Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Kebohongan
Dara, yang telah sejak awal melonggarkan borgolnya dengan kunci yang berhasil ia curi dari seorang sipir korup sebelum keberangkatan, tidak membuang waktu. Ia tidak peduli pada kepalanya yang berdarah akibat benturan. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia menendang pintu mobil yang sudah penyok hingga terbuka.
Dua petugas yang terluka di dalam mobil mencoba meraih lengannya, namun Dara dengan brutal menghantamkan kepalanya ke wajah salah satu petugas, lalu mengambil pistol yang terjatuh di lantai mobil. Tanpa ragu, ia melepaskan tembakan peringatan ke arah udara, membuat petugas lainnya mundur ketakutan.
"Jangan ikuti aku, atau kalian semua akan mati!" teriak Dara di tengah gemuruh guntur. Ia melompat keluar, berlari menembus tirai hujan yang deras, menghilang ke dalam kegelapan lorong-lorong pemukiman kumuh di bawah jembatan.
Sementara itu, di sebuah penthouse mewah yang tenang, Oliver Jones sedang meninjau laporan kerusakan fasilitasnya. Anjani duduk di sampingnya, berusaha menyesap teh yang masih terasa hambar di lidahnya. Ketenangan mereka pecah saat telepon satelit Oliver berdering nyaring.
Wajah Oliver berubah menjadi kaku saat ia mendengar laporan dari kepolisian. Ia menutup telepon, lalu menatap Anjani dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Dara melarikan diri," ucap Oliver singkat.
Anjani terlonjak, cangkir teh di tangannya retak karena remasan tangannya.
"Bagaimana bisa? Dia baru saja dibawa menuju penjara!"
"Ada sabotase dalam pengawalan. Dia kini buronan nomor satu," Oliver bangkit berdiri, auranya berubah menjadi intimidasi murni.
"Anjani, ini berubah menjadi perburuan. Aku akan mengerahkan seluruh tim keamanan Jones Group. Kau tidak akan pergi ke mana-mana sendirian mulai sekarang."
****
Di balik persembunyiannya di sebuah gudang tua yang berbau karat dan air comberan, Dara tertawa. Tawanya sumbang, pecah, dan mengerikan. Ia telah kehilangan segalanya—harta, nama baik, bahkan kewarasannya. Ia tidak lagi peduli pada Malik yang kini membusuk di sel yang berbeda, ataupun Bu Anne yang kini sudah tak punya daya.
Dara mengambil ponsel burner yang ia simpan dengan rapat di balik pakaiannya yang basah. Ia mengetik sebuah pesan singkat kepada kaki tangannya yang tersisa: “Persiapkan semuanya. Kita tidak akan lagi menyerang gedung. Kita akan langsung menyerang hatinya.”
Dara menatap bayangan dirinya di genangan air kotor. Wajahnya pucat, rambutnya awut-awutan, namun senyumnya penuh dengan sumpah serapah. "Anjani, kau ingin keadilan? Kau ingin kehormatan? Akan kubuktikan bahwa di dunia ini, kejahatan adalah satu-satunya hal yang nyata."
Ia mulai menyusun rencana yang jauh lebih biadab dari sebelumnya. Ia tidak ingin lagi membunuh Anjani dengan ledakan yang bisa dihindari. Ia ingin menghancurkan Anjani secara psikologis, mengambil apa yang paling berharga darinya—bukan harta, melainkan masa depannya bersama Oliver.
****
Dara tahu bahwa Oliver Jones melindungi Anjani dengan cara yang obsesif dan protektif. Itulah titik lemahnya. Jika ia bisa memfitnah Anjani dengan sesuatu yang begitu kotor sehingga bahkan Oliver yang berkuasa itu pun akan merasa jijik, maka Anjani akan kehilangan satu-satunya perlindungan yang ia miliki.
"Kau akan merangkak di kakiku, Anjani," bisik Dara sambil mengasah pisau lipat yang ia temukan di gudang. "Dan kau, Oliver, kau akan menyesal karena telah ikut campur dalam permainan ini."
