Demi takhta tertinggi Klan Zhou, Zhou Yu dijebak oleh konspirasi kejam. Menggunakan ramalan palsu, para tetua mengasingkannya ke Pulau Sunyi—tempat para biksu tanpa kekuatan kultivasi, tempat di mana masa depannya sengaja dikubur hidup-hidup.
Enggan membiarkan takdirnya mati dalam kesunyian, Zhou Yu nekat melarikan diri ke Hutan Keramat yang tabu. Di sana, di balik kabut abadi, dia menemukan kerangka naga raksasa yang terantai.
Siapa sangka, setetes darah Zhou Yu justru menghancurkan segel kuno dan membangkitkan takdir yang sebenarnya: Garis Keturunan Iblis Kuno yang ditakuti langit dan bumi! Dengan tulang naga iblis di tubuhnya dan dendam yang membara di hatinya, Zhou Yu berjalan keluar dari pulau pengasingan.
"Kalian membuangku karena takut aku merebut takhta? Bersiaplah, karena sekarang aku kembali untuk meratakan seluruh klan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOTA PELABUHAN
Perahu kayu kecil yang membawa Zhou Yu membelah ombak lautan selama tiga hari tiga malam.
Selama perjalanan yang sepi itu, Zhou Yu menghabiskan seluruh waktunya untuk bermeditasi di dalam kabin perahu, menyerap energi dari sepuluh buah Batu Spiritual pemberian Kepala Biara Xuan satu demi satu.
Krek.
Batu-batu itu akhirnya hancur menjadi abu, namun sebagai gantinya, aliran Abyssal Qi di dalam dantian Zhou Yu menjadi jauh lebih stabil dan tenang. Jiwa naga kuno yang kini menyatu dengan sumsum tulangnya memberikan kontrol energi yang luar biasa presisi.
Kini, jika dia mau, dia bisa menyembunyikan aura hitamnya secara total dan terlihat seperti seorang remaja biasa yang tidak memiliki kultivasi sama sekali. Ini adalah penyamaran yang sempurna.
Pada fajar hari keempat, kabut laut perlahan menipis dan menampakkan garis pantai yang sangat luas di kejauhan. Di sanalah berdiri Kota Pelabuhan Linhai, salah satu kota pelabuhan terbesar di tepi timur Benua Langit Timur.
Dari kejauhan, ratusan kapal dagang raksasa bersandar di dermaga batu yang megah. Suara riuh rendah para pedagang, pelaut, dan kultivator pengembara terdengar menggema bahkan dari jarak satu mil laut.
Kota ini adalah tempat bertemunya naga dan ular—wilayah yang dipenuhi oleh berbagai macam kekuatan, hukum yang longgar, dan konflik yang bisa pecah kapan saja.
Zhou Yu menepikan perahu kecilnya di sudut dermaga yang paling sepi dan kurang diawasi oleh penjaga pelabuhan. Dia melompat turun ke atas dermaga batu, lalu menarik tudung jubah hitamnya ke depan untuk menutupi sebagian wajahnya.
'Klan Zhou adalah salah satu penguasa di benua ini. Mata-mata mereka pasti tersebar di setiap kota besar,' batin Zhou Yu sambil berjalan membaur ke dalam kerumunan orang banyak. 'Sebelum kekuatanku cukup untuk menghancurkan faksi paman, aku harus menyembunyikan identitas asliku.'
Mulai hari ini, nama Zhou Yu untuk sementara waktu terkubur. Dia akan menggunakan nama samaran baru: Yu Ling.
Zhou Yu berjalan menyusuri jalanan kota pelabuhan yang sibuk. Tujuannya adalah mencari pasar gelap atau tempat perdagangan informasi untuk mengetahui situasi terbaru di Klan Zhou setelah kepergiannya selama tiga bulan.
Namun, ketika dia melewati sebuah gang besar yang berfungsi sebagai pasar terbuka bagi para kultivator tingkat rendah, telinganya menangkap suara keributan yang diiringi isak tangis.
"Tolong... Tuan, tolong jangan ambil ini! Ini adalah obat untuk menyembuhkan ibu saya!"
