NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8

Aroma semur daging yang dimasak dengan bumbu seadanya perlahan menembus celah pintu kamar Issabelle, bercampur dengan bau malam yang lembap.

Kegelapan telah sepenuhnya menyelimuti pinggiran kota Los Angeles.

Di dalam kamar bawah tangga yang remang-remang, Issabelle masih berbaring diam, menatap kekosongan langit-langit dengan ponsel yang tetap bisu di sisinya.

Martha belum juga memberikan tanda-tanda kehidupan.

TOK! TOK! TOK!

Ketukan di pintunya kali ini terdengar lebih keras dan tidak sabaran, sangat berbeda dengan ketukan ragu-ragu milik Sloane beberapa jam yang lalu.

"Hei! Anak baru! Keluar, waktunya makan malam!" Sebuah suara cempreng khas remaja laki-laki yang sedang mengalami pubertas berteriak dari balik pintu.

Issabelle menghela napas pendek, lalu bangkit berdiri. Ia merapikan kaus hitam polos yang dikenakannya, memastikan pisau taktis titaniumnya tetap tersembunyi dengan aman, sebelum akhirnya membuka pintu.

Di depan pintu yang terbuka, berdiri Toby Wadde’. Anak laki-laki berusia 13 tahun itu masih mengenakan celana seragam junior high school-nya, namun kemejanya sudah diganti dengan kaus oblong bergambar pahlawan super yang agak pudar.

Jika kemarin dan tadi pagi anak ingusan ini terlihat sangat acuh, ketus, dan hanya berani menatapnya dengan pandangan menyelidik dari jauh, kali ini ekspresi wajahnya tampak sangat berbeda.

Ada ketegangan yang tertahan di balik binar matanya yang besar.

"Mom menyuruhku memanggilmu," ketus Toby, langsung berbalik memunggungi Issabelle dan mulai berjalan menyusuri lorong sempit menuju ruang makan.

Issabelle melangkah mengikutinya dengan ritme yang teratur. Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan di koridor yang minim pencahayaan itu, Toby mendadak memperlambat jalannya.

Langkah kaki anak itu bergeser hingga ia kini berjalan bersisian dengan Issabelle.

Sepasang matanya melirik tajam ke arah gadis di sebelahnya, seolah memastikan tidak ada orang lain yang mendengar apa yang akan dikatakannya.

"Hei," panggil Toby dengan suara yang ditekan rendah.

Issabelle tidak menoleh, ia tetap menatap lurus ke depan. "Apa?"

"Apa kau datang ke sini untuk menjemput ibuku?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Toby, sarat akan kecemasan yang mendalam dan nada defensif yang sangat kentara.

Issabelle menghentikan langkahnya sejenak, membuat Toby refleks ikut berhenti dan berbalik menghadapnya.

Sebelum Issabelle sempat merespons, bocah laki-laki itu maju satu langkah, mencoba menegakkan dadanya yang kurus untuk terlihat mengintimidasi, meski tingginya bahkan tidak mencapai bahu Issabelle.

"Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan melepaskan ibuku! Aku tahu kau datang dari masa lalunya atau semacamnya, tapi Mom adalah ibuku sekarang. Kalau aku sudah besar nanti, aku yang akan bekerja keras dan menghidupinya. Aku akan membelikan rumah yang besar untuknya!"

Urat-urat kecil di leher Toby menegang, mencerminkan betapa seriusnya dia dengan kata-katanya. "Jadi, kau jangan pernah berpikir untuk datang dan merebut ibuku dari rumah ini!"

Issabelle menatap bocah kelas delapan di depannya itu selama beberapa detik.

Ketegangan yang tadinya sempat ia antisipasi seketika mencair, digantikan oleh rasa geli yang aneh.

Di dunianya di Frankfurt, setiap orang bertarung demi memperebutkan takhta kekuasaan, wilayah perdagangan, atau warisan miliaran Euro.

Namun di sini, di bawah atap rumah yang retak ini, seorang anak laki-laki sedang mempertaruhkan segalanya hanya untuk melindungi seorang ibu yang bahkan tidak berdaya menghadapi suaminya sendiri.

