NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 – Pesanan Pertama

Pagi itu, suasana di rumah Arga berbeda dari biasanya.

Bahkan sebelum matahari terbit, lampu dapur sudah menyala terang.

Ibunya dan Bu Rina sibuk menyiapkan bahan.

Ayahnya membantu mengangkat beberapa keranjang pisang dari gudang kecil di belakang rumah.

Sementara Arga berdiri di depan meja makan sambil memeriksa catatan yang dibuatnya semalam.

Hari ini adalah hari yang penting.

Pesanan pertama mereka.

Delapan puluh gorengan untuk acara pertemuan warga.

Jumlah itu memang tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan usaha katering profesional.

Namun bagi warung kecil mereka, ini adalah langkah yang sangat berarti.

Untuk pertama kalinya, mereka menerima pesanan dalam jumlah besar dari luar.

Bukan pelanggan yang datang membeli satu atau dua gorengan.

Melainkan sebuah kelompok yang mempercayakan konsumsi acara kepada mereka.

Dan Arga tahu satu hal.

Kalau pesanan pertama gagal, akan sulit mendapatkan pesanan kedua.

"Semua bahan sudah siap."

Suara Bu Rina membuyarkan pikirannya.

Arga mengangguk.

"Baik."

Ibunya meliriknya.

"Kamu kelihatan tegang."

"Aku hanya ingin semuanya berjalan lancar."

Sari tersenyum kecil.

"Kamu seperti orang yang mau ujian."

Arga ikut tersenyum.

Kalau dipikir-pikir, memang tidak jauh berbeda.

Karena hari ini akan menjadi ujian pertama bagi usaha mereka.

Produksi dimulai lebih awal dari biasanya.

Wajan besar yang digunakan untuk menggoreng tidak pernah benar-benar kosong.

Begitu satu kelompok gorengan selesai ditiriskan, kelompok berikutnya langsung masuk ke minyak panas.

Dapur menjadi jauh lebih sibuk dibanding hari-hari biasa.

Namun berkat bantuan Bu Rina, semuanya masih terkendali.

Arga sesekali membantu membungkus hasil gorengan yang sudah matang.

Sambil bekerja, ia terus memperhatikan alur kerja mereka.

Berapa lama proses mengupas.

Berapa lama menggoreng.

Berapa lama membungkus.

Semua dicatat dalam pikirannya.

Di kehidupan sebelumnya, ia pernah melihat banyak usaha kecil gagal berkembang karena pemiliknya hanya bekerja tanpa memperhatikan proses.

Ketika pelanggan bertambah, kekacauan mulai muncul.

Dan bisnis akhirnya berhenti berkembang.

Ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.

Menjelang pukul delapan pagi, seluruh pesanan akhirnya selesai.

Delapan puluh gorengan tersusun rapi dalam beberapa kotak.

Semua tampak sempurna.

Ayahnya menghela napas lega.

"Syukurlah."

Bu Rina tersenyum.

"Selesai juga."

Namun Arga belum merasa lega.

Karena pekerjaan mereka belum benar-benar selesai.

Masih ada satu tahap lagi.

Pengiriman.

Di sinilah masalah pertama muncul.

Kotak-kotak gorengan ternyata lebih besar dari perkiraan.

Motor tua milik ayahnya tidak cukup praktis untuk membawa semuanya sekaligus.

Mereka akhirnya harus menyusun ulang kemasan agar lebih mudah dibawa.

Proses itu memakan waktu hampir dua puluh menit.

Untungnya acara belum dimulai.

Kalau tidak, mereka bisa terlambat.

Saat akhirnya pesanan berhasil dikirim, Arga baru bisa bernapas lega.

Namun perasaan lega itu tidak bertahan lama.

Siang harinya, Bu Rina kembali dari lokasi acara.

Ekspresinya tidak sepenuhnya ceria.

Arga langsung menyadarinya.

"Ada masalah?"

Bu Rina tampak ragu.

"Masalah besar sih tidak."

"Tapi?"

"Salah satu ibu bilang gorengannya enak."

"Itu bagus."

"Iya."

"Lalu?"

Bu Rina menghela napas.

"Katanya waktu acara dimulai, beberapa gorengan sudah tidak terlalu renyah."

Arga terdiam.

Ayahnya yang sedang menyusun stok langsung menoleh.

"Hanya itu?"

Menurut ayahnya mungkin itu masalah kecil.

Namun bagi Arga tidak.

Karena keluhan kecil sering kali menjadi tanda adanya masalah yang lebih besar.

"Berapa banyak yang mengeluh?"

"Hanya beberapa orang."

Arga mengangguk pelan.

Keluhannya memang sedikit.

Tetapi ia tidak mengabaikannya.

Malam itu, ia kembali membuka buku catatan.

Di halaman baru ia menulis:

Masalah Baru: Kualitas Saat Pengiriman.

Ia memandang tulisan tersebut cukup lama.

Gorengan yang baru matang memang renyah.

Tetapi setelah disimpan dalam kotak selama beberapa waktu, uap panas membuat teksturnya berubah.

