NovelToon NovelToon
MY HOT KILLER LECTURER

MY HOT KILLER LECTURER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."

Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.

Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.

Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI BAWAH SOROT MATALU

Langkah kaki Queen terasa sedikit lebih ringan saat ia menyusuri lorong gedung Fakultas Ekonomi menuju ruang kelas berikutnya. Meskipun bagian intinya masih menyisakan rasa berdenyut halus akibat pergulatan panas di siang bolong tadi, kepuasan batin yang ia dapatkan jauh lebih mendominasi. Senyum manis tak berkesudahan terukir di wajah baby face-nya, sementara jemari lentiknya sesekali merapikan syal tipis yang melingkar erat di lehernya menjaga mahakarya baru yang ditinggalkan oleh Arga agar tidak terekspos.

Namun, begitu Queen melangkah melewati ambang pintu kelas barunya, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah drastis. Hawa sejuk dari pendingin ruangan seolah lenyap, digantikan oleh ketegangan yang pekat.

Di barisan bangku nomor tiga dari depan, dua sosok yang sangat ia kenal sudah duduk berdampingan. Karin dan Alya. Begitu sosok Queen muncul, kedua sahabatnya itu kompak menghentikan obrolan mereka. Kepala mereka menoleh serentak, menyorot Queen dengan tatapan yang teramat aneh, intens, dan sarat akan kecurigaan yang mendalam.

Queen menelan ludahnya pelan. Jiwa cegil-nya yang biasanya ugal-ugalan dan urakan mendadak merasa sedikit terintimidasi oleh sinkronisasi tatapan maut kedua sahabatnya. Namun, dengan cepat ia memasang topeng santai andalannya. Ia melangkah mendekat dengan ritme jalan yang sebisa mungkin dibuat senormal mungkin, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja keluar dari "sarang singa".

"Hai, Guys! Untung belum telat ya gue," sapa Queen ceria, langsung mendudukkan diri di kursi kosong sebelah kiri Karin.

Hening. Tidak ada jawaban riang atau omelan lapar seperti biasanya dari Karin. Alya pun hanya diam, menopang dagunya dengan satu tangan sementara sepasang mata bulatnya terus memicing tajam, menatap Queen dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan pandangan yang menyelidik.

"Lo... dari mana aja, Queen?" Karin akhirnya membuka suara. Nadanya tidak tinggi, namun terdengar sangat datar dan penuh selidik. "Katanya tadi mau ngurus berkas tugas mandiri sebentar. Tapi ini hampir dua jam pelajaran berlalu, dan lo baru muncul pas kelas baru mau dimulai."

"Ah, itu..." Queen tertawa renyah, mencoba mengalihkan kegugupannya dengan pura-pura sibuk mengeluarkan buku catatan dari dalam tas ranselnya. "Antrenya panjang banget di ruang administrasi rektorat lama, Rin. Lo tahu sendiri kan staf rektorat kalau jam istirahat siang kerjanya lelet banget kayak siput."

"Oh ya? Antre?" potong Alya cepat. Nada suaranya terdengar sangat skeptis.

Alya memajukan tubuhnya, mencondongkan wajahnya mendekat ke arah Queen. Hidungnya mengendus halus udara di sekitar sahabatnya itu. Detik itu juga, alis Alya bertaut rapat. Ada aroma yang teramat familier yang menguar dari tubuh Queen. Bukan hanya aroma parfum vanila manis milik Queen, melainkan bercampur dengan aroma maskulin yang sangat jantan, berat, dan berkelas beraroma parfum mahal beraroma cedarwood dan amber.

Sebagai seorang adik yang sering mencium aroma parfum itu melekat pada jas kakak kandungnya, Arga, jantung Alya mendadak berdegup kencang karena sebuah kecurigaan yang semakin menggila. Namun, ia tidak boleh membocorkan hubungannya dengan Arga di depan Karin maupun Queen.

"Kok bau lo beda sih, Queen? Ini bukan bau parfum lo yang biasanya," cecar Alya dengan tatapan yang semakin aneh dan menuntut. "Terus... rambut lo kenapa agak berantakan di bagian belakang? Dan itu... syal lo. Perasaan tadi pagi sebelum masuk kelas Pak Arga, syal lo gak dipasang se-rapat ini sampai nutupin dagu."

