NovelToon NovelToon
BAKTI BUTA SUAMIKU

BAKTI BUTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.

​Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.

​Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.

​Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAKTI BUTA SUAMIKU

​Keheningan di dalam mobil sewaan yang membawa mereka pulang dari hotel terasa begitu mencekik. Di kursi depan, sopir mobil travel yang disewa Bagas sembari merutuk sepanjang jalan hanya fokus menatap aspal jalanan ibu kota yang mulai lengang menjelang dini hari. Di kursi tengah, Adinda duduk bersandar sembari memeluk tas kainnya, menatap kosong ke luar jendela. Di sampingnya, Dimas menggenggam erat jemari ibunya, sesekali melirik sinis ke arah spion tengah yang memantulkan raut wajah Abahnya di kursi depan yang tampak mengeras menahan dongkol.

​Begitu mobil berhenti di depan gang sempit menuju rumah mereka, Adinda langsung turun tanpa menunggu dibukakan pintu. Langkah kakinya yang dibalut sandal jepit datar setelah berganti dari sepatu formal di parkiran hotel tadi terasa kebas. Dinginnya angin malam menembus gamis polosnya.

​Pintu kontrakan berukuran tiga kali enam meter itu terbuka dengan decitan ngilu setelah Adinda memutar kunci. Bau lembap khas ruangan yang seharian tertutup langsung menyergap indra penciuman. Kontrakan ini begitu kontras dengan kemegahan ballroom hotel berlapis satin dan emas yang baru saja mereka tinggalkan beberapa menit lalu. Adinda melangkah masuk, menyalakan lampu neon putih yang berkedip beberapa kali sebelum menerangi ruangan semen yang cat dindingnya sudah mulai mengelupas di sana-sini.

​Belum sempat Adinda meletakkan tasnya di atas meja makan kayu yang agak goyang, langkah kaki berat menyusul masuk dengan tergesa-gesa. Bagas menutup pintu tripleks tersebut dengan bantingan keras.

​Brak!

​Suara benturan itu memecah kesunyian malam, membuat dada Adinda berdesir oleh rasa cemas yang sudah sangat familier, sementara Dimas yang baru masuk langsung pasang badan di depan ibunya. Bagas tidak lantas melepas jas hitamnya yang masih rapi. Pria itu berdiri di tengah ruangan dengan napas memburu, wajahnya merah padam akibat amarah yang ditahannya sejak di hotel kini menemukan ruang untuk meledak.

​"Kamu benar-benar keterlaluan dan bikin malu ya, Dinda!" suara Bagas menggelegar, tertahan namun sarat akan tekanan yang bergemuruh.

​Dimas langsung maju selangkah, "Bah, jangan bentak Ibu! Ini sudah malam!"

​"Kamu diam, Dimas! Masuk kamar! Ini urusan orang tua!" bentak Bagas, menunjuk kamar sekat tripleks di sudut ruangan dengan jari gemetar.

​Adinda mengusap bahu putranya, menatap Dimas dengan pandangan menenangkan. "Dimas, masuk kamar dulu ya, Nak. Ganti baju. Biar Ibu yang bicara sama Abah."

​Dimas sempat ragu, tatapan matanya yang berusia empat belas tahun itu memancarkan kedewasaan yang dipaksa lahir oleh keadaan rumah tangga orang tuanya. Setelah mendapatkan anggukan tegas dari ibunya, Dimas melangkah masuk ke kamar sekat, namun sengaja tidak menutup pintunya dengan rapat ia bersiap melindungi ibunya jika keadaan memburuk.

​Setelah Dimas tidak lagi berada di antara mereka, Bagas melangkah mendekat, mengacungkan ponselnya tepat di depan wajah Adinda dengan beringas.

"Jangan pura-pura amnesia kamu, Din! Kenapa tadi di depan Mas Broto kamu malah bilang enggak ada uang? Hah?! Kamu sengaja mau menjatuhkan harga diri aku di depan kakak-kakakku?!"

​"Aku tidak menjatuhkan harga diri siapa pun, Mas. Aku hanya mengatakan kenyataan kalau di rekeningku memang tidak ada uang bebas," jawab Adinda, suaranya terdengar datar namun terselip ketegasan yang mutlak.

