"Mulai sekarang, setiap satu jam sekali, kamu harus mencium bibirku! Aku tidak akan menerima penolakan," tegas Nathan lagi. "Kamu wajib menciumku di mana pun kita berada, bahkan di dalam kelas atau di tempat umum."
Jenny mulai merasa panik, "Tu - tuan, tapi itu sungguh tidak masuk akal!"
"Jenny, jika ingin ibumu selamat dan semua alat medis tetap terpasang di tubuhnya yang lemah itu, turutilah apa mauku!" ujar Nathan dengan nada mengancam. Ancaman tersebut membuat lamunan Jenny terhenti seketika.
****
Jenny terkejut saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Nathan, tuan muda culun yang menjadi murid terbodoh di antara 450 siswa di SMA Taruna. "Jadi, jika kamu ingin aku sembuh dari semua luka trauma yang ditimbulkan oleh ayahmu, mulai sekarang kamu harus menciumku setiap satu jam sekali," ucap Nathan tegas.
****
Jenny adalah seorang perempuan yang sedari kecil hidup penuh kebahagiaan, bahkan hidupnya nyaris sempurna.
Ia terlahir dengan paras yang cantik, hidup penuh kebahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27.
Ke dua bola mata Nathan nampak membulat sempurna, bahkan kesadarannya berangsur angsur kembali.
Tatapan amarah dan juga kebencian yang tadi terlihat dari ke dua bola matanya lambat laun juga sirna.
Nathan terlihat bangkit berdiri, guna menjauhkan tubuhnya dari tubuh Jenny. Ia nampak memperhatikan seluruh tubuh Jenny, ia nampak memasang wajah terkejut kala baru menyadari keadaan tubuh pelayannya yang terlihat banyak sekali ruam dan merah merahnya.
"Kenapa dada dan juga wajah mu bisa semerah itu? Bahkan di area tangan juga lecet!" tegur Nathan dengan wajah khawatir sembari terus memperhatikan tubuh pelayannya.
Jenny hanya bisa terisak, bahkan ia juga terlihat menutup bagian dadanya yang terlihat hanya mengenakan kaca mata dada itu dengan tangannya.
"Astaga, apa yang aku lakukan?" gumam Nathan dalam hatinya, bahkan pandangan matanya itu juga tidak sengaja melihat ke arah kaki Jenny yang terluka.
Nathan pun reflek mengambil selimut yang berada tak jauh dari ranjang miliknya, lalu menutup tubuh bagian atas milik Jenny. Lalu ia nampak berjalan ke arah kursi sofa yang ada di dalam kamarnya. Ia terlihat memalingkan pandangannya itu ke arah lain.
Nathan terlihat duduk termenung, guna menenangkan degub jantungnya yang sekarang ini sungguh terasa sangat tidak aman. Ia juga di landa sebuah rasa bersalah yang sangat mendalam, kala mengingat apa yang tadi ia lakukan pada Jenny.
"Apakah kaki Jenny itu terluka karena aku? Karena waktu di sekolah tadi aku itu menarik tangannya untuk berjalan cepat, tapi kakinya tidak mengenakan alas kaki. Bukankah tadi ia itu pergi ke unit kesehatan sekolah agar bisa berduaan dengan Galen?" beberapa pertanyaan yang sekarang ini agaknya mengganjal di dalam hati Nathan.
"Tapi setelah beberapa tahun mengamati gerak geriknya, mengikuti kesehariannya. Jenny itu bukanlah orang seperti itu, bukankah selama ini Jenny selalu menolak ungkapan cinta Galen." gumam Nathan lagi, ia sendiri sebenarnya juga tidak mempercayai jika Jenny itu sampai rela masuk ke dalam unit kesehatan sekolah hanya untuk berduaan dengan Galen, apalagi di saat jam pelajaran itu sedang berlangsung.
Mengingat Jenny adalah seorang siswi yang paling populer dan terkenal paling pintar di SMA Taruna, di tambah lagi dengan hobi Jenny yang sangat menyukai membaca dan juga belajar, di tambah lagi Galen memang sudah mengejar cinta Jenny sejak lama. Namun selalu mendapatkan penolakan.
Sungguh sebuah hal yang tidak masuk akal, jika sampai Jenny rela meninggalkan pelajaran yang sangat ia sukai hanya demi Galen.
Nathan sendiri sedang diam mematung, ia sedang berdiskusi dengan dirinya sendiri di dalam hati, sampai ia tidak menyadari jika Jenny sudah masuk ke dalam kamar mandi, guna mengganti pakaiannya yang tadi rusak dengan baju pelayan yang biasa ia kenakan saat berkerja.
Karena Jenny hati sendiri sudah sangat terluka, setelah mendapatkan perlakuan yang sangat kasar dari tuannya, ia tidak mau menambah beban dirinya sendiri dengan mendapatkan amukan dari nyonyanya karena bekerja tidak becus.
Jenny nampak berjalan dengan kaki yang terlihat di seret ke arah kamar mandi, walaupun membutuhkan waktu yang lumayan lama. Akhirnya dirinya pun sampai di dalam kamar mandi.
Jenny menatap dirinya sendiri di dalam kaca besar yang ada di dalam kamar mandi, air mata terus luruh membasahi ke dua pipinya. Bayang bayang Nathan saat melakukan hal buruk padanya di atas ranjang tadi sungguh sangat mengganggu pikirannya.
kalo berkenan mampir juga ya😉