Karin ikut memperhatikan, matanya membelalak tipis. "Eh, iya bener! Queen, lo habis ngapain sih di luar? Muka lo juga kelihatan... gimana ya, kayak habis dapet lotre, seger banget tapi agak kemerahan gitu."

Queen mengutuk ketajaman insting kedua sahabatnya di dalam hati. Ia buru-buru membetulkan posisi syalnya, memastikan noda merah baru yang masih hangat di ceruk lehernya tidak mengintip keluar.

"Aduh, kalian berdua ini kenapa sih? Kok jadi kayak detektif swasta gini," sahut Queen bar-bar, mencoba membalikkan keadaan dengan nada ketusnya yang khas. "Rambut gue berantakan ya karena tadi gue jalannya buru-buru, angin di luar rektorat kencang banget siang ini. Terus soal bau... tadi gue gak sengaja papasan sama cowok ganteng di koridor, terus kesenggol dikit, mungkin parfumnya nempel di baju gue. Wajar dong!"

Alya tidak melepaskan pandangannya. Di dalam benaknya, berkecamuk sebuah perang batin yang teramat hebat. Di satu sisi, ia tahu kakaknya, Arga, sedang berada di titik terendah dalam hidupnya karena Keysha si istri tidak tahu diri itu kembali berselingkuh kemarin siang. Di sisi lain, ia melihat Queen gadis gila yang selama ini terang-terangan mengejar Arga kembali dari suatu tempat dengan tanda-tanda fisik yang menunjukkan baru saja menghabiskan waktu intim dengan seorang pria.

Alya sangat berharap pria misterius yang meninggalkan tanda di leher Queen dan aroma parfum maskulin ini adalah kakaknya sendiri. Alya bener-bener ingin Queen menjadi sosok yang menyembuhkan luka hati Arga dan mendepak Keysha dari rumah mereka. Namun, karena aturan privat yang ketat dan ketidaktahuannya bahwa Arga dan Queen sudah resmi berpacaran secara rahasia, Alya hanya bisa menahan rasa penasarannya yang setengah mati.

"Gue cuma mau ngingetin lo aja, Queen," ucap Alya akhirnya, suaranya melembut namun tatapannya tetap mengunci mata bulat sahabatnya. "Jangan sampai lo salah milih cowok. Gue takut lo cuma dimanfaatin sama cowok yang gak bertanggung jawab di luar sana. Apalagi kalau cowok itu ternyata... punya rahasia besar."

Queen tertegun sejenak mendengar kalimat Alya yang terdengar sangat emosional dan sarat akan makna tersembunyi. Queen mengira Alya hanya mengkhawatirkannya karena status Queen yang masih lajang namun tiba-tiba memiliki tanda kepemilikan fisik. Queen sama sekali tidak menyadari bahwa 'cowok' yang dimaksud Alya dengan penuh kekhawatiran itu adalah kakak kandungnya sendiri.

"Tenang aja, Al, Rin," jawab Queen lembut, sebuah senyuman tulus dan penuh keyakinan merekah di bibirnya. Ia menyentuh punggung tangan kedua sahabatnya bergantian. "Cowok yang sama gue sekarang... dia pria yang baik. Sangat bertanggung jawab, meskipun dia agak kaku kayak batu es. Dia gak bakal manfaatin gue, justru gue yang bakal bikin dia bertekuk lutut."

Karin mengembuskan napas pasrah, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkat kepercayaan diri sahabat cegil-nya yang sudah mencapai stadium akhir. "Terserah lo deh, Queen. Yang penting lo bahagia dan gak nangis-nangis ke kita kalau patah hati nanti."

Sebelum Alya sempat melayangkan pertanyaan interogasi berikutnya, dosen mata kuliah baru mereka melangkah masuk ke dalam kelas, memaksa seluruh mahasiswa untuk tenang dan membuka buku mereka. Queen bersandar pada sandaran kursinya, menarik napas dalam-dalam sembari tersenyum miring di balik syalnya. Tatapan aneh dan interogasi dari kedua sahabatnya hari ini adalah harga kecil yang harus ia bayar demi bisa mendekap kehangatan Arga Dirgantara di dalam ruang privat mereka. Hubungan rahasia ini bener-bener terasa semakin menegangkan, menantang, dan teramat manis untuk dijalani.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!