Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Kepanikan Seorang Ibu
"Dia benar, mahluk daratan berambut putih! Struktur ekor emasmu tadi memancarkan esensi energi yang teramat masif, merusak formasi berenangku!"
Moana mendongakkan kepalanya, rasa perih membakar yang menjalar di sepanjang jalur otot belakangnya seolah-olah sedikit teralihkan oleh timbunan rasa penasaran yang murni di dalam batinnya.
"Apakah... apakah kau sebenarnya merupakan sesosok makhluk sejenis malaikat langit dari buku dongeng kuno, atau kau sebenarnya adalah seekor ikan hias ajaib yang memendam sayap?" tanya Moana dengan nada polos yang teramat murni, secara spontan sukses membuat atmosfer ketegangan di antara mereka bertiga bergerak mencair kembali.
"Apakah kau memendam rasa sakit yang parah di dalam tubuhmu?" tanya Alan dengan nada suara yang sarat akan kecemasan mendalam, sengaja mengabaikan pertanyaan polos Moana mengenai asal-usul biologisnya.
"Terima kasih atas kepedulianmu, Alan. Kondisi batin dan fisikku saat ini sudah berada di dalam fase yang agak mendingan, aku bersumpah hanya menderita beberapa luka lecet ringan biasa akibat gesekan pasir," ucap Moana berbohong, memaksakan seulas senyuman manis muncul di wajahnya untuk menyembunyikan rasa nyeri yang mencekik tulang belakangnya.
"Dia sedang melontarkan bualan palsu di depan wajahmu, Alan! Fisiknya sama sekali tidak sedang berada di dalam kondisi aman! Lihat rona darah di area punggung belakangnya!" seru Justin lantang sembari berdiri tegak dan menepuk-nepuk sisa kotoran pasir pantai yang menempel di celana kainnya. Jarinya menunjuk lurus ke arah robekan pakaian renang di bagian punggung Moana agar Alan bisa memvalidasi tingkat keparahan benturan pohon kelapa tersebut.
"Mohon maafkan aku... seluruh tragedi malapetaka sore ini murni bersumber dari kesalahan dan kelalaian tindakanku," gumam Alan lirih, kepalanya menunduk rendah menatap pasir.
Ada rasa kelegaan yang besar di hatinya saat mendeteksi bahwa sistem tubuh Justin tidak menderita infeksi luka robek baru, namun di sisi lain, sebaris anak panah rasa bersalah yang tajam kembali menghujam ulu hatinya saat menyaksikan kondisi fisik Putri Abyssal Trench tersebut berada di dalam fase yang memprihatinkan akibat dampak dari ledakan elemen sihir petirnya sendiri.
"Kau sama sekali tidak memendam kewajiban untuk melontarkan kalimat permohonan maaf kepada kami, Alan! Ini bukan merupakan buah kesalahan dari karaktermu. Hukum yang terpenting untuk detik ini adalah fakta bahwa kita semua berhasil selamat hidup-hidup dari cengkeraman mahluk buruk rupa itu," tutur Moana dengan nada suara lirih namun stabil.
"Kapasitas logistik kita di pantai ini terbatas, lebih baik kau bantu aku untuk memapah tubuh Moana melangkah masuk ke dalam bangunan toko sekarang juga! Kita harus segera mengoleskan ramuan obat dalam untuk meredakan infeksinya," perintah Alan tegas, melirik tajam ke arah Justin dan Helios Marine.
"Baiklah, aku akan mengambil posisi di sisi kanan!" jawab Justin sigap.
Tanpa membuang sisa waktu berharga lebih lama lagi, jajaran anak-anak kecil itu bergerak taktis. Justin dan Alan mengambil posisi di kedua sisi samping, memapah erat sepasang pundak Moana, membimbing langkah kaki gadis itu untuk melangkah secara perlahan meniti hamparan pasir pantai, sementara Helios Marine berjalan di depan untuk membawakan ember mainan pasir dan memastikan jalur setapak bebas dari batuan karang tajam.
Ayunan langkah kaki mereka terasa teramat berat dan lambat di atas permukaan pasir pantai putih Pesisir Azure yang amblas setiap kali diinjak. Moana mengerahkan seluruh kontrol mentalnya untuk menyembunyikan setiap rintihan suara sakit yang mendesak keluar dari sela bibirnya di antara papahan kokoh Justin dan Alan.
Kaos oblong putih kebesaran milik Alan yang menjuntai panjang sesekali tampak berkibar acak ditiup oleh embusan angin malam samudra yang kencang, menyajikan sebaris pemandangan aneh bin ganjil bagi siapa saja yang melihat tiga anak supernatural berambut hitam, pirang, dan putih berjalan beriringan menuju ke bangunan kayu yang merangkap fungsi sebagai toko suvenir sekaligus rumah kediaman keluarga Nixie.
Sesampainya di depan daun pintu belakang, Justin dengan pergerakan motorik vampirnya yang sigap langsung mendorong membukakan jalan masuk, sementara Alan memastikan poros tumpuan berat tubuh Moana tetap berdiri dengan stabil tanpa guncangan.
