NovelToon NovelToon
Cahaya Di Jalan Terjauh

Cahaya Di Jalan Terjauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyelamat
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.

Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.

Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Kepercayaan yang Tumbuh Perlahan

Hari-hari berikutnya berjalan lebih tenang sedikit. Nyonya Wijaya memang tidak berubah secara drastis, tapi ia mulai sesekali melirik pekerjaan Dika di taman, dan tidak lagi memandangnya dengan tatapan dingin seperti saat pertama kali datang. Bahkan Bu Marni, meski tetap tegas dan menjaga jarak, tidak lagi mengawasi setiap gerakannya seketat sebelumnya.

Namun, Paman Arga tetap sama. Setiap kali ada kesempatan, ia selalu memandang Dika dengan tatapan curiga, atau mengucapkan kata-kata yang sedikit menyindir, seolah ingin mengingatkan siapa posisi mereka masing-masing. Dika hanya memilih diam dan terus bekerja, tidak mau terlibat pertengkaran yang hanya akan merugikan dirinya sendiri.

Setiap malam, setelah selesai dengan semua tugasnya, Dika selalu menyempatkan diri membaca buku tentang tumbuhan yang dipinjamkan Kirana. Ia membaca dengan hati-hati, mencatat hal-hal penting di buku catatannya sendiri agar tidak lupa. Semakin ia membaca, semakin ia paham bahwa merawat tanaman itu mirip dengan merawat hati — butuh kesabaran, perhatian, dan tidak boleh tergesa-gesa.

Suatu sore, saat langit mulai berwarna jingga dan angin berhembus agak sejuk, Dika sedang duduk di bangku kayu di sudut taman, memeriksa catatan-catatannya. Ia tidak menyadari bahwa Kirana sedang berjalan mendekat, sampai suara langkah kakinya terdengar jelas.

“Masih membaca buku itu?” tanya Kirana dengan suara pelan, lalu duduk di ujung bangku, agak berjauhan.

Dika segera menutup bukunya dan menegakkan badan. “Ya, Non. Isinya sangat bermanfaat. Saya jadi tahu banyak hal yang sebelumnya tidak saya ketahui.”

Kirana menatap taman yang mulai terlihat hijau dan rapi. “Taman ini terlihat jauh lebih hidup sekarang. Dulu banyak bagian yang layu dan tidak terawat, karena pembantu yang sebelumnya hanya menyiram tanpa tahu cara merawatnya dengan benar.”

Dika tersenyum tipis. “Ini berkat bukunya juga. Kalau tidak ada petunjuk di sana, saya mungkin juga hanya menyiram dan membersihkan saja, tidak tahu apa yang salah.”

Mereka terdiam sejenak, menikmati keheningan sore yang tenang. Kemudian Kirana berbicara lagi, nadanya lebih lembut dari biasanya.

“Kamu tidak pernah merasa tertekan di sini? Di tempat yang serba diatur, setiap langkah diawasi, dan tidak semua orang menyukaimu?”

Dika memandang ke depan, melihat bunga-bunga yang mulai mekar. “Tentu saja ada. Kadang terasa berat, apalagi ketika ada orang yang bicara tidak enak. Tapi saya selalu ingat tujuan saya di sini — untuk kesembuhan ibu saya. Selama itu sudah tercapai, hal lain saya anggap sebagai ujian saja.”

Kirana mengangguk pelan. “Kamu kuat. Lebih kuat dari saya. Saya sudah tinggal di sini selama bertahun-tahun, tapi masih sering merasa lelah dengan semua aturan dan harapan orang lain. Seolah-olah saya tidak boleh menjadi diri sendiri.”

“Setiap orang punya beban masing-masing, Non. Beban saya mungkin soal kekurangan dan keterbatasan. Beban Anda mungkin soal kebebasan yang terbatas. Tapi semua pasti ada jalan keluarnya, asalkan kita sabar dan tidak menyerah.”

Sebelum percakapan bisa berlanjut, mereka mendengar suara langkah kaki mendekat. Kali ini suara langkahnya tidak berat seperti Paman Arga, melainkan langkah yang lebih ringan. Keduanya menoleh, dan melihat Bu Marni berdiri tidak jauh dari situ.

“Non Kirana, Nyonya memanggilmu ke ruang tamu. Ada tamu yang datang,” katanya, lalu matanya beralih ke Dika. “Dan kamu, sebaiknya selesaikan pekerjaanmu dan masuk ke dalam. Sore mulai dingin.”

“Baik, Bu,” jawab Dika.

Kirana berdiri dan melangkah pergi, tapi sebelum berbalik sepenuhnya, ia berbisik sangat pelan agar hanya didengar Dika: “Kamu boleh menyimpan buku itu sampai selesai dibaca. Tidak perlu buru-buru.”

Dika mengangguk sebagai tanda terima kasih, lalu segera membereskan barang-barangnya dan pergi ke gudang.

