NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Ancaman Kepalan Tangan dan Awal Drama Sekolah

Kalimat telak yang meluncur mulus dari bibirku tadi rupanya benar-benar ampuh menyumbat mulut kedua gadis itu. Ucapan tegas mengenai selera dan standarku yang teramat tinggi secara instan menghancurkan provokasi murahan Diana, sekaligus meremukkan keangkuhan Clara Adelin.

Seketika itu juga, atmosfer di dalam kabin mobil sedan hitam yang sejuk ini berubah total. Drama omelan, seruan panik, serta nyanyian sumbang kepalsuan yang tadinya meramaikan perjalanan pagi mendadak lenyap tanpa sisa. Hening.

Benar-benar sunyi seperti berada di dalam ruang hampa udara.

Aku menyunggingkan senyum tipis di balik kemudi, menikmati kemenangan kecil ini. Dari kaca spion tengah, aku bisa melihat Diana yang membuang mukanya ke luar jendela dengan pipi menggembung menahan malu, sementara Clara duduk bersedekap dada seraya menekuk wajahnya dalam-dalam.

Raut wajah sang nona muda tampak merah padam, bibirnya terkunci rapat, tak lagi bersuara sepatah kata pun untuk mengomentari cara mengemudiku.

Mobil melaju dengan sangat tenang membelah kepadatan lalu lintas kota. Tak terasa, roda kendaraan akhirnya bergulir perlahan memasuki area gerbang utama SMA Tiara Nusa yang sudah ramai oleh lalu lalang para siswa.

Aku memarkirkan mobil dengan sangat mulus tepat di area drop-off depan lobi utama sekolah. Begitu mesin mobil dimatikan, aku segera melepas sabuk pengaman, melangkah keluar dengan sigap, lalu memutari bodi mobil untuk membukakan pintu belakang sebelah kiri—tempat Clara duduk.

Aku berdiri tegap dengan gestur tubuh yang teramat formal, menundukkan kepala sedikit dengan raut wajah penuh kesopanan.

"Silakan turun, Nona Clara. Kita sudah sampai di sekolah," ucapku halus, menjalankan peran sebagai pengawal pribadi yang sempurna.

Clara melangkah keluar dari kabin mobil dengan gerak-gerik anggun. Namun, saat tatapan mata kami saling bertemu, gadis itu langsung melemparkan tatapan mata penuh rasa dendam dan kekesalan yang membara. Ia merapikan seragamnya sejenak tanpa membalas sapaanku.

Namun, baru saja Clara mengambil satu langkah maju, sebuah suara melengking tiba-tiba terdengar menggelegar dari

dalam kabin belakang mobil.

"Heh, Arkan! Pintu sebelah sini kok enggak kamu bukakan juga sih?!" sahut Diana dengan nada protes yang memekakkan telinga dari dalam mobil. "Masa cuma pintu Clara aja yang dibukain?!"

Aku menghentikan gerakanku, menghela napas panjang seraya mendengus pelan di dalam hati. Aduh, anak ini... dia pikir dia ini siapa? Memangnya ayahnya juga ikut menggaji saya? gerutuku membatin.

Meski diliputi rasa jengkel, aku tetap berusaha mempertahankan profesionalitasku. Aku berjalan mengitari bagian belakang mobil menuju sisi pintu sebelah kanan, lalu membukakan pintunya untuk Diana.

"Silakan turun, Nona Diana," kataku datar.

Diana keluar dari mobil dengan gaya sok anggun, menepuk-nepuk rok sekolahnya, lalu menatapku dengan senyuman lebar penuh kemenangan.

"Nah, begitu dong kalau jadi supir dan pengawal!" celetuk Diana seraya mengibaskan rambut panjangnya dengan nada mengejek. "Harus totalitas dan enggak boleh pilih kasih! Paham?"

"Baik, Nona Diana. Terima kasih atas nasihatnya yang sangat berharga," balasku santai dengan nada sarkasme yang sangat halus.

Diana tersenyum puas, merasa berhasil mengerjaiku, lalu bergegas melangkah mendekati Clara yang sudah menunggunya dengan raut wajah tidak sabar.

Sebelum melangkah pergi menuju koridor kelas, Clara mendadak menghentikan langkah kakinya. Ia memutar badannya kembali menatapku, menaikkan satu alisnya tinggi-tinggi, lalu menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya yang lentik.

"Pak Supir!" panggil Clara dengan nada suara nyaring yang sengaja diperkeras agar didengar oleh beberapa siswa yang melintas di sekitar lobi.

"Iya, Nona Clara? Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanyaku penuh kesabaran.

"Aku itu paling enggak suka yang namanya menunggu lama!" ujar Clara dengan intonasi mengancam yang dibuat-buat, mencoba mengembalikan harga dirinya yang sempat jatuh di dalam mobil tadi. "Nanti sore saat jam pulang sekolah usai, kamu wajib hukumnya sudah siap berlabuh di depan lobi ini! Ingat ya, enggak boleh terlambat satu detik pun! Kalau sampai kamu terlambat... siap-siap aja aku aduin ke Papi!"

