"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Kerajaan Pasir dan Benteng Baru
Matahari pagi belum sepenuhnya tinggi ketika badai ekonomi yang digerakkan oleh aliansi Arthur Arkananta dan Tuan Besar William Arkananta menghantam lantai bursa saham Jakarta. Hanya dalam waktu kurang dari tiga jam setelah perintah eksekusi dikeluarkan, saham Grup Wijaya kompetitor utama sekaligus penyokong dana Seline Wijaya terjun bebas ke titik terendah dalam sejarah berdirinya perusahaan tersebut.
Penarikan seluruh investasi dan pemutusan kontrak sepihak dari Grup Arkananta secara instan memicu kepanikan massal di kalangan investor global. Kerajaan bisnis yang selama puluhan tahun dibangun oleh keluarga Wijaya, kini runtuh layaknya istana pasir yang dihantam ombak besar Uluwatu.
Di dalam ruang kerja penthouse pribadinya, Arthur duduk di balik meja kaca besar, menatap layar monitor yang menampilkan grafik merah penurunan saham Grup Wijaya. Di sampingnya, Evan berdiri dengan sikap hormat yang kaku, memegang sebuah map dokumen hukum.
"Semua jalur hukum sudah dikunci, Tuan Besar," lapor Evan dengan suara tegas. "Pihak kejaksaan telah menerbitkan surat cekal dan perintah penangkapan untuk Seline Wijaya atas tindakan sabotase industri dan percobaan penyuapan staf internal proyek resor Bali. Ayah Seline, Tuan Wijaya, saat ini sedang terkena serangan jantung ringan di rumah sakit karena syok melihat perusahaannya di ambang kebangkrutan."
Arthur tidak menunjukkan ekspresi belas kasihan sedikit pun. Sepasang mata elangnya berkilat dingin, mencerminkan ketegasan seorang penguasa sejati. "Pastikan tidak ada satu pun celah bagi mereka untuk mengajukan penangguhan penahanan. Siapa pun yang berani menyentuh keluargaku, harus membayar harganya hingga ke akar-akarnya."
"Baik, Tuan Besar."
Tepat saat Evan hendak melangkah keluar, pintu ruang kerja terbuka. Tuan Besar William Arkananta melangkah masuk dengan ketukan tongkat peraknya yang khas. Di belakang sang kakek, tampak Elena yang sedang menggandeng tangan Leon dan Lia.
"Arthur," suara berat William memecah keheningan ruangan. "Pembersihan di luar sudah selesai. Sekarang saatnya mengamankan bagian dalam. Aku tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun dengan keselamatan cicit kembaranku. Hari ini juga, kalian semua harus pindah ke Mansion Utama Arkananta."
Elena menghentikan langkahnya, menatap William dengan dahi yang berkerut tidak setuju. "Tuan Besar William, saya sangat menghargai perlindungan Anda. Namun, penthouse ini sudah memiliki keamanan yang cukup ketat. Pindah ke mansion utama... bukankah itu terlalu berlebihan?"
William membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Elena dengan sorot mata tua yang kini melembut namun tetap tegas. "Eleanor, mansion utama adalah sebuah benteng. Tempat itu dijaga oleh sistem keamanan perimeter militer dan pengawal terlapis selama dua puluh empat jam. Di sana, tidak akan ada satu lalat pun yang bisa masuk membawa surat ancaman sialan seperti kemarin. Ini bukan hanya tentang kenyamanan, ini tentang keselamatan penerus dinasti kita."
Arthur bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Elena dan merangkul bahu wanita itu dengan lembut, memberikan kehangatan yang menenangkan. "Kakek benar, Elena. Untuk sementara waktu, sampai situasi benar-benar kondusif dan sisa-sisa pengikut Seline dibersihkan, tinggallah di mansion bersamaku. Aku tidak akan bisa fokus bekerja di kantor jika setiap detiknya aku harus mencemaskan keamananmu dan anak-anak di sini."
Elena melirik ke arah Leon dan Lia. Leon tampak acuh tak acuh, sibuk memperhatikan arsitektur langit-langit ruangan melalui jam tangan pintarnya, sementara Lia mendongak dengan mata bulatnya yang berbinar.
"Mama, mansi utama itu yang ada taman bunga besarnya, ya? Yang ada kolam ikan koat yang banyak?" tanya Lia dengan suara imutnya.
Melihat keinginan putrinya dan demi menjaga keselamatan yang menjadi prioritas utama, Elena akhirnya menghela napas panjang dan mengangguk perlahan. "Baiklah. Kami akan pindah hari ini. Tapi dengan satu syarat, Arthur... aku dan anak-anak memiliki area privat sendiri di dalam mansi tersebut."
Arthur tersenyum penuh kemenangan, sebuah senyuman langka yang membuat wajah rupawannya tampak jauh lebih menawan. "Apapun yang kamu inginkan, Elena. Seluruh mansi itu adalah milikmu."