Kembali ke rumah Anjani, keamanan telah diperketat hingga ke tingkat yang tidak masuk akal. Namun, Anjani tidak merasa aman. Setiap kali angin bertiup kencang menabrak jendela, ia teringat suara ledakan tempo hari. Ia berdiri di balkon, menatap lampu kota Jakarta yang gemerlap, namun pikirannya tertuju pada satu nama: Dara.
"Dia tidak akan berhenti," ucap Anjani pada dirinya sendiri.
"Tidak akan," jawab Oliver yang tiba-tiba berdiri di belakangnya, memakaikan jas tebal ke bahu Anjani. "Dan aku tidak akan membiarkannya. Aku telah menempatkan sistem pelacak di seluruh kota. Setiap gerakannya, setiap transaksi yang dia lakukan, akan terpantau. Dia pikir dia bebas, padahal dia hanya masuk ke dalam jaring yang lebih besar."
"Aku takut, Oliver," Anjani menyandarkan kepalanya di dada Oliver. "Bukan karena kematian, tapi karena kebencian yang dia miliki bisa membuat dia melakukan sesuatu yang tak terbayangkan."
Oliver memeluk Anjani erat, matanya menatap tajam ke arah kegelapan malam. "Biarkan dia datang. Kita akan menyambutnya dengan cara yang paling tidak dia duga. Ini bukan lagi soal menunggu dia menyerang. Kita akan memburunya sampai ke lubang terdalam."
****
Di suatu tempat di balik bayang-bayang kota, Dara mengamati gedung tempat Anjani berada melalui teropong jarak jauh. Ia melihat kemesraan mereka berdua, dan hatinya terasa terbakar lebih panas dari api apa pun.
"Nikmati malam-malam terakhir kalian," desis Dara.
Dara telah memanggil seorang ahli peretas yang pernah bekerja untuk perusahaan Malik dulu. Ia meminta sesuatu yang bisa meretas jaringan komunikasi paling aman milik Jones Group. Jika ia bisa masuk ke dalam data pribadi Oliver, ia bisa memanipulasi informasi yang akan membuat Oliver mengira bahwa Anjani sebenarnya adalah mata-mata yang selama ini bekerja untuk menghancurkan perusahaan Jones dari dalam.
Rencana Dara kali ini bukan tentang bom, melainkan tentang penghancuran reputasi dan kepercayaan. Sebuah permainan pikiran yang akan menguji seberapa dalam cinta Oliver terhadap Anjani ketika kebenaran—atau setidaknya kebenaran yang dipalsukan—berada di depan mata.
Malam semakin larut, namun tidak ada yang bisa tidur. Anjani dan Oliver bersiap untuk perang yang akan datang, sementara Dara merayap di kegelapan, bersiap untuk memberikan hantaman yang akan menguji batas kewarasan mereka semua.
****
Di dalam ruang kerja pribadinya yang sunyi, Oliver Jones terdiam. Cahaya monitor menyinari wajahnya yang pucat, menyoroti deretan dokumen digital yang baru saja ia terima dari sumber anonim—sebuah flash drive yang ditinggalkan di meja resepsionis dengan pesan misterius.
Dokumen itu sangat meyakinkan. Rekaman percakapan yang dimanipulasi, surat perjanjian kerja sama fiktif antara Anjani dan kompetitor utama Jones Group, hingga foto-foto Anjani yang diedit sedemikian rupa seolah-olah ia sedang memberikan data rahasia kepada musuh Oliver. Jika orang biasa yang membacanya, mungkin sudah akan murka. Namun, Oliver bukan orang biasa.
Ia menyipitkan mata, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang melambat. Ia tidak langsung marah, ia tidak melempar meja atau berteriak. Ia membuka file metadata dari rekaman suara tersebut. Sedikit saja ketidakteraturan dalam gelombang suara, sedikit saja celah dalam pola bicaranya, Oliver bisa mendeteksi bahwa ini adalah karya seseorang yang sangat terobsesi untuk memisahkan dirinya dari Anjani.
"Dara," gumam Oliver pelan. Ia tersenyum sinis. "Kau menggunakan teknik yang sama lagi, tapi kali ini kau mencoba menyentuh kepercayaan, bukan hanya fisik. Sayangnya, kau lupa satu hal: Aku adalah orang yang membangun sistem ini. Aku tahu persis bagaimana suara Anjani terdengar saat dia berbohong, dan rekaman ini? Ini terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan."