NovelToon NovelToon
SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.

Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.

​Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.

Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 05 - Wangi Bunga Kantil

​Malam itu, hujan reda setelah menyisakan sisa-sisa air yang menetes dari talang rumah mewah di Pondok Indah.

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam.

Di dalam kamar utama, Maya berbaring telentang di atas ranjang king size yang empuk. Kamar terasa sejuk berkat pendingin ruangan yang diatur pada suhu 20 derajat, namun entah mengapa, pelipis Maya justru basah oleh keringat tipis.

​Aryo baru saja pulang setengah jam yang lalu setelah menyelesaikan sisa urusan berkas dengan Baskoro.

Pria itu kini sedang membersihkan diri di kamar mandi dalam. Terdengar samar suara gemercik air yang menghantam lantai marmer, menjadi satu-satunya penghidup suasana di dalam kamar yang mendadak terasa terasing dari riuh rendahnya kota Jakarta.

​Maya meraba permukaan kertas draf perjanjian yang diletakkan Aryo di atas meja rias sebelum pria itu mandi. Kertas itu adalah salinan Surat Perjanjian Pembagian Aset.

Maya sudah membacanya sekilas, tersenyum puas melihat deretan angka saham dan kepemilikan aset di Surabaya yang kini resmi mengalir ke kantongnya.

Jika dipikirkan, sebenarnya bisa saja ia mendapatkan segalanya dari orang tuanya. Namun, cinta terlarang telah membutakan nurani dan akal sehatnya.

​Maya adalah seorang wanita muda asli Jakarta, putri seorang mantan pejabat daerah kelas menengah yang terbiasa hidup dalam lingkaran sosialita ibu kota namun mendambakan kemewahan yang jauh lebih masif. Bisa dibilang ... rakus!

Parasnya yang rupawan, dan wajah blasterannya didapat dari sang ayah yang berdarah Eropa, berpadu dengan keanggunan modern khas wanita metropolitan, menjadikannya magnet di setiap ruang publik.

Awal mula pertemuannya dengan Aryo terjadi tiga tahun lalu dalam sebuah acara gala makan malam kurasi arsitektur di salah satu hotel bintang lima di kawasan berkilau Segitiga Emas Jakarta.

Aryo yang kala itu sedang berada di puncak kejayaan bisnis propertinya namun mulai merasa asing dengan kesederhanaan Sekar di kampung, langsung terpikat oleh pesona Maya yang dinamis dan penuh ambisi. Anak dari rekan bisnisnya.

Bagi Aryo, Maya adalah representasi dari "kesuksesan baru" yang harus ia pamerkan kepada dunia, sebuah trofi megah yang tidak bisa ia dapatkan dari istri pertamanya.

​Hubungan yang awalnya sebatas rekanan bisnis dalam divisi pemasaran visual dengan cepat bermutasi menjadi jalinan asmara terlarang yang intens.

Maya yang cerdas namun menutup mata pada status pernikahan Aryo, pandai memanfaatkan celah kesepian pria konglomerat itu. Ia memberikan validasi ego yang selama ini tidak pernah dituntut oleh Sekar.

Di apartemen mewah bernilai belasan miliar di bilangan Jakarta Selatan yang dibelikan Aryo, keduanya kerap menghabiskan malam bersama, menyusun rencana masa depan sembari perlahan mengikis rasa bersalah Aryo terhadap janji sucinya di Banyuwangi.

​Ketika Maya akhirnya mengungkapkan kehamilannya, ia memberikan ultimatum yang tajam. Menggunakan janin di dalam rahimnya sebagai kartu as, Maya berhasil mendesak Aryo untuk segera menceraikan Sekar secara sepihak dan melegalkan hubungan mereka.

Sampai detik ini, kemenangan yang diidamkannya sudah hampir sempurna.

