NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Di dalam mobil, Zayyan yang duduk di kursi belakang tiba-tiba membuka suara.

"Ibu... Ibu tadi berantem ya sama Om Baik?" tanya Zayyan polos.

Arin diam. Matanya lurus menatap jalanan, tapi tangannya meremas roknya dengan kuat.

"Ibu tahu nggak, tadi Om Baik jemput aku pakai mobil. Aku juga dibeliin baju baru sama mainan banyak banget," cerita Zayyan semangat. "Ibu sih tadi langsung angkat Zayyan. Aku kan mau bawa mainannya."

"Zayyan, cukup!" potong Arin cepat.

Arin menoleh ke belakang dengan napas memburu. "Ibu bilang cukup. Jangan sebut-sebut Om itu lagi!"

Zayyan tersentak. Anak kecil itu langsung diam ketakutan, matanya mulai berkaca-kaca.

"Kalau dia datang lagi, jangan dekat-dekat! Langsung lari," bentak Arin sedikit keras. "Kamu masih mau tinggal sama Ibu, kan? Kalau mau, turuti kata Ibu!"

"Rin," tegur Fahri yang sedang menyetir. Suaranya terdengar tegas. "Jangan keras-keras sama Zayyan. Dia nggak tahu apa-apa."

Zayyan langsung menunduk sambil memegang bajunya. Sementara Arin membuang muka ke luar jendela.

Mobil Fahri akhirnya berhenti di depan mess. Zayyan yang masih ketakutan langsung turun dan berlari masuk ke dalam rumah lebih dulu, meninggalkan Arin dan Fahri di dekat mobil.

Saat Arin hendak menyusul langkah anaknya, Fahri menahan lengan Arin pelan.

"Bisa bicara sebentar, Rin?" tanya Fahri.

Arin berbalik, menatap Fahri dengan tatapan tajam. "Sama, Pak. Aku juga mau bicara."

"Ya sudah, kamu saja duluan," ucap Fahri memberi kesempatan.

"Pak Fahri sebenarnya punya hubungan apa sama Regan?" tanya Arin langsung tanpa basa-basi.

Fahri mengembuskan napas panjang. Ia menatap Arin dengan tenang sebelum menjawab, "Saya berteman lama dengan Regan."

Arin tertawa pelan, sebuah tawa sinis penuh kekecewaan. "Oh... jadi Bapak bersekongkol sama dia? Sengaja bawa saya dan Zayyan ke sini untuk dijebak?"

"Tak ada niatan seperti itu, Rin. Kamu dengar sendiri kan waktu di kampung? Ibu mertua saya yang menyarankan agar kamu ikut kerja di sini. Saya sama sekali nggak ada niatan buruk apa pun," bela Fahri.

Fahri jeda sejenak, lalu melanjutkan, "Tapi soal Regan, memang saya yang memberi tahu dia kalau kamu ada di sini. Biar kamu tahu, Rin... udah sembilan tahun dia nungguin kamu. Dia cari kamu ke sana kemari hanya untuk tahu alasan kenapa kamu pergi."

Arin memalingkan wajah, enggan mendengarkan.

"Dulu dia bahkan hampir gila karena kamu hilang tanpa kabar," tambah Fahri lagi.

"Mungkin sekarang Regan udah nikah sama perempuan lain, kalau saja dia nggak cinta mati sama kamu."

"Bapak nggak tahu apa-apa!" sentak Arin, suaranya bergetar hebat. "Jangan sok tahu tentang apa yang terjadi sembilan tahun lalu!"

Fahri terdiam, menatap Arin yang tampak begitu terluka.

"Bapak cuma tahu Regan yang hampir gila, tapi Bapak nggak pernah tahu gimana rasanya jadi saya!" lanjut Arin dengan napas memburu, dadanya naik turun menahan gejolak emosi.

"Dia cinta sama saya? Kalau dia cinta, dia nggak akan..."

Arin menggantung kalimatnya. Tenggorokannya mendadak tercekat, tak sanggup menyuarakan rasa sakit yang teramat dalam tentang malam jahanam sembilan tahun lalu.

Arin menghapus air matanya dengan kasar, lalu menatap Fahri dengan tatapan dingin. "Tolong jangan pernah bela dia lagi di depan saya, Pak. Bagi saya, Regan tetap orang brengsek yang sudah menghancurkan hidup saya dan Zayyan."

Tanpa menunggu jawaban dari Fahri, Arin langsung berbalik dan berjalan cepat masuk ke dalam mess, meninggalkan Fahri yang hanya bisa mengembuskan napas berat.

Fahri melangkah masuk ke dalam apartemennya yang hangat. Begitu pintu terbuka, Rania sudah berdiri di sana, menyambutnya dengan senyuman manis yang seketika melunturkan seluruh lelah di pundak Fahri.

"Baru pulang, Mas?" sapa Rania lembut, mengambil alih tas kerja dari tangan suaminya.

Fahri tersenyum tipis, lalu mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang. Ia membawa Rania ke dalam pelukan hangat sejenak, menghirup aroma menenangkan dari sang istri.