Sebuah kekehan rendah—suara tawa yang jarang sekali keluar dari bibir dingin Issabelle—lolos begitu saja. Ia menggelengkan kepalanya pelan.

"Jadi, ini alasanmu?" tanya Issabelle, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang tidak lagi terasa mengancam.

"Ini alasan mengapa sejak kemarin dan tadi pagi kau terus menatapku seakan-akan aku adalah musuh terbesarmu?"

Wajah Toby seketika merona merah, merasa terpojok karena motif rahasianya terbongkar dengan begitu mudah. "J-jangan tertawa! Aku serius!"

Issabelle melangkah maju, melewati Toby dengan keanggunan yang natural.

Sembari berjalan, ia menyahut tanpa menoleh kembali,

"Jangan khawatir, Bocah. Dia ibumu, dan dia akan tetap menjadi ibumu. Aku tidak memiliki ketertarikan sedikit pun untuk merebut siapa pun dari rumah ini. Dunia nya dan duniaku sudah selesai Enam belas tahun yang lalu."

Mendengar penegasan yang begitu mutlak dan dingin dari Issabelle, langkah kaki Toby seketika membeku.

Ia mencerna kata-kata itu dengan cepat.

Rasa cemas yang membakar dadanya sejak kemarin malam perlahan-lahan menguap, digantikan oleh kelegaan yang luar biasa.

Bocah laki-laki itu langsung memutar tubuhnya dan berlari kecil untuk menyusul Issabelle.

Sebuah senyuman lebar, tulus, dan khas anak-anak seusianya kini terbit di wajahnya yang sempat masam.

"Benarkah? Kau berjanji?" tanya Toby, matanya berbinar gembira. Ia menjulurkan tangan kanannya ke depan wajah Issabelle, membentuk sebuah kepalan tinju kecil.

"Deal?"

Issabelle melirik kepalan tangan itu dengan alis yang sedikit terangkat.

Gaya kekanak-kanakan Amerika ini benar-benar asing baginya.

Namun, melihat binar kepasrahan dan kebahagiaan sederhana di wajah adik tirinya, Issabelle akhirnya mengangkat tangan kanannya, memukulkan buku jarinya pelan ke arah kepalan tangan Toby.

"Deal," jawab Issabelle pendek.

Toby menarik tangannya kembali dengan puas, lalu berjalan di samping Issabelle dengan gaya yang jauh lebih santai, bahkan mulai bersiul kecil seolah-olah mereka adalah teman lama yang baru saja menyelesaikan sebuah misi rahasia.

Ketika mereka melangkah masuk ke area ruang makan, Issabelle langsung memindai seluruh ruangan.

Meja makan kayu yang permukaannya dipenuhi noda minyak itu hanya diisi oleh tiga orang: Sloane, yang sedang menyendokkan nasi ke dalam piring dengan mata yang masih sedikit sembap; Chloe, yang sibuk mengetik di ponselnya dengan riasan wajah yang sudah setengah terhapus; dan Claire, yang duduk diam memegang garpu sambil menatap kosong ke arah meja.

Pria itu tidak ada di sana. Harrison Wadde' tidak duduk di kursi utamanya.

Melihat kursi kosong di ujung meja yang biasanya dikuasai oleh pria kasar itu, Issabelle kembali merasakan ketenangan yang nyata merayap di dalam dadanya.

Tidak ada aura intimidasi murahan, tidak ada bau alkohol, dan tidak ada suara bentakan.

Setidaknya untuk malam ini, atmosfer rumah ini terasa jauh lebih manusiawi karena ketidakhadiran sang ayah tiri.

"Duduklah, Issabelle, Toby," ucap Sloane dengan nada suara yang sangat lembut, hampir seperti berbisik.

Ia meletakkan semangkuk besar semur daging di tengah meja, lalu melirik Issabelle dengan pandangan penuh kehati-hatian, masih teringat jelas akan tamparan verbal yang diterimanya sore tadi.

