"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
“Hooaaammm.”
“Apa kamu begadang lagi?” ucap ibu saat melihatku turun tangga dengan wajah mengantuk dan langkah gontai.
“Mau bagaimana lagi, hari ini ada ulangan,” jawabku pelan.
Aku langsung mengambil tempat di meja makan. Sementara ibu dengan cekatan menyiapkan sarapan, ayah sudah duduk di seberangku sambil membaca koran pagi.
“Bagaimana dengan sekolahmu?” Ayah bertanya tanpa mengalihkan pandangan, lalu melipat korannya rapi.
“Sangat menyenangkan. Semuanya baik padaku.”
Aku meraih gelas susu yang sudah disiapkan ibu, lalu meminumnya seteguk demi seteguk.
“Itu bagus. Kamu masih meminum obatmu, kan?” Ayah kembali bertanya, sorot matanya menuntut jawaban jujur.
“Aku sudah jarang meminumnya.”
Mendengar itu, kening ayah tampak sedikit mengerut. Namun, ekspresinya langsung melunak ketika ibu datang dan mengambil tempat duduk di sampingnya.
“Luna sudah sembuh sekarang. Obat itu sudah tidak perlu lagi,” bela ibu.
“Tapi lingkaran hitam di matanya masih membuatku khawatir.” Ayah tetap bersikeras.
“Ini karena aku begadang untuk belajar, Ayah. Aku tidak insomnia lagi,” potongku sambil mengerucutkan bibir, merasa sedikit cemberut karena ayah masih saja mengungkit masalah gangguan mentalku di masa lalu.
“Jika kamu terlalu ketat, Luna bisa membencimu, lho,” goda ibu dengan senyuman jahil yang langsung membuat ayah tampak sedikit panik.
“Aku hanya khawatir padanya. Ketika dia memutuskan untuk berubah waktu itu, aku merasa sangat senang. Karena itu aku tidak ingin dia kembali seperti sebelumnya. Walaupun... aku sendiri masih bingung apa yang memicunya untuk berubah secara tiba-tiba.”
“Hehe… sudah pasti karena cinta, kan?” Ibu kembali tersenyum jahil, kali ini lebih lebar dan penuh selidik.
“Apa?!” Ayah terkejut, hampir tersedak.
“Putri tersayang kita ini sangat cantik. Dia pasti sudah punya pacar sekarang.”
“Apa? Benarkah, Luna?”
“Hmm…” Aku pura-pura berpikir sejenak, menimbang reaksi mereka, sebelum akhirnya menjawab sambil tersenyum misterius. “Untuk sekarang, aku masih belum memutuskan untuk berpacaran. Aku juga sudah menolak semua ajakan.”
“Untuk sekarang? Berarti dalam waktu dekat, bakal ada, kan?” Ibu menaik-turunkan alisnya dengan senyum miring.
Aku hanya mengangkat bahu acuh. “Mungkin.”
“Ugh… ayah tidak akan mengizinkannya!”
“Sayang?” Ibu menatap ayah dengan senyuman manis yang justru terasa mengerikan, seketika membuat tubuh ayah menjadi kaku. “Jika kamu terlalu mengekang anak kita, itu hanya akan jadi pemicu stres baru untuknya. Apa kamu paham?”
“Tapi—?”
“Kamu paham, kan, Sayang?” ulang ibu dengan penekanan yang tak bisa dibantah.
“...Ya.”
Sambil menonton drama pagi kedua orang tuaku ini, aku memutuskan untuk memulai sarapan terlebih dahulu.
Kehangatan rutinitas sarapan pagi seperti ini sebenarnya baru dimulai sejak ayah dan ibu kaget melihat usahaku yang begitu keras untuk berubah. Seolah mendapat dorongan baru, mereka berdua akhirnya memilih untuk mempersingkat waktu kerja di luar dan memperlama waktu keberangkatan dari rumah. Meskipun keputusan itu sedikit berpengaruh pada penghasilan keluarga, kalimat “aku baik-baik saja” kini tidak perlu lagi kuucapkan sebagai kepalsuan. Karena jauh di dalam lubuk hatiku, aku sendiri juga sangat bahagia dengan keputusan yang ayah dan ibu ambil demi aku.
Setelah menyelesaikan sarapan yang hangat bersama ayah dan ibu, aku segera kembali ke kamar untuk bersiap. Aku menatap cermin sejenak, merapikan seragam putih-biru yang melekat pas di tubuhku. Menyisir rambutku yang kini tertata rapi, menyamarkan sisa-sisa lingkaran hitam di bawah mata dengan senyuman tipis yang sudah sering kulatih. Luna yang sekarang bukan lagi gadis bermata kosong yang mengurung diri.
Aku menyandang tas, berpamitan pada orang tuaku, lalu melangkah keluar rumah.
Matahari pagi menyambutku dengan kehangatan yang perlahan mengikis udara dingin sisa hujan semalam. Sepanjang jalan menuju sekolah, alih-alih dirundung ketakutan akan kendaraan yang melintas, aku mencoba menikmati setiap langkah. Rasa trauma itu masih ada, terkadang berbisik di sudut kepala, namun langkah kakiku kini terasa lebih ringan.
Di dekat pertigaan jalan menuju sekolah, sayup-sayup terdengar suara cempreng yang sangat familier memanggil namaku.
“Lunaaa! Tungguin!”
Aku menoleh dan mendapati dua sahabatku sedang berjalan tergesa-gesa menghampiriku.
