NovelToon NovelToon
Jodohku Gadis BAR-BAR

Jodohku Gadis BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Fey

Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Pagi hari di rumah pondok, aroma harum daun pandan dari dapur menyebar ke seluruh sudut rumah, bercampur dengan wangi kopi yang baru diseduh.

Suara para bude terdengar riuh dari ruang tengah, mereka sibuk menata kotak-kotak berisi camilan arisan dan berkas-berkas majelis ibu-ibu.

Mereka berkumpul dengan wajah penuh semangat, mengenakan jilbab lebar dan gamis elegan warna pastel yang seragam, menciptakan aura kewibawaan khas wanita-wanita berpengaruh di pesantren.

Di antara sekumpulan sosok berwibawa itu, tampak satu sosok yang auranya sangat kontras.

Kanza Arumi.

Dengan gamis putih polos yang sedikit kepanjangan hingga menutupi mata kaki, dan kerudung segi empat yang jelas terlihat tidak disetrika dengan sempurna karena dikejar waktu.

Kanza duduk di antara para bude dengan wajah tegang yang dipaksakan untuk terlihat anggun.

Senyumnya kaku, tangannya meremas ujung gamis dengan gelisah, sementara matanya sesekali melirik ke arah pintu keluar, menghitung jarak untuk kabur.

“Kanza ya?” tanya salah satu bude dengan nada sangat ramah.

Kanza langsung mengangguk dengan semangat yang sedikit berlebihan.

“Iya, Bu—eh, Bude. Saya Kanza. Menantunya Umah. Istrinya... itu, Mas Hanan Arkan.”

Para bude tersenyum simpul, beberapa tampak menyembunyikan tawa melihat gaya Kanza yang masih "liar" untuk ukuran menantu.

Satu bude lain mencolek pundaknya dengan sayang.

“Wah, akhirnya ketemu juga. Kamu yang lucu itu ya? Yang katanya kalau bicara suka ajaib dan aneh-aneh? Hehe.”

Kanza langsung nyengir lebar, mencoba membela diri.

“Aduh... itu gosip jahat yang beredar di asrama santri, Bude. Aslinya saya mah pendiam. Lembut seperti sutra. Penuh tata krama, kesantunan, dan kehati-hatian tingkat tinggi.”

Mendengar itu, para bude justru tertawa serempak.

Salah satu bude yang paling vokal menatapnya sambil tersenyum lebar penuh selidik.

“Kemarin katanya kamu melakukan aksi pengejaran mangga ya di dekat kantin?”

Kanza langsung menegakkan punggungnya secara dramatis.

“Itu... sebenarnya saya sedang melakukan olahraga kombinasi antara lari cepat dan loncat indah. Sayangnya, jalur jogging saya kebetulan lewat kebun. Dan benar-benar kebetulan sekali ada pohon mangga nyempil di sana yang sedang menggoda.”

“Terus sampai melempar batu juga?” tanya bude lainnya sambil menahan tawa.

“Eits,” Kanza mengangkat telunjuknya ke udara.

“Bukan batu, Bude. Itu adalah alat bantu navigasi loncat. Biar mangga itu tahu... kalau saya punya niat yang tulus untuk memetiknya.”

Semua bude tertawa terpingkal-pingkal mendengar pembelaan yang sama sekali tidak masuk akal itu.

Kanza ikut tertawa, padahal dalam hati ia nyaris menangis karena menanggung malu yang luar biasa.

Tapi demi harga diri sebagai istri Gus Hanan, ia tetap mempertahankan ekspresi elegan, setidaknya versi elegan menurut dirinya sendiri.

Satu bude tiba-tiba mendekat dan memberikan selembar kertas berisi jadwal padat kegiatan ibu-ibu pondok.

“Kalau sempat, boleh ikut mengisi pengajian ibu-ibu juga ya. Biasanya menantu memang ikut terjun langsung bantu-bantu di majelis.”

Kanza melotot dalam hati. "Bisa-bisa jamaahnya malah diajak mabar" tapi wajahnya tetap memaksakan senyum manis.

“Boleh banget, Bude. Tapi saya ngajinya baru lancar sampai surat An-Naba. Itupun kadang iramanya kepleset ke nada iklan sabun karena suara saya lebih cocok jadi narator sinetron drama pagi.”

