Lanjutan dari novel "Nikah Paksa Jadi Cinta"
Yang belum baca musim pertama bisa baca dulu ya, hehe...
.
.
Karena sebuah perjodohan yang diatur oleh orang tuanya membuat Diandra harus kabur dari rumah.
Diandra tak ingin dikekang. Ia ingin bebas menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Kevin Andrea Geraldy. Seorang pria yang ia ketahui adalah mantan dari sahabatnya sendiri. Hidupnya berubah dan benih cinta antara keduanya mulai tumbuh.
Namun, disisi lain Diandra tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri. Apa yang akan Diandra lakukan?
Simak yuk ceritanya🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8
Diandra merebahkan Kevin di kamarnya. Dengan susah payah akhirnya berhasil sampai di apartemennya. Ia juga bingung harus menghubungi siapa. Ia tak kenal dengan siapapun yang dekat dengan Kevin, kecuali Kanaya.
Diandra ragu untuk menghubungi Kanaya. Mengingat hubungan Kevin dan Kanaya tak baik, Diandra mengurungkan niatnya. Ia memutuskan untuk merawatnya di apartemen ini semalaman.
"Jean, apa kau sudah menghubungi dokter Zia?" tanya Diandra sambil menyelimuti Kevin.
"Sebentar lagi dokter Zia akan datang nona," balas Jean. Diandra mengangguk paham.
"Apalagi yang bisa saya bantu nona?" tanya Jean.
"Tidak ada. Kita tunggu saja dokter Zia datang. Aku takut memperburuk keadaannya," balas Diandra. Jean mengangguk pelan. Ia melangkah keluar dari kamar tersebut.
Tak lama setelah itu, dokter Zia datang. Ia segera memeriksa Kevin dan membalut luka yang ada dikeningnya. Untungnya tak perlu dibawa ke rumah sakit. Cukup dirawat di rumah saja.
"Ini bisa diminum saat dia sudah bangun nanti. Aku sudah membalut lukanya," ujar dokter Zia. Diandra tersenyum lega. Setidaknya tak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Terima kasih. Biar Jean mengantarmu kembali," ucap Diandra.
"Tidak perlu. Biar Jean di sini membantumu saja. Apakah dia pacarmu?" balas dokter Zia. Ia melirik Kevin yang tengah terbaring di atas ranjang. Diandra mengernyitkan dahinya.
"Siapa? Dia? Apa kau gila? Dia hanya bosku. Jangan ngaco deh," jawab Diandra. Ia memutar bola matanya dengan malas. Dokter Zia tertawa kecil.
"Oh ya? Kalau hanya bos kenapa kamu begitu peduli padanya? Kau sangat khawatir tadi," sahut dokter Zia. Diandra terdiam sejenak.
"A-aku... Aku tidak khawatir," gumam Diandra. Dokter Zia menepuk bahu Diandra dengan pelan. Ia tersenyum tipis.
"Baiklah. Kau rawatlah dia, jika ada apa-apa hubungi aku. Aku pergi dulu," ujar dokter Zia. Diandra mengangguk. Ia menyuruh Jean untuk mengantar dokter Zia hingga depan pintu apartemennya.
Diandra menatap Kevin yang masih belum sadarkan diri. Entah karena pengaruh alkohol atau karena kecelakaan tadi, Diandra tak mengerti. Diandra beralih duduk di tepi ranjangnya.
"Kau sepertinya begitu sedih. Jika tidak, tak mungkin sampai mabuk seperti ini," gumam Diandra.
"Kanaya..." gumam Kevin dengan pelan. Diandra menatap Kevin lamat-lamat.
"Maaf... Aku salah padamu... Jangan pergi dariku. Tidak... Aku tidak mau jauh darimu." Kevin mulai meracau.
"Sebenarnya sedalam apa kamu mencintai Naya? Dan sedalam apa kamu menggoreskan luka padanya? Kasihan sekali," gumam Diandra merasa heran. Ia membiarkan Kevin meracau. Mungkin dengan begitu, Kevin akan lebih baik setelah ini. Tanpa sadar, tangannya tergerak mengusap kening Kevin.
***
Pagi mulai menyapa. Perlahan, Kevin membuka matanya. Tempat yang begitu asing baginya. Ia mengerjap beberapa kali. Namun tubuhnya masih enggan untuk beranjak dari atas tempat tidur itu. Tatapannya ia alihkan ke sofa yang berada tak jauh dari sana. Seseorang tertidur dengan begitu pulasnya. Cantik, yah... Diandra tetap saja cantik meski saat tertidur. Kevin tersenyum tipis melihat Diandra yang terlelap seperti itu.
"Tunggu dulu. Kenapa ada dia di sini?" Kesadaran Kevin mulai penuh. Ia segera bangun dan duduk bersandar pada ranjang. Ini bukan kamarnya. Jadi sebenarnya ia berada di mana? Pikiran Kevin masih berputar mengingat apa yang terjadi semalam. Sialnya, ia hanya ingat pergi ke bar untuk minum sepuasnya. Meluapkan kesedihannya akibat mantan kekasihnya itu.
"Hei, bangun!" ucap Kevin sedikit mengeraskan suaranya. Namun Diandra sama sekali tak terganggu. Kepalanya terasa pusing. Ia menyentuh keningnya dan baru menyadari bahwa ia terluka.
