Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.
Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,
Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Mata Aminah kini berbinar lega, dia tidak menyangka bosnya ini akan membelanya.
"Kamu tenang saja, kamu kerja di dalam saja dulu dibagian gudang agar keluargamu tidak menemukanmu, saya akan meminta bagian gudang untuk membantu dan menggantikan tugas mu sementara".
Elisa menatap ibah pada gadis yang masih muda dihadapannya, dia tahu bagaimana beratnya menjadi anak sulung yang selalu dituntut menjadi pilar utama keluarga, padahal keluarga hanya bisa jadi Hama dari tumbuhan yang hendak terbang tinggi dan merusak pertumbuhannya.
Dia pernah merasakannya, dan dia akan melindungi karyawan baik dan teladan miliknya ini dengan baik dan seperti melindungi dirinya sendiri
"Apapun yang saya lakukan pada keluargamu nanti, saya harap kamu akal setuju, saya tidak akan membiarkan mereka membuat keributan dan membuat usaha saya bermasalah".
"Terima kasih bu, Terima kasih". Ucapnya dengan binar bahagia.
"Sama-sama Aminah, kamu karyawan terbaik saya disini, saya tidak akan biarkan mereka menghancurkan orang yang bisa terbang tinggi tanpa mereka tapi kamu tetap anak mereka berbaktilah semampu mu jangan memaksakan diri".
Aminah kembali mengangguk kemudian tersenyum hangat dan mengelus kepala Aminah dengan lembut.
Mata Aminah langsung berkaca-kaca mendapati perlakuan lembut seperti itu, karena dia tidak pernah merasakan hal itu dari ibunya apalagi dari ayahnya hanya tuntutan demi tuntutan tanpa mau tahu perasaan dirinya.
Melihat Aminah menangis seperti itu, Elisa menghela nafas berat, memandang kasihan padanya
"Jangan menangis nak, kamu harus kuat, minimal untuk dirimu sendiri, jangan biarkan mereka menghancurkan mu, menjadi Hama dalam hidupmu selamanya".
Aminah mengangguk kemudian menghapus airmata nya dengan kasar tapi saat akan beranjak, Aminah mematung ditempat mendengar keributan didepan dan dia yakin itu adalah ulah keluarganya.
"Bu". Ucapnya memelas.
Elisa menghela nafas, dia mengambil handphonenya dan menelpon seseorang agar mereka jera dan tidak akan pernah datang ketempat nya lagi membuat keributan.
"Tolong pak, datang kesini ada orang yang berusaha mencari masalah di usaha saya, mereka sudah ada disini".
"...".
"Terima kasih pak".
Aminah menatap mata sang bos yang terlihat dingin dan tajam, aura intimidasi dan juga wibawa menguar diruangan ini.
Dia menelan salivanya bulat-bulat, bosnya ini seakan membuatnya tidak bisa bergerak, dan hanya bisa mematung ditempatnya.
"Ayo kita keluar dan lihat apa yang dilakukan kelaurgamu, saya tidak akan biarkan mereka melakukan hal mengerikan padamu".
"Tapi Bu, bagaimana jika mereka membuat kerusakan, apa ibu tidak akan memecat saya?". Tanyanya dengan ketakutan dan khawatir.
Elisa menatap dalam anak buahnya yang selalu dia kagumi kepribadiannya ini.
"Asal kamu mau berjanji pada saya, kalau apapun yang saya lakukan pada keluargamu nanti kamu tidak akan ikut campur, kamu harus diam saja dan biarkan saya bertindak, bagaimana?".
Dia harus membuat peraturan tegas, dia tidak mau Aminah semakin lemah dan bisa diinjak-injak oleh keluarganya setelah ini.
"Silahkan Bu, aku sudah lelah dengan semua itu, aku hanya ingin hidup tenang dan bekerja dengan baik tanpa tekanan". Jawabnya mantap
"Baiklah, kalau begitu, saya tidak akan memecat mu apapun yang terjadi jika kamu sudah setuju, sekarang ayo kita keluar!!".
Aminah hanya bisa mengangguk pasrah dan mengekori bosnya itu dongen rasa takut dan khawatir.