Aroma wewangian dari kayu ek tua dan keharuman tanaman herbal rempah murni dari bagian dalam interior toko langsung menyambut indra penciuman mereka, menyajikan sebuah stimulasi rasa aman yang luar biasa damai jika dibandingkan dengan seluruh kegilaan maut yang baru beberapa menit lalu mereka lalui di tengah amukan lautan lepas.
"Baringkan posisi tubuhnya secara perlahan di atas sofa kain empuk itu," perintah Alan dengan nada suara yang telah bertransformasi menjadi jauh lebih tenang namun tetap memancarkan otoritas komando yang kaku.
"Bibi Nerissa! Gawat, Kak Moana menderita luka benturan yang parah di pantai!" teriak Justin dengan ritme napas yang tersengal-sengal parah saat tubuh kecilnya menyeruak masuk memotong tirai pembatas dapur kayu.
Nerissa Marine yang sedang sibuk menyusun toples-toples kaca berisi kue mentega di atas meja konter dapur seketika itu juga terlonjak kaget setengah mati. Wadah toples di jemari tangannya nyaris saja terlepas jatuh menghantam lantai.
Wanita Mermaid cantik itu segera memutar tubuhnya secepat kilat, mendapati wujud Justin yang berdiri dengan visual wajah pucat pasi, dipenuhi bulir peluh keringat dingin, dan pakaian yang basah oleh air laut.
"Apa yang baru saja kau katakan, Justin?! Putriku Moana kenapa?!" tanya Nerissa Marine, nada suaranya secara instan naik satu oktav menegang kaku.
Ulasan senyuman manis yang beberapa menit lalu menghiasi wajah anggunnya kini luntur total tanpa bekas, digantikan oleh gurat kecemasan psikologis yang teramat mendalam. Toples kaca yang dipegangnya ditaruh kasar di atas meja kayu, menciptakan bunyi denting besi yang memekakkan kesunyian dapur.
Justin menundukkan kepalanya lesu menatap lantai papan, sepasang jemari tangannya yang mungil sibuk memilin ujung kain bajunya yang basah kuyup oleh sisa air samudra.
"Tolong... mohon jangan melayangkan amarah pada kami, Bibi Nerissa... Tubuh Moana tidak sengaja terhempas hebat menghantam batang pohon kelapa di pantai Azure saat kami semua sedang nekat berenang mencoba untuk menolong nyawa teman baikku yang jatuh ditelan arus."
Tanpa membutuhkan untaian penjelasan verbal yang lebih panjang lebar lagi, Nerissa Marine langsung melepaskan seluruh pekerjaan dapurnya. Dia melesat maju laksana kilatan angin, menerobos tirai pembatas menuju ke ruang depan toko suvenir, meninggalkan Justin yang masih berdiri mematung kaku di tengah dapur dengan jepitan rasa bersalah yang teramat kuat menghimpit rongga dadanya.
"Moana Nixie! Kenapa kau sama sekali tidak mau mendengarkan dan mematuhi kalimat peringatan dari mulut Ibumu sendiri?!"
Nerissa Marine muncul dari arah koridor dapur dengan langkah kaki yang terburu-buru. Visual wajah cantiknya tampak pucat pasi, tertutup sepenuhnya oleh kabut kepanikan maternal yang teramat nyata.
Alan yang tadinya sedang berlutut menginterogasi Moana mengenai detail rasa sakitnya, kini mendadak menghentikan total vokalnya.
Dia terdiam membeku, memutar kepalanya beralih menatap kedatangan Nerissa Marine, membiarkan rentetan pertanyaan bernada interogasi sang ibu menghantam psikologis Moana dengan tingkat ketajaman yang jauh lebih telak daripada pertanyaannya sendiri.
Atmosfer di dalam ruang tamu toko suvenir seketika itu juga bermutasi berubah menjadi teramat tegang, kaku, dan dingin. Posisi tubuh Moana terjepit kaku di antara tatapan mata ungu menyelidik milik Alan di sisi kanan, dan luapan kecemasan emosional yang memancar dari tubuh ibunya di depan sofa. Helios Marine yang berdiri di dekat jendela kaca ikut menyusutkan tubuhnya, menelan ludah ketakutan melihat bibinya murka.
"Moana! Cepat buka mulutmu dan jawab kalimat Ibu! Kenapa kau hanya memilih diam membisu laksana patung batu?!"
Volume suara Nerissa Marine naik satu oktav lebih tinggi, bergetar hebat karena rasa ketakutan mendalam seorang ibu yang menyamar sempurna menjadi untaian amarah militer. Dia melangkah maju menuntut kepastian penjelasan taktis yang tak kunjung keluar dari sela bibir putrinya yang terkatung diam.
Moana tetap mempertahankan posisi mematung di atas sofa, tidak berani mendongak.
"Moana Nixie," Nerissa Marine mengulang penyebutan nama fungsional putrinya dengan nada intonasi yang kian meninggi menekan udara ruangan. "Kenapa kau justru nekat tidak mendengarkan kata-kata larangan Ibu untuk menjauhi tengah laut lepas?!"