Yang pertama adalah Rania. Dia adalah gadis yang ceria, bertubuh agak mungil dengan rambut yang selalu dikuncir kuda setinggi kepala. Rania adalah tipe orang yang ekspresif, enerjik, dan selalu tahu gosip terbaru di sekolah. Di sampingnya, berjalan Siti, gadis berhijab rapi dengan kacamata berbingkai bulat. Siti adalah sosok yang tenang, pembawaannya dewasa, dan sering menjadi penengah sekaligus kamus berjalan bagi kami.
“Napas dulu, Ran. Kebiasaan deh, baru pagi udah lari-lari,” tegur Siti sambil membenarkan letak kacamatanya.
“Habisnya aku takut ditinggal Luna. Kan hari ini ada ulangan matematika jam pertama,” ujar Rania sambil mengerucutkan bibirnya setelah berhasil menyejajarkan langkah denganku. Ia lalu menatapku lekat-lekat. “Eh, Lun, tapi kamu kok kelihatan ngantuk banget? Jangan bilang kamu begadang semalaman buat belajar?”
Aku terkekeh kecil. “Iya nih. Bab yang kemarin kan lumayan banyak teorinya, jadi aku baca ulang sampai lewat tengah malam.”
“Tuh, Ran, dengerin. Peringkat satu paralel aja masih begadang buat belajar. Nah kamu? Semalam pasti malah maraton nonton drama, kan?” sindir Siti dengan nada bercanda yang datar.
“Hehehe, tahu aja kamu, Sit,” Rania menyengir tanpa dosa, lalu merangkul lenganku manja. “Luna sayang... nanti kalau otakku mendadak stuck pas ulangan, boleh ya aku lirik-lirik dikit? Cuma butuh pencerahan satu atau dua nomor kok!”
“Nggak boleh, Rania. Kerjain sendiri,” potong Siti cepat sebelum aku sempat menjawab.
“Ih, Siti pelit banget! Aku kan nanyanya ke Luna, wlee,” Rania menjulurkan lidahnya.
Melihat tingkah mereka, aku hanya bisa tersenyum lebar. Obrolan-obrolan ringan dan receh seperti inilah yang membuatku merasa menjadi manusia seutuhnya. Kehadiran mereka seolah menjadi penawar dari segala memori kelam dan rasa sakit yang pernah kuhadapi di masa lalu.
Tanpa terasa, langkah kaki membawa kami melewati gerbang sekolah yang mulai ramai oleh murid-murid lain. Beberapa pasang mata sempat melirik ke arah kami—atau lebih tepatnya ke arahku—namun aku tidak lagi merasa terganggu. Aku terus berjalan diapit oleh Rania dan Siti, menikmati momen berharga ini.
Kami meniti anak tangga menuju lantai dua, menyusuri koridor yang bising oleh canda tawa siswa, hingga akhirnya melangkah masuk ke dalam kelas IX-A. Suasana kelas sudah cukup ramai, beberapa anak tampak panik menghafal buku, sementara yang lain asyik mengobrol.
Aku berjalan menuju bangkuku di barisan tengah, tepat di depan meja Siti dan di sebelah kanan Rania. Setelah meletakkan tas, aku mengeluarkan kotak pensil dan beberapa lembar catatan rumus yang kubuat semalam.
“Luna, rumus fungsi kuadrat yang ini dapetnya dari mana, sih? Aku bener-bener blank,” keluh Rania yang langsung berbalik menghadap mejaku, menunjuk sebuah coretan di buku tulisnya dengan wajah frustrasi.
Aku menggeser kursiku sedikit lebih dekat. “Oh, yang itu tinggal kamu masukin ke rumus determinan dulu, Ran. Sini, aku tulisin cara cepatnya.”
Sambil mencoret-coret kertas buram untuk menjelaskan pada Rania, telingaku menangkap kasak-kusuk di penjuru kelas. Atmosfer di dalam ruangan IX-A ini mendadak berubah fungsional. Kubu murid-murid ambisius tampak berkomat-kamit menghafal sifat-sifat grafik, sementara kubu pasrah sibuk merapal doa agar soalnya tidak sesulit try out minggu lalu.
Siti mendengus pelan dari kursinya, memperhatikan Rania yang mengangguk-angguk pasrah menerima penjelasanku. "Makanya, Ran, kalau Luna lagi dengerin penjelasan guru di depan, kamu jangan sibuk gambar anime di pojokan buku."
“Ya ampun, Siti, itu kan seni! Lagian sekarang aku udah paham kok, berkat Ibu Guru Luna,” sahut Rania dramatis, membuatku tidak bisa menahan tawa kecil.
TOK! TOK! TOK!
Langkah kaki yang tegas dan ketukan penggaris kayu pada kusen pintu seketika memutus keriuhan kelas. Suasana yang tadinya bising seperti pasar malam langsung senyap dalam hitungan detik. Semua anak bergerak kilat menyembunyikan catatan ilegal ke dalam kolong meja dan kembali ke posisi duduk masing-masing.
Pak broto, guru matematika kami yang terkenal dengan kumis tebal dan tatapan sedingin es, melangkah masuk. Beliau meletakkan seonggok lembar soal yang tebal di atas meja guru, menciptakan efek debuman pelan yang entah kenapa terdengar seperti vonis mati bagi sebagian anak di kelas ini.
“Selamat pagi, anak-anak,” suara beratnya menggema, menyapu seluruh ruangan. “Simpan semua buku. Siapkan alat tulis dan kertas lembar jawaban kalian di atas meja. Kita mulai ulangannya sekarang.”
Aku menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungku yang mendadak berdegup agak kencang. Kutukan, rasa sakit, dan bayangan kematian di kepalaku seketika bergeser ke sudut paling belakang, digantikan oleh fokus penuh pada lembar soal yang mulai dibagikan dari baris depan.