Proses pemindahan barang berlangsung dengan sangat cepat dan efisien di bawah komando Evan. Menjelang sore hari, iring-iringan tiga mobil SUV hitam anti-peluru milik keluarga Arkananta memasuki gerbang besi raksasa Mansion Utama Arkananta di kawasan Menteng.
Mansion bergaya kolonial mewah itu tampak berdiri megah, dikelilingi oleh halaman rumput hijau yang sangat luas dan pohon-pohon peneduh yang asri. Puluhan pelayan dan pengawal berseragam rapi sudah berbaris di sepanjang teras depan, membungkuk hormat menyambut kedatangan sang ratu yang sempat terusir lima tahun lalu.
Begitu turun dari mobil, Lia langsung memekik gembira dan berlari menuju kolam air mancur besar di tengah taman, diikuti oleh beberapa pelayan wanita yang dengan sigap menjaganya. Sementara Leon berjalan dengan santai di samping Elena, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamera CCTV yang terpasang di dinding mansi.
"Sistem keamanannya menggunakan enkripsi militer kelas tiga," gumam Leon dengan nada menilai yang dewasa. "Cukup kuat, tapi aku bisa meningkatkannya menjadi kelas satu jika aku bosan nanti malam."
Arthur yang berjalan di belakang Leon terkekeh pelan, menepuk bahu kecil putranya. "Silakan lakukan apa saja yang kamu suka dengan sistem keamanan mansi ini, Leon. Papa memberikanmu akses penuh."
Mereka berempat melangkah masuk ke dalam aula utama mansi yang beratap tinggi dengan lampu kristal gantung yang mewah. Kamar baru untuk Elena dan si kembar terletak di sayap kanan lantai dua sebuah area luas yang telah direnovasi kilat dalam waktu beberapa jam, dilengkapi dengan ruang bermain anak yang besar, balkon pribadi yang menghadap ke taman, dan sebuah ruang kerja khusus untuk Elena.
Saat Elena sedang merapikan beberapa berkas desain proyek Bali di ruang kerja barunya, pintu ruangan diketuk perlahan. Arthur masuk dengan membawa dua cangkir teh chamomile hangat.
"Teh untukmu, Elena. Kamu pasti lelah setelah seharian mengurus kepindahan ini," ucap Arthur, menaruh cangkir tersebut di atas meja kerja kayu jati milik Elena.
Elena menerima cangkir itu, menyesapnya perlahan sebelum menatap Arthur yang kini duduk di kursi seberangnya. "Terima kasih, Arthur. Aku tidak pernah membayangkan akan kembali menginjakkan kaki di rumah ini lagi dengan status yang seperti ini."
Arthur mencondongkan tubuhnya ke depan, meraih jemari lentik Elena yang berada di atas meja dan menggenggamnya dengan kelembutan yang teramat dalam. "Aku tahu tempat ini memiliki banyak kenangan buruk bagimu karena perbuatan Rosa dulu. Tapi aku berjanji, mulai hari ini, aku akan mengisi setiap sudut mansi ini dengan kenangan baru yang penuh dengan kebahagiaan untukmu, Leon, dan Lia."
Elena menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Arthur. Kehangatan dan ketulusan yang terpancar dari sana membuat hatinya yang beku kian hari kian mencair sepenuhnya. Dia tidak menjawab dengan kata-kata, namun dia tidak menarik tangannya dari genggaman hangat Arthur sebuah sinyal tak terbantahkan bahwa kesempatan kedua yang dia berikan kepada pria itu kini mulai membuahkan hasil.
Namun, kedamaian di dalam mansi mewah itu mendadak terusik ketika malam tiba. Sekitar pukul sembilan malam, sebuah keributan terdengar dari arah gerbang luar mansi.
Melalui sistem monitor keamanan di ruang tengah, tampak sosok seorang wanita dengan penampilan yang sangat berantakan sedang berargumen histeris dengan barisan pengawal ketat Arkananta. Wanita itu mengenakan pakaian mewah yang sudah kotor, rambutnya kusut, dan yang paling mencolok... wajah cantiknya masih memiliki sisa-sisa noda hijau tua yang pekat di sekitar pipi dan dahinya akibat sabotase masker milik Leon dua hari lalu.
Seline Wijaya. Wanita itu nekat menerobos datang ke mansion utama setelah melarikan diri dari kejaran pihak kepolisian yang mendatangi rumahnya sore tadi.
"Arthur!! Keluarlah, Arthur!! Aku tahu kamu ada di dalam!!" jerit Seline histeris dari luar gerbang, suaranya melengking memecah keheningan malam. "Kamu tidak bisa menghancurkan keluargaku seperti ini! Aku melakukan semuanya karena aku mencintaimu! Eleanor Vance adalah wanita pembawa sial yang menghancurkan hidup kita!!"
Arthur yang sedang menemani Leon dan Lia belajar di ruang tengah langsung berdiri, wajahnya seketika mengeras dipenuhi oleh kemarahan yang dingin. "Biar aku yang mengurus wanita gila ini di luar," ucap Arthur tajam.
