Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Di Tengah Luka.
Sepulang dari pemakaman Appa Eun Dam, kami kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Eomoni yang masih terbaring tak sadarkan diri.
Tatapan mata indah Eun Dam yang biasanya hangat kini seolah menghilang. Kilau yang selalu ada di sana telah padam, berganti dengan sorot mata kosong yang menyimpan begitu banyak luka dan keputusasaan.
Aku menatapnya penuh rasa iba, lalu mengulurkan tangan dan menyentuh pundaknya dengan lembut.
"Eomoni pasti akan sadar," ucapku pelan, berusaha memberinya sedikit harapan.
Eun Dam hanya mengangguk pelan.
Beberapa saat kemudian, ia menoleh ke arahku.
"Seolhwa... ini sudah malam. Sebaiknya kamu pulang bersama Hwi Sol Hyung. Besok kalian juga harus bekerja, bukan?" -katanya sambil tersenyum pahit.
"Aku ingin menemanimu di sini," sahutku tanpa ragu.
Namun, Eun Dam kembali menggeleng. Tatapannya menatapku lekat-lekat, seolah sedang berusaha meyakinkanku.
"Seolhwa, aku tidak ingin kamu kelelahan karena menemaniku. Kamu juga harus bekerja dan beristirahat. Aku tidak ingin kamu jatuh sakit. Tolong dengarkan aku, ya."
Aku terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Hwi Sol Oppa yang berdiri di sampingku.
"Benar kata Eun Dam," ujar Hwi Sol Oppa dengan suara tenang. "Malam ini kamu pulang dan beristirahat. Besok pergilah bekerja seperti biasa. Setelah pulang kerja, kamu juga bisa datang ke sini lagi."
Mendengar itu, aku akhirnya mengangguk pelan.
Kami pun berpamitan kepada Eun Dam.
Sejujurnya, aku tidak ingin meninggalkannya sendirian dalam keadaan seperti ini. Terlebih lagi, aku tahu betapa berat duka yang sedang ia rasakan. Dalam waktu yang begitu singkat, ia kehilangan ayahnya dan harus menghadapi kenyataan bahwa ibunya masih terbaring koma di ruang perawatan.
Saat melangkah meninggalkan lorong rumah sakit, hatiku terasa sesak. Bayangan wajah Eun Dam yang duduk seorang diri di samping ranjang Eommanya terus terlintas di benakku.
Eun Dam kembali memasuki ruang perawatan Eommanya.
Langkahnya pelan. Begitu masuk, pandangannya langsung tertuju pada sosok wanita paruh baya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Berbagai alat medis terpasang di tubuh sang ibu, sementara suara mesin monitor terdengar berirama memenuhi ruangan yang sunyi.
Perlahan, Eun Dam mendekat.
Dengan hati-hati, ia menggenggam tangan Eomoninya yang terasa dingin.
"Eomma..." suaranya bergetar. "Aku mohon, sadarlah..."
Kepalanya tertunduk. Air mata yang selama ini berusaha ia tahan akhirnya jatuh membasahi punggung tangan sang ibu.
"Aku tidak bisa hidup tanpa Eomma. Appa sudah pergi meninggalkanku, dan aku tidak ingin mengalami kehilangan untuk kedua kalinya."
Tangisnya pecah.
Di dalam ruangan yang hanya dihuni dirinya dan sang ibu, isak tangis itu terdengar begitu pilu, seolah membawa seluruh kesedihan yang selama ini ia pendam seorang diri.
Hari demi hari berlalu.
Satu bulan.
Dua bulan.
Tiga bulan.
Hingga enam bulan telah berlalu.
Namun, keadaan Eommanya masih tetap sama.
Tak ada perubahan berarti.
Tak ada tanda-tanda bahwa wanita itu akan membuka mata dan kembali memanggil namanya.
Meski begitu, Eun Dam tidak pernah menyerah.
Ia tetap datang ke rumah sakit sesibuk apa pun harinya. Ia tetap berbicara pada Eommanya, menceritakan hal-hal yang terjadi dalam hidupnya, seolah sang ibu dapat mendengarnya.
Perlahan, ia juga berusaha bangkit dari keterpurukan.
Ia mulai fokus mengembangkan bisnis barunya di Seoul, sekaligus mengurus usaha perkebunan strawberry peninggalan orang tuanya di Daegu.
Syukurlah, semua berjalan jauh lebih baik dari yang pernah ia bayangkan.
Bisnisnya berkembang pesat, dan kehidupan yang sempat hancur perlahan kembali tertata.
Meski demikian, ada satu hal yang belum berubah.
