"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Seharian ini aku begitu bahagia karena bisa melihat keindahan jakarta dari puncak Monas. Aku tidak pernah merasakan sebebas ini sebelumnya.
Aku sampai lupa waktu, hingga hari sudah sore.
Aku buru-buru meminta Dewa mengantar ku pulang, tentu tidak sampai di depan rumah. Aku meminta Dewa menurunkan aku di jalan.
"Nggak mau aku antar sampai rumah? belanjaan kamu banyak Rin"
"Tidak usah Wa, aku nanti pesan ojek online saja"
"Beneran?"
Aku mengangguk pelan padanya dengan senyum termanis ku. Dewa akhirnya pergi, Aku menelfon mas Aga untuk menjemput ku di sini.
'Hallo mas? Mas Aga di mana? Arin sudah ada di jalan yang mas bilang tadi siang"
"Kamu langsung pulang saja, saya sudah di rumah"
Tubuh ku lansung lemas seketika, tahu begitu tadi minta Dewa mengantarnya sampai perempatan dekat rumah.
Aku langsung mencegat Angkot untuk pulang.
Aku turun di perempatan jalan dekat rumah, ku telfon salah satu karyawan agar membantu ku membawa belanjaan. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Mas Aga seharian ini, kenapa dia tega meninggalkan aku di toko swalayan itu? Di saat seperti ini, aku selalu ingat pesan sayang dari Bidadari di nomor ponsel mas Aga.
Apa mas Aga menemui wanita itu hari ini? Dadaku langsung terasa sesak saat membayangkan mereka berjalan berdua. Dia mengabaikan aku, bahkan lupa menjemput ku, dia sama sekali tidak pernah mau mengobrol dengan ku, bahkan menatap ku saja enggan. Tapi dia langsung tersenyum saat mendapatkan pesan ataupun telfon dari sang bidadari nya.
Apa aku menyerah saja? Aku bisa mencari lelaki baik dan perhatian seperti Dewa. Aku menghapus air mataku. Mengapa semakin lama rasanya semakin berat, aku tidak sanggup menanggung semua ini.
Aku berjalan gontai menuju rumah, tak ada semangat sama sekali, sampai di depan pintu, rumah ini sudah tidak seperti rumah bagiku semenjak aku menikah dengan Mas Aga. Tempat ini berubah jadi penjara yang sekali ingin aku jauhi, tapi apalah daya. Ibu lebih utama bagiku.
Aku membuka pintu, aku bahkan tidak sadar ada dua mobil terparkir di depan rumah karena begitu memikirkan nasib diri. Saat aku masuk, aku sungguh terkejut melihat Dewa as di rumah ini.
Dewa tengah berbincang begitu akrab dengan Bu Tina. Mereka bahkan nampak tertawa bersama, membuat aku merasa heran. Kenapa Dewa bisa ada di sini? Mau apa dia?
"Kog berdiri di situ sayang? cepat masuk. Sini Ibu kenalin keponakan jauh ibu. Namanya Dewa. Dulu kalian satu sekolah lho! Kamu ingat sama dia?"
Aku mengagguk, Aku merasa dunia ini benar-benar selebar daun kelor. Kami sudah lama kenal, tapi aku baru tahu kalau Dewa saudara Mas Aga.
"Dia teman sekelas Dewa bude. Dulu dia satu-satunya teman Dewa"
"Benarkah? Bagus dong. Bisa Reunian di sini"
"Iya Bu"
"Sini duduk Rin"
Pinta ini, Aku duduk di sebelah ibu, ku peluk lengan ibu dengan manja.
"Kamu temani Dewa dulu ya? Ibu mau mandi, Aga tadi saat pulang langsung tidur, ibu malas membangun kan dia, kalau nanti kamu ke kamar bilang aja ke Aga kalau Dewa ke sini"
"Siap ibu"
Begitu Bu Tina pergi, Dewa langsung mendekat,dia bahkan berpindah tempat duduk tepat di sebelah ku.
Dewa bahkan mengeluarkan cincin dari sakunya.
"Menikahlah dengan ku Arin"
'Prang'
Gelas di depanku terjatuh terkena tanganku, apa Dewa sadar dengan apa yang dia lakukan sekarang.
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...