Dimas Saputra seorang pemuda tampan yang sholeh, mendapatkan hati seorang wanita cantik yang kaya raya.
Seorang pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan besar milik keluarga Haristian, kini telah memikat hati seorang putri cantik dari pemilik perusahaan tersebut.
Berawal dari kehidupan yang sederhana, membuat dirinya merasa tak pantas untuk mendampingi wanita yang begitu terlihat sempurna. Namun kenyataannya jika yang kuasa sudah berkehendak, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enchya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Dimas...
Setelah jam kerja usai, Dimas mengendarai sepeda motornya menuju rumah, seperti biasa Dimas di sambut oleh ibunya yang menunggu di teras depan rumahnya.
"Baru pulang nak?." tanya Sofia setelah Dimas turun dari motornya.
"Iya bu, assalamu'alaikum." Ucap Dimas sambil mencium telapak tangan ibunya.
"Wa'alaikumsalam, ya udah mandi dulu sana. ibu uda bikinin brownies buat kamu." ucap ibu Sofia.
"Baru pulang nak?." tanya pak Bayu dari dalam rumah.
"Iyaa pak, bapak kog sudah pulang? bukannya biasanya baru pulang jam 11?" tanya Dimas.
"Iya tadi listrik di pabrik ada masalah, jadi bapak pulang lebih awal." Jawab pak Bayu bapaknya Dimas.
"ya uda sana mandi dulu." lanjut pak Bayu.
"Iya pak, Dimas masuk dulu ya." Sambil berjalan menuju kamarnya.
Setelah menaruh tasnya, Dimas kemudian berjalan menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur. Rumah dimas sederhana, jadi tak ada kamar mandi di dalam kamarnya.
Setelah selesai ritual mandinya, Dimas kembali ke kamarnya untuk ganti baju. Dan melaksanakan sholat isya. Selesai sholat, Dimas kembali keluar untuk bergabung dengan bapak dan ibunya yang sudah berada di ruang keluarga sambil nonton tv.
"Kayanya enak nih buk," Ucap Dimas sambil mengambil kue brownies buatan ibunya yang ada di meja.
"Iyaa donk, siapa dulu yang buat." Jawab ibu Sofia.
"Iya kue buatan ibu memang selalu enak, ga kalah sama yang dijual bermerk." Ucap Dimas sambil terus memakannya.
"Kamu bisa aja." jawab ibunya sambil tersenyum.
"Kalau dimas punya uang banyak, dimas janji akan belikan ibu toko buat jualan kue bu, ya walaupun kecil-kecilan dulu." Ucap Dimas masih sambil memakan kuenya.
"Kamu fokus dengan kuliah kamu saja nak, uang hasil kerja kamu kan cuma cukup buat bayar kuliah, ga usah mikirin ibu, ibu ga harus jualan kue kan ibu masih bisa bekerja." jawab ibunya.
"Iya bu, maksut Dimas kalau Dimas uda selesai kuliah, Dimas akan mencari pekerjaan yang lebih bagus. Nantinya Dimas akan nabung buat bisa beliin ibu toko buat jualan kue. Dimas yakin nantinya roti ibu akan laris manis. soalnya ini enak banget dan pakainya gula murni, jadi berani bersaing dengan kue-kue di luar sana." ucap Dimas panjang lebar.
"Ya udah, ibu percaya sama kamu nak, kamu memang selalu bisa membuat ibu bangga." jawab ibu Sofia.
"Ya udah kamu istirahat dulu sana, kamu pasti capek kan kerja seharian." lanjutnya lagi.
"Iyaa bu, pak, Dimas masuk kamar dulu ya." Ucap Dimas sambil berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
"Iya nak." jawab bapak dan ibunya bersamaan.
Sampai di kamar dimas membaringkan tubuhnya di kasur. Dia memandangi langit-langit kamarnya dan terbayang senyuman indah yang tadi sempat membuatnya bersemangat saat bekerja, dan tanpa sadar dia tersenyum sendiri.
"Sudahlah lupakan saja, mana mungkin aku jatuh cinta sana anak CEO, benar kata Ardi aku harus sadar diri dari pada nantinya aku akan sakit hati." Ucap Dimas bicara sendiri.
Tapi kenyataannya, senyuman manis itu tak bisa hilang dari ingatannya. Dimas senyum-senyum sendiri seperti orang gila, sampai mukanya di tutup bantal buat bisa melupakannya. Dan senyuman Lisa lah yang menjadi penghantar tidurnya hingga pagi hari.