Setelah menyemburkan ancaman konyol itu, Clara membalikkan badannya dengan gaya mengibas rambut, berniat melangkah pergi dengan megah meninggalkan area lobi.

Melihat tingkah lakunya yang begitu dramatis dan kekanak-kanakan, tingkat kesabaranku rasanya sudah menyentuh batas ambang. Tanpa sadar dan secara tidak sengaja, sebuah gumaman pelan meluncur begitu saja dari sela-sela bibirku.

"Iya... dasar gadis bodoh," gumamku sangat pelan seraya menggelengkan kepala.

DEG!

Siapa sangka, di tengah riuhnya suasana lobi sekolah pagi itu, telinga Clara yang tajam ternyata berhasil menangkap samar-samar bisikan kata-kata terlarang tersebut!

Langkah kaki Clara mendadak terhenti seketika! Tubuhnya membeku kaku di tempat. Selang dua detik kemudian, ia memutar badannya secara perlahan-lahan. Matanya memelotot lebar, menatapku dengan tatapan horor yang seolah sanggup membakar hidup-hidup siapa saja yang berada di hadapannya.

"Kamu... kamu bilang apa barusan, Arkan?!" sergah Clara dengan nada suara menajam, melangkah maju mendekatiku dengan raut wajah garang. "Coba ulang sekali lagi?!"

Melihat perubahan raut wajahnya yang mendadak berubah menjadi seperti singa betina yang kelaparan, insting penyelamatan diriku langsung menyala tajam! Pikiranku berputar cepat mencari alasan untuk mengelak.

"Hah? Bilang apa, Nona?" balasku dengan raut wajah polos tanpa dosa, seolah-olah aku adalah manusia paling teraniaya di dunia ini. "Enggak kok... Saya tidak bilang apa-apa. Nona pasti salah dengar. Mungkin telinga Nona agak kemasukan angin pagi."

"Bohong! Aku jelas-jelas dengar kamu ngomong sesuatu tadi!" tuduh Clara tidak percaya, makin memajukan langkahnya.

"Sumpah Nona, saya cuma bilang 'Iya siap, Nona cantik'," bualku cepat tanpa mengedipkan mata, seraya perlahan-lahan mengundurkan langkah kakiku bergerak mundur menuju pintu kemudi mobil. "Masa suara semerdu itu terdengar seperti ucapan lain? Sudah ya Nona, nanti Nona terlambat masuk kelas."

Dengan gerakan super cepat dan lincah, aku langsung membuka pintu kemudi, melompat masuk ke dalam mobil, lalu dengan sigap mengunci seluruh pintu dari dalam.

Clara yang menyadari bahwa dirinya baru saja dikelabui langsung berlari kecil mendekati jendela kaca mobilku. Wajah cantiknya kini sudah merah padam menahan rasa kesal yang membuncah sampai ke ubun-ubun!

"Arkan!! Jangan bohong ya kamu!!" jerit Clara dari luar kaca mobil, suara melengkingnya terdengar samar-samar dari dalam kabin yang kedap udara.

Ia meletakkan kedua tangannya di pinggang, lalu mengangkat salah satu tangan kanannya tinggi-tinggi. Clara mengepalkan tinju tangannya yang mungil, mengarahkannya tepat ke arah wajahku di balik kaca mobil seraya memberikan gerakan mengancam yang sangat menggemaskan.

"Awas kamu ya, Arkan!! Tunggu pembalasanku nanti sore!!

Aku habisi kamu!!" ujar Clara dengan artikulasi bibir yang sangat jelas dibaca dari balik kaca, mengepalkan tangannya berulang kali dengan raut wajah sok garang.

Aku yang berada di balik kemudi hanya bisa menyunggingkan senyum lebar bercampur geli melihat tingkah polahnya dari balik kaca film mobil yang gelap. Aku bahkan sempat melambaikan tangan dengan gaya sok ramah, menambah kadar kekesalan di dada sang nona muda.

Diana yang berada di samping Clara sampai harus menarik-narik lengan sahabatnya itu agar mau melangkah pergi. "Sudah Ra, ayo! Nanti kita beneran terlambat masuk kelas! Lihat tuh, orang-orang pada merhatiin kita!"

Dengan napas tersengal-sengal menahan amarah dan kekesalan yang belum tuntas, Clara akhirnya menunjuk wajahku sekali lagi dengan ancaman kepalan tangannya, lalu memutar badan dan menghentakkan kakinya dengan sangat keras menuju ke arah koridor sekolah.

Aku menghela napas panjang, bersandar santai pada sandaran kursi kemudi seraya menyalakan kembali mesin mobil.

"Aduh, Nona Clara... Nona Clara..." gumamku seraya menggeleng-gelengkan kepala penuh tawa kecil. "Baru hari pertama saja dramanya sudah selengkap ini. Bagaimana hari-hari berikutnya nanti?"

Aku melajukan mobil sedan hitam itu perlahan meninggalkan kawasan sekolah, bersiap menghadapi babak baru dan berbagai kejutan konyol yang pastinya sudah disiapkan oleh sang nona muda untukku di sore hari nanti.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!