NovelToon NovelToon
Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Fantasi / Slice of Life
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kūkyo

Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nilai Sebuah Panen

​Di dalam gudang penyimpanan yang sejuk dan terang, Roven menatap tomat merah berukuran besar di telapak tangannya dengan pandangan ragu. Atas desakan Jenderal Varkas, pria itu akhirnya mendekatkan buah tersebut ke bibirnya, lalu menggigitnya sedikit.

​Pada detik pertama, rasanya tampak biasa saja—seperti buah segar pada umumnya. Namun, ketika cairan manis dan segar itu menyebar di lidahnya, Roven seketika menghentikan gerakan mengunyahnya. Ia tertegun, menatap lekat-lekat tomat di tangannya, lalu menggigitnya sekali lagi dengan lebih mantap.

​"...Manis," gumam Roven pelan, suaranya hampir tidak terdengar karena terkejut.

​Haruto, yang berdiri di hadapannya, memasang wajah bingung. "Memangnya tomat biasanya tidak manis?"

​Roven menoleh dengan cepat, matanya membelalak. "Tidak! Mana mungkin tomat biasa memiliki rasa semanis dan segar ini? Di luar sana, tomat rasanya cenderung asam atau hambar!"

​Penasaran dengan reaksi sang pedagang, Haruto mengambil sepotong mentimun segar dari keranjang terdekat dan menyerahkannya. "Coba ini."

​Roven menerima dan menggigit mentimun itu. Sensasi renyah langsung terdengar. Teksturnya sangat berair, padat, dan yang paling penting, tidak ada sedikit pun rasa pahit atau getir di ujung lidahnya. Tak sabar, Roven beralih mencoba selembar selada; rasanya begitu renyah dan bersih, bahkan tanpa perlu dibumbui saus apa pun, kelezatan alaminya sudah sangat menonjol.

​Puncaknya terjadi ketika Roven mencicipi buah apel segar yang baru dipetik dari kebun desa. Begitu gigi pertamanya menembus daging buah yang renyah dan manis alami, Roven benar-benar terdiam membeku. Ia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

​Di sudut ruangan, Jenderal Varkas hanya tersenyum tipis melihat pemandangan itu. Ia sudah menduga sepenuhnya reaksi sang pedagang senior akan menjadi seperti itu.

​Roven mengusap wajahnya pelan, mencoba menetralkan keterkejutannya. Ia menatap Haruto dengan tatapan serius. "Bagaimana caranya... kau bisa menanam semua ini?"

​Haruto menjawab dengan jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi, "Seperti biasa saja. Menyiapkan tanah, menyiram air, dan merawatnya."

​Elara dan Brom yang berdiri di dekat pintu gudang saling bertukar pandang sambil tersenyum kecil. Mereka tahu betul bahwa bagi Haruto, apa yang ia lakukan memang tampak biasa saja, karena pemuda itu mencurahkan ketulusan dan standar kerja yang luar biasa di setiap jengkal tanah yang ia garap.

​Roven menarik napas panjang, lalu mulai menjelaskan realitas perdagangan di dunia luar. Ia mengambil sebuah apel, membelahnya dengan pisau kecil untuk memperlihatkan bagian dalam buah tersebut kepada Haruto.

​"Buah-buahan dan sayuran semacam ini memang ada di luar sana, Haruto," jelas Roven dengan nada profesional. "Tapi biasanya... ukurannya jauh lebih kecil dari ini. Daging buahnya kurang manis, kadang terlalu asam, atau bahkan keras saat digigit."

​Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut gudang yang penuh dengan hasil panen sempurna. "Kualitas luar biasa seperti ini... aku bersumpah belum pernah melihatnya seumur hidupku di pasar kota mana pun."

​Mendengar penjelasan itu, Haruto akhirnya menyadari bahwa standar kualitas hasil bumi di dunia ini ternyata jauh berbeda dari apa yang ia bayangkan sebelumnya. Rasa penasarannya terpancing, lalu ia bertanya, "Kalau begitu... berapa sebenarnya nilai dari semua hasil panen ini?"

​Roven menggelengkan kepalanya perlahan. "Sulit untuk langsung menentukannya sekarang."

​Haruto mengerutkan kening, merasa bingung. "Sulit?"

​Sebagai pedagang berpengalaman, Roven mulai memaparkan prinsip dasar ekonomi pasar. "Harga sebuah barang tidak hanya ditentukan oleh wujud fisiknya saja, Haruto. Tapi juga ditentukan oleh tempat dan situasi."

​Ia mencontohkan dengan sabar. Di desa kecil yang subur, tomat biasa mungkin memiliki harga yang sangat murah. Namun, ketika dibawa ke kota besar yang padat penduduk, nilainya melompat jauh lebih tinggi. Dan jika barang yang sama dijual pada musim dingin yang ekstrem ketika pasokan makanan menipis, harganya bisa melonjak berkali-kali lipat dari harga normal.

​Mendengar penjelasan logis itu, Haruto mulai mengerti bahwa sistem ekonomi memiliki kompleksitas tersendiri yang tidak sesederhana sekadar barter langsung.

