Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Gifarka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, yang terjadi adalah...
Dada gadis itu naik-turun dengan napas yang terasa luar biasa sesak.
"Serend*h itu gue di mata lu, Arka? Lu nggak pernah ngaca?! Adu bac*t kita dari dulu selalu dimulai dari lu yang cemburuan gak jelas!" teriak Lintang frustrasi, air matanya mengalir deras membasahi pipi.
"GUE CUMAN NGAMANIN APA YANG MASIH GUE PUNYA!"
Bentakan bariton Arka kali ini menggema begitu kencang di sepanjang koridor rumah.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali 'Pulang'
"Kamu nggak apa-apa, nak?" tanya Leno seraya memeriksa kondisi putrinya.
Pertanyaan itu seketika meruntuhkan pertahanan Lintang. Tangis Lintang langsung pecah begitu saja. Dia maju selangkah dan memeluk erat tubuh ayahnya dengan air mata yang mengalir semakin deras.
Tubuh Lintang bergetar hebat. Isak tangisnya terdengar sesenggukan dengan ritme yang cepat, meluapkan seluruh rasa takut dan syok yang sempat tertahan di dadanya.
Leno mendekap erat tubuh putrinya. Dia mendaratkan kecupan hangat di ubun-ubun bayi kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa tersebut. Tangannya mengusap punggung Lintang, berusaha memberikan ketenangan.
Setelah kondisi Lintang mulai agak tenang, Leno melonggarkan pelukannya.
"Kenapa pulang sendirian? Kok nggak bawa mobil?" tanya Leno lembut.
Lintang menyeka air matanya, napasnya masih tersengal-sengal. "Ta–tadi pagi, aku berangkat sam–sama Arka. Tapi... pas pulang, Arka nggak dateng-dateng..."
Lintang kembali menunduk, meremas ujung seragamnya. "Aku telepon nggak diangkat, terus hape aku mati..." jelas Lintang sesenggukan.
Dia menarik napas berat sebelum melanjutkan. "Akhirnya aku pulang jalan kaki..."
Mengecap kebenaran itu, Leno menarik napas panjang. Wajahnya sempat mengeras, namun dia mencoba menahan diri di depan putrinya.
"Yaudah, sekarang Papi antar kamu ke rumah Arka, ya?" tawar Leno.
Lintang langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia menolak keras ide tersebut.
"Aku mau ke rumah Papi aja..." pinta Lintang lirih.
"Nanti Arka nyariin kamu, nak," ujar Leno, mencoba memberi pengertian.
"Biarin. Aku mau ke rumah Papi, pokoknya," ujar Lintang keras kepala, tidak ingin didebat lagi.
"Yaudah, kita ke rumah Papi. Tapi nanti kamu kabarin Arka kalau kamu di rumah Papi, ya? Cerita juga apa yang udah terjadi sama kamu tadi. Nggak mungkin Papi yang langsung negur dia," ujar Leno akhirnya menyerah.
Lintang mengangguk manut, menuruti perkataan ayahnya.
Leno meraih tas gendong Lintang lalu membawakannya. Pria itu kemudian merangkul pundak putrinya dengan protektif, menuntunnya berjalan keluar dari gang hingga sampai ke mobil.
Begitu sampai di samping mobil BYD miliknya, Leno dengan sigap membukakan pintu untuk Lintang.
Lintang masuk ke dalam terlebih dahulu. Dia segera membenahi rambutnya yang sempat berantakan, lalu menyeka sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi.
Tak lama, Leno menyusul masuk dan duduk di kursi kemudi sebelah istrinya—ralat, anaknya. Mobil listrik itu menyala halus dan kembali membelah jalanan raya.
Suasana di dalam kabin mobil sempat hening selama beberapa detik. Hanya ada suara kayuhan mesin yang senyap.
"Gimana hubungan kamu sama Arka?" tanya Leno memecah keheningan.
Sebenarnya, Leno tidak berniat untuk ikut campur terlalu dalam. Namun, sebagai seorang ayah, dia juga perlu tahu bagaimana kondisi rumah tangga putrinya yang saat ini masih terasa sangat rapuh itu.
Lintang mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Ya... begitu," ujar Lintang lirih.
"Gitu gimana maksudnya?" tanya Leno lembut namun menuntut penjelasan.
"Setelah... Bunda Frina meninggal, Arka jadi dingin banget ke aku," aku Lintang jujur.
Lintang meremas jarinya sendiri di atas paha. "Tapi anehnya, dia juga kayak posesif gitu kalau lihat aku ngobrol sama cowok lain. Kayak cemburuan banget."
Dahi Leno berkerut dalam mendengar cerita itu. "Tapi... kenapa? Maksud Papi, kenapa kamu yang jadi pelampiasan duka dia?" tanya Leno heran.
Lintang mengembuskan napas panjang, menatap lurus ke depan. "Dia nuduh aku teledor jagain Bunda. Pas hari terakhir di rumah sakit, kan posisinya tinggal aku, Arka, sama Bunda."
Bayangan hari menyakitkan itu kembali berputar di kepala Lintang. "Si Arka sempat pamit keluar buat ngisi bensin. Nggak lama setelah dia pergi, Bunda minta buah jeruk. Akhirnya aku juga pamit sebentar buat membelikan jeruk ke depan."
