Desi adalah seorang guru di sebuah sekolah negeri, saat ini ia memiliki 3 orang anak. Si sulung bernama Bagas, adiknya Rafi dan si bungsu bernama Aqilla. Jarak umur mereka rata-rata 2 tahun. Kehidupan rumah tangga Desi awalnya baik-baik saja. Namun, kebutuhan ekonomi yang kian mendesak membuat suami Desi mencoba mencari pekerjaan di luar kota. Suami Desi bekerja di luar kota demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, siapa sangka ternyata Ridwan menikah lagi diam-diam tanpa sepengetahuan Desi. Akibatnya, Ridwan menjadi abai dengan nafkah untuk anak-anaknya. Bahkan seringkali tidak memberi nafkah sama sekali, sehingga Desi harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ya, anak-anaknya memiliki ayah tapi nasib mereka tak jauh berbeda dari anak yatim yang tidak memiliki ayah. Bahkan terkadang untuk makan pun Desi harus berhutang. Sungguh menyedihkan kehidupannya. Pernikahannya bagai tergantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yayuk riyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Semena-mena
Pagi hari yang cerah, Desi terbangun dari tidurnya, walau masih mengantuk karena semalam terlambat tidur, namun tugas dan kewajiban menuntutnya untuk segera bangun dan melaksanakan rutinitas paginya seperti biasa. Bangun tidur, Desi langsung mandi lalu solat subuh. Setelah itu langsung memasak untuk sarapan dan bekel anak-anaknya. Saat sedang asyik memasak, tiba-tiba Bagas datang. "Mama, aku mau bawa bekel ya ma, soalnya teman-temanku pada bawa bekel.", pinta Bagas pada mamanya. "Iya sayang, tumben nie biasanya nggak mau disuruh bawa bekel.", goda Desi pada anak sulung nya. Bagas hanya nyengir digodain mamanya. "Sudah sana mandi, sudah siang nie takut telat." ,perintah Desi. "Siap mama, laksanakan." ,jawab Bagas.
Bagas adalah anak yang disiplin. Dia tidak mau terlambat ke sekolah. Prinsipnya, lebih baik tidak daripada terlambat. Berbanding terbalik dengan prinsip Desi, lebih baik terlambat daripada tidak. Haduh, ibu dan anak beda prinsip.
Desi melanjutkan kegiatan memasaknya yang sudah hampir selesai sambil menyiapkan 3 kotak bekel, untuk dia sendiri, untuk Bagas juga untuk Rafi. Sementara suaminya tidak mau membawa bekel karena sudah dapat jatah makan siang di kantor nya. Ridwan biasanya hanya sarapan di rumah sebelum berangkat kerja. "Alhamdulillah, sudah selesai. Sekarang tinggal masukkan ke kotak bekel." ,ucap Desi lirih. Kemudian, terdengar suara mbok Muna yang baru datang. "Assalamu'alaikum bu. Mbok datang. " , ucap mbok Muna di depan rumah. "Wa'alaikumsalam mbok, masuk aja nggak dikunci. " , teriak Desi dari dapur. Kemudian mbok langsung masuk ke dalam rumah. "Untung mbok sudah datang. Rafi belum bangun mbok. Tolong bangunin ya mbok, saya mau bangunin ayahnya sekalian siap-siap berangkat kerja. " , ucap Desi. "Iya bu. ", jawab mbok Muna. Kemudian Desi masuk ke kamar untuk membangunkan suaminya.
"Mas, bangun mas, sudah siang nie, takut telat. " , ucap Desi sambil membangunkan suaminya. Apalagi semalam habis mabok, agak susah banguninnya. "Mas, bangun." ,ucap Desi berkali-kali. Akhirnya, Ridwan bangun juga. "Jam berapa ini ? " ,tanya Ridwan. "Sudah jam enam nie, cepat mandi sana. ", jawab Desi. "Iya, iya, bawel. " ,jawab Ridwan ketus. Dia akhirnya mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi, walaupun jalannya masih sempoyongan akibat mabok semalam. Tidak lama kemudian, Ridwan keluar dari kamar mandi dan segera berpakaian sementara Desi sudah selesai juga berganti pakaian dan sedikit memakai make up supaya tidak pucat wajahnya.
Kemudian mereka sarapan bersama sebelum berangkat. Setelah sarapan, mereka bersiap-siap berangkat. Sebenarnya tempat ngajar Desi dekat dengan rumah hanya sekitar 1 km dan biasanya Desi dan Bagas jalan kaki ke sekolah bila suaminya kerja shift malam. Tapi kalau giliran shift pagi seperti ini bisa berangkat samaan. "Mbok, saya berangkat ya, jaga Aqilla dan Rafi baik-baik ya mbok." ,ucap Desi pada mbok Muna. "Iya bu." ,jawab mbok Muna.
