Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 31 : Kakek Pingsan
Matahari baru saja naik beberapa jengkal di ufuk timur, membawa semburat cahaya emas yang kontras dengan mendungnya hati Arka Mahendra. Setelah malam yang melelahkan di depan apartemen tua Nadira, Arka kembali ke kediaman utama Mahendra. Tubuhnya yang basah kuyup oleh air hujan telah mengering, meninggalkan rasa kaku dan dingin yang menjalar hingga ke tulang. Namun, dingin fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekosongan yang menganga di dalam dadanya.
Langkah gontai Arka terhenti tepat di pintu gerbang besar kediaman Mahendra. Rumah mewah berarsitektur klasik modern itu biasanya tampak megah dan berwibawa, simbol dari kekuasaan dan kekayaan mutlak yang mereka miliki. Namun pagi ini, rumah itu terasa seperti sebuah mausoleum—sebuah makam megah yang menyimpan bangkai kesombongan masa lalu.
Arka melangkah masuk ke dalam ruang keluarga utama. Di sana, suasana sudah sangat tegang. Beberapa anggota keluarga besar Mahendra telah berkumpul, termasuk paman dan bibi Arka yang biasanya sibuk mengurusi saham dan ekspansi bisnis. Berita tentang penangkapan Selena di bandara telah menyebar bagai api di atas jerami kering. Grup obrolan keluarga penuh dengan kepanikan. Reputasi Mahendra Group yang selama puluhan tahun dijaga ketat agar tetap bersih kini berada di ambang kehancuran publik akibat skandal konspirasi jahat dan fitnah yang melibatkan orang dalam.
"Arka! Akhirnya kau pulang!" seru Tante broto, bibi Arka, dengan nada suara yang melengking panik. "Apa yang sebenarnya terjadi? Media mulai mengendus berita tentang Selena! Bagaimana dengan saham perusahaan hari ini? Kenapa kau membiarkan polisi membawa masalah ini ke ranah publik?"
Arka tidak menoleh. Ia terus berjalan melintasi ruangan dengan tatapan kosong. Pertanyaan-pertanyaan tentang saham, reputasi, dan uang terdengar begitu memuakkan di telinganya. Mereka semua hanya memikirkan angka, persis seperti dirinya yang dulu.
"Arka Mahendra! Jawab bibimu!" paman Arka, tewas dalam nada suara yang lebih berat, mencoba mengintimidasi dengan otoritasnya sebagai salah satu komisaris. "Kau adalah CEO! Kau harus segera membuat konferensi pers untuk membersihkan nama keluarga kita! Katakan bahwa ini semua adalah tindakan pribadi Selena dan tidak ada hubungannya dengan struktur internal Mahendra Group!"
"Cukup," ucap Arka. Suaranya tidak keras, namun nada dingin dan serak yang keluar dari tenggorokannya seketika membungkam ruangan itu. "Jangan sebut nama wanita penipu itu lagi di rumah ini."
Arka membalikkan badannya secara perlahan, menatap satu per satu anggota keluarganya yang tampak panik. "Dan jangan tanyakan padaku tentang saham. Jika kalian mengkhawatirkan uang kalian, silakan tarik seluruh aset kalian dari Mahendra Group. Aku tidak peduli."
"Kau sudah gila, Arka?!" Tante Broto menjerit tertahan, menutup mulutnya dengan tangan yang dihiasi cincin berlian besar. "Hanya karena seorang wanita, kau mau menghancurkan apa yang sudah dibangun oleh kakekmu?"
Tepat saat kata 'kakek' terucap, sebuah langkah kaki yang berat namun gemetar terdengar dari arah tangga utama. Seluruh pasang mata di ruangan itu menoleh ke arah sumber suara.
Di sana, berdiri sosok pria tua yang selama ini menjadi pilar tertinggi keluarga Mahendra. Kakek Arka, Baskoro Mahendra. Pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu berjalan dengan bertumpu pada tongkat kayu jati berukir kepala naga. Wajahnya yang biasanya tegas, berwibawa, dan memancarkan aura kepemimpinan, kini tampak sangat pucat. Guratan-guratan usia di wajahnya terlihat lebih dalam dari biasanya. Matanya yang tajam kini meredup, menyimpan kekecewaan yang sangat masif.
"Kakek..." gumam Arka, dadanya mendadak terasa dihantam oleh batu besar. Di dunia ini, setelah kematian ibunya, Kakek Baskoro adalah satu-satunya orang yang paling dihormati dan ditakuti oleh Arka.