Lintang menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa tercekat. "Pas aku balik lagi ke kamar inap, Arka langsung marahin aku habis-habisan. Dia bilang, dia lihat Bunda sesak napas sendirian pas dia buka pintu. Terus... pas Dokter Fandy keluar dari ruangan, Bunda dinyatakan meninggal."
Leno terdiam seribu bahasa mendengar penuturan putrinya. Rahang pria paruh baya itu seketika mengeras rapat, menahan gejolak emosi yang mendadak naik ke dada.
Namun pada akhirnya, hanya helaan napas berat yang keluar dari mulut Leno. Dia berusaha mengontrol emosinya demi Lintang.
"Tapi... kamu nggak dikasarin sama dia, kan?" tanya Leno memastikan dengan sorot mata menyelidik.
Lintang terdiam sebentar selama beberapa detik. Ada keraguan besar yang tersorot dari matanya sebelum akhirnya dia menggelengkan kepala dengan ragu.
"Enggak," jawab Lintang pelan.
...----------------...
Sesampainya di Komplek Sanggaria 1, tepatnya di depan rumah besar milik Leno, mobil listrik itu akhirnya berhenti. Lintang langsung membuka pintu mobil dengan cepat, tanpa menunggu ayahnya membukakan pintu seperti tadi.
Dia melangkah terburu-buru, bergegas membuka pintu utama rumahnya yang megah.
"Mamiiiiiii!" panggil Lintang dengan suara melengking.
Ilna yang baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya, menoleh dengan raut wajah terkejut bukan main. "Loh? Anak Mami?!"
Lintang tersenyum lebar. Dia langsung berlari kecil dan menubrukkan tubuhnya ke dalam pelukan hangat sang mami.
"Ya ampun, sayang... Mami kangen banget sama kamu. Kok tiba-tiba dateng ke sini, hm?" tanya Ilna bertubi-tubi sambil membalas pelukan putrinya dengan erat.
"Tadi ketemu Papi di jalan," ujar Lintang melepas pelukannya sebentar. "Aku kangen banget sama Mami, kangen shopping bareng juga."
Tepat saat itu, pintu depan kembali terbuka. Leno melangkah masuk ke dalam rumah sambil menenteng tas sekolah milik putrinya.
Pria paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya menatap pemandangan di depannya.
"Tadi ketemu Papi di jalan nggak sedramatis ini deh perasaan," komen Leno menyindir dengan nada malas.
Ilna langsung melirik suaminya sambil terkekeh pelan. "Yeuh, sirik aja kamu, Mas! Namanya juga anak perempuan, pasti nempelnya ke mami," sahut Ilna membela Lintang.
Lintang ikut menjulurkan lidahnya ke arah Leno, memanas-manasi sang papi. "Tuh, dengerin kata Mami! Papi mah kalau nolongin orang sukanya modus, pake minta dipuji segala."
Leno mendengus kasar, meletakkan tas Lintang di atas sofa ruang tamu dengan pasrah. "Bukannya terima kasih ya, udah dibelain baku hantam sama preman di gang, malah Papinya dibilang modus."
Mendengar kata preman, mata Ilna langsung membelalak panik. Dia segera memegang kedua bahu Lintang dan memutar-mutar tubuh anaknya. "Hah?! Preman?! Kamu diapain sama preman, Lin? Ada yang luka nggak?!"
"Aman, Mami. Lintang nggak apa-apa kok, nggak ada yang luka," sela Lintang cepat sebelum maminya makin histeris. "Papi tadi keren banget, langsung datang pukul premannya sampai tumbang semua."
Ilna mengembuskan napas lega yang amat panjang. Dia mengusap dadanya yang sempat berdegup kencang, lalu menatap suaminya dengan pandangan penuh terima kasih.
"Untung ada kamu ya, Mas. Kalau enggak, mami nggak tahu nasib Lintang gimana," ujar Ilna tulus.
Leno tersenyum tipis, lalu berjalan mendekat dan merangkul pinggang istrinya. "Iya, untung insting aku tajam tadi pas lewat jalan dekat sekolah."
Leno kemudian beralih menatap Lintang dengan raut wajah yang kembali serius. "Yaudah, sekarang kamu naik ke atas dulu ke kamar kamu. Bersihin badan, ganti baju, terus jangan lupa charge hape kamu."
Pria paruh baya itu mengetuk jam tangannya pelan. "Inget janji kamu tadi di mobil. Langsung kabarin Arka begitu hapemu nyala."
Lintang yang baru saja mau bermanja-manja lagi dengan maminya langsung merengut pasrah. Dia mengangguk pelan. "Iya, Papi..."
"Lho, emang Arka nggak tahu kalau Lintang ke sini?" tanya Ilna bingung, melirik suami dan anaknya bergantian.
"Nanti aku ceritain habis mandi ya, Mi. Aku ke atas dulu," pamit Lintang lesu.
Dia langsung menyambar tas sekolahnya dari atas sofa, lalu melangkah gontai menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Di ruang tamu, Leno dan Ilna hanya bisa menatap punggung putri mereka dengan helaan napas berat, menyadari ada sesuatu yang sedang tidak beres dengan rumah tangga baru anak mereka.