Pukk
Kevin menimpuk wajah Diandra dengan bantal. Membuat Diandra terkejut dan segera bangun. Ia menatap Kevin sejenak.
"Apa yang kau lakukan? Tidak bisakah kau membiarkanku istirahat?" ucap Diandra dengan kesal. Pasalnya, semalaman Kevin tiba-tiba demam dan ia harus terjaga untuk mengompresnya. Ia tak setega itu membiarkan Kevin dalam bahaya. Yah, setidaknya Kevin tidak boleh mati di apartemennya.
Diandra melanjutkan tidurnya. Ia tak peduli dengan Kevin yang sudah sadarkan diri. Ia benar-benar lelah. Diandra hanya ingin tidur sejenak.
"Dasar wanita ini," gumam Kevin. Lalu ia beranjak menuju ke kamar mandi. Membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Selesai melakukan ritual paginya, Kevin segera menghubungi Mark. Ia bahkan tak tahu saat ini ada di mana.
Klek
Jean membuka pintu kamar Diandra. Berniat untuk membangunkan Diandra dan mengatakan jika sarapan sudah siap.
"Eh, Anda sudah bangun?" ucap Jean yang terkejut melihat Kevin sudah duduk di tepi ranjang.
"Kau siapa? Saya ada di mana?" tanya Kevin.
Jean menjawab pertanyaan dan rasa penasaran Kevin. Ia menceritakannya dengan detail. Karena tak ingin pria ini salah paham. Kevin melirik Diandra sambil tersenyum tipis.
"Baiklah, saya sangat berterima kasih pada kalian karena sudah merawatku. Dan saya benar-benar minta maaf karena sudah merepotkan kalian," ucap Kevin tulus. Jean tersenyum tipis.
"Biarkan dia istirahat. Saya akan memindahkannya ke ranjang. Sekali lagi saya sangat berterima kasih. Asistenku juga sebentar lagi akan ke sini," ucap Kevin. Ia menggendong Diandra dan memindahkannya ke atas ranjang. Ia menutup tubuh Diandra dengan selimut. Sementara Kevin akan menunggu Mark datang menjemputnya.
***
"Astaga... Jean, jam berapa sekarang? Kenapa kau tak membangunkanku? Aku harus bekerja hari ini," teriak Diandra saat terbangun dari tidurnya. Jean langsung masuk ke dalam kamar Diandra.
"Nona tenanglah. Tuan Kevin sudah memberi Anda cuti satu hari. Jadi, Anda bisa beristirahat," jawab Jean.
"Lalu di mana dia?" tanya Diandra.
"Tuan Kevin sudah pergi dari tadi pagi," jawab Jean. Diandra mengangguk.
"Syukurlah jika dia sudah sembuh," gumam Diandra. Ia beranjak dari tempat tidurnya. Melirik jam yang terletak di atas nakas. Pukul 10.30. Cukup lama Diandra tertidur hari ini. Diandra segera membersihkan diri. Untungnya ia tak harus masuk kerja hari ini.
***
Kevin masih termenung. Jarang-jarang saat rapat seperti ini Kevin mengabaikannya. Ia melamun memikirkan sesuatu. Akibat sikapnya itu, membuat rekan kerjanya canggung. Mereka juga tidak berani bertanya.
"Tuan muda," panggil Mark sambil menyentuh bahu Kevin. Kevin mendongak menatap Mark. Lalu tatapannya beralih pada rekan kerjanya.
"Ehm... Rapat hari ini sampai di sini saja," ujar Kevin. Mereka saling menatap satu sama lain. Namun segera pamit undur diri.
Kevin menyandarkan tubuhnya di kursinya. Ia menghela napasnya sejenak. Jemarinya memainkan bolpoin yang ia pegang.
"Mark, apa sudah kamu selidiki siapa pria yang bersama Naya?" tanya Kevin.
"Dia adalah teman kerja nona Naya tuan. Saat ini mereka tengah dekat satu sama lain," jawab Mark.
Kevin melempar bolpoin itu dengan kasar. Membuat Mark sedikit terkejut. Kevin mengepalkan tangannya dengan erat.
"Apa yang harus aku lakukan Mark? Apa Naya sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Kevin dan menatap Mark penuh iba. Mark merasa sedih dengan keadaan Kevin yang masih terbelenggu dengan masa lalunya.
"Jawab aku Mark! Apa yang harus aku lakukan?" bentak Kevin. Membuat Mark gugup.
"An-Anda harus bisa melupakan nona Naya tuan. Tidak baik bagi Anda jika terus mengejarnya seperti ini. Nona Naya sudah menemukan cinta barunya. Begitu juga Anda harusnya seperti itu. Jangan menyakiti diri sendiri dengan terus mengingat kesalahan di masa lalu tuan," jawab Mark dengan takut. Takut jika kata-katanya menyinggung Kevin.
Kevin terdiam sejenak. Ia mencerna setiap kata yang diucapkan Mark padanya. Ada benarnya juga ia melepas cinta itu. Namun, semua tidak semudah itu.
"Apa aku harus merelakanmu Nay? Apa ini yang kamu inginkan?" batin Kevin sedih.