Rania, gadis yatim piatu yang hidup bersama neneknya. Kesulitan ekonomi membuatnya terpaksa tidak melanjutkan kuliah dan membantu neneknya bekerja di rumah majikannya di kota. Kasih sayang sang majikan dengan menganggap Rania seperti cucunya bahkan membiayai kuliahnya, membuat seisi rumah perlahan membencinya. Hingga pada puncaknya ketika Tuan Haryo sang majikan terbaring sakit tak berdaya, sejak itulah penderitaan Rania dimulai. Nasib baik tak melulu berpihak pada Rania, bahkan sang kekasih yang selama ini selalu mendukungnya pun meninggalkan Rania saat hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon baby Fy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. "Saya Tahu Diri" (part 2)
Setelah berhasil menaiki ojek yang melaju cepat, Rania segera mengambil ponselnya dan menuliskan pesan untuk orang di sebrang sana.
Rania: Kak Farel, aku ke sana sekarang. Tolong bantu aku untuk mendapatkan pekerjaan itu.
-
“Makasih ya, Kak. Karena Kakak, aku bisa dapetin pekerjaan ini dengan mudah.” Rania begitu lega mendapati dirinya kini sudah diterima menjadi pelayan di cafe yang direkomendasikan oleh Farel.
Senyum merekah terus terpampang di bibir mungil Rania. Kondisi cafe yang lumayan sepi di siang hari itu membuat waktu Rania bisa sedikit santai. Ia bersyukur, jujur saja nafasnya bahkan masih terengah-engah karena tadi berlarian untuk sampai ke cafe tersebut.
“Iya, santai aja.” Jawab Farel lalu tersenyum tipis. Rania yang begitu senang tidak menyadari raut wajah Farel yang sedikit berubah.
“Aku balik dulu, ada kelas.” Ungkap Farel yang diangguki oleh Rania, lalu setelahnya Farel sudah pergi menghilang di balik pintu.
Rania sedikit bingung karena cafe seluas ini hanya dikunjungi oleh beberapa orang, padahal matahari begitu terik, menu dan fasilitas yang ditawarkan cafe pun tidak bisa dikatakan sederhana. Rania menggeleng untuk mengenyahkan pikirannya.
“Rania, tolong antarkan kopi ini ke ruangan bos di lantai 4.” Rania melongo tak percaya, rupanya ada lantai lagi di atas, ia tidak bisa membayangkan betapa besar cafe ini hingga memiliki lantai lebih dari satu.
Rania mulai menaiki tangga, sebenarnya ia masih asing dengan cafe ini. Tadi saat dirinya telah sampai cafe, Farel yang rupanya sudah ada di dalam cafe tersebut membimbingnya menemui kepala pelayan yang sedang menyeleksi pelamar kerja di lantai satu.
Atas bantuan Farel, Rania dapat masuk dengan mudah dan karena ia sudah tidak ada kelas lagi, Rania langsung bekerja saat itu juga.
Setelah sampai di lantai 4, Rania berulang kali mengetuk pintu namun ia tak kunjung mendapati jawaban dari balik sana.
Dengan berhati-hati Rania membuka pintu perlahan, dirinya mengernyit bingung karena tidak mendapati seorang pun ada di situ, perlahan Rania mendekati meja yang dirasanya adalah tempat dari pemilik cafe itu bekerja, ia letakkan kopi yang ia bawa di meja tersebut.
Tak ada tanda-tanda keberadaan orang dalam ruangan tersebut, Rania pun bergegas pergi. Saat hendak menuruni tangga ke lantai satu, terdengar suara alat musik dimainkan di lantai dua.
Rania yang penasaran mencari sumber suara, ia sempat melewati lorong pendek lalu mendapati pintu besar di ujung lorong. Suara tersebut semakin keras, Rania menyimpulkan suara tadi berasal dari balik pintu.
“Wah! Rupanya penampilan musik, kenapa tidak di lantai satu, ya? Kan pengunjung bisa lebih tertarik.” Kata Rania saat membuka pintu besar itu. Terkejut dan heran itulah yang Rania rasakan saat melihat isi dari ruangan tersebut, bukan nuansa cafe yang ia temukan.
Disana Rania melihat, bar yang lumayan besar, panggung dengan berbagai alat musik termasuk yang biasa dipakai oleh para dj, lalu suasana di bawah panggung yang tidak ada kursi juga meja sama sekali, di sana hanya ada lantai yang luas juga lampu disko di atas nya.
“I-ini b-bukan cafe.” Ujar Rania terbata.
Benar sekali apa yang ditebak Rania, tempat di lantai dua itu bukanlah cafe melainkan diskotik. Pantas saja salah satu pelayan senior memberitahunya untuk bersiap untuk bekerja ekstra setiap malam, karena cafe akan ramai di saat malam.
Rania tak percaya dengan fakta yang baru ia ketahui, segera ia tutup pintu tersebut dan pergi ke lantai satu.
“Kak Devi, Rania mau bicara.” Panggil Rania pada salah satu pelayan yang baru saja mengantarkan makanan ke meja pelanggan.
“Iya? Ada apa, Ran?” Tanya pelayan senior yang bernama Devi itu.