Kakek Baskoro melangkah turun satu per satu dari anak tangga dengan sisa-sisa kekuatannya. Pengawal pribadinya mencoba memapah, namun pria tua itu mengibaskan tangannya dengan kasar. Tatapan matanya lurus tertuju pada Arka.
"Jadi... semua itu benar?" suara Kakek Baskoro terdengar bergetar, bukan hanya karena usia, melainkan karena menahan badai emosi yang bergemuruh di dalam dadanya. "Apa yang kudengar dari kepala pelayan... apa yang dilaporkan oleh pengacara keluarga... semuanya benar, Arka?"
Arka tertunduk. Ia tidak berani menatap mata kakeknya. Pria yang biasanya berdiri tegak di hadapan para pemegang saham internasional itu kini melipat tangannya di samping tubuh, meremas celananya sendiri. "Benar, Kek. Selena yang melakukan semuanya. Dia yang menjebak... dia yang memfitnah..."
"Aku tidak bertanya tentang Selena!" potong Kakek Baskoro dengan bentakan yang mendadak menggelegar, membuat seluruh ruangan tersentak. Sesaat setelah membentak, pria tua itu terbatuk-batuk kecil, memegangi dadanya yang mulai terasa nyeri.
"Kakek, tenanglah, ingat kesehatanmu," Tante Broto mencoba mendekat, namun Kakek Baskoro mengangkat tongkatnya, mengisyaratkan agar semua orang menjauh.
Kakek Baskoro menarik napas pendek yang terdengar berat dan tersiksa. Mata tuanya kini mulai berkaca-kaca saat menatap cucu laki-laki satu-satunya yang ia gadang-gadang sebagai penerus dinasti Mahendra. "Aku bertanya tentang Nadira, Arka... Apa benar kau yang telah mengusirnya? Apa benar kau yang menuduhnya sebagai pencuri? Apa benar kau membiarkan menantuku, wanita suci pilihan mendiang ayahmu, hidup menderita di paviliun belakang seperti seorang budak?!"
Pertanyaan bertubi-tubi itu bagaikan peluru panas yang menembus jantung Arka. Penyesalan yang sejak semalam ia bendung kini kembali merongrong jiwanya. "Maafkan aku, Kek... Aku... aku tertutup oleh kemarahan. Aku mempercayai bukti-bukti palsu yang dibawa oleh Selena. Aku..."
"Kau bodoh!" Kakek Baskoro memukul lantai dengan tongkat jatinya hingga menimbulkan suara dentuman yang keras. "Kau adalah pria paling bodoh yang pernah menyandang nama Mahendra! Aku mendidikmu untuk menjadi pria yang bijaksana, yang bisa membedakan mana emas dan mana kotoran! Tapi apa yang kau lakukan? Kau membuang emas demi seonggok racun!"
Napas Kakek Baskoro mulai memburu. Wajahnya yang pucat kini berubah menjadi kemerahan, menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang menyerang bagian kiri dadanya. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. Plaket dan penyumbatan ringan yang selama ini ia kelola dengan obat-obatan mendadak bereaksi hebat akibat lonjakan emosi dan stres yang luar biasa.
"Kek..." Arka melangkah maju, menyadari ada yang tidak beres dengan kondisi fisik kakeknya.
"Jangan mendekat!" seru Kakek Baskoro, suaranya mendadak melemah. Tongkat jati yang dipegangnya terlepas dari genggaman, jatuh dan menggelinding di atas lantai marmer yang mengkilap. Pria tua itu memegangi dada kirinya dengan erat, wajahnya meringis kesakitan yang luar biasa.
"Ayah!"
"Papa!"
Ruang keluarga itu seketika pecah dalam kekacauan. Paman dan bibi Arka berteriak panik. Kakek Baskoro limbung. Tubuh tuanya kehilangan keseimbangan dan ambruk ke lantai. Beruntung, Arka dengan sigap berlari dan menangkap tubuh kakeknya sebelum kepalanya membentur lantai, namun beban tubuh pria tua yang sudah tidak berdaya itu membuat mereka berdua terduduk di lantai.
"Kakek! Kakek, dengarkan aku! Buka matamu!" teriak Arka, suaranya panik luar biasa. Gemetar di tangannya kini kembali, jauh lebih hebat dari sebelumnya. Ia menepuk-nepuk pipi kakeknya yang terasa dingin dan mulai mengeluarkan keringat dingin.