Seorang gadis kecil berusia sekitar dua belas tahun tampak bersujud di atas tanah berdebu. Tangannya memegangi kaki seorang pria muda yang mengenakan jubah merah menyala dengan sulaman pola api di bagian dadanya.
Di samping gadis itu, seorang lelaki tua yang merupakan kakeknya terkapar dengan sudut lipat bibir berdarah, tampaknya baru saja dipukul dengan sangat keras.
Brak!
Pria berjubah merah itu menendang tangan sang gadis dengan kasar hingga terlepas. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah kotak kayu kecil yang terbuka, menampakkan sebatang ginseng berwarna ungu tua yang memancarkan energi spiritual murni.
"Ginseng Ungu berusia seratus tahun!" Pria berjubah merah itu tertawa terbahak-bahak, matanya penuh dengan keserakahan.
"Sampah seperti kalian tidak berhak memiliki harta spiritual seperti ini! Mengatakan benda ini untuk mengobati ibumu? Benar-benar lelucon! Benda ini jauh lebih berguna jika diserahkan kepada Sekte Api Merah kami!"
"Benar! Tuan Muda Huo adalah putra dari tetua Sekte Api Merah kita. Berani menolak permintaannya sama saja dengan mencari mati di Kota Linhai ini!" sahut beberapa murid sekte lain yang berdiri di belakang pria bernama Huo tersebut.
Orang-orang di sekitar pasar hanya berani menonton dari kejauhan dengan tatapan iba, namun tidak ada satu pun yang berani maju untuk membantu. Sekte Api Merah adalah sekte lokal yang cukup berkuasa di wilayah pelabuhan ini. Menentang mereka di kota ini sama saja dengan bunuh diri.
Pria muda bernama Huo itu tersenyum puas, lalu berbalik bersiap untuk pergi membawa ginseng jarahannya. Namun, begitu dia membalikkan badan, langkah kakinya mendadak terhenti.
Sesosok pemuda misterius yang mengenakan jubah hitam legam dengan tudung yang menutupi wajahnya tiba-tiba berdiri tegak di tengah jalan, menghalangi jalur keluarnya. Pemuda itu berdiri dengan sangat tenang, kedua tangannya tersembunyi di balik lengan jubah luasnya, memancarkan aura misterius yang tak terbaca.
Huo mengerutkan keningnya, merasa kenyamanannya diganggu. "Bocah sialan, siapa kamu? Singkirkan tubuhmu dari hadapanku sebelum aku membakarmu menjadi abu!"
Zhou Yu, yang kini menggunakan nama Yu Ling, perlahan mendongak dari balik tudung jubahnya.
Sepasang mata cokelatnya menatap lurus ke arah Huo dengan tatapan yang sangat datar—seolah-olah dia sedang melihat sesosok mayat berjalan.
"Kembalikan kotak obat itu kepada anak perempuan itu, lalu berlututlah meminta maaf kepada kakeknya," ucap Zhou Yu. Suaranya terdengar sangat tenang, namun memiliki nada perintah mutlak yang tidak bisa dibantah.
Mendengar kata-kata itu, seluruh pasar mendadak hening seketika!
Para penonton di sekitar membelalakkan mata mereka karena terkejut. Dari mana datangnya pemuda jubah hitam ini? Berani-beraninya dia menyuruh Tuan Muda dari Sekte Api Merah untuk berlutut di wilayah kekuasaannya sendiri?
Huo sesaat tertegun, sebelum akhirnya wajahnya memerah padam karena amarah yang meluap-luap. Dia merasa sangat terhina di hadapan murid-muridnya dan orang banyak.
"Bocah jubah hitam, berani-beraninya mencampuri urusan Sekte Api Merah! Cari mati!" meraung Huo dengan marah.
Sret!
Huo langsung menarik sebuah pedang panjang dari pinggangnya. Semburan energi ranah Pengumpulan Qi Tingkat 4 meledak dari tubuhnya, mengalir deras ke bilah pedang hingga menciptakan kobaran api merah terang yang memanaskan udara di sekitar gang tersebut.
Dengan raungan buas, dia melesat maju, mengayunkan pedang apinya lurus ke arah leher Zhou Yu!