“Kak, Rania mau berhenti kerja.” Devi terkejut dengan perkataan Rania.
“Loh! Kenapa, Ran?”
“Kak, Rania engga tahu kalau semisal ini bukan sekedar cafe biasa, tapi juga diskotik. Sedangkan Rania engga bisa kerja di tempat seperti ini.” Kata Rania yang masih bergetar, di sisi lain ia takut masalah ini diketahui oleh orang-orang disekitarnya.
“Kakak kira kamu udah tahu tentang tempat ini, tapi itu percuma, Ran. Kamu udah tanda tangan kontrak tadi. Sulit untuk keluar dari sini kalau engga sesuai dengan prosedur dan kontrak yang tertulis.” Devi mengusap pundak Rania agar tenang, ia merasa prihatin dengan kepolosan Rania.
“Aku takut Nenek aku tahu.” Rania mulai menitikan air matanya.
“Tenang, nanti setiap malam kakak usahakan untuk menjaga kamu.” Rania hanya bisa menangguk menyetujui sedangkan Devi pun tidak begitu yakin, tapi niatnya benar-benar tulus untuk menjaga Rania dari dunia malam.
-
Malam pun tiba, Rania masih tidak menyerah untuk meminta ijin pulang. Namun tentu saja hal itu ditolak mentah-mentah oleh sang kepala pelayan.
“Bu, saya mohon. Saya janji saya akan kerja lebih panjang tapi saya tidak bisa jika sudah diatas jam 9, Bu.” Mohon Rania, sebenarnya Rania tidak mengapa jika harus pulang larut karena dulu ia pernah bekerja hingga malam.
Namun tidak dengan tempat seperti ini, cafe yang menjadi tempatnya bekerja itu jika sudah memasuki jam sembilan akan beralih fungsi menjadi diskotik yang cukup ramai.
Tentu saja Rania harus ikut serta melayani para tamu juga pelanggan yang begitu ia hindari, yakni para hidung belang.
“Tidak bisa, Rania. Kamu pikir kenapa cafe ini memberikan gaji diatas standar? Terlebih pada pekerja part time.” Tak ingin didebat kepala pelayan segera pergi setelah memberikan keputusan final terkait permasalahan Rania.
Helaan napas pasrah terdengar setelahnya, Rania kecewa pada dirinya sendiri yang tidak hati-hati dalam mengambil keputusan.
Dengan langkah gontai, Rania pun akhirnya tetap melayani para tamu di lantai dua. Dirinya mewanti-wanti supaya dapat menjaga diri agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
-
“Hi, Cantik.”
“Boleh minta nomornya?”
“Suit.. Suit.. Boleh juga nih.”
“Hei, kamu temenin kita ya!”
Kurang lebih perkataan-perkataan seperti itulah yang didengar Rania selama 2 minggu ini, namun seperti apa yang dijanjikan oleh Devi, pelayan senior itu terus membantunya.
Setidaknya Rania sudah sedikit beradaptasi dengan pekerjaannya meski perasaan takut masih mendominasi. Dan tibalah saat ini, dimana Devi ijin tidak masuk 3 hari karena sakit, Rania harus lebih berhati-hati.
Semakin malam para pengunjung klub semakin membuat Rania waspada, godaan demi godaan berhasil dilewatinya dengan penuh perjuangan meski kadang sesekali air mata dan intonasi yang meninggi keluar begitu saja.
Rania baru tersadar atas apa yang dikatakan oleh Farel mengenai perintah yang sulit dibantah dari atasan tempo hari, ia sekarang mengalaminya. Rania melihat pantulan badannya di kaca, seragamnya telah diganti menjadi pakaian kurang bahan.
Tentu saja Rania menolak, namun hal itu sia-sia rupanya. Rania sudah terlanjur menandatangani surat kontrak yang bodohnya tidak ia baca dengan teliti.
“Ran, antarkan ke meja sebelah sana.” Salah seorang pelayan menyuruh Rania mengantarkan pesanan ke meja yang ada di tepian tempat tersebut, posisi setiap meja yang sedikit tertutup sekat membuat Rania waspada.
Terlebih meja yang akan di tujunya sekarang berada di pojok dan lumayan jauh dari kerumunan orang yang sedang menari menikmati alunan musik dj.
“Permisi, pesanannya.” Kata Rania sembari menunduk menaruh pesanan di meja, ia terlalu takut menatap segerombolan pria bertubuh dua kali dari badannya juga para wanita yang berpakaian minim juga sexy melebihi apa yang ia pakai.
“Tunggu! mba sepertinya ini ada yang kurang.” Ujar salah seorang lelaki dengan suara berat khas prianya. Sontak Rania segera mendongak dan menengok ke sumber suara.
“Rania.” Panggil salah satu wanita yang ada di sana.
Degh...
“Non Keisha.” Rania membatu terlalu terkejut begitu pun Keisha yang tidak menyangka pelayan dengan pakaian sexy di depannya ini adalah Rania yang selalu menampilkan raut wajah polosnya.
Rate Menunggu Mu
ga sudi pake banget klw rania balik sm vano yg najisin....
yuhhh.. sudah bekasan gitu... menjijikan..