Kakek Baskoro tidak sepenuhnya tidak sadarkan diri, namun matanya setengah terpejam. Bibirnya yang bergetar hebat bergerak-gerak, mencoba memuntahkan kata-kata di tengah rasa sesak yang menghimpit paru-parunya. Serangan jantung ringan itu merampas sebagian besar pasokan oksigennya.
"Na... Nadira..."
Suara parau dan lemah itu keluar dari celah bibir Kakek Baskoro. Di tengah rasa sakit yang mendera tubuhnya, di ambang kesadarannya yang kian menipis, nama yang pertama kali dan terus-menerus disebut oleh pria tua itu bukanlah nama Arka, bukan nama anak-anaknya, dan bukan pula tentang kelangsungan perusahaan.
"Na... Nadira... di mana... Nadira..." gumam Kakek Baskoro berulang kali, air mata kelemahan menetes dari sudut matanya yang keriput.
Seluruh anggota keluarga Mahendra yang berada di ruangan itu mendadak terdiam seribu bahasa. Kehebohan dan teriakan panik mereka seolah tersedot habis oleh keheningan yang mencekam. Tante Broto menghentikan jeritannya, paman Arka terpaku di tempatnya berdiri, dan para pelayan yang berlarian membawa minyak angin serta air hangat mendadak membeku.
Mendengar nama Nadira disebut dengan begitu tulus dan penuh pengharapan oleh sang kepala keluarga di detik-detik kritisnya, sebuah tamparan batin yang sangat keras menghantam semua orang di ruangan itu. Mereka baru menyadari, dalam kepatuhan dan kesunyian yang selama ini ditunjukkan oleh Nadira, wanita itu telah menanamkan akar yang begitu dalam di hati Kakek Baskoro.
Mereka baru menyadari betapa besar arti kehadiran Nadira dalam keluarga ini. Selama ini, Nadira adalah satu-satunya orang yang dengan telaten menemani Kakek Baskoro meminum teh di sore hari, mendengarkan cerita-cerita lama sang kakek yang sering kali diabaikan oleh anak-cucunya yang sibuk dengan urusan duniawi. Nadira adalah orang yang secara sembunyi-sembunyi memeriksa dosis obat kakek, memastikan makanan yang disajikan untuk pria tua itu rendah kolesterol, dan selalu mencium tangan Kakek Baskoro dengan rasa hormat yang murni, bukan karena mengharap warisan atau pujian.
Nadira adalah jangkar kedamaian di rumah yang penuh dengan intrik materi ini. Dan kini, setelah jangkar itu diputus dan dibuang oleh keangkuhan Arka, rumah ini langsung oleng diterpa badai.
"Cepat panggil ambulans! Mengapa kalian semua diam saja?!" bentak Arka dengan mata yang memerah, memecah keheningan yang sempat membekukan ruangan tersebut. Air matanya sendiri kini sudah menetes, bercampur dengan keringat dingin yang membasahi kening kakeknya.
"P-panggil ambulans rumah sakit pusat! Cepat!" perintah Paman Arka kepada kepala pelayan yang langsung berlari menuju telepon rumah.
Arka mendekatkan telinganya ke wajah kakeknya, mencoba menangkap setiap bisikan yang keluar.
"Nadira... maafkan... Kakek... maafkan... keluarga ini..." bisik Kakek Baskoro, suaranya kian mengecil seiring dengan kesadarannya yang perlahan-lahan meredup total. Pria tua itu akhirnya pingsan sepenuhnya di pelukan cucunya, menyisakan napas yang pendek dan lemah.
"Kakek! Kakek!" Arka mendekap tubuh rapuh itu dengan rasa bersalah yang teramat sangat besar.
Rasa bersalah itu kini menumpuk, bertapis-tapis di dalam dada Arka. Ia tidak hanya telah menghancurkan hidup wanita yang ia cintai secara tulus, namun ia juga telah membuat orang yang paling ia hormati dan ia sayangi di dunia ini tumbang karena kecewa atas kebodohannya. Kakek Baskoro adalah sosok yang selalu ia jadikan panutan, pria tangguh yang tidak pernah menunjukkan kelemahan. Dan melihat pria tangguh itu kini tak berdaya di atas lantai karena ulahnya, Arka merasa dirinya adalah monster yang paling keji.
Dua puluh menit kemudian, sirine ambulans memecah keheningan pagi di kawasan perumahan elit tersebut. Petugas medis dengan cekatan membawa tandu masuk ke dalam rumah, memasangkan masker oksigen ke wajah Kakek Baskoro, dan segera mengevakuasinya ke dalam mobil ambulans.
