Annisa Marwa harus pergi dari kehidupan keluarganya setelah dia tahu bahwa dua orang yang dia sayangi dan dia percaya menjalin hubungan dibelakangnya.
Disakiti oleh kedua orangtuanya, Dikecewakan oleh Kakak dan Tunangannya tak membuat Marwa mundur atas kepergian itu. Tak ada air mata tangisan yang mengiringi langkahnya dalam meninggalkan kota itu.
Hingga pertemuannya dengan Rayyan Al Ghafa Pangestu merubah hidupnya. Marwa menjadi wanita yang lebih tangguh dan kuat dalam menghadapi apapun.
••••••••
"Aku Marwa, Sesuai dengan namaku.. Aku akan jadi wanita tangguh dan kuat tanpa takut pada siapapun.. " Annisa Marwa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kenyataan
Sesuatu yang menyakitkan ialah melihat pria yang kita cinta dan pria yang mencintai kita tapi justru perhatian pada wanita lain dihadapan kita sendiri.
Ya, Walaupun awalnya semua ini berawal dari Tania sendiri tapi apa mungkin Raski bisa memperlakukan hal semanis itu dihadapannya.
Menyuapi Marwa, Mengusap ujung bibir Marwa dan tak tanggung-tanggung. Raski mengusap ujung bibir Marwa dengan ibu jarinya langsung bukan dengan memakai tisu atau sapu tangan.
"Aku sudah kenyang.. Kalian lanjutkan saja makannya.." Ucap Tania yang sudah tak tahan melihat adegan manis dihadapannya itu.
Raski melihat gelagat yang tidak enak, Wajah Tania sudah dingin sejak tadi. Inilah alasan Raski dulu menolak permintaan Tania untuk berpura-pura cinta pada gadis itu. Raski hanya tidak ingin Tania tersakiti, Dan juga menjaga perasaan Marwa. Tania saja yang bebal.
Tania menarik nafas kasar kemudian bangkit begitu saja. Dia sudah tak kuat melihat kekasihnya menatap adiknya dengan penuh cinta itu.
"Kakak udah mau kemana?" Tania yang tiba-tiba saja beranjak itu langsung menghentikan pergerakannya saat Marwa bertanya.
"Aku mendadak tidak enak badan.. Aku akan tunggu dimobil. Kalian lanjutkan saja makan malamnya.."
"Tapi kak.." Marwa masih belum selesai bicara namun Tania sudah pergi lebih dulu. Entah kenapa Marwa merasa aneh dengan sikap kakaknya itu. Sejak berangkat tadi Tania memang memasang wajah datar dan dingin. Nada bicaranya pun juga agak sedikit berbeda dan ini membuat Marwa jadi sedikit bertanya-tanya.
"Sudah, Jangan dipikirkan.. Mungkin saja kakakmu emang sedang tidak enak badan.." Kata Raski memecahkan pikiran lain Marwa tentang Tania.
Gadis itu hanya menganggguk dan tersenyum. Begitupun dengan Raski yang tersenyum tipis. Ia tahu apa yang sedang dirasakan oleh kekasihnya itu.
Cemburu?
Jelas, Wanita mana yang tidak cemburu melihat pria yang cintai lebih mementingkan gadis lain. Meski pun itu hanya pura-pura tapi tetap saja.
Kalau sudah begini Raski tidak tahu harus berbuat apa. Tania yang memulai semua permainan ini tidak mungkin kan wanita itu yang akan mengakhirinya begitu saja.
Ting..
Sebuah notifikasi masuk kedalam ponsel milik pria itu. Raski melihat siapa yang mengirimnya pesan..
"Aku pulang dulu naik taksi..
"Ya, Hati-hati. Tunggu aku, Kita bicara saja nanti..." Raski membalas pesan yang ternyata dari Tania. Raski harus bertanya dan minta penjelasan. Mumpung semua belum berjalan keranah yang lebih jauh..
"Siapa Kak?
"Ah, Bukan siapa-siapa.. Hanya teman kantor saja.. Ya sudah, Sekarang kita lanjut makan ya.." Marwa tersenyum manis. Gadis itu masih bisa tersenyum saat ini. Andai dia tahu apa yang telah terjadi sebenarnya nanti, Apakah Marwa masih bisa bertahan dengan senyum itu?
