NovelToon NovelToon
Candu Ragamu

Candu Ragamu

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Syela

Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sweet Dreams, Darling (A)

Dua tangan kuat tiba-tiba muncul dari bayang gelap. Dengan gerakan cepat dan brutal, kepala dua pria bajingan yang memeluk Emily saat ini ditarik keras ke belakang, membuat mereka tersentak mundur dan terhuyung. Tubuh keduanya terhempas ke trotoar. Emily terdongak dengan sisa napas yang masih tersengal. Matanya membulat ketika melihat siapa yang berdiri di sana.

Raphael.

Berdiri tegak, gagah dan wajahnya gelap dengan sorot mata dalam pun rahang yang tegas mengeras. Nafasnya terlihat tenang dan teratur, tapi ekspresinya sungguh menyeramkan.

"Baru meninggalkanmu sepuluh menit dan kau sudah dalam masalah," lontarnya rendah, geram.

Pria pertama yang mencoba bangkit langsung disambut satu pukulan keras di rahangnya oleh Raphael—dentuman tulang yang nyaring terdengar, membuatnya kembali terjatuh dengan darah mengalir dari sudut bibirnya.

Yang kedua mencoba kabur, tapi Raphael menangkap kerah jaketnya dan menghantamkannya kuat-kuat pun keras ke pembatas jembatan dengan seluruh tenaga tanpa belas kasihan. Pria itu mengerang, tubuhnya melemas.

Raphael mendekatkan wajahnya di telinga pria itu. "Lain kali kau sentuh dia, aku pastikan kau hidup tanpa jari-jari di kemudian hari."

Pukulan terakhir mendarat tepat ke perut pria itu sebelum ia mendorongnya jatuh ke trotoar. Lantas segera kedua pria bajingan itu merangkak menjauh dengan gemetar ketakutan, wajah mereka babak belur dan penuh luka. Tak berani menoleh lagi, mereka berlari tertatih-tatih menjauh, lenyap dalam gelapnya Manhattan malam itu.

Raphael membalikkan badan perlahan, menyeka debu-debu dari buku-buku jarinya dengan sapu tangan yang ia ambil dari saku dalam jas. Dengan tenang ia memperbaiki kerah jasnya yang sedikit kusut akibat pertikaian tadi, pun kemudian menatap Emily yang berdiri tak jauh darinya.

Wanita itu memeluk tubuh sendiri dengan lengan bersilang di dada, terlihat masih syok. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin malam dan sisa ketakutan masih tampak di gurat wajah pun matanya, meski ia berusaha keras menyembunyikannya di balik ekspresi sinis.

"Kenapa kau memukul mereka?" tanyanya akhirnya.

Raphael menaikkan satu alisnya. "Aku menolongmu."

"Harus dengan kekerasan?"

Raphael menyeringai kecil, sinis, seraya melangkah mendekat. Ia berhenti tepat di depan sang wanita, cukup dekat hingga Emily bisa mencium aroma tembakau dan parfum maskulin yang bercampur pada sosok pria itu. Sungguh khas.

"Terus, maumu aku bagaimana menghadapi mereka?" tanyanya dingin. "Menyalami mereka dengan sopan? Bertanya tujuan mereka menyentuhmu dan menasehati mereka agar pulang dan introspeksi diri? That's what you expect, Miss Cooper?"

Emily tak menjawab. Hanya menatapnya tajam.

Tatapan itu justru membuat Raphael menghela napas pendek, pun menggeleng kepalanya kecil, seakan tak habis pikir. "Sungguh... beginikah caramu berterima kasih setelah diselamatkan? Tatapan dingin dan ekspresi cemoohan? Kau bahkan tak punya cukup tata krama untuk setidaknya mengucapkan terima kasih."

Emily mendongak sedikit, tak bergeming barang sejengkal pun meski lentik matanya yang hitam legam tampak lelah setelah hari yang panjang—namun sorotnya tetap tajam, menjabarkan emosi rumit yang berputar dalam diam, gengsi, amarah dan juga rasa syukur yang enggan ia akui.

"Aku tidak minta ditolong," sahutnya congkak. "Aku bisa hadapi mereka."

"Dengan apa? Tatapan sinismu? Memukul dengan tas murahmu itu?" Raphael mendengus, menunjuk tas mungil di tangan Emily. "Kalau aku datang lima detik lebih lama, mereka sudah menyeretmu entah ke mana. But of course wanita sepertimu terlalu angkuh untuk mengakui ketakutan."