Namun, ada satu hal yang mengusik ketenangannya sejak tadi—sebuah noda lingkaran kecokelatan yang mengering di sudut halaman terakhir, tepat di atas tanda tangan Sekar.

Aryo mengatakan itu hanya noda tinta pulpen yang bocor saat Sekar menandatanganinya, tetapi Maya tahu persis bagaimana tekstur noda darah yang mengering.

​"Perempuan udik!" cibir Maya, mencoba mengusir rasa tidak nyaman di hatinya dengan keangkuhan. "Membubuhkan tanda tangan saja dibuat dramatis. Pikirmu aku takut?"

​Maya membalikkan tubuhnya membelakangi meja rias, mencoba mencari posisi tidur yang nyaman untuk perutnya yang mulai terasa begah. Ia memejamkan mata, menarik selimut sutra marunnya hingga sebatas dada.

​Tepat saat matanya terpejam selama beberapa menit, atmosfer di dalam kamar tidur itu mengalami perubahan yang ganjil.

Suara desis AC yang biasanya terdengar konstan mendadak sayup-sayup menghilang, digantikan oleh keheningan yang begitu pekat, seolah-olah ruangan itu baru saja dilapisi oleh dinding kedap suara yang tebal.

​Lalu, aroma itu datang.

​Awalnya sangat tipis, menyelinap di antara wangi lilin aromaterapi french vanilla yang menyala di dekat televisi. Namun, dalam hitungan detik, aroma itu menguat dengan agresif, merajai seluruh rongga hidung Maya. Bau wangi yang sangat pekat, manis, sekaligus membawa sensasi dingin yang menusuk.

​Wangi bunga kantil.

​Maya membuka matanya dengan sentakan kecil. Jantungnya berdesir aneh. Ia mengendus udara di sekitarnya.

"Lilinnya kan rasa vanila, kenapa baunya jadi seperti ini?" gumamnya lirih.

​Wangi kantil bukanlah aroma yang lazim untuk sebuah perumahan elit di tengah Jakarta pada tengah malam.

Lebih dari itu, aroma kantil yang dihirup Maya saat ini bukan wangi bunga segar yang tertiup angin sore, melainkan aroma bunga kantil yang sudah layu, yang biasa ditaburkan di atas gundukan tanah makam yang baru digali. Ada semburat bau apek, anyir, dan lembap yang menyertainya.

​Maya bangkit dari posisi berbaringnya, duduk di tepi ranjang.

"Mas? Mas Aryo?" panggilnya ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Suara gemercik air di dalam sana masih terdengar, seolah Aryo tidak kunjung selesai dengan mandinya.

​Tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi.

​Maya menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Begitu telapak kakinya yang polos menyentuh permukaan karpet wol Persia, ia berjengit.

Karpet yang biasanya terasa hangat dan empuk itu mendadak terasa sangat dingin dan ... basah? Maya mengernyitkan dahi. Ia menunduk untuk melihat ke arah lantai, namun kegelapan di bawah kolong ranjang yang pekat menyulitkan pandangannya.

​Aroma bunga kantil itu kini semakin menyengat, membuat dada Maya terasa sesak dan mual. Janin di dalam perutnya tiba-tiba memberikan reaksi yang tidak biasa; perutnya berkedut kencang beberapa kali, memicu rasa mulas yang tajam hingga Maya terpaksa membungkuk sambil mencengkeram perutnya.

​"Aduh ... Sayang, tenang ya ... jangan nakal," bisik Maya dengan suara bergetar, mencoba menenangkan bayinya sekaligus menenangkan dirinya sendiri yang mulai dicekam kepanikan.

​Sreeek.

​Suara gesekan halus terdengar dari arah sudut ruangan, dekat lemari pakaian besar berpintu kaca. Maya menoleh dengan patah-patah. Lampu kristal yang sengaja diredupkan membuat bayangan perabotan di dalam kamar memanjang dengan aneh.