Keluarga besar Mahendra berbondong-bondong mengikuti dari belakang menggunakan mobil masing-masing. Arka, dengan pakaian yang masih acak-acakan dari semalam, duduk di dalam mobil ambulans, menggenggam erat tangan kakeknya yang terasa dingin. Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit Pusat Jakarta, bunyi monitor jantung yang terpasang di tubuh kakeknya seolah menjadi hitung mundur bagi kewarasan Arka.
Setibanya di rumah sakit, Kakek Baskoro langsung dilarikan ke ruang *Intensive Cardiology Care Unit* (ICCU). Pintu kaca buram itu tertutup rapat, menyisakan lampu merah di atasnya yang menyala terang, tanda bahwa tindakan medis darurat sedang dilakukan di dalam sana.
Arka berdiri bersandar pada dinding lorong rumah sakit yang dingin, persis seperti posisinya di kantor polisi semalam. Anggota keluarga yang lain duduk di kursi tunggu dengan wajah cemas. Tidak ada lagi yang berani membicarakan masalah saham atau reputasi Mahendra Group. Keadaan Kakek Baskoro yang kritis telah memaksa mereka untuk menanggalkan topeng kesombongan mereka, setidaknya untuk sementara waktu.
Seorang dokter spesialis jantung keluar dari ruangan setelah hampir satu jam berlalu. Arka adalah orang pertama yang langsung memburu dokter tersebut.
"Bagaimana kondisi kakek saya, Dok?" tanya Arka dengan suara yang tercekat.
Dokter itu menghela napas pelan, melepaskan stetoskop yang melingkar di lehernya. "Tuan Baskoro mengalami serangan jantung ringan, atau dalam istilah medis disebut *Acute Coronary Syndrome*. Beruntung beliau cepat dibawa ke sini sehingga tidak terjadi kerusakan otot jantung yang permanen. Namun, kondisi psikologis beliau sangat tidak stabil. Sepertinya beliau mengalami guncangan emosional atau stres yang sangat hebat sebelum pingsan."
Dokter itu menatap Arka dengan pandangan serius. "Untuk pasien di usia Tuan Baskoro, kondisi emosional yang buruk bisa berakibat fatal. Kami sudah memberikan obat penenang dan pengencer darah. Saat ini beliau sedang beristirahat, namun dalam keadaan setengah sadar, beliau terus menggumamkan sebuah nama. Apakah ada anggota keluarga bernama Nadira?"
Mendengar pertanyaan dokter, jantung Arka serasa berhenti berdetak sesaat. Ia mengangguk perlahan. "Iya, Dok. Dia... istri saya."
"Jika memungkinkan, tolong hadirkan Ibu Nadira di sini segera setelah Tuan Baskoro sadar penuh nanti," saran dokter tersebut. "Kehadiran orang yang terus beliau panggil biasanya akan sangat membantu menurunkan tingkat kecemasan pasien, yang mana itu sangat krusial untuk proses pemulihan jantungnya. Kami tidak ingin ada lonjakan tekanan darah lagi yang bisa memicu serangan susulan yang lebih berat."
"Baik, Dok. Terima kasih," jawab Arka lirih.
Setelah dokter kembali masuk ke dalam ruangan, Arka membalikkan badannya menghadap dinding. Ia memukul dinding beton rumah sakit itu dengan kepalan tangannya hingga buku-buku jarinya memerah dan mengeluarkan sedikit darah. Rasa sakit di tangannya tidak mampu mengalihkan rasa sakit di jiwanya.
"Nadira..." bisik Arka, menyembunyikan wajahnya di balik lengannya yang bersandar pada dinding.
Bagaimana mungkin ia bisa membawa Nadira ke sini? Nadira telah pergi, menghilang dari hidupnya setelah menerima luka yang begitu hebat darinya. Dan sekarang, kakeknya membutuhkan wanita itu sebagai obat penyembuh, sementara dialah alasan mengapa obat itu tidak lagi berada di rumah mereka.
Tante Broto dan Paman Arka mendekati Arka dengan langkah ragu. Wajah mereka yang biasanya penuh dengan keangkuhan kini tampak kuyu dan dipenuhi rasa bersalah yang tersembunyi.
"Arka..." panggil Paman Arka dengan nada suara yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Di mana Nadira sekarang? Hubungi dia. Katakan padanya bahwa Papa membutuhkannya di sini."
