Lima tahun lalu, Indri Izanami dibuang saat hidupnya berada di titik terendah. Dikhianati, dihina, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah ia cintai, ia menghilang tanpa jejak dari Jakarta.
Kini, ia kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diinjak-injak,tapi sebagai sosok misterius yang memesona, berkuasa, dan berbahaya. Kehadirannya mengguncang para konglomerat yang pernah menghancurkannya.
Ardika, mantan kekasih yang dulu membuangnya, kini terobsesi untuk memilikinya kembali.
Surya Rabinson, cinta pertama yang menjadi sumber luka terdalamnya, mendadak terjebak dalam hasrat dan penyesalan yang membara.
Dan ketika Hisoka Adicambra, sang kaisar bisnis yang paling ditakuti di Jakarta, menunjukkan ketertarikan padanya, permainan balas dendam berubah menjadi perang kekuasaan yang mematikan.
Namun di balik senyum dinginnya, Indri menyimpan satu tujuan:
Membuat mereka semua berlutut di hadapannya.
Karena kali ini, yang menjadi mangsa bukan lagi dirinya.
Melainkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debut Sang Ratu Baru
Ardika menarik Indri dengan kasar, menciumnya dengan paksa. Ciuman itu tidak lagi seperti yang Indri ingat, penuh nafsu yang posesif. Kali ini, ia merasakan kemarahan, kekecewaan, dan keputusasaan yang brutal. Rasa jijik membanjiri Indri, jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Tidak. Tidak lagi. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi lagi.
Indri melawan. Untuk pertama kalinya, ia melawan. Ia mendorong Ardika dengan sekuat tenaga. Tubuh Ardika terhuyung ke belakang, terkejut.
"Jangan pernah lagi menyentuhku seperti itu," ucap Indri, suaranya rendah, penuh peringatan. Matanya berkilat marah. "Kontrakku dengan Hisoka Adicambra adalah urusan bisnis, bukan urusanmu."
Ardika menatap Indri, terkejut. Ia belum pernah melihat Indri seperti ini. Gadis yang pasrah, yang ia bisa taklukkan dengan mudah, kini telah menjelma menjadi wanita yang memancarkan bahaya.
"Bisnis?" Ardika tertawa sinis. "Kau menjual tubuhmu demi bisnis, Indri? Apa kau selemah itu?"
Indri merasakan api membakar di dalam dirinya. "Aku melakukan apa yang perlu kulakukan untuk bertahan hidup. Sesuatu yang kau tidak akan pernah mengerti, Ardika. Karena kau tidak pernah tahu rasanya jatuh ke titik terendah."
Ardika melangkah maju lagi, tatapannya penuh ancaman. "Aku akan tunjukkan padamu siapa yang berkuasa di sini." Ia menerjang Indri, mendorongnya ke sofa. Sentuhannya lebih kasar, lebih menuntut. Ia mencoba mencium Indri lagi, memaksa bibirnya.
Namun, Indri memberontak. Ia menendang, memukul, mendorong, seolah semua kemarahan dan rasa sakit lima tahun terakhir tercurah dalam setiap gerakannya. Ia tidak lagi peduli dengan topeng atau sandiwara. Ia hanya ingin bebas dari sentuhan menjijikkan ini.
"Lepaskan aku!" Indri berteriak, suaranya pecah, sebuah suara yang belum pernah Ardika dengar sebelumnya. Penuh amarah, penuh perlawanan.
Ardika terkejut dengan perlawanan yang begitu kuat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Indri, mencoba mengunci gerakannya. "Kau milikku, Indri! Milikku!"
"Aku bukan milik siapa pun!" Indri membentaknya, matanya berkaca-kaca, namun bukan karena air mata kesedihan, melainkan amarah yang murni. Ia menggunakan lututnya, menghantam Ardika di selangkangan.
Ardika terkesiap, meringis kesakitan, cengkeramannya mengendur. Ia mundur selangkah, terhuyung, memegangi selangkangannya. Wajahnya pucat, dipenuhi rasa sakit dan keterkejutan.
Indri bangkit, rambutnya sedikit acak-acakan, gaunnya bergeser, namun ia berdiri tegak, memancarkan aura yang lebih kuat dari sebelumnya. Nafasnya terengah-engah, namun matanya tetap tajam, membara.
"Kau pikir kau bisa terus memperlakukanku seperti sampah?" Indri berbisik, suaranya berbahaya. "Kau salah, Ardika. Aku sudah belajar. Aku sudah berubah. Dan aku tidak akan lagi membiarkan siapa pun menginjak-injakku."
Ardika menatap Indri, tidak lagi dengan amarah atau nafsu, melainkan dengan campuran ketakutan, kekaguman yang aneh, dan kebencian yang mendalam. Ia melihat Indri yang sesungguhnya di sana, di balik topeng kecantikannya. Seorang wanita yang hancur, namun bangkit kembali dengan taring yang lebih tajam, dengan semangat yang tak bisa dipatahkan.
"Kau... kau iblis," desis Ardika, suaranya serak, matanya melebar. "Kau bukan Indri yang kukenal."
Indri tidak tersenyum, tidak menunjukkan emosi. "Mungkin tidak," balasnya, lalu ia membenarkan gaunnya, mengembalikan topengnya yang dingin. "Atau mungkin, ini adalah aku yang sesungguhnya, yang selama ini kau coba kubur."
