakal kena imbas sebesar ini. Gua kira gua bisa kontrol ini biar ga nyebar lebih luas."
"Lu nggak bisa kontrol apa pun begitu informasi itu keluar dari tangan lu, Dim," Kirana berkata, suaranya mulai tenang meski matanya masih menyala marah. "Itu prinsip dasar yang lu sendiri yang ajarin ke gua waktu kita mulai bisnis ini dulu. Sekarang lu lupain begitu aja demi dendam lu sendiri?"
"Gua nggak pernah lupa," Dimas menjawab. "Tapi setiap kali gua liat berita soal Hartono, soal Wibowo Group yang makin gede sementara ayah gua meninggal dalam keadaan bangkrut, kepala gua nggak bisa mikir jernih lagi."
"Terus lu pikir Valerie beneran mau bantu lu buktiin itu?" Kirana bertanya, nada suaranya berubah, ada rasa kasihan yang mulai terselip di sana. "Atau dia cuma manfaatin dendam lu buat kepentingan dia sendiri, buat pastiin gua nggak lagi punya tempat di hidup Radit?"
Dimas tidak langsung menjawab. Keraguan di wajahnya menjawab lebih jelas daripada kata-kata apa pun yang bisa ia ucapkan.
"Gua nggak tau lagi, Kir," Dimas akhirnya mengaku. "Awalnya gua pikir ini kerja sama yang saling menguntungkan. Sekarang gua nggak yakin siapa yang sebenarnya lagi manfaatin siapa."
Ruangan itu hening beberapa detik. Kirana menutup laptop di depannya.
"Gua ngerti lu punya luka, Dim," Kirana berkata akhirnya, suaranya lebih tenang meski masih menahan amarah. "Gua juga punya luka yang sama, Dim. Soal ayah gua yang dihancurin sama orang yang nggak bertanggung jawab. Tapi gua nggak pernah mikir buat balas dendam dengan cara ngorbanin orang lain yang nggak bersalah."
"Gua tau ini nggak bisa dimaafin," Dimas berkata, suaranya nyaris pecah. "Tapi gua nggak pernah niat nyakitin lu, Kir. Gua Cuma… gua cuma kehilangan kendali."
"Penjelasan nggak bisa ngubah apa pun," Kirana menjawab tegas. "Lu tetep milih diem-diem kasih informasi internal ke orang yang jelas-jelas mau ngehancurin gua. Berapa kali lu duduk di ruangan ini, di depan gua, sementara di dalam diri lu, lu tau udah bocorin data yang bikin gua jatuh?"
Dimas tidak menjawab. Ia menatap meja di antara mereka, jarinya bergerak gelisah di atas pahanya.
"Mulai hari ini, kerja sama bisnis kita di proyek gabungan gua batalin," Kirana melanjutkan, tidak membiarkan Dimas menyela. "Gua bakal kirim surat resmi soal itu besok pagi, dan tim legal gua yang bakal urus semua konsekuensinya. Saham lu di proyek pesisir bakal gua *buyback* sesuai kesepakatan awal."
"Kir, tolong —" Dimas mencoba bicara, tapi Kirana mengangkat telapak tangannya, meminta Dimas untuk berhenti.
"Dan kita, kita berhenti temenan, Dim," Kirana berkata, suaranya nyaris berbisik. "Gua nggak bisa lagi percaya sama lu kayak dulu. Lima tahun persahabatan kita rusak karena lu pilih bohongin gua demi dendam lu sendiri."
Dimas menatapnya lama, matanya basah tapi ia tidak membiarkan air matanya jatuh. Ia berdiri dari kursinya, mengambil tasnya dari lantai dengan gerakan pelan, seolah masih berharap Kirana akan menahannya dan memberinya satu kesempatan lagi.
Tapi Kirana tidak melakukannya.
"Kalau lu berubah pikiran," Dimas berkata, berhenti sejenak di depan pintu, "gua tetep di sini, Kir. Gua tau gua udah ngerusak semuanya, tapi apa yang gua bilang soal ayah gua itu nggak bohong."
Kirana tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung Dimas yang mulai bergerak menjauh dari mejanya, menunggu kalimat terakhir yang mungkin akan Dimas ucapkan sebelum benar-benar pergi.
Dimas berhenti sekali lagi, tangannya di gagang pintu, tidak menoleh ke belakang.
"Gua ngelakuin ini bukan untuk nyakitin lu, Kirana. Tapi keluarga gua juga berhak atas keadilan itu — ayah gua juga korban Hartono."
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
para musuh 💪💪