"Mama akan menikah."
Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.
"Aku tidak setuju, Ma..."
Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.
"Mama berhak bahagia, Amerta."
Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.
Amerta Bunga Adiguna.
Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.
Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Mahesa Putra Dirgantara.
Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 5
Minggu-minggu pertama perkuliahan berjalan dengan ritme yang cepat dan melelahkan bagi Amerta. Sebagai mahasiswa baru di Jurusan Manajemen Bisnis Universitas Indonesia, hari-harinya kini dipenuhi dengan tumpukan jurnal, diskusi kelompok yang menguras energi, dan presentasi kasus yang tiada habisnya. Mengenakan jas almamater kuning makara yang pas di tubuhnya, Amerta perlahan mulai terbiasa dengan dinamika kampus yang kompetitif.
Namun, kedamaian yang coba ia bangun di kampus tidak sepenuhnya mulus. Rian, senior dari Komisi Disiplin yang sempat menegurnya di hari pertama, entah mengapa selalu menemukan cara untuk mengusik ketenangannya. Laki-laki itu sering kali sengaja berpapasan dengannya di koridor fakultas, memberikan tatapan mengintimidasi yang membuat Amerta merasa tidak nyaman.
Ada aura obsesif yang ganjil dari cara Rian memperhatikannya, seolah senior itu sedang mengincar mangsa yang belum menyerah sepenuhnya pada otoritasnya.
"Kamu terlalu sering melamun di kelas, Amerta," sebuah suara menyentak Amerta dari lamunannya suatu sore di perpustakaan fakultas.
Amerta mendongak, mendapati Rian sudah berdiri di dekat mejanya, membawa beberapa map dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Ah, maaf, Kak. Saya sedang fokus membaca materi," jawab Amerta formal, bersiap merapikan buku-bukunya ke dalam ransel untuk segera pergi.
"Jangan terburu-buru. Aku perhatikan kamu selalu dijemput oleh mobil mewah yang berbeda setiap minggu setelah gerbang sepi," bisik Rian, mencondongkan tubuhnya ke meja Amerta dengan nada merendahkan yang terselubung. "Mahasiswa baru jalur prestasi seperti kamu... ternyata punya cara sendiri untuk membiayai gaya hidup di kampus ini, ya?"
Tangan Amerta bergetar menahan amarah yang mendadak membubung. Kalimat sindiran itu begitu merendahkan harga dirinya. Ia teringat ucapan Mahesa tentang menggunakan namanya jika ada yang mengganggu, namun ego Amerta menolak untuk terlihat lemah dan bergantung pada laki-laki sedingin es itu.
"Jaga ucapan Kakak. Kehidupan pribadi saya bukan urusan Kakak," desis Amerta tajam. Ia menyampirkan ranselnya dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Rian yang menatap punggungnya dengan rahang mengeras.
Malam harinya, badai sisa musim hujan kembali mengguyur ibu kota dengan intensitas yang lebih pekat. Di dalam kamarnya yang bernuansa pastel lembut, Amerta tidak bisa memusatkan perhatiannya pada layar laptop. Kata-kata kasar Rian sore tadi terus berputar di kepalanya, memicu rasa sesak yang membuatnya sulit bernapas. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun matanya sama sekali tidak mau terpejam. Rumah mewah itu terasa begitu sunyi, menyerap seluruh emosi negatif yang sedang ia rasakan.
Cklek...
Suara halus dari gagang pintu kamarnya yang bergerak turun seketika membuat seluruh bulu kuduk Amerta berdiri. Jantungnya berdegup gila-gilaan. Ia yakin telah mengunci pintu itu sebelum tidur. Namun, pintu kayu jati yang kokoh itu perlahan terbuka, menampakkan sebuah siluet tinggi besar yang sangat familier di ambang pintu yang remang-remang.
Itu Mahesa.