​Roven kemudian memberikan sebuah usulan bijak. "Daripada kita memaksakan diri menentukan harga kaku untuk setiap jenis barang saat ini... lebih baik kita menggunakan sistem barter langsung terlebih dahulu."

​Haruto langsung mengangguk menyetujui usulan tersebut. Toh, sejak awal ia memang tidak membutuhkan tumpukan koin emas atau mata uang yang tidak bisa dimakan untuk bertahan hidup di desa ini.

​Mendapatkan lampu hijau, Roven mulai membuka buku catatan kecilnya. Namun, ia sama sekali tidak menuliskan angka atau perbandingan nilai tukar apa pun. Ia hanya mencatat deskripsi jujur tentang apa yang ia lihat dan rasakan—tingkat kematangan, tekstur, aroma, dan kesegaran tiap jenis hasil panen—sebagai bahan laporan yang akan ia bawa pulang. "Ini bukan penilaian harga," jelasnya kepada Haruto yang mengamati dari samping. "Ini baru catatan kualitas. Harga adalah urusan lain yang harus dibicarakan dengan sangat hati-hati."

Haruto teringat sesuatu, lalu menoleh ke arah dua kereta besar yang masih terparkir di luar gerbang. "Kalau begitu... bagaimana dengan besi dan garam yang kalian bawa? Apa itu juga harus menunggu keputusan harga dulu?"

Roven mengangguk. "Itu memang untuk barter, sesuai permintaanmu sebelumnya lewat Jenderal Varkas. Tapi karena aku belum tahu nilai tukar yang adil, aku hanya akan meninggalkan sebagian kecil sebagai awal—cukup untuk kebutuhan mendesak bengkel dan dapur kalian. Sisanya akan kubawa kembali bersamaku, dan akan kuantarkan penuh begitu harga yang layak sudah disepakati."

​Haruto tersenyum kecil dalam hatinya. Dia benar-benar seorang pedagang yang jujur, batinnya mengakui.

​Merasa bahwa pria di hadapannya ini adalah orang yang bisa diandalkan, Haruto akhirnya berkata, "Kalau begitu... aku percaya padamu, Tuan Roven."

​Di luar dugaan, Roven langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas, membuat seluruh orang di dalam gudang terkejut. "Jangan percaya padaku."

​Semua orang terdiam kebingungan. Roven melanjutkan dengan suara yang tenang namun berbobot, "Jangan berikan kepercayaanmu sekarang. Percayalah padaku... setelah aku kembali ke sini membawa hasil yang nyata."

​Kalimat itu menggantung kuat di udara, meninggalkan kesan yang mendalam di hati setiap orang yang mendengarnya. Kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diminta begitu saja dengan kata-kata manis, melainkan sesuatu yang harus dibuktikan melalui tindakan nyata.

​Sebelum rombongan kecil itu memutuskan untuk bersiap pulang, Roven tidak memuat kereta mereka dengan barang dalam jumlah besar. Ia hanya meminta beberapa keranjang kecil berisi apel pilihan, tomat segar, mentimun renyah, selada hijau, dan beberapa karung kecil beras dan kedelai kualitas terbaik.

​Jumlah total muatan yang ia bawa tampak sangat sedikit jika dibandingkan dengan kapasitas dua kereta besar yang mereka siapkan dari istana. Namun, bagi Roven saat ini, keranjang-keranjang kecil berisi hasil panen itu terasa jauh lebih berharga daripada sebuah peti besar yang dipenuhi dengan koin emas murni.

1
Nadja 🎀
seruu merasa baca manga.. mengingatkan manga itu yg Isekai itu
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Nadja 🎀
bagus ceritanya ✨
ラマSkuy
keren Thor mirip dua manga yang pernah kubaca tentang terpanggil ke dunia lain dan membangun desa didunia lain 👍👍
Nadja 🎀
seruuu bgt lanjut!
ラマSkuy
emang kehidupan santai itu paling enak untuk orang introvert 😁
ラマSkuy
mirip sekai nonbiri bertani didunia lain 👍
ラマSkuy
akhirnya ada juga novel yang bukan fantasy timur 👍👍 nice Thor lanjutkan
NURC
menarik ceritanya, untuk referensi saya yg menulis novel fantasy juga
Nurul
masih menantin apakah sampai tamat atau tidak/Doubt/
Luthfi Afifzaidan: tetap sehat n semangat thor
total 2 replies
Fiks_imajinasiku
Thor dagig asap itu tanpa api kalau mau berhasil, pakai inkubasi tungku besar bisa dari batu atau kayu yang dilapisi tanah liat jadi asapnya terpokus ke daging tidak menyebar keluar, juga cara panggang gunakan tanpa api dengan cara menekan api menggunakan daun tua atau hijau bukan kering.
Kūkyo: Makasih banyak infonya, Kak.
Mungkin bisa saya pakai di bab-bab selanjutnya. Soalnya di bagian yang sekarang Haruto juga belum punya pengetahuan tentang teknik seperti itu, jadi saya usahakan perkembangannya bertahap. Terima kasih sudah berbagi ilmunya.
total 1 replies
Fiks_imajinasiku
nice thor, apakah akan ada eps 2 dengan ambisi mendirikan kerajaan di hutan?, semangat 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!