NovelToon NovelToon
SKENARIO KEHANCURAN UNTUK SUAMIKU

SKENARIO KEHANCURAN UNTUK SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
​Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.

​Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.

​"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skenario

​Pintu lift privat berdentang lembut, membuka langsung ke area foyer penthouse mewah milik keluarga besar kami di kawasan Senopati. Tempat ini adalah hunian puncak bertingkat dua dengan interior marmer impor dan pemandangan 360 derajat kota Jakarta kediaman utama Papi dan Mami di ibu kota.

​Begitu kami bertiga melangkah masuk, Mami yang mengenakan gaun santai namun elegan langsung menyambut kami di area ruang makan utama.

​Aroma harum masakan khas Nusantara dan steak wagyu yang disiapkan oleh koki pribadi keluarga menyeruak di udara, menciptakan suasana hangat yang seketika mencairkan penat akibat perjalanan dari bandara.

​"Olan! Felix!" panggil Mami dengan binar mata bahagia.

​Ibu yang sangat kucintai itu melangkah cepat, tidak hanya memeluk Kak Olan, tetapi juga secara hangat merengkuh Ko Felix ke dalam pelukannya.

​"Mami..." panggil Ko Felix pelan.

​Ada sedikit perubahan halus pada raut wajah kaku Ko Felix saat menyapa Mami. Meski wajahnya tetap datar tanpa senyuman manis, tatapan mata elangnya melunak beberapa derajat. Pria dingin itu bahkan membungkukkan tubuhnya sedikit agar Mami bisa menepuk bahunya dengan penuh kasih sayang.

​"Kamu ini, Lix... selalu saja repot-repot ikut terbang ke Jakarta," tutur Mami penuh rasa haru sembari mengelus lengan jas Ko Felix. "Padahal Mami tahu, seluruh keluargamu kan sudah menetap di Singapura dan Australia. Kamu nggak punya kewajiban apa-apa buat urus masalah di Indonesia."

​Papi yang sedang membaca koran bisnis di meja makan ikut berdiri. Pria paruh baya itu tertawa renyah, melangkah menghampiri Ko Felix dan menepuk punggung pria Tionghoa itu dengan bangga.

​"Justru itu yang bikin Papi sama Mami selalu kagum sama Felix," timpal Papi dengan nada penuh apresiasi. "Felix ini selalu ada di samping Olan. Untuk urusan bisnis besar sampai masalah keluarga seperti ini, dia selalu peduli dan turun tangan langsung. Papi betul-betul menghargai keberadaanmu di sini, Lix."

​"Ini sudah jadi kewajiban saya, Om, Tante," sahut Ko Felix dengan nada suara beratnya yang tenang dan formal. "Olan adalah saudara saya. Dan masalah yang menimpa Titania... juga jadi perhatian saya."

​Mendengar namaku disebut oleh Ko Felix, aku yang berdiri di samping Kak Olan hanya bisa menunduk pelan sembari menyunggingkan senyum kaku.

​Di dalam hati, aku sangat tahu betapa luar biasanya kebaikan Ko Felix pada keluarga kami. Orang tuanya dan seluruh sanak saudaranya memang sudah bertahun-tahun menetap di luar negeri dan memiliki kewarganegaraan Singapura. Secara logika, ia tidak punya alasan atau ikatan keluarga untuk repot-repot terbang jam tiga pagi demi mengurusi skandal mantan suamiku di Jakarta.

​Namun, itulah seorang Felix William Tan. Kepeduliannya pada keluarga kami sangat besar, walau dibungkus dengan cara yang teramat dingin, kaku dan minim ekspresi.

​"Sudah, ayo kita makan dulu. Kasihan Tita dan anak-anak pasti sudah lapar," ajak Mami ramah, membimbing kami semua untuk duduk di meja makan kayu jati berukuran panjang.

​Kak Olan duduk di sebelah kiri Papi, sementara Ko Felix mengambil posisi di sebelah kanan Papi. Aku sendiri memilih duduk di samping Mami, tepat di seberang Ko Felix.

​Selama makan siang berlangsung, meja makan dihiasi oleh obrolan hangat antara Papi, Mami, Kak Olan, dan Ko Felix. Papi dan Mami tampak sangat senang melihat Ko Felix ada di dekat Kak Olan. Kehadiran Ko Felix selalu memberikan rasa tenang bagi orang tuaku, karena mereka tahu Ko Felix adalah sosok pemikir dingin yang sanggup mengerem impulsivitas Kak Olan jika Kak Olan mulai bertindak gegabah.

​Namun, di tengah gelak tawa kecil Papi dan cerita bisnis Kak Olan, Ko Felix tetaplah Ko Felix. Pria itu menyantap potongan daging wagyunya dengan sangat tenang, rapi, dan wajahnya tetap kaku bagaikan es batu. Ketika Papi menceritakan lelucon bisnis pun, Ko Felix hanya merespons dengan anggukan kepala tipis atau gumaman singkat yang teramat irit kata.