"Kak..." Raski menatap Marwa. Tatapan mata keduanya bertemu. Marwa menggenggam tangan Raski dengan begitu eratnya.
"Ada apa?
"Jangan pernah tinggalin aku ya.. Aku udah gak punya siapapun lagi Kak.. Ayah sama bunda udah gak ada, Paman sama Bibi juga gak sayang sama aku.. Cuma Kak Tania dan dan Raski harapan satu-satunya, Orang yang aku sayang dan aku percaya.." Raski terdiam, Dia tidak tahu harus bagaimana. Marwa memang seorang gadis yang kehilangan kasih sayang dari keluarganya. Dan semua berawal dari sejak kedua orangtuanya meninggal dunia.
Sejak saat itu, Yang dia harapkan ialah kasih sayang Paman dan Bibinya. Tapi siapa yang menyangka kalau dua orang yang seharusnya menjadi pengganti orangtuanya itu justru menyakitinya.
Kejadian itu Marwa tidak ingat apapun. Yang dia ingat adalah rumah yang dia tempat itu dulu memang rumahnya. Dan sejak orang tuanya telah tiada rumah tersebut langsung ditempati oleh Paman, Bibi dan Kakak sepupunya.
Mengenal Raski adalah sesuatu yang sangat membuat Marwa bersyukur. Pria itu begitu baik dan penuh perhatian mengingatkan akan kasih sayang Ayahnya dulu.
"Kak..
"Iya...
"Kakak sanggup kan untuk tidak meninggalkan ku?" Raski agak kaku untuk menjawab.
"Marwa... Aku mau ke toilet sebentar ya.." Marwa mengangguk, Matanya tak lepas dari Raski yang kini pamit pergi kekamar mandi.
Marwa bukannya bodoh, Dia hanya tidak tahu saja rahasia apa yang disembunyikan oleh tunangannya itu.
Maka dari itu Marwa menganggap Raski adalah dunianya.
...****************...
"Udah pulang?" Tania menghentikan langkahnya, Kepalanya menoleh pada Ibunya yang duduk diruang tamu.
"Ibu.. Ibu masih belum tidur?"
"Kamu tadi pergi bareng Raski.. Tadi ibu lihat kamu pulang pakek taksi bukan sama Raski. Kemana dia?" Bukannya menjawab pernyataan Tania, Ibunya justru menjawab pertanyaan itu dengan sebuah pertanyaan.
"Iya Bu.. Aku lagi gak enak badan sekarang.. Jadi aku pulang duluan.." Ibunya beranjak dan mendekati Putrinya.
"Kamu gak enak badan atau malah gak kuat melihat Raski sama anak pincang itu bermesraan.." Tania menatap sang ibu dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.
"Bu.. Marwa itu kayak gitu juga karena nyelamatin aku.. Kalau bukan karena Marwa mungkin aja kaki aku yang pincang Bu.. " Ibunya memutar bola matanya malas. Wanita paruh baya itu benar-benar sudah muak dengan semuanya. Putrinya ini terlalu gegabah mengambil keputusan. Alhasil, Sekarang dia sendiri yang cukup tersiksa.
"Tania, Dengar ya.. Tidak ada yang nyuruh anak yatim piatu itu buat menyelamatkan kamu. Dia seperti itu karena keinginan dia sendiri.. Yaudah emang itulah risikonya kalo sok jagoan.. Kamu itu gak perlu balas budi sama dia! Pakek minta Raski ngelamar dia segala.. Lagian kamu itu jangan bodoh ya.. Raski itu cintanya sama kamu! Dia itu milik kamu.. Kamu berhak buat ngerebut dia lagi. Emang kamu mau sakit hati terue ngeliat Raski perhatian sama Marwa? Kamu sanggup? Ingat ya, Cinta itu datang karena mulai adanya terbiasa.. Jangan sampai cinta Raski musnah ke kamu dan pindah ke Marwa.. Nanti tinggal nyeselnya kamu.. " Setelah mengatakan itu, Ibunya langsung pergi meninggalkan Tania yang mematung. Ucapan ibunya seolah terus terngiang ditelinganya.