Arka tertawa kecil, sebuah tawa getir yang terdengar sangat menyakitkan di lorong rumah sakit yang sunyi. Ia memutar tubuhnya, menatap paman dan bibinya dengan mata yang sembab dan penuh kilat kemarahan yang tertahan.
"Hubungi dia?" tanya Arka parau. "Kalian meminta aku menghubungi dia sekarang? Ke mana saja kalian selama beberapa bulan ini ketika Selena memfitnahnya? Ke mana saja kalian ketika wanita itu dihina dan direndahkan di depan keluarga besar saat makan malam waktu itu? Kalian semua... kita semua, ikut andil dalam mengusirnya!"
Tante Broto menundukkan kepalanya, tidak berani membantah ucapan keponakannya. Memori tentang bagaimana mereka memandang rendah Nadira karena latar belakang keluarganya yang sederhana kini berputar kembali, mendatangkan rasa malu yang mendalam.
"Aku tidak tahu di mana dia sekarang," ucap Arka, suaranya mendadak melemah, dipenuhi keputusasaan yang teramat sangat. "Dia pergi... karena aku telah menghancurkan dunianya. Aku membiarkannya menangis sendirian di paviliun, dan sekarang... aku bahkan tidak tahu apakah dia sudi untuk melihat wajahku lagi, meskipun untuk menemui Kakek."
Arka melangkah mundur, menjauh dari kerumunan keluarganya. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa hanya berdiri di sini dan meratapi nasibnya. Kakeknya membutuhkan Nadira, dan dirinya sendiri... jiwanya sendiri, membutuhkan pengampunan dari wanita itu. Pencarian yang ia janjikan semalam kini bukan lagi sekadar misi penebusan dosa pribadi, melainkan sebuah perlombaan melawan waktu demi menyelamatkan nyawa kakeknya.
Ia mengambil ponselnya dari saku celana, lalu menghubungi nomor detektif swasta yang ia sewa semalam.
"Cari tahu semua informasi tentang apartemen tua di pinggiran kota yang kau berikan semalam," perintah Arka langsung ketika telepon tersambung, tanpa basa-basi. "Cari tahu di kamar nomor berapa Nadira Mahendra tinggal. Cari tahu kegiatannya hari ini. Aku ingin datanya dalam waktu satu jam. Berapa pun biayanya, aku tidak peduli. Lakukan sekarang!"
Setelah mematikan telepon, Arka menatap ke arah pintu kaca ICCU. Di dalam sana, kakeknya sedang berjuang. Di luar sini, dia harus mulai berjuang.
Arka berjalan menuju toilet rumah sakit untuk membasuh wajahnya. Saat menatap cermin di atas wastafel, ia melihat bayangan seorang pria yang sangat asing. Tidak ada lagi setelan jas desainer yang rapi, tidak ada lagi tatanan rambut yang sempurna, dan tidak ada lagi tatapan mata arogan yang mengintimidasi lawan bisnisnya. Yang ada hanyalah seorang pria yang hancur, dengan mata merah berkaca-kaca, memikul beban penyesalan yang teramat berat.
"Nadira," gumam Arka pada pantulan dirinya di cermin. "Jika kau membenciku, itu hakmu. Jika kau ingin menghukumku, aku akan menerimanya dengan senang hati. Tapi tolong... demi Kakek, demi satu-satunya orang di rumah itu yang selalu menyayangimu tanpa syarat... izinkan aku menemukanmu."
Arka keluar dari toilet dengan tekad yang semakin bulat. Langkah kaki gontainya semalam kini telah berganti menjadi langkah kaki yang penuh dengan kepastian, meskipun diselimuti oleh rasa takut yang luar biasa akan penolakan. Ia kembali ke lorong ICCU, menunggu kabar dari detektif swastanya dengan perasaan yang berkecamuk.
Matahari di luar sana kian meninggi, menembus jendela kaca rumah sakit dan membentuk bayangan panjang di atas lantai. Waktu terus berjalan, dan Arka Mahendra tahu, setiap detik yang berlalu adalah kesempatan yang ia buang untuk memperbaiki apa yang telah ia rusakkan. Pagi ini, di rumah sakit ini, di depan kakeknya yang terbaring lemah, Arka bersumpah bahwa dia tidak akan kembali ke rumah Mahendra tanpa membawa kembali kebahagiaan dan martabat Nadira yang telah ia injak-injak dengan kesombongannya.
Perjalanan penebusan itu kini telah resmi dimulai, dan badai pertama yang harus ia hadapi adalah kenyataan bahwa dia harus mengetuk pintu masa lalu yang telah ia hancurkan dengan tangannya sendiri.