Sesampainya didepan dan terlihat keluarganya yaitu ibu dan adiknya Lisa membuat keributan dimeja kasir dan menunjuk kasar teman-temannya.
"Apa yang kalian lakukan ditempat saya?". Ucap Elisa dengan tajam dan dingin.
Perdebatan itu terhenti begitu melihat Elisa datang, para karyawan menunduk sopan sedangkan ibu dan adik Aminah mendongkak dengan sombong dan menatap mereka dengan kesal
"Ini dia anak tidak tahu diri yang bertindak seenaknya dan membuat orang tua malu". Bentaknya kemudian menghampiri Aminah dan melayangkan tangannya tapi tangan itu terhenti karena Elisa menangkap tangannya .
Dia menghempaskan tangan ibu Aminah itu dengan keras dan kasar sehingga membuat wanita parubayah itu nyaris limbung jika tidak ditangkap baik oleh Lisa.
"Jangan melakukan kekerasan ditempat ini, disini banyak cctv yang bisa saya pakai untuk membawa anda ke kantor polisi sekarang juga". Jawabnya dengan dingin.
Aminah yang masih membeku dibelakang sang bos akhirnya sadar akan keterkejutannya.
"Bos". Cicitnya pelan.
Sedangkan Halimah menatap Elisa dengan wajah memucat kaku, dia tidak menyangka jika bos anaknya itu akan bertindak seperti itu padanya
"Jangan ikut campur, ini urusan saya dengan putri saya, anda tidak bisa seenaknya".
Elisa menatap wanita yang hampir seusia dirinya itu dengan tatapan tenang dan juga dingin, dia melipat kedua tangannya didada .
"Anda tidak lupa kan jika ini toko dan usaha saya, semua orang yang berada dalam ruangan ini apalagi karyawan saya adalah tanggung jawab saya, dan anda bukan siapa-siapa disini, masalah pribadi anda dengan putri anda bisa diselesaikan diluar jam kerja, tidak perlu datang membuat keributan disini".
Dia melangkah lebih maju dan kedepan hingga mereka kini berhadapan dengan jarak cukup dekat.
"Jika anda membuat keributan maka siap-siaplah karena polisi segera akan datang untuk mengintrogasi semua orang yang ada ini, jadi itu terserah pada anda".
Halimah mematung ditempatnya begitu juga dengan Lisa ,keduanya langsung ketakutan mendengar hal itu.
"Kamu memanggil polisi?". Cicitnya ketakutan.
"Tentu saja, kalian pikir bisa bertindak sesuka hati disini dan membuat toko saya malu dan membuat karyawan saya ketakutan, kalian salah besar, saya tidak suka melihat orang yang bertingkah seenaknya".
"Sekarang kalian pergi dan jangan pernah kembali kesini, jika tidak, maka akan ku pastikan kalian berdua akan mendekam dipenjara dengan waktu yang cukup lama, dan satu lagi jangan pernah melukai Aminah karena saya pastikan kalian akan menyesal".
"Ini belum selesai, kamu Aminah akan mendapatkan akibatnya dasar anak tidak tahu diri dan durhaka". Bentak sang ibu dengan penuh emosi.
"Kalian lah manusia tidak tahu diri, Aminah bukan ATM yang bisa kalian kuras sesuka hati, dia manusia dan bekerja siang dan malam tapi kalian merampas miliknya dengan dalih berbakti, saya baru lihat orangtua seperti mu yang tidak punya hati, pergi dari sini!!". Bentaknya dengan suara penuh penekanan.
Keduanya menatap keduanya penuh amarah tapi saat akan melangkah suara sirine polisi terdengar jelas membuat mereka langsung ketakutan dan menatap Elisa yang tersenyum sinis
Ternyata bosnya anaknya ini tidak main-main dengan perkataannya, dengan perasaan marah dan kesal keduanya melangkah keluar
Aminah yang berada dibelakang sang bos hanya bisa menghembuskan nafasnya lega dan menatap teman-temannya dengan tatapan permohonan maaf yang hanya diangguki oleh mereka
"Terima kasih bos telah menolong saya". Ucapnya menunduk pelan.
"Sama-sama Aminah, kembali lah bekerja, lihatlah para pelanggan sudah ramai