Setiap malam sebelum tidur dan setiap kali mengunjungi rumah sakit, ia selalu memanjatkan harapan yang sama.
Semoga suatu hari nanti keajaiban datang.
Semoga Eomoninya membuka mata dan kembali tersenyum kepadanya.
***
"Wah! Ternyata pria tampan juga punya kekurangan, ya."
Aku menahan tawa saat melihat Eun Dam yang sedang berjuang memotong bawang bombay di dapur. Bentuk potongannya sama sekali tidak beraturan. Beberapa terlalu tebal, sementara yang lain tampak miring ke segala arah.
Mendengar ucapanku, Eun Dam menoleh.
Ia langsung memanyunkan bibirnya, seolah sedang merajuk karena diejek.
Melihat ekspresinya yang tidak sesuai dengan wajah tampannya, aku hanya bisa terkekeh geli.
Ya, hari ini aku dan Eun Dam sedang memasak bersama di apartemennya.
Entah apa yang merasukinya, tetapi ide memasak bersama ini murni berasal darinya. Aku hanya mengikuti keinginannya.
Setelah hampir satu jam berkutat di dapur, dua porsi bulgogi akhirnya selesai dimasak dan tersaji rapi di atas meja makan.
"Kita berhasil," gumamku sambil tersenyum puas.
Eun Dam mengangguk bangga, seolah seluruh proses memasak tadi adalah pencapaian besar dalam hidupnya.
Kami pun mulai menyantap makanan masing-masing.
Suasana terasa hangat dan nyaman. Untuk sesaat, aku hampir lupa pada segala kesedihan yang pernah kami lalui.
Namun tiba-tiba...
Brak!
Eun Dam memukul meja cukup keras hingga aku refleks mengangkat kepala.
"Seolhwa!" serunya sambil menatapku dengan mata membulat.
Aku langsung terkejut.
"A-apa?" tanyaku gugup.
"Enak sekali!!!"
Ia menunjuk bulgogi di piringnya sebelum kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut dengan lahap.
Aku mengembuskan napas lega.
Astaga. Kukira terjadi sesuatu.
"Aku tidak salah memilih calon istri," lanjutnya santai. "Hehe."
Lalu ia tersenyum lebar kepadaku.
Seketika jantungku berdetak lebih cepat.
Wajahku terasa panas.
"Huft... kau mengagetkanku saja," gerutuku sambil memegangi dada.
Eun Dam malah tertawa kecil melihat reaksiku.
"Aku serius, lho."
Tatapannya yang hangat membuatku semakin salah tingkah.
Aku buru-buru menundukkan kepala dan kembali fokus pada makanan di piringku, berusaha menyembunyikan senyum yang tanpa sadar mulai merekah di bibirku.
Benar-benar pria yang berbahaya.
Dengan satu kalimat sederhana saja, ia bisa membuat jantungku berdebar tidak karuan.
Setelah selesai makan, kami membereskan meja bersama. Suasana yang tadinya hangat dan penuh tawa perlahan berubah menjadi lebih tenang.
Saat aku kembali duduk di sofa, Eun Dam tiba-tiba menatapku dengan serius.
Berbeda dari sebelumnya.
Tak ada senyum jahil ataupun candaan yang biasa menghiasi wajahnya.
"Seolhwa, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu," ucapnya pelan.
"Apa itu?" tanyaku.
Eun Dam menggeser tubuhnya lebih dekat. Kemudian, ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
Sentuhan hangat itu membuatku sedikit gugup.
"Apa kamu sungguh-sungguh mencintaiku?" tanyanya.
Tatapannya lurus menembus mataku, seolah sedang mencari jawaban yang benar-benar berasal dari hatiku.
Aku mengangguk pelan.
"Tentu. Aku sangat mencintaimu, Eun Dam."
Mendengar jawabanku, ia menundukkan kepala sejenak sebelum kembali menatapku.
"Kamu berjanji tidak akan meninggalkanku, kan?" suaranya terdengar lebih lirih dari sebelumnya. "Aku benci kehilangan. Aku tidak ingin merasakan hal itu lagi."
Dadaku terasa sesak.
Aku tahu alasan di balik pertanyaan itu.
Kehilangan Appa dan kondisi Eomoninya yang belum juga sadar telah meninggalkan luka yang begitu dalam di hatinya.
Aku menggenggam balik tangannya.
"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu," kataku tulus. "Aku berjanji."
"Apapun yang terjadi?" tanyanya lagi.
Aku terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Aku akan meninggalkanmu hanya jika ada perempuan lain di hubungan kita atau jika kamu melakukan kekerasan kepadaku. Hanya dua hal itu."