"Enggak.. Cinta Raski cuma buat aku.. Dia gak mungkin berpaling sama Marwa. Raski udah janji akan cinta aku selamanya..." Ucap Tania meyakinkan diri sendiri. Dia yakin kalau Raskj benar-benar berpura-pura..Dan cinta Raski hanya untuknya saja..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Makasih ya kak.. Udah anterin aku pulang.. " Raski tersenyum, Sebelah tangan pria itu terangkat mengusap rambut Marwa dengan penuh perhatian. Entah itu kasih sayang atau justru karena ada keterpaksaan semata.
"Udah aku bilang, Gak perlu bilang makasih.. Kita ini kan calon suami dan istri.. " Marwa menunduk malu. Ucapan Raski barusan sungguh membuatnya salah tingkah..
"Yaudah, Kalau gitu aku masuk dulu ya.." Ucap Marwa seraya berbalik badan namun..
"Tunggu...
Marwa kembali menghentikan langkahnya. Raski mendekat lalu mencium kening Marwa cukup lama..
Mendapatkan ciuman itu Marwa hanya bisa mematung saja. Tubuhnya menegang, Karena selama dia menjadi tunangan pria ini baru pertama kalinya ini Raski mencium keningnya.
"Dah, Kamu masuk dulu.. Setelah ini tidur ya..
"Iya kak.." Marwa pun masuk, Seperginya Gadis itu. Raski langsung medongak menatap ke atas balkon. Disana ia melihat Tania yang melempar sebuah pot ke arahnya.
Praaakk!
Beruntung Raski cepat menghindar sehingga ia tidak terkena lemparan pot itu.
"Tania...
Tania kembali masuk kedalam kamarnya. Dia memukul bantal seolah melampiaskan amanahnya.
"Kamu bilang kamu gak akan cinta sama dia Raski. Tapi apa? Kamu bahkan menciumnya? Dihadapan mataku..." Tania menggelengkan kepalanya.
Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan.. Semua ini memang salahnya. Dia yang berawal meminta Raski untuk melamar Marwa agar gadis itu senang. Dia memang awalnya dia rela, Namun saat ini rasa rela itu akan dia cabut kembali.
Tania merasa tak sanggup melihat kekasihnya selalu perhatian pada wanita lain. Dia punya hak, Dan dia berhak..
"Enggak! Raski itu milik aku.. Marwa gak berhak...
Ddrrttt...
Melihat nama Raski muncul dilayar ponselnya, Wanita itu segera mengangkatnya..
"Halo...
"Turunlah, Kita harus bicara...
Tania mematikan panggilan tersebut dan berlalu keluar dari kamarnya. Semua ruangan sudah gelap dan Tania sudah yakin kalau seluruh orang dirumah ini sudah tidur, Termasuk Marwa yang tidak pernah keluar kamar kalah malam.
Tania keluar dari rumahnya, Wanita itu berjalan ke arah tempat Raski telah menunggunya. Disebuah tempat gelap dibawah pohon yang letaknya tak jauh dari rumahnya.
"Ngapain kamu masih disini? Kenapa kamu belum pulang?" Tanya Tania dengan judes. Wanita itu bersedekap dada membuang muka terhadap Raski.
"Sayang, Udah dong jangan marah.." Raski memegang kedua bahu Tania menatap wanita itu dengan begitu dalam.
"Aku minta maaf, Okey aku salah.. Seharusnya aku gak memperlakukan Marwa seperti itu..
" Tapi tetap aja.. Aku kan udah bilang ke kamu.. Kalau kamu mesra-mesraan sama Marwa silahkan, Tapi jangan didepan aku dong.. Aku cemburu.. " Ucap Tania yang tak dapat membohongi diri sendiri. Mau seluas apa hati perempuan kalau sudah berurusan dengan yang namanya hati tetap tidak akan kuat kalau menahannya terlalu lama.
"Raski.. Aku minta kamu untuk kembali ke aku dan tinggalkan Marwa..
"A.. Apa??
Tanpa disadari, Bahwa ucapannya itu terdengar oleh seseorang yang kini berdiri tak jauh dari sana.
•
•
•
TBC
Dina mana.. dina manaaa..
biar makin seru nechdrama ny 😃😃😃
gmn tuuh ,, gmn tuuuh ,,
pgen jungkir balik rasa ny aq ,, 🤸🤸🤸🤸🤸🤸🤸
aq rasa udh ijooo mukany si tania ,,
udh pulang aj ke Susan ,, dy juga istri km koq raskii ,,