Masalah itu tidak terlihat saat dijual langsung di warung.

Namun menjadi penting ketika mereka menerima pesanan acara.

Arga mulai berpikir.

Kalau mereka ingin berkembang, kualitas harus konsisten.

Pelanggan tidak peduli seberapa keras mereka bekerja.

Pelanggan hanya peduli pada hasil akhir yang diterima.

Keesokan harinya, Arga mencoba beberapa percobaan sederhana.

Ia membungkus gorengan dengan cara berbeda.

Menggunakan lapisan kertas tambahan.

Membuat lubang kecil pada kemasan.

Membandingkan hasilnya setelah satu jam.

Ibunya memperhatikannya dengan heran.

"Kamu sedang apa?"

"Belajar."

"Belajar membungkus gorengan?"

"Kalau tidak belajar sekarang, nanti kita bayar mahal karena kesalahan."

Ibunya tertawa kecil.

Kadang-kadang cara berpikir Arga memang sulit dipahami.

Namun sejauh ini hasilnya selalu membantu usaha mereka.

Dua hari kemudian, kabar baik datang.

Bu Sulastri kembali menghubungi Bu Rina.

Pertemuan warga minggu lalu berjalan lancar.

Dan sebagian peserta menyukai gorengan mereka.

Minggu depan akan ada acara lain.

Kali ini pesanan yang diminta mencapai seratus dua puluh buah.

Mendengar angka itu, ayah Arga langsung tersenyum lebar.

"Itu kabar bagus."

Bu Rina juga terlihat senang.

Namun Arga justru terdiam.

Seratus dua puluh buah.

Lebih besar lima puluh persen dibanding pesanan sebelumnya.

Kalau mereka langsung menerimanya tanpa perhitungan, masalah lama bisa terulang.

Ibunya bisa kembali kelelahan.

Produksi bisa kacau.

Kualitas bisa turun.

Malam itu mereka mengadakan diskusi keluarga.

Ayahnya ingin langsung menerima pesanan tersebut.

Menurutnya kesempatan seperti itu tidak boleh dilewatkan.

Namun Arga memiliki pendapat berbeda.

"Kita harus menghitung dulu."

"Menghitung apa lagi?" tanya ayahnya.

"Kemampuan kita."

Ayahnya mengerutkan dahi.

"Kalau ada pembeli, ya dijual."

"Tidak sesederhana itu."

Arga mengambil buku catatannya.

Kemudian menunjukkan data produksi beberapa minggu terakhir.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Berapa banyak tenaga yang tersedia.

Berapa kapasitas dapur mereka.

Ayahnya mulai memperhatikan dengan serius.

"Kita bisa menerima pesanan ini."

"Lalu?"

"Tapi kita harus mengubah jadwal kerja."

"Kenapa?"

"Karena kalau tidak, kualitasnya akan turun."

Ruangan menjadi hening.

Akhirnya ayahnya mengangguk.

Ia mulai memahami maksud Arga.

Ini bukan soal bekerja lebih keras.

Melainkan bekerja lebih teratur.

Malam semakin larut.

Setelah semua orang tidur, Arga kembali duduk sendirian di depan warung.

Angin malam bertiup pelan.

Di kejauhan terdengar suara kendaraan yang sesekali melintas.

Ia membuka buku catatannya sekali lagi.

Kini daftar masalah yang ditulisnya semakin panjang.

Arus kas.

Produksi.

Kualitas.

Utang keluarga.

Semua saling berkaitan.

Namun anehnya, Arga tidak merasa takut.

Justru sebaliknya.

Karena untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sedang membangun sesuatu.

Bukan sekadar bertahan hidup seperti di kehidupan sebelumnya.

Melainkan menciptakan masa depan yang berbeda.

Saat hendak menutup buku catatan, ia tiba-tiba teringat sesuatu.

Sebuah ingatan lama.

Sangat lama.

Tentang proyek pembangunan jalan yang pernah dilakukan di daerah mereka.

Ingatan itu masih samar.

Namun ia yakin kejadian tersebut terjadi tidak lama setelah periode ini.

Dalam kehidupan sebelumnya, proyek itu membuat banyak pedagang kecil kehilangan pelanggan selama berbulan-bulan.

Saat itu keluarganya sudah berada dalam kondisi sulit.

Dan dampaknya menjadi sangat besar.

Arga memejamkan mata.

Mencoba mengingat lebih banyak.

Tetapi potongan ingatan itu masih kabur.

Ia hanya ingat satu hal.

Ketika proyek tersebut dimulai, banyak usaha kecil tidak siap menghadapinya.

Dan sebagian tidak pernah pulih lagi.

Perlahan Arga menatap warung kecil milik keluarganya.

Warung yang kini mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan baru.

Warung yang sedang berjuang bangkit dari keterpurukan.

Kalau ingatannya benar, ujian yang sesungguhnya mungkin belum datang.

Dan ketika hari itu tiba, ia harus memastikan keluarganya jauh lebih siap dibanding kehidupan sebelumnya.

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!