Toby langsung menduduki kursinya di sebelah Claire dan mulai mengambil makanan dengan lahap, sementara Issabelle mengambil kursi di sudut yang paling dekat dengan jalur keluar, mempertahankan kewaspadaannya yang sudah mendarah daging.

"Mom mana, Dad?" tanya Toby di sela-sela kunyahannya.

"Ayahmu harus menyelesaikan perbaikan mobil sport di bengkel hingga larut malam. Kemungkinan besar dia tidak akan pulang untuk makan malam," jawab Sloane pelan, ada sedikit nada lega yang tersembunyi di balik suaranya yang lelah.

Chloe mendengus keras, melempar ponselnya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi benturan yang bising.

"Baguslah. Aku juga sedang malas melihat wajah Dad yang terus mengeluh tentang tagihan kartu kreditnya. Gara-gara dia, Aku tidak bisa membeli gaun baru untuk pesta akhir pekan ini di rumah kelompok anak-anak elit!"

Mata Chloe kemudian beralih, menatap tajam ke arah Issabelle yang sedang memotong daging di piringnya dengan gerakan yang sangat rapi dan tenang.

"Hei, Anak Haram," panggil Chloe dengan nada angkuh yang sengaja dibuat-buat.

"Kuharap kau tahu diri besok di sekolah. Tadi siang di kantin, kau benar-benar membuat malu! Berani-beraninya kau duduk di meja milik kelompok Navarro Von-riccardo?! Kau tahu tidak, gara-gara tindakan bodohmu itu, seluruh anak di tingkat tingkat akhir membicarakan bagaimana keluarga kita memiliki anggota baru yang udik dan miskin!"

Issabelle tidak berhenti mengunyah. Ia bahkan tidak mengangkat pandangannya dari piring untuk menatap Chloe.

Baginya, suara Chloe tidak lebih dari sekadar kebisingan latar belakang yang tidak memerlukan respons logis.

Namun, sebelum Issabelle atau Sloane sempat berbicara, Toby mendadak menghentikan sendoknya. Ia menatap kakak kandungnya dengan pandangan masam.

"Bisakah kau diam sejenak, Chloe? Mulutmu berisik sekali seperti burung gagak. Biarkan dia makan dengan tenang."

Chloe membelalakkan matanya, tidak percaya bahwa adik laki-lakinya yang biasanya selalu berada di pihaknya kini justru membela anak baru itu.

"Apa katamu, Toby?! Kau membela dia?!"

"Aku tidak membela siapa pun, aku hanya lapar!" sahut Toby ketus, kembali menyuapkan makanan ke mulutnya dengan acuh.

Claire, yang sejak tadi terdiam, melirik ke arah Issabelle dengan pandangan penuh rasa ingin tahu.

Ia menyadari bahwa hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, kehadiran Issabelle telah membawa pergeseran yang aneh di dalam rumah ini—mulai dari ibunya yang menangis diam-diam, hingga Toby yang mendadak mengubah sikapnya.

Sloane buru-buru menengahi sebelum perdebatan si kembar semakin memanas.

"Sudah, habiskan makanan kalian. Jangan bertengkar di depan meja makan."

Suasana kembali hening, menyisakan suara denting alat makan yang beradu.

Di bawah temaram lampu gantung yang murah, Issabelle menyelesaikan makan malamnya dengan ketenangan yang mutlak.

Pikirannya tidak lagi berada di ruang makan ini, melainkan melayang kembali ke arah kawasan elite pantai barat, di mana nama klan-riccardo berkuasa.

Ia tahu, ketidakhadiran Harrison malam ini memberikan kedamaian sementara di rumah ini.

Namun di luar sana, di bawah langit Los Angeles yang pekat, sebuah perburuan tak kasat mata mungkin sedang dimulai, dan Issabelle harus memastikan dirinya siap ketika sang predator puncak sekolah itu memutuskan untuk melacak jejak wangi mawar es miliknya yang telah hilang.

1
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
Mia Camelia
visual nya sempurna banget 🥰🥰👍
Ros 🌷🦋: huhu ma'aciww kak 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
bucin akut nih navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkw 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!