Setelah kepergian Desi, mbok Muna segera beres-beres. "Mbok, mama udah berangkat ya ?" , tanya Rafi. "Sudah, barusan berangkat. " ,jawab mbok Muna. Rafi yang baru bangun langsung dimandikan dan berpakaian begitu pun dengan Aqilla ikut mandi juga karena Aqilla mau ikut ngantar abang nya ke sekolah. Setelah itu, mbok Muna nyuapin Aqilla dan Rafi makan sendiri. Setelah semua rapi, mereka segera berangkat ke sekolah Rafi yang kebetulan juga dekat hanya sekitar setengah kilometer. Mereka berjalan kaki. Setelah sampai, Rafi langsung berlari ke kelasnya. "Mbok, jangan lupa nanti jemput ya jam sepuluh, jangan telat ya mbok." ,ucap Rafi sambil berlari ke kelas nya. "Iya, beres. Nanti mbok sama Aqilla jemput. " , jawab mbok. Aqilla main perosotan sebentar habis itu pulang.
Sesampainya di rumah, mbok Muna segera mencuci piring dan perabot bekas memasak lalu menjemur baju dan menyapu. Tadi pagi sambil memasak, Desi juga mencuci baju. Alhamdulillah, ada mesin cuci jadi tidak repot mencuci bajunya. Jam sepuluh kurang sepuluh menit, mbok Muna menjemput Rafi. Tentu saja Aqilla ikut, dia paling senang main ayunan dan perosotan di sekolah Rafi.
Pukul dua lewat lima belas menit, Desi sampai di rumah. Hari ini awal bulan, tepat Desi dan Ridwan gajian. Alhamdulillah, gaji Desi bisa untuk mencukupi kebutuhan makan sebulan. Gaji Ridwan untuk bayar kontrakan rumah, bayar mbok Muna, bayar listrik dan air juga untuk kebutuhan Ridwan lainnya. Ridwan termasuk perokok berat, sehari bisa menghabiskan 2 bungkus rokok apalagi kalau begadang. Kemudian Desi tidak lupa memberi mbok Muna gajinya. "Mbok, ini gaji mbok bulan ini, diterima ya mbok. Maaf mbok belum bisa naikin gajinya, nanti kalau saya ada rezaki insyaallah saya tambahin mbok." ,ucap Desi pada mbok Muna. "Iya bu nggak papa, mbok sudah bersyukur ini bu. Makasih banyak bu." ,jawab mbok Muna. "Sama-sama mbok." , balas Desi.
Malam hari, Ridwan pulang tepat waktu. Desi sangat bersyukur Ridwan tidak mabok malam ini, apalagi hari ini gajian. Kalau mabok, Desi takut uang gajinya Ridwan akan dipakai untuk beli minuman dan traktir teman-teman nya. Ridwan memang royal pada teman-teman nya. Kadang temannya pinjam uang tapi Ridwan tidak berani menagihnya. Alhasil, tidak diganti oleh temannya. Sering seperti itu.
Setelah Ridwan selesai mandi dan malan malam, Desi memberanikan diri bertanya. "Mas, hari ini gajian ya? Jangan lupa mas untuk bayar kontrakan dan lain-lain. " , ucap Desi pada Ridwan. "Iya, sabar dulu. " , jawab Ridwan sambil mengeluarkan dompetnya. "Ini, jangan boros-boros. " ,kata Ridwan sambil menyerahkan sebagian gajinya ke Desi. "Kok cuma segini mas ?" ,ucap Desi. Ridwan hanya memberikan separuh kurang dari gajinya. Gaji Ridwan sekitar 5 juta rupiah. "Cuma 2 juta, mana cukup mas. Untuk bayar kontrakan, mbok ,listrik dan air. " , jawab Desi. "Udah dicukup-cukupin aja, kamu kan juga kerja terus gaji kamu buat apa ?", jawab Ridwan. "Tapi mas, bayar kontrakan 1 juta, mbok 800 ribu, belum listrik dan air. " , ucap Desi lirih. Desi tidak ingin berdebat sebenarnya tapi dia bingung mengatur keuangan nya. Gaji Desi hanya 2 juta rupiah karena status nya masih honor bukan PNS. Belum lagi untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya dan kebutuhan tak terduga. Biasanya Ridwan memberi gajinya sebesar 3 juta rupiah. Tapi ini cuma 2 juta, membuat Desi bingung jika nanti belum akhir bulan uang nya sudah habis.
Desi hanya bisa pasrah menerima uang gaji dari suaminya. Kalau dulu semua gaji diberikan pada Desi dan Desi yang mengatur semuanya. Kalau suaminya mau beli rokok atau bensin atau untuk pegangan baru minta ke Desi. Tapi semenjak uang gajinya masuk ke rekening bukan manual seperti dulu, semenjak itulah Ridwan mulai semena-mena memberikan uang gajinya pada Desi. Mau protes pun, Desi tetap kalah. Malah pernah Desi disuruh berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja. Bukan Desi sok-sok an bekerja tapi semua itu untuk membantu keuangan keluarganya.
pulang juga desi masih mau di tiduri ma laki nya pdhl laki nya gk peduli ma mereka kerja jauh krn punya gundik. desi tau tp masih mau berarti desi yg kecintaan ma lakinya. pdhl anak anak juga dia ngurus sendiri masih hrs kerja juga.
kl aku juga ogah jd desi.
kl Aku mnding cerai toh anak juga gk di nafkahi. cerai lbih jos bhgia walau tanpa suami.