Laki-laki itu melangkah masuk dengan sangat tenang, hampir tanpa suara. Kemeja hitamnya yang mahal tampak tidak kancing tiga teratas, menampakkan tulang selangka dan dada bidangnya yang kokoh. Jasnya sudah entah ke mana. Bau alkohol yang pekat bercampur dengan aroma parfum maskulin sandalwood yang tajam langsung menyeruak, memenuhi kamar Amerta yang biasanya beraroma vanila lembut.
Amerta refleks menegakkan tubuhnya di atas tempat tidur, menarik selimut hingga sebatas dada. "K-Kak Mahesa? Ada apa?" bisiknya dengan suara yang bergetar karena syok dan ketakutan.
Mahesa tidak menjawab. Sepasang mata birunya yang biasanya sedingin es kutub, malam ini tampak berkilat gelap, sayu karena pengaruh alkohol, namun dipenuhi oleh intensitas emosi yang berbahaya. Ia berjalan mendekati tempat tidur Amerta dengan langkah tegap yang penuh tuntutan dominasi. Atmosfer di dalam kamar seketika berubah menjadi sangat berat, seolah oksigen di sekitar mereka habis tersedot oleh kehadirannya.
Laki-laki itu berhenti tepat di samping tempat tidur. Ia menundukkan tubuhnya, bertumpu pada kedua tangannya di atas kasur, mengurung tubuh kecil Amerta di antara kedua lengan kekarnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Amerta bisa merasakan embusan napas hangat Mahesa yang berbau mint dan wiski menerpa wajahnya.
"Kenapa kamu tidak menggunakan namaku sore tadi?" desis Mahesa, suaranya terdengar sangat rendah, serak, dan penuh dengan penekanan yang berbahaya.
Amerta tertegun, matanya melebar. "Kakak... tahu dari mana?"
"Aku tahu segalanya yang terjadi padamu di kampus itu, Amerta," potong Mahesa cepat, rahangnya yang tegas mengeras. Sepasang mata birunya mengunci pandangan Amerta, tidak membiarkan gadis itu berpaling barang satu milimeter pun. "Aku sudah pernah katakan padamu, jangan biarkan bajingan itu mengusik milik keluarga Dirgantara. Dan kamu... adalah bagian dari teritorialku sekarang."
Kata 'teritorial' yang diucapkan dengan nada posesif dan kelam itu membuat jantung Amerta berpacu gila-gilaan. Ini bukan lagi sekadar hubungan canggung antara kakak dan adik tiri. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap, intens, dan menuntut di dalam tatapan Mahesa malam ini. Pengaruh alkohol tampaknya telah meruntuhkan dinding kendali diri yang selama ini dibangun kokoh oleh laki-laki itu.
Tangan kanan Mahesa yang besar dan dingin perlahan bergerak naik, menyentuh dagu Amerta. Ibu jarinya yang kasar mengusap bibir bawah Amerta dengan gerakan yang lambat namun penuh tekanan, membuat sensasi kesemutan yang aneh menjalar ke seluruh tubuh gadis itu. Amerta mematung, benar-benar terhipnotis oleh aura dominasi yang memabukkan dari kakak tirinya.
"Jangan pernah mencoba menyembunyikan apa pun dariku lagi, Amerta," bisik Mahesa tepat di depan bibir Amerta, membuat napas mereka menyatu di dalam keheningan malam yang mencekam. "Dinding es ini... aku yang buat, dan hanya aku yang boleh menentukan kapan dinding ini runtuh untukmu."
Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Mahesa hanya menatap Amerta dengan intensitas yang begitu pekat, seolah sedang menandai kepemilikannya. Hingga akhirnya, laki-laki itu menjauhkan tubuhnya dengan perlahan, melepaskan cengkeraman tak kasat matanya yang mencekik sekaligus mendebarkan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Mahesa berbalik dan melangkah keluar dari kamar, menutup pintu dengan bunyi klik halus yang anehnya terdengar seperti suara kunci yang mengurung Amerta dalam takdir baru yang jauh lebih berbahaya. Amerta ambruk kembali ke bantalnya, memegangi dadanya yang naik turun tak beraturan, menyadari bahwa kehidupan tenangnya di rumah ini telah berakhir sepenuhnya malam ini.