NovelToon NovelToon
Menyamar Demi Kamu

Menyamar Demi Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Idola sekolah
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Umi Nurhuda

Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.

Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.

Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.

​Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.

Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 08. Golden prodigy & Charming Boy

​Satu tahun kemudian ...

Lantai teratas The Dharmawangsa menjadi saksi sebuah langkah besar bagi dunia kependidikan dua negara. Di dalam Majapahit Suite yang megah dengan pilar-pilar kayu jati berukir dan pendar hangat lampu gantung kristal, suasananya terasa begitu khidmat namun bersahabat.

Perjamuan privat ini dihadiri oleh para petinggi Kementerian Pendidikan Nasional, jajaran dirjen, serta beberapa perwakilan akademisi senior.

​​​"Ini adalah draf final untuk kuota beasiswa penuh dan sertifikasi guru, Rui-san," ujar sang Direktur Jenderal, menatap Naru dengan binar kagum yang tulus.

"Kementerian sangat mengapresiasi dedikasi Naseba Foundation. Kamu tidak hanya membawa modal, tapi benar-benar membuka jalan bagi anak-anak kurang mampu untuk menyentuh pendidikan tinggi di Jepang."

​Naru tersenyum hangat, sebuah senyuman yang lahir dari rasa syukur yang jujur. "Pendidikan adalah jembatan terbaik untuk memutus rantai kemiskinan. Naseba Foundation hanya menjalankan amanah itu. Melalui kerja sama dengan konsorsium di Tokyo, kita memastikan anak-anak kita tidak hanya belajar, tapi juga mendapatkan perlindungan hukum dan hak yang setara saat mereka magang atau bekerja di sana nanti."

​Seorang profesor senior yang ikut dalam pertemuan itu mengangguk-angguk takjub. "Di usia muda begini, kamu sudah memikirkan perlindungan bagi imigran dan tenaga kerja muda kita di luar negeri. Julukan The Golden Prodigy dari kakekmu memang bukan sekadar pujian kosong. Kamu punya hati yang besar, Rui-san."

​"Saya hanya tidak ingin bakat-bakat terbaik negeri ini tersia-sia di luar sana tanpa perlindungan yang layak, Prof," jawab Naru santun.

​Dari seberang lautan,

di lantai teratas Rui Holdings yang membelah langit Tokyo, terdengar suara tawa bariton Rui Hiyashi. "Kerja bagus, Naru," ucap Rui Hiyashi, suaranya terdengar emosional namun mantap.

"Menjamin kuota bagi anak-anak berbakat dan membuka jalur imigrasi legal yang aman melalui jalur kependidikan ... Kakek bangga sama kamu. Jaga integritasmu. Teruskan kerja keras ini sampai pelosok negeri. Pastikan tidak ada satu pun anak yang kehilangan hak belajarnya karena keterbatasan biaya."

​Namun, semua pencapaian itu harus dibayar mahal. Jauh di lubuk hati yang paling dalam, Naru merasa sangat kesepian, lelah, dan terkekang oleh rantai emas yang mengikat hidupnya.

​Satu-satunya tempat pelarian di mana ia bisa melepas topeng aristokratnya adalah Media Hartono Progress, perusahaan penyiaran dan rumah produksi (production house) milik sang ayah.

Kantor ayahnya memiliki sudut khusus yang didesain kasual. Sebuah ruangan lounge pribadi di lantai atas yang dibatasi dinding kaca besar, menghadap langsung ke riuhnya studio produksi kelolaan kru televisi di bawah sana.

​"Bagaimana kabarmu, Naru?" tanya Hartono Rudi. Nada suaranya terdengar agak canggung, sebuah pertanyaan yang terasa asing. Karena sepasang ayah dan anak itu jarang bertukar sapa.

​Rudi memang selalu berada di puncak kesibukan. Perusahaan media ini dibangunnya dari nol, diperas dari keringat dan air matanya sendiri. Bukti cinta matinya kepada sang istri di hadapan sang mertua yang pernah merendahkannya hanya karena ia terlahir sebagai pria biasa tanpa nama besar.

​Naru membuka matanya perlahan, lalu menyunggingkan senyum tipis yang getir. "Seperti Ayah, aku pun tampaknya tidak pernah diberi kemewahan untuk sekadar beristirahat."

​Rudi menghela napas berat, ikut duduk di sofa tunggal berseberangan dengan putranya. "Kakekmu ... sungguh keras mendidikmu."

​"Aku sudah terbiasa, Ayah," sahut Naru datar, namun sorot matanya melembut saat melanjutkan, "Bunda adalah obat penawarku. Dan melihat bagaimana besarnya rasa cinta Ayah ke Bunda ... itu sudah cukup menjadi bara semangat bagiku untuk terus maju menembus dinding tebal Klan Rui."

