Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahpahaman
Gema jeritan melengking Uchi masih terasa bergaung di udara, membelah kesunyian malam Desa Veria. Di atas pematang sawah yang sempit itu, rasa sakit luar biasa yang tak sanggup dijabarkan oleh kata-kata tengah menyiksa Takahiro hingga ke akar sarafnya.
Sekitar sepuluh meter di depan, langkah Vyora dan Cate terhenti mendadak. Keduanya menoleh serempak saat suara teriakan itu menyambar telinga. Dari kejauhan yang temaram, mereka menyadari dua orang yang seharusnya membuntuti dari belakang kini lenyap dari barisan.
Insting melindungi Cate langsung menyala. Tanpa membuang waktu, gadis berambut merah itu berlari memutar balik menyusuri galengan sawah yang licin, meninggalkan Vyora yang masih berdiri mencerna keadaan.
Napas Cate terengah saat ia tiba di lokasi. Matanya memicing menembus gelapnya malam. Ia mendapati pemuda berambut putih itu meringkuk berlutut di atas galeng.
Sementara tak jauh darinya, Uchi berjongkok merapatkan tubuh, menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya dalam gestur frustrasi dan malu yang kentara.
Belum sempat rentetan pertanyaan keluar dari mulut Cate, pandangannya tanpa sengaja menangkap sebuah detail absurd. Celana pemuda itu melorot jatuh ke pergelangan kaki, mengekspos bagian belakang tubuhnya yang sama sekali tak tertutup sehelai benang pun.
Darah Cate mendidih seketika. Otaknya langsung merangkai skenario terburuk. Dengan curiga yang membaur bersama amarah, ia menunjuk pemuda itu.
"Kau...! Apa yang sudah kau lakukan? Kenapa—"
Bentakannya terputus. Di bawah sana, Takahiro bergerak lemah. Tangannya terulur gemetar ke udara, seolah meronta meminta secercah pertolongan sebelum nyawanya benar-benar melayang.
Mendengar suara Cate, Uchi tersentak. Ia buru-buru bangkit, menabrakkan tubuhnya ke arah gadis berambut merah itu dan mendekapnya erat-erat bak anak ayam yang ketakutan.
"Cate!" isak Uchi bergetar, air matanya tumpah membasahi bahu belakang sahabatnya. "Aku takut."
Cate menahan amarahnya, membiarkan Uchi larut dalam pelukannya terlebih dahulu. Tangan kanannya bergerak perlahan, mengusap punggung gadis berambut putih itu dengan lembut untuk mengusir rasa paniknya.
Setelah napas Uchi terasa lebih teratur, Cate mengurai pelukannya perlahan. Ia menatap mata sahabatnya lekat-lekat.
"Uchi, jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" pintanya dengan nada tertahan. Lirikan tajamnya kembali menusuk ke arah pemuda di bawah sana. "Kenapa si brengsek ini bisa tidak memakai celana?"
Dihujani pertanyaan interogasi, Uchi yang mulai merasa lebih aman akhirnya mau membuka suara untuk meluruskan kesalahpahaman fatal ini.
"Ini semua salahku," cicit Uchi, suaranya parau dan bergetar. "Barusan aku tergelincir. Karena ada hewan di kakiku, aku langsung panik."
"Lalu...?" tanya singkat Cate, alisnya bertaut tak sabar.
"Aku nggak sengaja narik celana dia." Uchi menunduk, ujung jarinya menunjuk gemetar ke arah belakang—tempat Takahiro masih sekarat menahan ngilu di area vitalnya. "Lalu memberi pukulan pada kemaluannya."
Tepat saat mengucapkan bagian kalimat terakhirnya, wajah Uchi kembali merona semerah tomat matang. Volume suaranya menciut drastis, nyaris hilang tersapu angin malam. Ia kembali menutup wajahnya dengan kedua tangan, tak sanggup mengingat apalagi menanggung malu dari tragedi barusan.
Suara langkah kaki berdecak pelan di atas lumpur, memecah kecanggungan.