Aku menarik napas pelan.
"Selain itu, aku akan tetap berada di sisimu."
Mata Eun Dam tampak sedikit berkaca-kaca.
"Aku tidak akan pernah melakukan hal itu padamu, Seolhwa."
Nada suaranya terdengar mantap, tanpa sedikit pun keraguan.
"Kamu tahu?" lanjutnya. "Kehadiranmu dalam hidupku sangat berarti."
Ia mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya.
"Setelah semua yang terjadi, kamu menjadi alasan yang membuatku terus melangkah maju."
Aku terdiam, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibirnya.
"Aku tidak ingin menggantikanmu dengan perempuan mana pun," katanya pelan. "Dan aku juga tidak ingin kehilanganmu."
Untuk beberapa saat, tak ada lagi yang kami ucapkan.
Kami hanya saling menatap dalam diam.
Namun kali ini, diam itu tidak terasa canggung.
Diam itu dipenuhi oleh perasaan yang sama.
Perasaan bahwa kami telah menemukan seseorang yang ingin kami pertahankan, apa pun yang terjadi.
Di sisi lain...
"Semoga Seolhwa menyukai hadiah ini," gumam Hwi Sol pelan.
Senyum tipis terukir di bibirnya saat ia berjalan menuju mobil dengan sebuah kotak hadiah di tangannya.
Baru saja ia pulang dari pusat perbelanjaan setelah menghabiskan waktu cukup lama memilih hadiah ulang tahun untuk Seolhwa yang akan tiba tiga hari lagi.
Padahal, ia bisa saja meminta asistennya membeli apa pun yang ia inginkan.
Namun, untuk hadiah yang satu ini, Hwi Sol ingin memilihnya sendiri.
Ia ingin memastikan bahwa hadiah tersebut benar-benar cocok untuk Seolhwa.
Sesampainya di apartemen, Hwi Sol meletakkan kotak itu dengan hati-hati di atas meja kerja.
Pandangannya tertuju beberapa saat pada hadiah tersebut.
Entah mengapa, hanya membayangkan ekspresi Seolhwa saat membukanya sudah cukup membuat sudut bibirnya terangkat.
Setelah itu, ia mengambil selembar kertas dan sebuah pena.
Dengan ekspresi serius, ia mulai menulis sesuatu.
Sesekali ia berhenti, menghapus beberapa kata, lalu menuliskannya kembali.
Pria yang biasanya begitu tegas dalam mengambil keputusan bisnis itu justru tampak kesulitan ketika harus merangkai kalimat sederhana untuk seseorang yang berarti baginya.
Beberapa menit kemudian, surat itu akhirnya selesai.
Hwi Sol membaca ulang setiap kalimat yang telah ia tulis sebelum memasukkannya ke dalam amplop berwarna putih.
Setelahnya, ia mulai membungkus hadiah itu sendiri.
Tangannya memang tidak terlalu terampil dalam urusan seperti ini. Beberapa kali pita yang dipasangnya terlihat miring dan harus diperbaiki kembali.
Meski begitu, ia tetap melakukannya dengan sabar.
Baginya, hadiah itu bukan sekadar sebuah benda.
Hadiah itu adalah bentuk perhatian yang ingin ia sampaikan kepada Seolhwa.
Ketika semuanya selesai, Hwi Sol menatap kotak yang kini telah terbungkus rapi.
Senyum kecil kembali menghiasi wajahnya.
"Tinggal tiga hari lagi."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mendapati dirinya menantikan sebuah hari dengan begitu antusias.
Namun, keheningan sore itu tiba-tiba terusik oleh dering ponselnya.
Hwi Sol melirik layar ponsel yang berada di atas meja. Setelah melihat nama yang tertera, ia segera mengangkat panggilan tersebut.
"Aku sudah di depan rumahmu," ujar seseorang dari seberang telepon.
Hwi Sol terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Baiklah. Aku akan keluar."
Panggilan itu pun berakhir.
Senyum tipis yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar, berganti dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Dengan hati-hati, ia menyimpan hadiah dan surat yang telah ditulisnya ke dalam laci meja kerjanya.
Setelah memastikan semuanya tersimpan rapi, ia mengambil jaket yang tergantung di dekat pintu.
Langkahnya terdengar pelan saat berjalan menuju pintu keluar rumah.
Beberapa saat kemudian, pintu rumahnya terbuka.
Hwi Sol keluar dari rumah dan mendapati sebuah mobil hitam telah terparkir di depan.
Seseorang tampak berdiri di samping mobil itu, seolah telah menunggunya sejak beberapa waktu lalu.