Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran
Kesadaran perlahan kembali menyapa, bukan dengan rasa dingin atau cemas yang menyesakkan, melainkan kelembutan yang menyelimuti sekujur tubuh. Saat mata perlahan terbuka, yang terlihat bukan lagi tepi danau atau wajah-wajah cemas, melainkan hamparan padang rumput yang membentang luas tak bertepi. Rumputnya berwarna hijau keemasan, dihiasi bunga-bunga kecil berwarna biru dan perak yang melambai lembut ditiup angin sepoi-sepoi. Langit di atas bersih tanpa awan, berwarna biru lembut persis seperti warna matanya, dan udaranya terasa manis serta menenangkan di paru-paru.
Di tak jauh dari tempatnya berdiri, ada sosok wanita yang sedang menatapnya dengan senyum damai. Wanita dengan rambut biru cerahnya yang berkilau diterpa cahaya, namun ada keanggunan dan kedalaman yang jauh lebih tenang, seolah ia telah hidup ratusan tahun dan memahami segala rahasia dunia.
Wanita itu melangkah perlahan mendekat, gerakannya ringan seolah tak menyentuh tanah.
"Kamu sudah datang," ucapnya pelan, suaranya lembut namun jelas terdengar. "Jangan bingung. Kamu aman di sini."
Bellatrix yang baru sadar hanya bisa menatap terpaku. "Siapa kau...? Ini di mana?"
Sosok itu tersenyum lebih lebar, lalu mengulurkan tangan halus. "Aku Bellatrix juga. Tempat ini adalah ruang di antara dunia tempat di mana ingatan dan jiwa bisa berbicara tanpa gangguan. Mari berjalan sebentar. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, sebelum kita berbicara tentang segalanya."
Ia menggenggam tangan Bellatrix dengan lembut. Sentuhannya hangat, menenangkan, dan terasa sangat akrab, seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Bersama-sama mereka berjalan menyusuri padang rumput, menuju ke arah bukit rendah yang ditumbuhi pohon besar dengan daun berkilau seperti kristal.
Di sepanjang jalan, Bellatrix memperhatikan wajah sosok di sampingnya yang begitu cantik, begitu sempurna, hingga sebagai sesama perempuan pun ia merasa terpukau dan tak bisa mengalihkan pandangan. Kulitnya bercahaya lembut, setiap gerakannya seirama dengan angin, dan ada pancaran kekuatan yang tenang namun tak tergoyahkan dari dalam dirinya.
Setelah berjalan cukup lama, menikmati keheningan yang damai, mereka berhenti di bawah naungan pohon besar itu. Dari sana terlihat pemandangan seluruh hamparan padang hingga ke cakrawala. Sosok Bellatrix itu menoleh sepenuhnya ke arahnya, dan baru saat ini ia mulai berbicara perlahan, menjelaskan segalanya satu per satu.
"Sebenarnya... kita adalah satu jiwa yang pernah terbelah," ucapnya pelan, matanya menatap tajam namun penuh kasih sayang. "Aku adalah bagian asli yang tertinggal di sini, di dunia ini. Dan kau... kau Eloise. Kau adalah pecahan jiwaku yang terlempar jauh ke dunia modern, ke tempat yang berbeda bentuk dan waktu, karena kesalahan fatal yang kubuat ribuan tahun silam."
Bellatrix tertegun, mendengar kata-kata itu seolah mimpi yang belum selesai.
"Dulu, saat aku masih hidup sepenuhnya di sini," lanjutnya pelan, menatap ke arah hamparan rumput, "aku lahir sebagai putri Duke Leonidas dan Duchess Elara, keturunan paling murni dari garis pendiri kerajaan elemen air. Sejak kecil, aku berbeda dari anak-anak lain. Kakakku Alexander belajar berlatih sihir bersama guru, aku hanya butuh duduk berjam-jam di perpustakaan, membaca buku tua yang berdebu. Aku bisa memahami sifat air, kehangatan api, hembusan angin, dan kekuatan tanah hanya dengan membaca tulisan di atas kertas. Belum genap sepuluh tahun, aku sudah menguasai dasar keempat elemen itu sendirian, tanpa satu orang pun yang membimbingku."
Ia menunduk menatap telapak tangannya sendiri. "Bukan hanya itu. Darahku membawa kemampuan langka yang nyaris hilang: penyembuhan murni. Cukup dengan meletakkan jari di atas luka yang menganga, rasa sakit yang tajam akan hilang, daging yang robek akan menutup kembali, dan jiwa yang lelah akan pulih tenaganya. Ayah dan Ibu bangga, tapi mereka juga takut. Mereka tahu kekuatanku terlalu besar untuk tubuh yang masih muda."
Namun kejeniusan itu membuatnya terlalu percaya diri.
"Di ujung selatan kerajaan, ada kelompok yang disebut Suku Terlarang," ceritanya dengan nada berat. "Mereka diusir karena dianggap darah mereka tidak murni, padahal mereka hanya menjaga pengetahuan kuno yang dilupakan bangsawan. Saat mereka membutuhkan bantuan untuk menyelamatkan sumber air terakhir mereka lewat ritual gabungan elemen, aku pergi sendirian. Aku pikir aku sudah tahu segalanya dari buku. Aku pikir aku bisa mengendalikan semua kekuatan itu sekaligus."
Bellatrix asli menghela napas panjang, seolah masih merasakan hantaman energi saat itu.