​"Benar-benar manusia tanpa ekspresi," batinku menatap Ko Felix dari balik cangkir air mineralku.

​Tiba-tiba, di tengah-tengah santap siang, Mami menoleh ke arahku dengan raut wajah penuh perhatian.

​"Tita Sayang..." panggil Mami lembut. "Kan Olan sama Felix bakal tinggal di penthouse ini selama mereka di Jakarta untuk menemani Mami sama Papi. Kamu mau sekalian pindah barang-barangmu dan tinggal di sini saja sama kami?"

​Deg.

​Jantungku mendadak serasa berhenti berdetak seketika.

​Sendok yang sedang kupegang hampir saja terlepas dari genggamanku. Aku menelan ludah parau, membayangkan jika harus tinggal di penthouse ini selama beberapa minggu ke depan.

​Itu artinya... aku harus bertemu di pagi hari, makan malam dan berpapasan setiap hari dengan aura intimidasi serta wajah kaku Ko Felix Tan.

​Membayangkannya saja sudah cukup membuat bulu kudukku berdiri. Tinggal satu atap dengan pria bermata elang yang selalu tahu cara memojokkan orang dengan kata-kata datarnya adalah mimpi buruk terselubung untuk kesehatan mentalku yang baru saja pulih dari pengkhianatan Aris.

​Aku menatap Mami dengan mata memohon, mencoba menyusun alasan yang paling halus dan masuk akal.

​"M-mami..." ucapku pelan, suaraku sedikit bergetar. "Tita... Tita kayaknya lebih pilih tetap tinggal di apartemen Tita yang di Central Park saja, Mi. Kan lokasinya lebih dekat ke kantor Glowinc Group. Kalau dari sini ke kantor, nanti Tita sering kena macet pas jam kerja."

​Aku menahan napas, menanti jawaban orang tuaku dengan cemas.

​Papi menatapku sebentar, lalu mengangguk-angguk paham. "Benar juga kata Tita, Mi. Apartemennya di Central Park kan cuma sepuluh menit dari kantor pusat. Kalau harus bolak-balik dari sini setiap hari, kasihan Tita nanti kelelahan."

​Mami menghela napas pendek, lalu tersenyum lembut memegang tanganku. "Ya sudah kalau begitu... Mami dan Papi izinkan kamu tetap tinggal di apartemenmu. Yang penting kamu merasa nyaman dan tenang di sana ya, Nak. Tapi janji, setiap akhir pekan kamu harus makan malam di penthouse bersama kami."

​"Pasti, Mi! Tita janji!" jawabku cepat dengan binar mata lega yang luar biasa mendalam.

​Puji Tuhan! Terima kasih, Papi! batinku menjerit gembira.

​Rasa lega melingkupi dadaku secara instan. Mengetahui bahwa orang tuaku mengizinkanku tetap tinggal di apartemenku sendiri rasanya seperti mendapatkan pengampunan besar. Aku tidak perlu memikirkan betapa canggungnya suasana sarapan pagi jika harus duduk berhadapan dengan Ko Felix setiap hari.

​Namun, belum sempat rasa legaku bertahan selama sepuluh detik, sebuah suara dingin memotong dari seberang meja.

​"Bagus kalau kamu tetap tinggal di apartemenmu," ucap Ko Felix datar.

​Pria itu meletakkan pisau dan garpunya dengan dentingan halus di atas piring porselen. Mata cokelat gelapnya yang tajam menatap lurus ke arahku.

​Aku membeku di tempat, menelan ludah ketakutan. "K-kenapa begitu, Ko?"

​"Karena penthouse ini akan jadi markas operasional saya dan Olan untuk mengurus pembersihan sisa-sisa pengacara Aris," ujar Ko Felix tanpa keraguan sedikit pun, suaranya terdengar sangat tajam dan profesional. "Tempat ini akan penuh dengan rapat tim hukum, penyelidik swasta, dan urusan-urusan yang tidak perlu kamu dengar. Kamu cukup fokus mengurus perusahaanmu dan biarkan kami yang menyelesaikan kotoran di luar."

​Aku berkedip-kedip kaku, tertegun mendengar penjelasan dinginnya.

​Di balik kata-katanya yang terkesan mengusir dan tidak ramah itu, aku menyadari satu hal: Ko Felix sebenarnya sedang melindungiku. Pria kaku ini tidak ingin aku terlibat dalam proses pembalasan dendam hukum yang kelam dan melelahkan yang akan mereka jalankan mulai sore ini.

​Kak Olan terkekeh pelan, menyenggol lengan Ko Felix. "Felix, kata-katamu itu selalu saja terdengar kasar, padahal maksudmu baik."

​Ko Felix hanya membuang mukanya datar, merogoh ponsel pintarnya dari dalam saku jas dan mulai menatap layar tanpa membalas ucapan Kak Olan.

