tentang dua remaja yang bersahabat bersahabat - Rigecherta dan Tivane - yang bersahabat dari kecil, namun tragedi saat mereka duduk di kelas 9 SMP membuat mereka harus berpisah karena Tivane yang hilang ingatan.
Berpisah selama 3 tahun dan bertemu saat kelas 12 SMA. Namun Tivane akan di jodohkan.
Bagaiman nasib Rigecherta yang menunggu 3 tahun dan diam diam suka terhadap sahabatnya itu.
Akankah dia berhenti berharap kepada sahabatnya itu, atau mereka akan kembali bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salbiah pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kelulusan
Waktu berlalu dengan cepat. Kini hari kelulusan mereka sudah hampir dekat. Tivane dan Rigecherta juga selalu belajar bersama setiap hari saat hari ujian. Semester ini mereka benar-benar sibuk dan fokus belajar walau terkadang masih sempat marahan dikit.
Besok adalah hari kelulusan mereka. Dan hari ini mereka sedang free class.
Kini keduanya terlihat saling kejar-kejaran di koridor karena Tivane membawa kabur buku Rigecherta.
" Vane... Tivane udah dong. Balikin bukunya" seru Rigecherta membuat Tivane yang berlari di depan tertawa dan terus mempercepat langkahnya.
" Cuma mau baca doang kok" balas Tivane membuat Rigecherta sedikit panik dan langsung langkah lalu menangkap pinggang Tivane.
" Dapat... Siniin bukunya" Rigecherta langsung merebut kembali buku itu dari tangan Tivane.
Tivane langsung menatapnya dengan wajah cemberut dan membuang wajah.
" Jahat banget sih. Orang cuma mau baca doang..." Sungut Tivane pura-pura ngambek dan berjalan dengan kaki menghentak. Rigecherta yang melihat ekspresi itu pun langsung menahan tangan Tivane dengan wajah panik. Takut cewe itu beneran ngambek.
" Yaudah ini... Nggak usah ngambek gitu mukanya" Rigecherta akhirnya menyerah dan memberikan buku itu kepada Tivane.
Tivane langsung berbinar melihat buku bersampul hitam di tangannya dan tersenyum lebar.
" Aku baca yaa.." izin Tivane mulai membuka buku tersebut.
Baru beberapa halaman ia langsung menyernyit kan dahi seolah berusaha mengingat dan sedikit tertegun. Tivane melirik Rigecherta yang berdiri di sampingnya.
" Udah?" Tanya Rigecherta membuat Tivane menegak dan menatap Rigecherta sepenuhnya.
" Ini... Kamu yang nulis?" Tanya Tivane dengan nada bingung sekaligus tak percaya.
" Hm..." Jawab Rigecherta pelan membuat Tivane menatapnya dengan mata mengedip cepat.
Tivane masih berdiri dengan wajah tak percaya. Siapa yang percaya kalau ternyata isi buku itu adalah judul-judul beserta rangkain alur dan konflik dari novel-novel yang paling ia sukai.
" Kenapa nggak percaya?" Tanya Rigecherta seolah bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Tivane.
" Bukan nggak percaya... Cuma.. nggak nyangka aja ternyata pencipta buku-buku yang paling aku sukai ternyata kamu author nya" cicit Tivane membuat Rigecherta menarik tangan Tivane.
" Ayo ikut!" Rigecherta membawa Tivane ke arah loker.
Rigecherta berhenti dan membuka loker miliknya. Seperti biasa, lokernya selalu penuh oleh coklat dan air minum. Namun tangan Rigecherta langsung mengambil buku bersampul baru yang masih memiliki plastik dan menyodorkannya pada Tivane.
Tivane menerima buku itu dan melihat sampulnya ' kau yang aku harapkan: manusia favorit ku' judul itu terdampang jelas dengan nama penulis - Riva - disana.
" Ini... Ini kan yang baru mau launching " ucap Tivane ternganga kagum melihat buku di tangannya.
" Udah launching, tapi belum di promosikan " Rigecherta tersenyum melihat mata Tivane yang berbinar sambil menatap buku di tangannya. Itu jugalah salah satu alasan Rigecherta menjadi penulis. Ia sangat ingin Tivane tatap bahagia walau melaliu karya-karyanya.
" Ini buat aku? " Tanya Tivane kesenangan.
" Iya buat kamu" Rigecherta tersenyum dan mengelus lembut rambut Tivane.
" Makasih.." Tivane langsung menyodorkan pulpen dan buku tersebut pada Rigecherta.
" Kak minta tanda tangannya yaa.." ucap Tivane menjadi fans yang memintai tanda tangan penulis paling ia kagumi.
Rigecherta terkekeh pelan dan menanda tangani halaman pertama pada buku tersebut.
" Woah.. aku masing nggak nyangka kalau penulis Riva itu kamu. Aku suka semua buku kamu" heboh Tivane memeluki buku itu dengan senang.
" Iyakah? Padahal buku aku baru tiga" ucap Rigecherta membenarkan poni Tivane agar tak terlalu menggangu mata.