​Di depan lemari pakaian, gorden jendela besar tampak bergerak-gerak pelan. Maya pun mengembuskan napas lega.

"Oh, jendelanya belum dikunci mungkin. Angin malam tidak ba ...."

​Kalimat Maya menggantung. Kelegaannya menguap seketika saat ia menyadari satu hal: seluruh jendela di kamar ini menggunakan sistem ganda yang sangat rapat, dan pendingin ruangan sedang menyala. Tidak mungkin ada angin dari luar yang bisa menggerakkan gorden seberat itu.

​Ketika Maya terus menatap gorden tersebut, aroma kantil mendadak berubah menjadi bau anyir darah yang sangat pekat, begitu tajam hingga membuat kerongkongan Maya terasa tersedat.

Dari balik lipatan gorden yang bergerak, perlahan-lahan mengalir keluar cairan berwarna merah kehitaman yang kental. Cairan itu merembes, menetes ke atas lantai marmer, lalu merayap pelan di atas karpet Persia, bergerak lurus menuju arah tempat Maya duduk.

​Maya membelalak, lidahnya mendadak kelu, terkunci di langit-langit mulutnya. Ia ingin menjerit memanggil Aryo, tetapi tenggorokannya seolah tersumbat oleh segumpal pasir tak kasat mata.

​Belum sempat ia memproses rasa takutnya, dari arah bawah kolong ranjang tempat kakinya menggantung, terdengar suara bisikan halus.

Suara seorang wanita, bernada sangat rendah, melantunkan sebaris kalimat dalam bahasa yang tidak dimengerti Maya, namun getarannya membuat bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri tegak.

​“... tuku duso, bayar nyowo ....”

​Bersamaan dengan bisikan itu, sebuah tangan dengan kulit yang pucat kebiruan, kurus kering hingga tulang-tulangnya menonjol, merayap keluar dari kegelapan kolong ranjang.

Kuku-kuku jari tangan itu panjang, hitam, dan tampak pecah-pecah di bagian ujungnya. Dengan gerakan yang sangat cepat, tangan misterius itu mencengkeram pergelangan kaki kanan Maya yang polos.

​"AAAHHH!!!"

​Jeritan Maya akhirnya pecah, memecah keheningan malam. Rasa dingin yang luar biasa menyerupai tusukan jarum es langsung menjalar dari pergelangan kakinya, naik ke paha, hingga menusuk tepat ke arah rahimnya.

​Maya menarik kakinya dengan paksa, menendang ke arah kolong kasur, lalu merangkak naik ke atas ranjang dengan histeris.

Ia meringkuk di tengah-tengah kasur, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, menangis sejadi-jadinya di balik kain sutra tersebut. Tubuhnya bergetar hebat bagai diguncang gempa.

​Pintu kamar mandi mendadak terbuka dengan kasar. Aryo keluar dengan hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya, wajahnya dipenuhi rasa panik.

"Maya! Maya, kamu kenapa?!"

​Aryo langsung melompat ke atas ranjang, menarik selimut yang membungkus tubuh istri mudanya. Ia mendapati Maya sedang menangis sejadi-jadinya dengan wajah yang pucat pasi dan mata yang melotot penuh ketakutan.

​"Mas! Ada tangan di bawah kasur! Ada darah! Baunya ... baunya bau bunga kantil, Mas! Tolong aku!" jerit Maya sambil memeluk leher Aryo dengan sangat erat, menumpahkan seluruh ketakutannya pada dada suaminya.

​Aryo mengernyitkan dahi, matanya langsung menyapu ke sekeliling kamar tidur mereka.

Lampu kristal masih berpendar temaram, AC masih berdesis tenang. Ia melihat ke arah lantai di dekat gorden; marmernya kering, bersih tanpa ada noda cairan apa pun. Karpet wol Persia yang mahal pun tampak rapi tanpa cacat.

