1. "THE 13TH FLOOR"
Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist
Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.
Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.
Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22 anggota ketiga belas
Malam itu hujan turun tanpa henti.Alea, Raka, dan Naura memutuskan berkumpul di rumah Naura untuk menyusun semua petunjuk yang mereka miliki.
Di atas meja ruang tamu terbentang foto-foto lama, artikel koran, dan catatan tentang Hotel Karunia.
Raka menunjuk simbol XIII yang ada di foto.
"Aku yakin ini bukan sekadar logo."
"Ini tanda keanggotaan."
Naura mengangguk pelan.
"Lalu... kenapa mereka memilihku?"
Belum sempat ada yang menjawab, bel rumah berbunyi.
Ting tong...
Naura menoleh ke arah pintu.
"Ayah belum pulang..."
"Ibu juga lagi kerja."
"Siapa, ya?"
Ia berjalan menuju pintu dan mengintip melalui lubang kecil.
Tak ada siapa pun.
Namun...
Di depan rumah tergeletak sebuah amplop hitam.
Naura mengambilnya perlahan.
Di bagian depan tertulis namanya dengan tinta merah.
UNTUK NAURA AZZAHRA
Alea segera membuka amplop itu.
Di dalamnya hanya ada sebuah kartu berwarna hitam.
Di bagian depan tercetak angka Romawi:
XIII
Di bagian belakang terdapat tulisan tangan.
«"Keanggotaanmu telah disetujui."»
Naura langsung membuang kartu itu.
"Aku nggak pernah daftar apa pun!"
Namun kartu tersebut tidak jatuh ke lantai.
Kartu itu berhenti di udara.
Lalu perlahan terbakar menjadi abu hitam.
Abu itu membentuk satu kalimat.
«"Penolakan tidak diterima."»
Ruangan mendadak menjadi sangat dingin.
Lampu rumah berkedip.
Semua jendela terbuka sendiri.
Brak!
Angin kencang masuk membawa suara yang sangat familiar.
DING...
Suara lift.
Padahal rumah Naura hanya memiliki satu lantai.
Keanu yang baru tiba di rumah itu bersama Naya dan Liora langsung masuk dengan wajah panik.
"Kalian dengar juga?" tanya Keanu.
"Dengar apa?" balas Alea.
"Suara lift."
"Suara itu muncul di jalan tadi."
Raka langsung berdiri.
"Berarti mereka sudah mulai bergerak."
Tiba-tiba...
Ponsel semua orang berbunyi bersamaan.
Masing-masing menerima pesan yang sama.
«Selamat datang, Anggota Ketiga Belas.»
Tidak ada nama pengirim.
Tidak ada nomor.
Hanya simbol XIII.
Naura memejamkan mata.
"Aku takut..."
Alea menggenggam tangannya.
"Kamu nggak sendirian."
"Kali ini kita hadapi bersama."
Namun di luar rumah...
Seseorang sedang memperhatikan mereka dari dalam mobil hitam.
Pria bertopeng putih itu duduk di kursi belakang.
Di tangannya terdapat sebuah map berisi data.
Foto Alea.
Foto Raka.
Foto Naura.
Dan...
Foto seorang siswa laki-laki yang belum pernah mereka kenal.
Di bawah foto itu tertulis:
Elang Pratama
Status:
«Anggota Aktif XIII»
Pria bertopeng itu tersenyum.
"Permainan akan lebih menarik..."
"...karena salah satu dari mereka..."
"...sudah menjadi milik kita sejak awal."
Mobil hitam itu perlahan melaju pergi.
Sementara di kamar Naura...
Ponselnya kembali menyala sendiri.
Di layar hanya ada satu pertanyaan.
«"Apakah kamu benar-benar mengenal Elang?"»
Malam terasa semakin sunyi Semua orang masih terpaku menatap layar ponsel Naura.
«"Apakah kamu benar-benar mengenal Elang?"»
Tidak ada yang berani menjawab.
Keanu memecah keheningan.
"Besok kita temui Elang."
"Kalau dia memang anggota Organisasi XIII..."
"...kita harus tahu tujuannya."
Keesokan paginya.
Naura datang ke sekolah lebih awal.
Koridor masih sepi.
Hanya terdengar suara langkah kakinya yang bergema.
Saat melewati perpustakaan, ia melihat Elang sedang duduk sendirian membaca sebuah buku tua.
"Elang..."
Elang menutup bukunya perlahan.
"Kamu datang."
Seolah-olah ia sudah tahu Naura akan mencarinya.
Naura langsung mengeluarkan ponselnya.
"Jelaskan ini."
Ia menunjukkan pesan semalam.
Elang membaca sebentar, lalu mengembalikan ponsel itu.
"Jadi mereka sudah mulai."
"Mereka?" tanya Naura.
Elang menghela napas.
"Aku memang pernah menjadi bagian dari Organisasi XIII."
Naura membeku.
"Jadi... itu benar?"
Elang mengangguk pelan.
"Tapi aku keluar dua tahun lalu."
"Sejak mengetahui apa tujuan mereka sebenarnya."
"Kenapa kamu nggak lapor polisi?" tanya Alea yang baru datang bersama Raka.
Elang tersenyum pahit.
"Karena organisasi itu..."
"...ada di mana-mana."
"Polisi."
"Pejabat."
"Pengusaha."
"Bahkan beberapa guru."
"Mereka menyusup ke banyak tempat."
Semua terdiam.
Elang membuka buku tua yang tadi dibacanya.
Di halaman pertama terdapat lambang XIII.
Namun ada satu perbedaan.
Di atas simbol itu tertulis:
Desire Rahasia.
"Aku mencuri ini sebelum kabur."
Alea membuka halaman berikutnya Di dalamnya terdapat daftar nama Dua belas anggota inti Organisasi XII
Di urutan pertama tertulis: Direktur X
Status: Pemimpin.
Wajah: Tidak diketahui.
Lalu di urutan kedua...
Semua langsung membeku.
Nama itu sangat mereka kenal.
Surya Adinata.
"Mustahil..." bisik Raka.
"Dia kan sudah meninggal puluhan tahun lalu."
Elang mengangguk.
"Itu juga yang kupikirkan."
"Tapi setiap dokumen organisasi selalu mencantumkan namanya."
"Seolah..."
"...dia belum pernah mati."
Tiba-tiba buku itu bergetar hebat.
Halaman-halamannya terbuka sendiri.
Tulisan di dalamnya berubah menjadi merah.
«PENGKHIANAT TERDETEKSI»
Elang langsung berdiri.
"Wah, gawat..."
"Apa maksudnya?" tanya Naura.
Belum sempat Elang menjawab...
DOR!
Suara tembakan memecah keheningan.
Kaca perpustakaan pecah berkeping-keping.
Sebuah peluru menancap tepat di rak buku belakang Elang.
"Awas!" teriak Raka.
Elang segera menarik Naura berlindung di balik meja.
Dari luar jendela terlihat tiga orang berpakaian serba hitam.
Wajah mereka tertutup topeng putih.
Di dada mereka terdapat simbol XIII.
Salah satu dari mereka mengangkat pistol lagi.
Namun kali ini...
Targetnya bukan Elang.
Melainkan...
Naura.
"Dia pewarisnya!"
"Jangan biarkan dia lolos!"
Peluru kedua melesat ke arah Naura...