​Bagas terbahak, sebuah tawa sarkastik yang terdengar menyakitkan.

"Kenyataan apa? Jangan bohong kamu! Semua gaji bulanan aku dari kantor, bonusan, sampai hasil lemburan, semuanya masuk ke rekening kamu! Enggak ada satu persen pun yang aku pegang sendiri selain buat bensin motor. Terus sekarang kamu mau bilang uangnya enggak ada? Kamu ke manakan semua uang itu, Dinda?!"

​Adinda menarik napas dalam-dalam. Tuduhan ini bukanlah hal baru, tetapi entah kenapa malam ini rasanya berkali-kali lipat lebih menyakitkan setelah ia melihat bagaimana uang mereka dihamburkan demi gengsi keluarga besar suaminya.

​"Dinda, dengar ya!" Bagas menunjuk wajah Adinda dengan jari telunjuknya yang gemetar karena amarah. "Kamu itu jadi perempuan pelitnya enggak ketulungan! Egois! Itu uang hasil keringat aku, hak aku buat mutusin mau dikasih ke siapa. Mas Broto itu kakak kandungku, dia yang menalangi semua acara Mama malam ini. Kenapa sih setiap kali keluargaku butuh bantuan, kamu selalu pasang muka masam, menolak tegas, dan mempersulit semuanya? Pelit banget jadi orang! Padahal seluruh gaji aku masuk ke kamu!"

​Kata pelit itu menghantam dada Adinda bagai godam besar. Sesuatu di dalam dirinya sebuah bendungan kesabaran yang telah ia bangun dengan air mata, peluh, dan rasa lelah selama belasan tahun pernikahan mereka tiba-tiba saja runtuh sepenuhnya sore menuju malam ini.

​Adinda berdiri tegak. Lelah yang tadinya menggelayuti badannya seolah menguap, digantikan oleh kobaran api keadilan yang menuntut untuk disuarakan. Dia menatap lurus ke dalam manik mata Bagas, tanpa ada lagi ketakutan atau ketundukan buta seperti biasanya.

​"Aku pelit, Mas? Kamu bilang aku pelit?" Adinda mengulang kata itu dengan nada suara yang bergetar hebat, bukan karena ingin menangis, melainkan karena menahan gemuruh kemarahan yang luar biasa.

​"Iya! Kamu pelit! Mana ada istri yang megang semua gaji suaminya, tapi giliran iuran buat menyenangkan hati Mama atau ganti uang Mas Broto, langsung menolak tegas!" Bagas masih bersikeras dengan egonya yang setinggi langit.

​Adinda tersenyum, sebuah senyuman getir yang membuat Bagas sesaat tertegun. Adinda kemudian berjalan menuju lemari pakaian kecil di pojok ruangan. Dari laci paling bawah, ia mengeluarkan sebuah buku agenda bersampul mika biru yang sudah agak kusam. Buku itu adalah saksi bisu alur keuangan rumah tangga mereka yang pincang. Adinda melemparkannya ke atas meja makan, tepat di hadapan Bagas.

​"Buka, Mas! Buka buku itu!" perintah Adinda, suaranya meninggi satu oktav.

​Bagas mengernyitkan dahi. "Apa-apaan ini? Gak usah drama pakai buku-bukuan segala! Tinggal buka mobile banking dan transfer dua juta ke rekening Mas Broto sekarang juga, repot amat!"

​"Aku bilang buka dan lihat pakai mata kamu sendiri, Mas Bagas!" bentak Adinda, membuat Bagas tersentak. Ini adalah pertama kalinya selama pernikahan mereka Adinda membentaknya dengan suara selantang itu.

​Dengan wajah masam dan enggan, Bagas membuka halaman demi halaman buku agenda tersebut. Di sana, tertulis dengan sangat rapi menggunakan bolpoin hitam: tanggal, nominal pemasukan dari gaji Bagas, dan deretan panjang pengeluaran. Di kolom sebelah kanan, ada catatan dengan bolpoin merah bermerek Katering & Kue Adinda.