​Mendengar penuturan dewasa dari putranya, tenggorokan Rudi mendadak tercekat. Ada rasa bangga sekaligus bersalah yang membuncah di dadanya. "Terima kasih, Naru. Terima kasih karena sudah bertahan sejauh ini."

​Naru mengangguk pelan,

menerima rasa terima kasih dengan tulus.

​​Rudi berdeham, berusaha mencairkan kembali atmosfer emosional di antara mereka. Ia menegakkan posisi duduknya, menatap Naru dengan binar serius. "Naru, Ayah berencana mengadakan agenda studi banding dari SMK Bina Naseba ke perusahaan ini dalam waktu dekat. Bagaimana menurutmu?"

​"Studi banding untuk ... Bina Naseba?" Naru mengulang nama sekolah itu, atensinya langsung tersita.

​"Iya, sekolah milik yayasan bundamu," Rudi mengangguk. "Tahun kemarin, lulusan kedua dari Jurusan Multimedia di sana kembali berhasil mencetak prestasi luar biasa. Untuk ukuran jurusan baru, itu pencapaian yang sangat membanggakan."

​"Tapi, bukankah jurusan itu ..." Naru menggantung kalimatnya, sengaja memancing respons sang ayah.

​"Iya, Ayah tahu apa yang ingin kamu katakan," potong Rudi dengan helaan napas pendek. "Jurusan itu sedang menjadi perbincangan hangat di internal sekolah karena atmosfer persaingan yang tidak sehat."

​Naru mengangguk pelan.

​"Padahal, jurusan itu hadir atas rekomendasi Ayah sendiri kepada bundamu," lanjut Rudi, menyandarkan siku di lengan sofa. "Tujuan awal Ayah murni untuk menjaring generasi muda yang cakap teknologi agar siap terjun ke industri kreatif dan masuk ke perusahaan ini. Bundamu menyetujuinya, lalu menunjuk Wakil Kepala Sekolah untuk membentuk Kepala Jurusan Multimedia. Namun, kami tidak menyangka kalau jurusan itu akhirnya merasa menjadi anak emas dan superior."

​"Lalu, apa rencana Ayah? Apakah Ayah akan menghapus jurusan itu pada akhirnya?" tanya Naru tenang, menguji ketegasan sang ayah.

​"Oh? Tentu saja tidak. Tidak akan pernah," sanggah Rudi mantap, sorot matanya mengeras penuh determinasi. "Ini menyangkut masa depan dan regenerasi perusahaan Ayah juga. Jurusan itu tidak salah, mereka hanya perlu diluruskan kembali agar visinya terarah."

​Dan esok harinya ...

​"Guys, kalian tahu enggak? Si bintang sekolah dari kelas TKJ lagi nyari calon Wakil Ketua OSIS buat dampingin dia maju pemilihan. Dukung gue, dong, biar bisa kepilih jadi wakilnya!" ujar Sifa antusias.

Ia berjalan di sepanjang koridor sekolah yang ramai bersama ketiga sahabatnya, sesekali merapikan bando dan tatanan rambutnya.

​"Dari kelas satu lo ngebet banget pengen populer. Udahlah, Sifa. Jadi siswa yang biasa-biasa aja kenapa, sih? Kayak cita-citanya Nuha tuh," celetuk Asa datar. Ia berjalan santai dengan kedua tangan tenggelam di saku.

​Nuha refleks menggembungkan pipi, kesal karena selalu dijadikan standar anak kuper. Tak ingin namanya terus dikaitkan dengan kedamaian semu, ia justru berbalik membela Sifa.

​"Tapi bukannya itu emang impian Sifa banget, ya? Lagian sejak kelas satu Sifa udah aktif banget ikut kepanitiaan sekolah. Menurutku, ini waktu yang tepat buat Sifa maju."

​"Aahh! Gue suka banget pembelaanmu, Nuha-ku sayang!" Sifa langsung histeris dan merangkul gemas leher Nuha dari samping hingga gadis itu hampir tersedak.

​"Cih, kenapa lo malah belain ini cewek lebay, sih, Nuh?" Asa mendengus malas, meski sudut bibirnya berkedut menahan senyum. "Tapi ya sudahlah. Semakin dia sibuk ngurusin kampanye OSIS, semakin bebas hidup gue dari gangguannya."

​"Asa kampret!" umpat Sifa, merengut.

​Fani yang sejak tadi berjalan paling tenang sambil memeluk novel tebalnya, menatap Sifa dan Asa bergantian dengan pandangan ala pengamat yang bijak. "Untung kita berempat punya Nuha yang jiwanya se-polos Luna Lovegood dari Ravenclaw. Jadi ramuan pertemanan kita masih aman dari ledakan emosi kalian berdua."