"Tidak, Arthur. Biarkan aku yang ikut turun," potong Elena, bangkit berdiri dari sofa dengan keanggunan yang penuh dengan ketegasan. "Masalah ini dimulai karena dendam masa lalunya kepadaku. Ini saatnya aku memberikan penyelesaian akhir secara langsung agar dia tidak pernah berani bermimpi mengusik anak-anakku lagi."
Arthur menatap Elena sejenak, melihat keberanian dan harga diri yang tinggi di mata istrinya, dia akhirnya mengangguk. "Baiklah. Kita turun bersama."
Di depan gerbang besi raksasa mansi yang dijaga ketat oleh sepuluh pengawal bertubuh kekar, Seline terus berteriak bagai orang kesurupan. Namun, teriakannya seketika terhenti saat gerbang perlahan terbuka, menampilkan sosok Arthur dan Elena yang berjalan berdampingan di bawah kawalan ketat pengawal pribadi.
Elena berdiri dengan anggun, melipat tangan di depan dada, menatap Seline dari atas ke bawah dengan pandangan yang penuh dengan rasa iba sekaligus meremehkan. Penampilan Seline yang berantakan dengan noda hijau Shrek di wajahnya benar-benar kontras dengan penampilan Elena yang begitu glamor dan berkelas malam ini.
"Seline Wijaya," suara Elena terdengar sangat tenang namun bergaung penuh penekanan di udara malam. "Melihat kondisimu saat ini... aku menyadari bahwa keadilan itu memang tidak pernah terlambat datang."
"Eleanor Vance!! Kau jalang sialan!!" raung Seline, mencoba menerobos barisan pengawal untuk mencakar wajah Elena, namun tubuhnya dengan mudah ditahan oleh dua pengawal kekar. "Kau merampas Arthur dariku! Kau menghancurkan perusahaan ayahku! Kau menjebakku hingga wajahku menjadi cacat seperti ini!!"
"Aku tidak merampas apa pun yang sejak awal memang bukan milikmu, Seline," balas Elena dengan nada dingin sedingin es. "Lima tahun lalu, kamu dan Rosa bekerja sama memfitnahku, membuangku ke jalanan saat aku sedang mengandung dalam kondisi lemah. Aku diam selama lima tahun bukan karena aku takut, melainkan karena aku sedang mengumpulkan kekuatan untuk menghancurkanmu dalam satu kali pukulan."
Elena maju satu langkah, menatap tepat ke dalam manik mata Seline yang dipenuhi kegilaan. "Hari ini, perusahaan ayahmu hancur karena keserakahan dan kelicikanmu sendiri. Dan noda hijau di wajahmu itu... anggap saja itu sebagai cinderamata abadi dari putra kandungku yang genius agar kamu selalu ingat apa akibatnya jika berani menyentuh keluarga Arkananta."
Arthur melangkah maju, merangkul pinggang Elena dan menatap Seline dengan pandangan mata yang penuh kejijikan mutlak. "Kereta polisi sudah berada di ujung jalan, Seline. Nikmatilah sisa hidupmu di balik jeruji besi atas seluruh tindakan kriminal yang sudah kamu lakukan. Nama Wijaya sudah resmi dihapus dari daftar kalangan atas Jakarta mulai malam ini."
Wiuuu... Wiuuu... Wiuuu...
Suara sirine mobil polisi bergema nyaring dari kejauhan, lampu merah biru berputar membelah kegelapan jalanan Menteng. Dua mobil patroli polisi berhenti tepat di depan gerbang mansi, dan beberapa petugas polisi langsung turun dengan membawa surat perintah penahanan resmi.
"Nona Seline Wijaya, Anda resmi ditahan atas dugaan kasus sabotase industri korporasi, penyuapan, dan ancaman kekerasan," ucap kepala petugas polisi, langsung memasangkan borgol besi di kedua pergelangan tangan Seline yang gemetar.
"Arthur!! Tidak!! Aku mohon ampuni aku!! Aku mencintaimu, Arthur!! Eleanor, lepaskan aku!!" Seline menjerit dan menangis histeris saat tubuhnya diseret paksa masuk ke dalam mobil tahanan. Pintu mobil ditutup dengan keras, dan perlahan suara sirine itu menjauh, membawa pergi sisa-sisa badai masa lalu mereka untuk selamanya.
Gerbang besi raksasa Mansion Utama Arkananta kembali tertutup rapat, mengunci keheningan dan kedamaian di dalam benteng perlindungan baru mereka. Arthur menoleh menatap Elena, mengusap pipi lembut istrinya dengan penuh kehangatan.
"Semuanya sudah benar-benar selesai sekarang, Elena. Tidak akan ada lagi yang bisa mengganggu kita," bisik Arthur lirih di bawah taburan bintang malam.
Elena tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya sejenak di dada bidang Arthur. Langkah mereka untuk membersihkan sisa-sisa musuh telah berjalan dengan sangat mulus dan sempurna tanpa celah, membuka lembaran baru kehidupan keluarga Arkananta yang penuh dengan kemenangan, kedamaian, dan kemewahan yang tak tertandingi.