​"Iya, memang benar," Adinda mulai memaparkan dengan suara yang bergetar namun jelas dan tajam. "Aku memaparkan ini supaya kamu sadar, Mas. Iya, memang aku mendapatkan semua transferan uang gaji kamu setiap bulan. Tidak ada satu rupiah pun yang kamu sembunyikan dari aku. Tapi sekarang, tolong kamu lihat baik-baik angka-angka di buku itu!"

​Bagas terdiam, matanya mulai memindai angka-angka kotor yang tertera di sana.

​"Setiap bulan, begitu uang gaji kamu masuk ke rekening yang aku pegang, apa yang terjadi selanjutnya? Coba lihat tanggal lima sampai tanggal tujuh setiap bulannya," Adinda melangkah mendekati meja, mengetukkan jarinya dengan keras di atas kertas agenda. "Selalu ada saja acara atau pengeluaran untuk menyenangkan hati mama kamu saat kamu gajian, kan? Begitu saldo gaji kamu masuk, hari itu juga mama kamu tiba-tiba menelepon. Katanya kepingin makan-makan keluarga lah, kepingin beli baju baru buat seragam pengajian lah, tiba-tiba minta dibelikan suplemen herbal yang harganya jutaan, atau dipanas-panasi Mbak Rika buat beli barang ini-itu."

​Bagas mencoba memotong, "Ya wajar dong, Dinda! Itu kan ibuku! Menyenangkan orang tua itu kewajiban anak laki-laki!"

​"Aku tahu, Mas! Aku tidak pernah melarang kamu berbakti pada Mama!" sergah Adinda cepat, memotong pembelaan Bagas. "Tapi coba kamu pakai otak dan hitung, berapa sisa gaji kamu setelah dipotong semua 'acara menyenangkan hati mama' yang selalu pas bertepatan dengan hari gajian kamu itu? Sisa gaji kamu kalau dihitung-hitung, paling cuma sisa untuk makan kita seminggu, bayar listrik, dan bayar PAM!"

​Bagas terbungkam. Jarinya tertahan di halaman pembukuan bulan lalu. Gaji bersih Bagas setelah dipotong cicilan kendaraan kantor adalah lima juta rupiah. Dan di catatan itu, hampir tiga setengah juta rupiah langsung keluar di minggu pertama untuk membelikan perhiasan titipan mamanya serta ongkos makan keluarga besar saat arisan klan mereka.

​"Uang sisa gaji kamu yang tidak sampai satu setengah juta itu, jangankan buat hidup sebulan, buat bayar kontrakan kita saja tidak akan pernah cukup, Mas!" air mata Adinda akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang lelah namun tatapannya tetap menghunus tajam. "Lalu, kamu pernah mikir enggak selama bertahun-tahun ini? Uang kontrakan tahunan tempat kita berteduh ini ikut siapa? Uang sekolah Dimas dari mana? Uang beras untuk minggu kedua, ketiga, dan keempat dari mana? Uang bensin kamu sehari-hari dari mana? Uang kalau tiba-tiba motor kamu harus ganti oli dari mana?"

​Adinda menarik napas pendek, dadanya naik turun dengan cepat menahan sesak. "Uang kontrakan dan lainnya itu ikut aku, Mas! Setiap bulan aku selalu menutup semua uang bulanan kita dengan uang dari hasil katering dan penjualan kue subuhku! Aku yang memutar otak siang dan malam agar kita tidak diusir dari kontrakan ini!"

​Bagas memalingkan wajah, enggan menatap mata Adinda yang menguliti kebohongannya. "Ya... ya kan kamu ada hasil dari katering. Apa salahnya dipakai bersama? Kita kan rumah tangga."

​"Hasil katering dan penjualan kue subuh itu aku dapat dengan cara memeras keringat sampai habis, Mas Bagas!" suara Adinda kini bergetar hebat karena rasa sakit yang teramat dalam. "Saat kamu masih tidur nyenyak jam dua pagi, aku sudah bangun sendirian di dapur sempit ini. Menghadapi asap kukusan, menahan perih mata karena irisan bawang, demi apa? Demi bisa bikin kue-kue yang untungnya cuma lima ratus sampai seribu rupiah per biji! Aku kumpulkan receh demi receh itu bukan buat foya-foya, tapi buat menambal kekurangan gaji kamu yang habis kamu pakai untuk menyenangkan keluarga kamu demi pujian anak berbakti!"