​Tawa riang empat sahabat itu mendadak terputus oleh sebuah interupsi dari arah depan. ​"Siang, anak-anak Multimedia." ​Sapaan bernada angkuh itu membuat langkah mereka tersendat.

​"Kyaaa!!" Seketika sorak-sorai dari para siswi menggema di sepanjang koridor dan area halaman tengah sekolah.

"Dilan ... Dilaaann!!"

"Aku padamuuu!!"

​Sang charming boy kelas XITKJ1 itu berjalan santai dengan seragam yang sengaja dikeluarkan sebagian. Merasa di atas angin, ia berhenti sejenak, menyisir rambut depannya dengan jari, lalu melemparkan kecupan jauh ke arah kerumunan siswi yang langsung histeris.

​Atmosfer sekolah mendadak berubah riuh dan penuh damba. Bahkan, Sifa ikut terpaku di tempat, menatap tak berkedip dengan binar mata yang seolah siap meledak saking terpesonanya.

​Di sisi lain, Nuha dan Asa kompak menunjukkan ekspresi sinis. Asa langsung memasang mode menyerang dengan menyilangkan dada, siap melontarkan sarkasme, sementara Nuha refleks memasang mode defensifnya. Hanya Fani yang tetap bergeming santai, mendekap erat novel Harry Potter-nya.

​Dilan Langit Diantoro, putra tunggal dari seorang dokter spesialis terkemuka di kota itu melirik malas ke arah kuartet Multimedia tersebut. Ia sedikit mencondongkan tubuh ke arah tangan kanannya yang merangkap sebagai tim sukses.

​"Kasih tahu gue tentang mereka berempat," bisik Dilan tanpa mengalihkan pandangan merendahkannya.

​Dika, yang sejak tadi mengekor sambil mendekap sebuah netbook menyala di dadanya, langsung menurunkan headset-nya dan menyesuaikan kacamata. Siap membeberkan informasi.

.

.

. Next》Bab 09. Sampai jumpa besok 👋

1
Filan
gimana mau cerita kalau dia tidur?
Filan
Harusnya Naru ngambil hati Muha bukan mengobarkan perang. Dasar bocah!
Surya Alfian
WKWKWK "BAMBANG" gue ngakak.
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
Surya Alfian
gue kira mau dicipok ini ciwi, deg-degan woy!! 😳❤️ Kelihatan kalau dia udah mulai jatuh hati tanpa sadar.
Surya Alfian
Gue jadi pengen tahu pas Kakeknya nanti turun tangan bakal segila apa. 🍿😏
Surya Alfian
Ending-nya manis banget, asli bikin senyum. 😆💕 Waduh, fix ini mah udah masuk fase salah tingkah. 😂🌸
Surya Alfian
Scene Muha sama Nuha di meja makan tuh adem banget. 🥹☕ Kakaknya galak tapi kelihatan banget sayangnya tulus, sementara Nuha polos banget sampai bikin gue senyum-senyum sendiri. Chemistry kakak-adiknya enak dibaca.
Surya Alfian
Wkwkwk Naru ini licik level dewa.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Surya Alfian
😭📖 Doa Naru ke kakeknya kerasa tulus banget. Gue fix lanjut baca cuma buat tahu kenapa dia sampai harus minta "kebebasan". 🚀
Surya Alfian
🤔❤️ Dia perhatian banget sampai hafal detail-detail kecil tentang Nuha, tapi kalimat "cuma gue yang boleh memahami dia" itu vibes-nya agak posesif. Gue jadi penasaran dia bakal jadi green flag atau malah red flag nantinya. 👀
Surya Alfian
Dilan akhirnya kena mental. 😮‍💨👏
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
Muft Smoker
mereka lucuu kan ,, 😂😂😂😂 ,,



kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Mega Siregar
padahal sebagai seorang dokter jiwa seharusnya tahu bahwa memanjakan anak tanpa ada kasih sayang dan perhatian dan pengajaran tentang hidup dari orang tua, hanya membuat seorang anak menjadi rusak
ginevra
ketikannya.... sumpah alay banget ini dilan....
ginevra
kakeknya keterlaluan sih... nggak heran baru jadi nggak betah. kasih kelonggaran dikit lah ...
Xlyzy
sumpah keterlaluan banget, pengen tak ketuk pala nya pakek martil
Xlyzy
Jahat ih kalian jangan gitu lah aku ketuk nih kening nya kalau nakal
Filan
gimana kalau diajak pacaran sama Naru? apa dia ga mikir ke sana?
Kan dia suka sama Naru.
Miu.Nuha: iya nanti dilemanya disitu...
Nuha blm sadar kalo dia suka, dia cuma lagi seneng2nya jatuh cinta #eh
total 1 replies
Filan
btw, Muha ini emang gampang marah juga ya.
Filan
ya ampun, tidur dua hari?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!