Setelah pelukan terlepas, tangan Fahri perlahan turun, mengusap lembut perut Rania yang kini mulai membuncit.

"Gimana kabar kamu hari ini, Sayang? Kandungan kamu baik-baik saja, kan? Ada keluhan lagi nggak?" tanya Fahri beruntun, menatap Rania dengan tatapan penuh perhatian.

Rania tersenyum lalu menggenggam tangan Fahri yang masih berada di perutnya. "Aku baik-baik saja, Mas. Dedek bayi di dalam juga pinter banget hari ini, nggak bikin mamanya mual sama sekali."

Fahri mengembuskan napas lega mendengarnya. Rasa penat setelah seharian menghadapi peliknya masalah Regan dan Arin rasanya menguap begitu saja melihat senyuman istrinya.

"Syukurlah kalau begitu. Mas sempat khawatir tadi di jalan," ucap Fahri sambil menuntun Rania untuk duduk bersama di sofa ruang tamu.

Rania memperhatikan wajah suaminya yang tampak lelah, ada gurat kecemasan yang samar di sana. "Mas Fahri ada masalah di kantor? Atau... ini soal Arin?"

Fahri terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu memijat pelipisnya perlahan. "Tadi terjadi keributan di sekolah Zayyan, Nia. Regan nekat menjemput anak itu tanpa sepengetahuan Arin."

Rania terbelalak kaget. "Astaga... lalu bagaimana dengan Arin, Mas?"

"Arin marah besar. Bahkan tadi di depan mess, dia menuduhku bersekongkol dengan Regan untuk menjebaknya di sini," cerita Fahri dengan nada lesu.

"Dia benar-benar menutup diri. Setiap kali aku mencoba membela Regan, Arin selalu bilang kalau aku tidak tahu apa-apa tentang penderitaannya sembilan tahun lalu."

Rania mengusap lengan suaminya secara lembut, mencoba memberikan ketenangan. "Sabar ya, Mas. Trauma sembilan tahun itu pasti nggak mudah buat Arin. Mas sudah melakukan yang terbaik sebagai penengah."

......................

Malam semakin larut. Jarum jam sudah melewati angka dua, namun Arin masih terduduk diam di sudut tempat tidur. Pandangannya kosong, sementara pikirannya masih carut-marut memikirkan konfrontasi dengan Fahri dan Regan tadi siang. Zayyan sudah tertidur lelap di sampingnya.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu yang cukup keras memecah keheningan malam.

Arin tersentak. Ia menoleh ke arah jam dinding, lalu melirik pintu mess dengan kening berkerut. Perlahan, ia turun dari kasur agar tidak membangunkan Zayyan. Langkah kakinya bergerak pelan mendekati pintu.

Tok! Tok!

Ketukan itu terdengar sekali lagi, lebih mendesak.

"Siapa?" tanya Arin, namun tidak ada jawaban dari luar.

Arin memutar kunci dan membuka pintu mess. Angin malam yang dingin langsung berembus menerpa wajahnya. Ia melongokkan kepala keluar, memandang koridor mess yang sepi dan remang-remang. Tidak ada siapa-siapa di sana. Orang yang mengetuk pintu tadi sudah menghilang.

Saat Arin hendak menutup kembali pintunya, matanya tak sengaja menangkap selembar amplop putih yang digeletakkan di atas lantai, tepat di depan keset.

Arin membungkuk, mengambil amplop itu, lalu kembali masuk dan mengunci pintu.

Dengan tenang, ia merobek amplop tersebut dan mengeluarkan selembar kertas di dalamnya. Ada tulisan tangan dengan huruf kapital.

PERGI DAN BAWA ANAKMU SEJAUH MUNGKIN DARI KOTA INI JIKALAU KAMU MASIH MAU ANAKMU ITU SELAMAT! JANGAN PERNAH MENAMPAKKAN DIRI LAGI DI DEPAN REGAN

Arin selesai membaca untaian kata ancaman itu. Tidak ada kepanikan, ketakutan, atau air mata yang keluar. Wajahnya justru mendadak berubah menjadi sangat dingin dan datar.

Ia meremas kertas ancaman tersebut di dalam genggamannya hingga membentuk bola kecil, lalu membuangnya begitu saja ke tempat sampah di sudut ruangan. Matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan yang kosong namun menyimpan dendam yang amat dalam.

1
Anonim
ANJING PENGEN BUNUH REGAN ... DEMI TUHAN PENGEN BUNUH REGAN
Lina Asm
lanjut kak
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
🤣🤣 didikan mu jelek rin 🤣 pantes anak mu berontak harusnya klo ada yg nginjak lawan. bego bukan diem😒 di bully diem. ya bloon
falea sezi
lagian goblok nya harusnya pergi dr suami bawa uang banyak biar anak mu gk menderita bawa fto nikah di pajang gede biar orang kampung tau lu bersuamii😒 begooo MC nya menye
falea sezi
anak g tau diri😒 baru baca uda kesel anak gk pernah di didik. ya gini
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🌹
Mutaharotin Rotin
mampir thor 🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰😭😭
Mutaharotin Rotin
karya baru ya🥰🥰🥰 mampir ya 🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!