“Wah, bagus dong, unik!” kata bude satunya dengan antusias.

“Besok ikut kajian pagi ya. Nanti berangkat bareng Aisya.”

Kanza terdiam sesaat, membayangkan dirinya harus bangun subuh dan duduk khidmat berjam-jam, lalu pelan-pelan menjawab.

“Siap, Bude. Tapi kalau nanti di tengah pengajian saya tidak sengaja mengantuk, boleh bawa bantal leher ya? Biar estetik tidurnya.”

Semua bude: “HAHAHAHA!"

"Aduh Ning, Ning... kamu ini ada-ada saja!"

Di balik semua gelak tawa dan rentetan kesalahpahaman itu, Kanza perlahan mulai diterima dengan hangat.

Di mata para bude, menantu yang satu ini memang sangat absurd dan jauh dari kata konvensional.

Tapi justru dari keabsurdan dan kejujuran itulah, hari-hari di ndalem yang biasanya sunyi dan kaku kini terasa jauh lebih hidup dan berwarna.

Kanza Arumi, sang perusak suasana formal, secara tidak sadar mulai menjadi kesayangan baru di sana.

Pagi yang cerah di ndalem pondok. Udara sejuk menyelinap lewat jendela kayu berukir yang terbuka lebar, membawa aroma bunga melati dari halaman yang seketika memenuhi ruangan.

Para ibu-ibu pondok telah duduk rapi melingkar di atas karpet beludru ruang utama.

Mereka mengenakan gamis dan kerudung warna pastel yang senada, masing-masing memegang mushaf kecil serta buku catatan dengan khidmat.

Dan... di antara barisan wanita-wanita teduh itu, muncullah sosok yang berusaha sekuat tenaga untuk menyatu dengan suasana, meski auranya tetap saja "berbeda".

Kanza Arumi.

Dengan gamis ungu muda dan jilbab syar’i warna biru dongker yang ia pinjam dari Umah, karena stok gamis miliknya sendiri masih tertahan di laundry dan berbau pewangi terlalu tajam, ia duduk merapat ke Mbak Aisya dengan senyum kaku yang dipaksakan.

“Aduh, Mbak... ini pertama kalinya Kanza ikut kajian ibu-ibu. Rasanya seperti... Kanza baru saja salah masuk dimensi lain,” bisik Kanza gelisah.

Aisya tersenyum lembut, tangannya terampil membenarkan posisi kerudung Kanza yang sedikit miring.

“Tenang, Mbak. Nanti juga terbiasa. Duduk saja yang manis, dengarkan. Kalau mulai merasa ngantuk, silakan minum teh hangatnya.”

“Boleh bawa bantal leher tidak? Yang bentuk kucing?” bisik Kanza lebih pelan lagi.

Aisya langsung nyengir kecil. “Mbak Kanza ini niatnya sepertinya belum lurus seratus persen, nih.”

Kajian pun dimulai. Seorang ustadzah berwajah teduh duduk di barisan depan.

Suaranya lembut dan teratur, menyampaikan materi kajian bertema: “Mengenal Diri dan Menundukkan Hawa Nafsu”.

Kanza awalnya terlihat sangat serius. Ia mencatat di buku barunya. Ia mengangguk-angguk takzim.

Bahkan sesekali ia bergumam “Masya Allah” dengan nada berat agar terlihat seperti santriwati senior yang sudah khatam banyak kitab.

Tapi, lima belas menit kemudian...

Matanya mulai sayu, tertular efek suara ustadzah yang terlalu menenangkan.

Tangannya mulai jahil memainkan ujung jilbab syar’inya. Lalu, ia menyenggol lengan Aisya dan membisikkan pertanyaan eksistensial:

“Mbak... ini nafsu yang dimaksud itu... termasuk nafsu makan juga, kan?”

Aisya langsung tersedak ludah sendiri, berusaha menahan tawa agar tidak merusak kekhusyukan ruangan.

Kanza melanjutkan dengan wajah semakin melas.

“Soalnya Kanza merasa, setiap kali mendengar ceramah yang mendalam begini, ujung-ujungnya otak Kanza malah terbayang gorengan hangat di depan gerbang pondok... Itu juga termasuk godaan hawa nafsu yang harus diperangi, ya?”