Ardika mundur selangkah, lalu dua, tiga langkah. Ia menabrak meja kopi, menjatuhkan vas bunga yang pecah berkeping-keping. Ardika tidak lagi melihat mantan kekasihnya. Ia melihat api. Api yang ia sendiri bantu nyalakan, dan kini siap membakar dirinya.
Ia terhuyung ke arah pintu, matanya masih terpaku pada Indri, seolah ia adalah pemandangan yang paling mengerikan sekaligus paling memikat yang pernah ia lihat. Indri tidak bergerak, hanya menatapnya, membiarkan Ardika terbakar dalam ketakutannya sendiri.
"Kau akan menyesali ini, Indri," Ardika mengancam, suaranya bergetar.
"Aku tidak pernah menyesali apa pun, Ardika," balas Indri, suaranya dingin seperti es. "Kecuali membiarkanmu dan orang-orang sepertimu menguasai hidupku."
Ardika menatapnya sekali lagi, ada kilatan keputusasaan di matanya, lalu ia berbalik dan melarikan diri dari penthouse itu, meninggalkan Indri sendirian di tengah kekacauan, di antara pecahan vas bunga dan aroma kemarahan yang membekas. Indri menyentuh bibirnya yang sedikit memar, merasakan sisa-sisa sentuhan kasar Ardika. Rasa jijik itu masih ada, namun kini bercampur dengan kepuasan yang dingin. Ia telah menolak. Ia telah melawan. Ia telah memenangkan pertempuran pertama.
Ardika adalah pion yang goyah. Mudah dirobohkan.Indri melihat ke arah pintu yang tertutup, tempat Ardika baru saja melarikan diri. Ia tahu Ardika tidak akan menyerah begitu saja. Pria itu kini menjadi ancaman yang lebih berbahaya. Tapi ia juga tahu, Ardika kini melihatnya sebagai musuh. Dan itu, dalam permainan ini, adalah keuntungan besar. Ia bisa memanfaatkannya. Malam ini, ia telah membuat Ardika sadar bahwa ia telah menciptakan monster. Dan monster itu tidak akan pernah tunduk lagi.
*
Indri menyentuh bibirnya yang sedikit memar, merasakan sisa-sisa sentuhan kasar Ardika. Rasa jijik itu masih ada, namun kini bercampur dengan kepuasan yang dingin. Ia telah menolak. Ia telah melawan. Ia telah memenangkan pertempuran pertama. Ardika adalah pion yang goyah. Mudah dirobohkan. Ia melihat ke arah pintu yang tertutup, tempat Ardika baru saja melarikan diri. Indri tahu Ardika tidak akan menyerah begitu saja. Pria itu kini menjadi ancaman yang lebih berbahaya. Tapi ia juga tahu, Ardika kini melihatnya sebagai musuh. Dan itu, dalam permainan ini, adalah keuntungan besar. Ia bisa memanfaatkannya. Malam ini, ia telah membuat Ardika sadar bahwa ia telah menciptakan monster. Dan monster itu tidak akan pernah tunduk lagi.
Keesokan malam, dunia gemerlap Jakarta berkumpul di Gala Tahunan Adicambra Group, sebuah ajang pamer kekuasaan dan kemewahan yang diadakan di ballroom megah Hotel Mulia. Indri berdiri di depan cermin berukuran penuh di apartemen mewah yang kini telah disiapkan Hisoka untuknya. Gaun hitam panjang, terbuat dari sutra tipis yang mengalir seperti air, memeluk tubuhnya dengan elegan. Potongan tinggi di paha menampakkan kaki jenjangnya, dan punggungnya yang terbuka menciptakan siluet yang mematikan. Perhiasan berlian minimalis yang Hisoka kirimkan—kalung tipis dan anting-anting menjuntai—memantulkan cahaya lembut, menambah kesan misterius.
Ia menatap pantulan dirinya. Mata yang dulu memancarkan kepolosan kini memiliki kedalaman yang dingin, rahangnya tegas, dan bibirnya yang dipoles merah gelap menyunggingkan senyum tipis, nyaris tak terlihat. Ini bukan Indri Izanami yang dulu. Ini adalah ciptaannya. Sebuah Femme Fatale yang lahir dari abu dendam, siap membakar siapa pun yang berani melintasi jalannya. Malam ini, aku akan menjadi ratu baru mereka. Ratu yang siap mereka benci.
Sebuah ketukan pelan terdengar di pintu. Hisoka. Ia datang menjemput.
Indri menarik napas dalam, memejamkan mata sesaat, lalu membukanya, kini dengan tatapan yang sudah dikalibrasi sempurna. Tidak ada keraguan. Tidak ada ketakutan. Hanya tekad murni.
Hisoka berdiri di ambang pintu, mengenakan tuksedo abu-abu arang yang sangat pas, memancarkan aura dominasi yang tak terbantahkan. Matanya menyapu Indri, tatapannya berhenti sejenak, sebuah kilatan apresiasi melintas di sana.
Silakan berkomentar untuk memberikan masukan demi meningkatnya mutu karya saya di masa yang akan datang.
Terima kasih.