​Papi menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum geli melihat kelakuan sahabat putranya itu. "Sudah-sudah... yang penting Tita aman dan nyaman. Olan, Felix, jam berapa kalian berangkat ke kantor polisi?"

​Seketika, atmosfer hangat di meja makan mendadak berubah menjadi sangat dingin dan pekat.

​Kak Olan melirik jam tangan mewahnya, lalu menyunggingkan senyuman miring yang teramat berbahaya senyuman seorang predator yang siap menerkam mangsanya.

​"Jam dua siang nanti, Pi," jawab Kak Olan dengan nada suara yang merendah.

"Izin kunjungan privat ke sel tahanan Aris sudah diurus penuh oleh tim Felix. Pihak kepolisian sudah mengosongkan blok sel khusus agar tidak ada gangguan atau saksi mata."

​Ko Felix mematikan layar ponselnya, mengangkat pandangan matanya yang dingin menatap Kak Olan.

​"Semua pengawal dan pengacara Aris sudah ditahan di luar area pemeriksaan," tambah Ko Felix singkat, suaranya bagaikan vonis eksekusi. "Kita punya waktu dua jam penuh di dalam sana."

​Aku menatap Kak Olan dan Ko Felix secara bergantian dari balik meja makan.

​Rasa cemas yang sempat hilang kini kembali merayapi hatiku. Jika di meja makan yang hangat ini saja aura Ko Felix dan Kak Olan sudah bisa membuat suhu udara membeku, aku sungguh tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ketika dua pria ini melangkahkan kaki ke dalam sel tahanan Aris yang sempit dan terisolasi.

​Aris Pratama mungkin mengira bahwa hukuman terberatnya adalah kehilangan seluruh harta dan dicap sebagai penipu.

​Namun, mantan suamiku itu sama sekali tidak tahu bahwa dalam waktu kurang dari satu jam lagi, dua sosok pelindung terkejam di kehidupanku akan mengetuk pintu selnya bukan untuk bernegosiasi, melainkan untuk memberikan pelajaran berdarah yang tak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya.

1
Noey Aprilia
Udh nebak dr awl kl felix emng ada rsa sm tita...kl ga mh,ga mngkn rela ninggalin smuanya dmi mmbela tita...ykin bgt kl smua prosesnya cpt krna cmpr tngan dia.....😁😁😁....
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
Noey Aprilia
Do'amu d kbulkn y jesika....bntr lg klian bkl ktmu sm mntan,bedanya sma2 jd gembel.....😛😛😛
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Wega Luna
babat habis orang kayak mereka yg maunya instan dan gratisan🤣🤣🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha nikmati saat terakhir kamu Reno, kamu dan mama kamu juga akan jadi gembel
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai, terima saja konsekuensinya 🤣🤣😂😂
Noey Aprilia
Nmanya hkum tabur tuai...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
Muft Smoker
dtggu season si Jessica tinggal di kolong jembatan kak 😒😒😒😒
Noey Aprilia
Ngsih mkan ank2nya dr hsil nipu sih,jdinya ya ky gt....yg 1 d sel,yg 1 mlah ga mau nampung emaknya....dfnisi hkum krma ta smnis kurma.....😛😛😛
Anita Rahayu
Thor adiknya masa gk kena miskin sih thor gk adil dong masa berat sebelah penebusan karmanya😤😤😤😤😤😤😤😤😤
blcak areng: sabar kak
total 1 replies
Noey Aprilia
Aku lg byangin....hkumn apa yg bkl mreka ksih????d gebukin dlu,atw pke balok gt...ga mngkn sling jmbak kn y,scra bkn emak2 yg lg lbrak pelakor.....🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
waah semoga jantung si Aris Bae Bae aj ,,
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
Muft Smoker: hadiiir kakk ,, duh jgn panggil2 gt doonk ,, gx kmn2 koq ,, msh di pantau si Aris dr sini ,, 😂😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
aduuh si Aris otw jd perkedel niih ,,
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker
waaah raja singa yg sesungguh ny ,, msh otw ke jakarta ,,
😱😱😱😱😱
Muft Smoker
bagus tita ,, hama Kya mereka yg gx pandai bersyukur mending hempas kan saja ,,
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
Noey Aprilia
tragis jg y nsib mreka.....stlh msuk bui,gliran emaknya otw jd gmbel...
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
Wega Luna
💪💪💪tita kamu keren perempuan kuat GK akan mengisi penghianatan,
Noey Aprilia
Ga msti viral krna jambak2an,toh akhrnya mreka kalah sndri....tkang tipu vs korban tipu...😛😛😛
Muft Smoker: kompak kn mereka kak ,, sang penipu dan si tertipu ,,
😂😂😂😂
total 1 replies
Lee Mba Young
keren istri sah🔥🔥🔥🔥
Noey Aprilia
Ckkk.....abg labil....
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!