Beberapa hari kemudian, terjadi sesuatu yang tidak terduga. Saat Nyonya Wijaya sedang sibuk di ruang kerjanya, pembantu yang bertugas merapikan meja secara tidak sengaja menumpahkan air ke atas setumpuk dokumen penting. Ia panik dan bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

“Waduh, ini dokumen penting! Kalau sampai basah dan rusak, Nyonya pasti marah besar,” katanya dengan suara gemetar.

Kebetulan Dika lewat di depan pintu dan mendengar kegaduhan itu. Ia melihat situasinya, lalu berkata dengan tenang: “Jangan panik. Mari kita angkat dengan hati-hati, lalu keringkan di tempat yang teduh dan berangin. Jangan dijemur di bawah matahari langsung, nanti kertasnya keriting dan tintanya luntur.”

Mereka berdua bekerja sama. Dika mengatur dokumen-dokumen itu secara terpisah, menata agar tidak saling menempel, dan meletakkannya di rak dekat jendela yang terkena angin tapi tidak terkena sinar matahari. Beberapa jam kemudian, dokumen-dokumen itu sudah kering dan masih dalam keadaan baik, tidak ada yang rusak parah.

Saat Nyonya Wijaya kembali dan mengetahui kejadian itu, ia memanggil pembantu tersebut dan Dika.

“Benarkah dokumen itu hampir rusak, tapi bisa diselamatkan?” tanyanya.

Pembantu itu mengangguk dan menunjuk Dika. “Terima kasih Dika, Nyonya. Dia yang menyarankan cara mengeringkannya dengan benar, kalau tidak mungkin sudah rusak semua.”

Nyonya Wijaya menatap Dika. “Kamu tahu cara mengeringkan kertas basah?”

“Saya sering melihatnya di rumah, Nyonya. Kadang buku atau catatan saya terkena air hujan, jadi saya belajar cara mengeringkannya agar tidak rusak,” jawab Dika jujur.

Nyonya Wijaya terdiam sejenak, lalu berkata: “Bagus. Terima kasih atas bantuannya. Kamu boleh kembali bekerja.”

Saat Dika berbalik hendak pergi, ia melihat Paman Arga berdiri di lorong, menatapnya dengan pandangan yang semakin tidak menyenangkan. Ia merasa bahwa setiap hal baik yang dilakukan Dika justru membuat pria itu semakin curiga dan tidak senang.

Malam itu, Dika menulis lagi di buku catatannya:

“Hari ini saya membantu menyelamatkan dokumen yang hampir rusak. Nyonya terlihat sedikit lebih menghargai, tapi saya tahu hal ini justru membuat Paman Arga semakin tidak suka. Saya tidak berusaha mencari perhatian, saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan. Tapi saya mulai sadar, semakin saya berusaha menjadi baik, semakin besar juga tantangan yang datang. Saya harus tetap berhati-hati, tapi tidak boleh berhenti berbuat baik.”

Beberapa hari kemudian, Dika melihat ada beberapa tanaman hias di sudut rumah yang terlihat kurang sehat. Mengingat apa yang dibacanya di buku, ia memberanikan diri berbicara pada Bu Marni.

“Bu, tanaman di dekat pintu depan itu terlihat kurang sehat. Tempatnya terlalu gelap dan kurang angin. Kalau dipindahkan sedikit ke tempat yang lebih terang tapi tidak terkena matahari langsung, mungkin akan tumbuh lebih baik.”

Bu Marni awalnya ragu, tapi mengingat hasil kerja Dika sebelumnya, ia memutuskan untuk melaporkannya pada Nyonya Wijaya. Setelah diperbolehkan, Dika memindahkan tanaman-tanaman itu dengan hati-hati, mengatur posisinya agar mendapatkan cahaya dan udara yang cukup.

Setelah seminggu, perubahan itu terlihat jelas. Tanaman-tanaman itu menjadi lebih hijau dan segar. Nyonya Wijaya yang melihatnya, akhirnya berkata: “Dika, mulai sekarang kamu boleh mengatur tata letak tanaman di taman dan di dalam rumah sesuai pengetahuanmu. Saya percaya kamu bisa merawatnya dengan baik.”

Mendengar kata-kata itu, hati Dika terasa hangat. Ini pertama kalinya Nyonya Wijaya secara langsung menyatakan kepercayaannya. Meski masih ada yang tidak menyukainya, setidaknya ada sedikit harapan bahwa ia bisa tinggal di sini dengan lebih tenang sampai ibunya benar-benar sembuh.

Namun, di tempat yang agak tersembunyi, Paman Arga melihat semuanya. Giginya terkatup rapat, matanya menatap tajam ke arah Dika. Ia merasa posisinya mulai terganggu. “Tunggu saja, kamu tidak akan selamanya bisa terlihat baik di mata semua orang,” gumamnya pelan, lalu berbalik pergi dengan langkah cepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!