​Adinda menyeka air matanya dengan kasar menggunakan ujung jilbabnya yang kusut. "Selama ini aku diam, Mas. Aku diam karena aku menghormati kamu sebagai suamiku. Aku tidak ingin kamu merasa jatuh harga dirinya sebagai laki-laki di depan anakmu karena gajinya tidak cukup. Aku selalu menutup rapat topeng kemegahan yang kamu pakai di luar sana. Tapi malam ini... di hotel itu, kamu dengan ringannya menyuruhku mentransfer dua juta lagi ke Mas Broto untuk menutup biaya pesta yang dari awal sudah aku tolak? Dan saat aku menolak tegas karena uang modal kueku sudah kamu ambil paksa lima juta semalam, kamu malah mengata-ngatai aku pelit di jalan pulang tadi?!"

​Suasana kontrakan mendadak hening, menyisakan suara deru napas keduanya yang memburu dan isak tangis tertahan Adinda.

​Dari balik sekat kamar, Dimas berjalan keluar. Remaja itu langsung berdiri di samping ibunya, merangkul pundak Adinda yang bergetar. Dimas menatap Bagas dengan pandangan yang teramat dingin, seolah tidak lagi melihat seorang ayah, melainkan seorang pria asing yang egois. "Abah dengar sendiri, kan? Selama ini yang menghidupi rumah ini adalah uang cucuran keringat Ibu dari jualan kue. Abah jangan sok jadi pahlawan di keluarga besar Abah kalau ujung-ujungnya Ibu yang harus menderita menanggung utangnya."

​Bagas terpaku di tempatnya berdiri. Buku agenda biru di hadapannya seolah menjelma menjadi cermin besar yang memantulkan seluruh kebusukan ego dan kepalsuan hidupnya selama ini. Dia tidak bisa membantah satu patah kata pun, karena deretan angka dengan bolpoin merah dan hitam di buku itu tidak pernah berbohong. Tagihan dua juta dari Mas Broto yang tadinya dianggapnya sebagai perkara sepele, kini terasa seperti batu besar yang siap meruntuhkan atap kontrakan mereka.

1
Zhafran Althaf
mantap dindaaaa
Heni Setiyaningsih
bagus adinda 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Zhafran Althaf
🤣🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Jetva
keren ceritax...semoga keren hingga akhir..aq suka perempuan yg mandiri dan tak takut suami dgn alasan surga ada pada suami....semangat Thor...
Jetva
istri Danu, Anik apa Anita, Thor..??🤔
blcak areng: iya kak aku keder sendiri 😄😄
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Anonim
BAGAS HALAL DARAH NYA... AYO BUNUH DIA
blcak areng: kak😁🤣🤣
total 1 replies
stela aza
q pingin nya si Bagas itu habis naik jabatan sebentar langsung khilaf trs di pecat jadi gembel biar g belagu trs sombong 🤭 ok Thor ❤️❤️❤️
Zhafran Althaf
hai kak aku mampirrrr😍😍😍
blcak areng: Hay juga kak Terima kasih 🙏
total 1 replies
stela aza
Thor ceritamu hampir mirip kaya kisahnya si abdi dan Disa ,,, yg lakinya manipulatif ,,, bodoh ,, belagu sombong trs so kaya kenyataan nya kere ,,, bergaya yg terlalu di paksakan 🤭
stela aza
rasain,,, syukurin ,,, bergaya tapi g mampu ,,, tinggal nunggu di pecat dr kantor biar jadi gembel ,,,, coba ibunya mau Nerima dia g ,,, kalau udh g kerja pasti bakalan di buang sama ibunya sendiri 🤦
Heni Setiyaningsih
💪💪💪 adinda
Lee Mba Young
bagus lanjutt
Lee Mba Young
bagus lah jng mau jd budak. anak sdh besar.
Heni Setiyaningsih
lbh baik lepaskan suami kyk gitu, hdup berdua dgn anak mu sj drpd dirong-rong terus sama suami pecundang
Heni Setiyaningsih
👍👍👍👍👍👍👍👍👍😍😍
Heni Setiyaningsih
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!