" Iya.. aku suka semua. Yang dua itu aku udah ada di rumah padahal udah aku baca di aplikasi. Dan ini yang paling aku tunggu" cerocos Tivane memamerkan buku yang ada di tangannya.
" Tau nggak? Ada sesuatu yang dorong aku bikin novel" Rigecherta menatap lembut mata Tivane.
" Oh ya? Apa? Seseorang ya?" Tanya Tivane dengan super kepo.
" Iya. Dan cewek itu adalah cewek yang lagi nyerocos di depan aku ini" gemas Rigecherta mencubit pelan pipi Tivane membuat Tivane sipu malu dan mereka berdua tertawa bersama.
* Keesokan harinya *
Hari ini adalah hari kelulusan dan Tivane mendapatkan juara 2 umum se angkatan.
Kini mereka sedang berkumpul di halaman belakang bersama Veros, Skyler dan River. Mumpung acara sedang istirahat sebentar.
" Gila.. si vane juara dua seangkatan dong" ucap Skyler dengan heboh membuat Tivane tersenyum lebar.
" Iya dong. Tivane gitu loh. Liat aja tuh pacarnya bukunya lagi-" ucapan Tivane terpotong saat Rigecherta menutup mulut Tivane agar tak bocor.
" Hah? Kenapa?" Tanya River membuat Rigecherta menggeleng.
" Nggak ada apa-apa" jawab Rigecherta cepat.
" Eh btw kalian pada mau lanjut dimana?" Tanya Skyler.
" Gue nggak lanjut sih kayaknya. Mau jadi montir sejati" jawab River santai membuat Tivane manggut-manggut.
" Kalo gue lanjut di universitas trilogi sama Vane" jawab Rigecherta membuat Tivane mengangguk membenarkan.
" Kalo gue lanjut ke Bandung sih kayaknya" ucap Veros membuat mereka menoleh.
" Jauh amat." Celatuk Tivane membuat Rigecherta menatapnya dengan mata menyipit.
" Hehe nggak. Bercanda" ucap Tivane meringis pada Rigecherta.
" Iya. Mau lanjutin bisnis papa" ucap Veros.
" Eh udah mulai lagi deh kayaknya. Ke lapangan yok" ucap Skyler membuat mereka langsung beranjak berjalan ke arah lapangan. River merekam mereka yang berjalan di depannya. Karena ia berjalan sedikit di belakang.
Saat mereka di belokan koridor yang sepi mereka berhenti saat mendengar suara orang yang tengah berdebat. Namun wajahnya tak terlihat dengan jelas.
" Pokoknya jangan sampai ada yang tau kasus ini" ucap si cowok terlihat celingak melihat sekeliling.
" Tapi... Gimana kalo ada yang menuntut. Tahun kemarin mereka diam saja itu sangat melegakan." Ucap si cewek terdengar sedikit takut.
" Pokoknya jangan sampai" si cowo terlihat pergi lalu di ikuti oleh si cewe juga.
Rigecherta dan lainnya saling pandang dan mengendikkan bahu.
" Eh masih kerekam ya?" Ucap River baru sadar dan mematikan rekamannya.
" Nanti malam masih ada acara kan?" Tanya Tivane membuat mereka mengangguk.
" Nanti kita datang bareng. Kamu jemput" ucap Veros membuat Tivane mengangguk mengiyakan.
* Malam hari *
Tivane sudah siap dengan gaun biru laut yang indah di tubuhnya.
Empat motor dan masing masing pengendara sudah rapi dengan setelan kemeja berhenti di depan gerbang rumah Tivane.
" Udah mau berangkat ini?" Tanya Aliandra membuat mereka mengangguk sopan dan menyalim tangan Aliandra. Saat Tivane keluar dari rumah.
" Kami pamit ya om" ucap Rigecherta.
" Vane berangkat ya pah." Ucap Tivane juga menyalin tangan ayahnya.
" Hati-hati" pesan Aliandra membuat keempat nya mengangguk.
" Duluan om!" Ujar mereka dan melajukan motor masing-masing dengan Rigecherta di barisan depan.
Saat sampai di sekolah mereka memarkirkan motor dan terlihat sudah ramai murid namun perayaan terlihat sangat biasa. Padahal mereka sudah membayar untuk acara kelulusan ini.
" Lah? Gini doang?" Tanya River ternganga tak percaya.
" Kok gini?" Tanya Tivane menatap sekeliling.
" Nggak tau. Tuh yang lain juga pada ribut" ucap Skyler melihat beberapa murid.
Veros menghampiri salah satu guru. Bu Rima. Orang yang mengutip bayaran acara ini.
" Bu. Ini cuma gini atau belum siap?" Tanya Veros membuat guru itu menatap Veros.
" Iya Veros cuma ini doang. Ibu juga heran." Bu Rima menatap Veros yang menjulang tinggi.
" Bukannya kita udah bayar mahal ya?" Tanya rigeikut menimpali.
" Ibu juga nggak tau Rige , yang di kasih Bu Zakira cuma cukup buat ini" jawab Bu Rima pelan.
Mereka saling pandang heran satu sama lain. Kejadian tahun lalu kembali terulang.