"Tapi kekuatan nyata tidak sama dengan tulisan di atas kertas. Saat empat elemen bertemu di tanganku, ledakan itu melampaui batas tubuhku. Aku mati seketika di tempat itu. Dan benturan energi itu begitu dahsyat hingga jiwaku pecah menjadi dua. Satu bagian tetap tertahan di sini, menjaga sisa kekuatan dan ingatan asliku. Satu bagian lagi terlempar ke dunia lain, menjadi kau Eloise."
Ia menatap Bellatrix di sebelahnya dengan lembut. "Alam semesta berbaik hati. Di dunia barumu, kau diberikan keluarga yang persis sama sifatnya. Orang tua yang penuh kasih, kakak yang melindungi. Itu adalah cara dunia ini menjagaku tetap utuh. Tapi takdir tak berubah. Kau pun mengalami nasib yang menyakitkan. Kau pasti ingat, bukan"
Bellatrix menahan napas, merasakan ingatan itu menyakitkan.
"Kini kau kembali," lanjutnya tegas namun lembut. "Kita menyatu lagi. Dan ada hal yang harus kau pahami, hal yang dulu membuatku menjauh dari Ayah, Ibu, dan Alexander."
Ia mendekat sedikit, menatap mata mereka yang sama persis.
"Aku menjauh bukan karena membenci mereka. bukan karena tidak sayang pada keluarga. Aku menjauh karena takut. Kekuatanku begitu liar, begitu besar, aku takut tanpa sadar akan melukai orang yang kucintai. Aku takut jika terlalu dekat, beban ini akan menimpa mereka. Jadi aku membuat jarak, membuat hubungan kita terasa dingin, berharap itu bisa melindungi mereka dari bahaya yang ada di dalam diriku sendiri."
Lalu senyumnya berubah menjadi yakin.
"Tapi ada satu orang yang tidak perlu kujauhi. Satu-satunya orang di seluruh benua ini yang mampu menahan, menyeimbangkan, dan membimbing kekuatanku. Itu Thiago. Sihir yang mengalir dalam darahnya memiliki sifat stabil dan dalam, yang selaras sempurna dengan kekuatan yang melonjak tak menentu. Dia bisa mengatur batas yang tak aku mengerti, dia bisa menahan ledakan energi itu tanpa terluka. Ayahku hebat, tapi Thiago adalah penyeimbang yang diciptakan khusus untukku."
Bellatrix asli meletakkan kedua tangannya di bahu Bellatrix.
"Saat kau bangun nanti, semua kekuatanmu akan terbuka sepenuhnya. Sihir akan keluar dengan sendirinya, penyembuhan itu akan kembali bekerja. Jangan lari. Tetaplah di sisi Thiago. Dia adalah orang terkuat di tanah ini, dia tak akan membiarkanmu hancur. Kalian sudah ditakdirkan bersama. Dan kini, kau tak perlu lagi menjauh dari siapa pun. Kau sudah cukup kuat untuk berjalan di antara mereka semua, dengan kekuatanmu, dan dengan dia."
Perlahan cahaya menyelimuti sosok Bellatrix asli, menyatu lembut ke dalam dirinya, membawa semua ingatan dan kekuatan yang dulu terbelah.
Bellatrix yang kini mulai menyadari siapa dirinya sepenuhnya masih duduk diam, menyerap setiap kata, setiap kenangan, setiap kekuatan yang perlahan mengalir masuk menyempurnakan dirinya. Ia merasa baru saja berpisah dengan sosok aslinya beberapa saat yang lalu, seolah waktu di tempat ini berhenti berputar sepenuhnya, membiarkannya beristirahat sepuasnya sebelum kembali. Dia merasakan waktu yang dia habiskan disini baru beberapa jam.
Namun di dunia nyata, waktu tidak berhenti. Ia berlalu lambat namun menyakitkan, satu hari demi satu hari, tanpa ada tanda-tanda keajaiban.
Saat matahari mulai condong ke barat pada hari kejadian itu, Bellatrix masih terbaring diam di atas tempat tidur di kamarnya di istana yang paling tenang. Tubuhnya masih terasa dingin seperti patung, namun denyut jantungnya tetap berdetak pelan, dan teratur seolah ia hanya sedang tidur sangat lama.
Thiago tidak pernah melepaskan genggamannya sejak pertama kali mengangkat tubuhnya di tepi danau. Ia yang biasanya selalu punya urusan, selalu sibuk dengan tugas negara, kini membatalkan segalanya. Ia duduk di kursi berat sebelah di samping tempat tidur, matanya tak lepas dari wajah pucat gadis itu. Wajahnya masih datar, kaku, tanpa ekspresi yang bisa dibaca siapa pun. Namun siapa pun yang melihatnya bisa merasakan ketenangan yang patah di balik tatapannya.
Duke Leonidas dan Duchess Elara hampir tidak pernah pulang ke kediaman mereka. Mereka selalu ada di sana, bergantian memegang tangan putri mereka. Leonidas setiap beberapa jam menyalurkan aliran sihir air yang hangat dan stabil ke dalam tubuh Bellatrix, berusaha menenangkan gejolak di dalamnya, berusaha memanggil kesadarannya kembali. Namun setiap kali ia menarik tangannya, tidak ada perubahan. Napas Bellatrix tetap sama pelannya, matanya tetap tertutup rapat.
"Energinya masuk," ujar Leonidas dengan suara parau, setelah satu kali percobaan yang sama berulang kali. "Tapi ia seolah menolak untuk bangun. Seolah ada dinding tak terlihat yang menahannya di tempat lain."