Saat mendengar adzan subuh berkumandang, Dimas bangun dan bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, di dapur sudah ada ibunya yang juga lagi mau mengambil air wudhu.
"Ibu, bapak mana?" tanya Dimas masih sambil mengucek matanya.
"Bapak sudah menunggu di kamar." Jawab ibunya.
"Ya udah ibu duluan wudhunya." Ucap Dimas lagi.
Ibunya masuk ke kamar mandi, setelah selesai gantian Dimas yang ambil wudhu.
Mereka bertiga sholat berjama'ah di kamar khusus, yang memang di buat seperti mushola kecil untuk mereka bisa sholat berjama'ah dirumah.
Setelah sholat, ibu sofia keluar dan siap-siap buat memasak. Pak Bayu juga keluar mengikuti ibu Sofia. Dan Dimas masih berdiam diri. Sambil menengadahkan tangannya dimas berdo'a: "Ya allah, jika memang dia jodohku pertemukan kami dan dekatkanlah kami, tapi jika memang dia bukan jodohku,, tolong hapuskan dia dari ingatanku. aamiin"
Usai memanjatkan do'a dimas keluar dan bergabung dengan bapaknya di ruang keluarga.
"Buk, tolong buatkan kopi ya." ucap pak Bayu.
"Iya pak sebentar, ini belum mateng airnya." jawab ibu Sofia.
Dimas mengambil tempat duduk di samping bapaknya.
"Kamu kuliah ga hari ini nak?" tanya pak Bayu.
"Ngga pak, kan dimas masuk kuliah cuma 3x seminggu." Jawab Dimas.
Dimas mengambil kuliah kelas karyawan. jadi tidak setiap hari masuk. Kalau Dimas kerja shift pagi, dia ambil kuliah malam kalau kerja shift siang dia ambil kuliah pagi.
Tak lama kopi yang di pesan pak Bayu datang,
ibu Sofia meletakkannya di meja.
"Terima kasih bu." Ucap keduanya.
"Iya." jawab ibunya singkat.
Mereka berdua menikmati kopinya sambil memakan brownies sisa semalam.
.
.
.
Dirumah Lisa...
Setelah berpelukan dengan mama Ita, Lisa beranjak masuk ke kamarnya. Sedangkan mama Ita melangkahkan kakinya menuruni tangga.
Lisa membersihkan dirinya di kamar mandi dalam kamarnya, Selesai mandi dia turun ke lantai satu, di bawah sudah ada mama Ita yang duduk di sofa di ruang keluarga.
"Duduk sini sayang." Ucap mama Ita sambil menepuk sofa di sebelahnya. Lisa menuruti apa yang di perintahkan mama Ita. Setelah duduk Lisa menyalakan tv dan mencari acara yang dia inginkan.
"Gimana tadi di kantor papa? kamu jadi ketemu sama rekan papa itu?" Tanya mama Ita.
"Jadi mah," Jawab Lisa datar. Sambil duduk Lisa memakan camilan yang ada di meja.
"Terus gimana?" tanya mama Ita antusias.
"Gimana apanya mah?" jawab Lisa dengan nada malas.
"Ya gimana kesan pertama ketemu dia? dia ganteng ga? kata papa kan dia pengusaha muda yang pinter." Uxap mama Ita lagi.
"Biasa aja mah ga ganteng, masih banyak yang lebih ganteng di kampus Lisa. Dia bukan pengusaha yang pinter mah, tp cowo yang ga sopan." jelas Lisa dengan nada kesal.
"Memangnya gimana tadi? kog kamu gitu ngomongnya? apa dia berani kurang ajar sama anak mama ini?" ujar mama Ita sambil merapihkan rambut Lisa, rambutnya diselipkan di sebelah telinganya.
"Bukan mah, ga kurang ajar juga sih, cuma Lisa ga suka dengan sikap dia. Masa iya baru pertama ketemu dia tuh langsung bilang Lisa cantik di depan papa Lisa mah, ga sopan kan mah namanya?" jawab Lisa sambil memasang muka cemberut.
"Ya kan anak mama ini memang cantik, kenapa kamu ga suka hanya karna sikap dia gitu?" tanya mama Ita lagi.
"Mama sih ga liat muka dia tadi gimana, ih pokoknya Lisa ga suka, dia tuh seperti cowo yang...." perkataan Lisa menggantung.
"Yang apa sayang?" tanya mama Ita penasaran.