Emily menggertakkan giginya lalu menoleh ke arah lain, menahan geram yang menumpuk di kepalanya. Ia malas meladeni pria itu lebih jauh. Tapi tetap saja, menyebut tasnya murah? Sungguh keterlaluan. Itu tas keluaran terbaru dari Gucci. Dan Raphael bilang murah? Cih.

Lama mereka hanya terdiam, saling tenggelam dalam pusaran pikiran masing-masing—Emily dengan ribuan masalah yang menggumpal di kepalanya, Raphael dengan ribuan fantasi kotor tentang Emily yang perlahan mulai membuatnya gila.

Ada sesuatu dari wanita ini yang membuatnya kehilangan nalar. Tatapannya, aroma tubuhnya, cara ia menggigit bibir saat frustrasi, semuanya seperti mengeratnya untuk cepat-cepat mendapatkannya. Raphael tahu, semakin dekat, semakin sulit baginya untuk tidak menjatuhkan diri ke dalam jurang itu—jurang bernama Emily Cooper.

Emily merapat ke pembatas jembatan, sengaja ia membuat jarak di antara mereka seolah Raphael tak ada. Dingin. Acuh. Lagi pula, siapa dia yang kehadirannya harus dipedulikan wanita itu? No one.

Tapi Raphael tahu, wanita itu tidak sebatu yang dia tunjukkan. Ia bisa membaca bahasa tubuh lebih baik dari siapa pun—he's a damn good lawyer for a reason. Sudah bertahun-tahun pekerjaannya membaca kebusukan dan kepalsuan manusia-manusia di ruang sidang. Emily terlalu kecil untuknya. Pun sejak awal ia tahu wanita itu, dia cari tahu semuanya, termasuk soal kematian orang tua Emily, dan sejak saat itu, wanita ini dikenal sangat tegas memimpin perusahaan dan mengendalikan orang-orang di sekitarnya.

It's just a defense mechanism. Tapi Raphael tahu persis, sikap keras seperti itu hanyalah cara manusia bertahan—untuk menutupi rasa sepi yang diam-diam menggerogoti. And for that loneliness? Dia akan mencuri kesempatan. He'll take her, one way or another.

Baru saja Emily hendak memejamkan mata sejenak untuk menikmati malam yang dingin, ketika ia teringat tiba-tiba—sial. Janji temu dengan pengacara barunya. Ia membuka ponsel dengan cepat dan tepat dugaannya ada missed call dari nomor sang pengacara. Kontan ia coba menelepon kembali, satu kali, dua kali... tidak diangkat.

Frustrasi, ia menggigit bibirnya, satu tangan menekan pelipis. Mimpi apa dia kemarin sampai tertimpa kesialan bertubi-tubi hari ini.

Tatkala Emily masih sibuk mengumpat dalam hati, suara kecil kertas bungkusan yang sengaja digenggam asal tertiup angin membuatnya menoleh. Tepat di sebelahnya berdiri Raphael yang bersandar santai di pembatas jembatan, satu tangan memegang hamburgernya yang tergigit setengah, pun matanya menatap lurus-lurs ke riak air yang memantulkan cahaya kota.

"Tampaknya hari ini tak berpihak padamu, Nona Cooper? Kau terlihat frustasi."

Emily hanya memutar bola matanya, malas meladeni.

Raphael menyeringai. Ia menyeka sudut bibirnya dengan ibu jari, lalu mendekatkan wajahnya ke Emily. "Sepertinya ini sudah saatnya kau berhenti lari dari kenyataan yang tak terelakkan, Darling."

Emily mengernyit, menatapnya. "Apa maksudmu?"

Raphael meletakkan hamburgernya di pagar besi, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya lebih rendah kini, terdengar berat. "Kau tahu kasusmu penuh jebakan dan cacat administratif. Tidak ada pengacara waras yang mau menyentuhnya kecuali mereka putus asa... atau gila."

Ia berhenti sebentar, kemudian menatap langsung ke mata Emily, intens dan sedikit dengan kilatan menggoda. "Lucky for you, I'm both."

1
Mita Paramita
Ralph lagi curhat nih 🤣🤣🤣
Mita Paramita
semangat Emily 💪 Ralph terlalu memaksa kn Emily jadi takut 🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Nona Syela: Wkwk iya nih Raphael mau enaknya doang
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Okay😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor semangat nulisnya 🔥🔥🔥 ceritanya bagus
Nona Syela: Thank you kak semoga betah😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: 😍💪 siap
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Nona Syela: 😍💪 Thank you kak
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Siap kak 😍💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!