Aryo kemudian memberanikan diri melongok ke bawah kolong ranjang tempat tidur mereka—kosong. Tidak ada tangan, tidak ada makhluk apa pun, hanya ada lantai marmer yang bersih mengilat.

​Selain itu, hidung Aryo pun sama sekali tidak menangkap aroma bunga kantil. Udara di kamar itu masih dipenuhi oleh wangi lilin vanila yang manis dan menenangkan.

​"Tidak ada apa-apa di sini, May. Lihat aku, tenanglah ...," Aryo menangkup wajah Maya, memaksa wanita itu untuk menatap matanya. "Kamar ini terkunci rapat. Tidak ada darah, tidak ada bau bunga. Kamu pasti cuma mimpi buruk, Sayang."

​"Tidak, Mas! Aku tidak tidur! Aku bersumpah aku tadi sedang duduk di sini!" Maya berteriak histeris, menunjuk-nunjuk ke arah ujung ranjang. Ia kemudian menarik kaki kanannya untuk ditunjukkan pada Aryo.

"Lihat kakiku! Tadi dipegang erat sekali sampai sakit—"

​Kalimat Maya terputus di tengah jalan. Matanya membelalak menatap pergelangan kaki kanannya sendiri.

​Di sana, di atas kulitnya yang putih bersih, tercetak jelas sebuah bekas cengkeraman lima jari tangan manusia berwarna biru kehitaman yang pekat—seperti bekas lebam akibat hantaman benda tumpul atau cengkeraman bertenaga raksasa. Bekas lebam itu terasa dingin saat disentuh oleh jemari Aryo yang gemetar.

​Aryo terdiam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kaku untuk terus menganggap ini sebagai delusi kehamilan biasa.

Bau anyir samar yang tadi tidak ia rasakan, tiba-tiba lewat sepintas di depan hidungnya, bersamaan dengan suara derit ranting pohon di luar jendela yang kembali terdengar ritmis, menyerupai ketukan jari-jari kurus yang menuntut untuk diberi jalan masuk.

1
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Siapa sebenarnya yang di gunung salak ini?
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
shafira 🥰
bagus banged... ceritanya sungguh menarik.seruuuuu.. karna aq juga tinggal di banyuwangi....
Buna: woah, ada tetangganya Sekar. 😄
terima kasih penilainnya, yaaaa. ❤
total 1 replies
shafira 🥰
lanjuttttttt.... thorrrr
shafira 🥰
lanjutttttt thorrrrrr.... seruuuuuu.... l
Buna: siap, kak. hari ini sudah 3 bab. insyaallah besok lanjut lagi. terima kasih sudah mampir, ya. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Aryo terlalu egois !!
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
Shusand MaiTtimu
habis kan saja Thor,, si Aryo nya juga
dasar laki laki tidak tau diri
kinoy
ttp y mnt tanggungjwb Aryo sbg pelaku utama y
kinoy
Bnr2 DAh..keren ni crt
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Emang kemana tujuanmu sekarang, Aryo??

Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻: Ngadi Ngadi authornya 😄
total 2 replies
kinoy
egois si Aryo..BKN y sadar
Mifta Afandi
orang kayak Aryo ma Maya moga GK ada yq nolongin
kinoy
ngeri y..adakah yg BS nolongin Aryo..ato EMG kudu metong
Inna Mirna AR
suka sama karyamu thor, serasa lagi nonton film horror
Buna: terima kasih, kak. selamat membaca. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
ibaratnya ....
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.

Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Meski jangkar sudah diputus oleh Danu, tapi tetap saja tidak bisa menolong Maya .
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .
kinoy
dah lah speechless AQ..nr x ni baca crt mistis tp penjelasannya runtut jls
kinoy
ah tmbh seru aj ni crt
kinoy
cerdik x tuh detektif
Buna
ya Allah, jauh amat typo-nya. dari sekarat ke sejarah 😆😆😆
kinoy
wah..mulai ancur2an ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!