"Aku pikir yang dikatakan dia ada benarnya, Cate," tutur Vyora santai. Gadis berambut abu-abu itu entah sejak kapan sudah berdiri meresapi situasi di dekat mereka. "Dari ekspresi saudarimu yang aku lihat, itu murni seratus milyar persen tanpa ada unsur kesengajaan."
"Apa maksudmu, Vyora?" tanya Cate bingung namun polos. Ia memutar tubuhnya menghadap Vyora yang kini berjalan semakin dekat.
Setibanya di hadapan Cate, Vyora tak menjawab secara lisan. Tangan kanannya langsung melesat ke udara, membentuk kuda-kuda karate chop, dan dalam hitungan sekian detik langsung menebas puncak kepala Cate tanpa ampun.
Tung!!
Cate yang tak sempat menghindar telak menerima pukulan itu. Ia meringis kesakitan, refleks kedua tangannya langsung memegangi kepalanya yang berdenyut ngilu.
"Kadang kamu pintar, tapi juga kadang bodoh," celetuk Vyora santai. Pandangannya tak lagi pada Cate, melainkan jatuh ke dekat kaki Uchi. Di sana, pemuda bernasib malang itu perlahan mendongak, wajahnya pucat pasi bak mayat yang baru bangkit dari liang lahad. Tangannya yang bergetar masih terulur, mengisyaratkan permohonan bantuan.
"Tidak bisa membedakan mana kecelakaan yang tidak disengaja dan mana yang disengaja," lanjut Vyora telak, matanya menatap iba ke arah Takahiro. "Bisanya cuma menghakimi tanpa berpikir terlebih dahulu."
Mengabaikan Cate yang masih mengerucutkan bibir kesal, Vyora melangkah maju melewati kedua sahabatnya. Sesampainya di depan Takahiro, ia membungkukkan tubuhnya sedikit, mengulurkan tangan, lalu menarik lengan pemuda itu agar bisa berdiri.
Takahiro, yang otaknya sudah buntu dan tak tahu itu tangan milik siapa, refleks mengikuti tarikan tersebut, bertumpu pada sisa-sisa insting otot tubuhnya.
Saat pemuda itu akhirnya berdiri—meski dengan postur membungkuk parah demi melindungi area bawahnya—Vyora merendahkan wajahnya, menyelaraskan pandangannya dengan Takahiro, lalu bertanya lembut.
"Gimana kondisimu, apa sudah membaik?"
Takahiro tak sanggup menjawab. Ia hanya melirik sepintas raut tenang Vyora, sebelum pandangan lelahnya kembali jatuh menatap pijakan galengan sawah. Energinya terkuras habis hanya untuk mempertahankan kesadaran.
Mengerti bahwa diamnya pemuda itu adalah efek dari rasa sakit yang belum reda, Vyora kembali berucap.
"Kalau kamu—"
Ucapan Vyora terputus. Tiba-tiba, Takahiro mengangkat telapak tangannya menghadap ke bawah sejajar dengan dada, lalu perlahan mengubahnya menjadi acungan jempol yang bergetar hebat. Sebuah kode isyarat bisu untuk menegaskan bahwa dirinya baik-baik saja dan masih sanggup melanjutkan perjalanan, entah dari mana sisa tenaga itu ia dapatkan.
Mendapat sinyal hijau dari pemuda itu, Vyora menegakkan kembali tubuhnya, lalu berbalik melangkah di barisan depan untuk mengambil alih komando.
Sementara itu, Cate yang baru saja pulih dari hantaman mendadak Vyora hanya bisa celingak-celinguk menatap sahabatnya dan pemuda itu bergantian.
Otaknya belum sepenuhnya mengerti apa yang baru saja ia lewatkan. Namun satu hal yang pasti, keributan salah paham ini nampaknya telah selesai.
Sekali lagi, di bawah payung awan gelap malam Desa Veria, keempatnya kembali berjalan membelah angin. Merajut langkah menyusuri pematang sawah menuju misi awal mereka yang sempat tertunda akibat drama absurd berdurasi pendek tersebut.