Beberapa ibu-ibu yang duduk di dekat mereka mulai melirik dan berbisik pelan melihat tingkah menantu baru itu.

Aisya hanya bisa menyenggol lengan Kanza sambil menahan tawa habis-habisan.

Kajian berlanjut. Ustadzah bicara tentang mujahadah, tentang pentingnya sabar dan cara mengontrol emosi di dalam rumah tangga.

Tiba-tiba, Kanza mengangkat tangannya dengan penuh keyakinan.

Semua mata menoleh. Ustadzah tersenyum ramah.

"Iya, silakan, Ning Kanza."

Kanza memasang wajah serius dengan alis yang berkerut dalam.

"Ustadzah, misalnya nih ya... kita lagi berusaha menahan emosi sekuat tenaga, seperti... saat pasangan kita tiba-tiba mengajak ngobrol tepat ketika kita sudah di puncak rasa ngantuk. Terus dia malah mengajak diskusi topik super berat, kayak 'Peran Strategis Perempuan dalam Pembangunan Bangsa Menuju Era Global'. Nah, itu kalau kita refleks marah atau melempar guling, masih termasuk hawa nafsu yang dilarang, atau... itu reaksi biologis yang wajar karena otak sudah lowbat?"

Seketika ruangan menjadi HENING total.

Beberapa bude sudah mulai menutup mulut menahan tawa. Ustadzah pun tampak berjuang keras menjaga kewibawaannya agar tidak ikut tertawa.

“Kalau marahnya karena memang sudah sangat lelah dan mengantuk, itu tentu manusiawi, Ning. Tapi tetap harus dijaga komunikasinya agar tetap santun sebagai istri...” jawab Ustadzah bijak.

Kanza tersenyum malu-malu kucing.

“Soalnya kemarin... saya sempat ngambek karena Mas Hanan Arkan mengajak diskusi filsafat saat saya lagi asyik makan ayam geprek. Emosi saya mendadak jadi fluktuatif seperti harga cabai di pasar, Ustadzah.”

Satu ibu-ibu di pojok menyahut.

“Masya Allah, istri Gus Hanan  ini… sungguh berwarna ya hidupnya…”

Ruangan pun meledak dalam tawa hangat. Bahkan ustadzah ikut tertawa pelan sambil geleng-geleng kepala melihat kepolosan Kanza.

Aisya menepuk jidatnya sendiri, “Mbak Kanzaaa... malu-maluin Mas Hanan saja.”

“Tidak apa-apa, Mbak. Ini namanya dakwah dari hati ke hati. Biar para jamaah merasa ada temannya yang juga tidak sempurna,” balas Kanza bangga.

Setelah kajian usai, para ibu-ibu saling bersalaman dengan ramah. Banyak yang sengaja mendekati Kanza sambil tersenyum geli.

“Ning Kanza lucu ya, jadi semangat saya kalau ikut pengajian begini. Semangat terus ya belajarnya.”

Kanza membalas dengan suara yang dibuat-buat bijak.

“Benar, Bu. Karena bagi saya, hidup adalah perjalanan spiritual yang panjang... dan penuh dengan petualangan kuliner.”

Seorang bude di sebelahnya langsung terbatuk karena berusaha menahan tawa yang hampir meledak kembali.

Kanza dan Aisya akhirnya berjalan kaki pulang menuju kediaman mereka. Di sepanjang jalan setapak pondok, Aisya berkata sambil tertawa.

“Besok ikut kajian lagi ya, Mbak. Tapi tolong, jangan angkat topik gorengan atau diskusi filsafat saat jam makan lagi.”

Kanza mengangguk dengan mantap, memperbaiki posisi tasnya.

“Oke. Besok Kanza berjanji akan bersikap lebih dewasa dan berwibawa... Tapi kalau tiba-tiba ada jamaah yang membawa risoles hangat, Kanza tetap boleh jadi orang pertama yang mencicipi, kan?”

Aisya tertawa terbahak-bahak, menyadari bahwa hidup bersama kakak ipar seperti Kanza Arumi memang tidak akan pernah membosankan.

1
partini
tau agama tapi hati penuh iblis no good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!