Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Pertemuan di Ruang Rawat
Dua jam berlalu sejak dokter keluar dari ruang operasi. Helena dan James duduk berdampingan di kursi tunggu, saling menggenggam tangan. Robert dan Maria sesekali berjalan mondar-mandir, menunggu kabar bahwa Arthur sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Udara di rumah sakit terasa berat, tapi ada secercah harapan yang mulai tumbuh.
Seorang perawat mendekati mereka dengan senyuman ramah. "Keluarga pasien Arthur Fernando? Pasien sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Beliau sudah sadar, tapi masih dalam kondisi lemah. Bapak bisa menjenguk, tapi maksimal tiga orang dalam satu waktu."
James langsung berdiri. "Aku mau masuk."
Helena menatap James, lalu menatap Robert dan Maria. "Bapak dan Ibu masuk dulu saja. Saya dan James menyusul sebentar lagi."
Robert mengangguk. "Baik, kami akan lihat Arthur dulu." Robert dan Maria berjalan menuju ruang perawatan, meninggalkan Helena dan James di ruang tunggu.
James menatap Helena. "Ma, aku gugup. Aku belum pernah bicara langsung sama dia. Waktu di gudang tadi, itu hanya beberapa detik. Sekarang dia sadar, aku harus bicara banyak hal."
Helena tersenyum, mengusap rambut James. "Kamu tidak harus bicara banyak, Sayang. Cukup dengan kehadiranmu, dia sudah sangat bahagia. Dia sudah menunggu ini selama lima belas tahun."
James mengangguk, menarik napas panjang. "Baiklah. Aku siap."
Mereka berdua berjalan menuju ruang perawatan. Di sana, Arthur terbaring di atas tempat tidur, dengan selang infus di tangannya dan monitor detak jantung yang berdetak stabil. Wajahnya pucat, tapi matanya sudah terbuka. Di sebelahnya, Robert dan Maria sudah berdiri.
Saat Arthur melihat Helena dan James masuk, matanya langsung berbinar. Dia mencoba tersenyum, meskipun rasa sakit masih menjalari tubuhnya. "Hel... James..."
Helena berjalan mendekati tempat tidur, memegang tangan Arthur. "Arthur, bagaimana perasaanmu?"
Arthur mengerang pelan, tapi senyumnya tidak hilang. "Aku... aku baik-baik saja. Dokter bilang aku beruntung. Peluru tidak mengenai organ vital." Matanya beralih ke James yang berdiri di belakang Helena. "James... kau tidak apa-apa?"
James mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku baik-baik saja, Pa. Karena kau melindungiku."
Arthur mengulurkan tangannya yang lemah. James mendekat, mengambil tangan Arthur. Remaja itu menunduk, menatap tangan ayahnya yang penuh dengan perban.
"Maaf," bisik James. "Maaf aku baru bisa bertemu kamu sekarang. Maaf aku baru bisa memanggil kamu 'ayah' sekarang."
Arthur tersenyum, air matanya mulai mengalir. "Tidak apa, Nak. Yang penting kita sekarang sudah bertemu. Dan kita masih punya waktu untuk saling mengenal."
James mengangguk. Dia duduk di kursi di samping tempat tidur Arthur, tidak melepaskan tangan Arthur. "Aku sudah tahu banyak tentang kamu, Pa. Aku sudah baca berita tentang perusahaammu, tentang proyek-proyek yang kamu kerjakan. Aku tahu kamu orang yang hebat."
Arthur tertawa kecil, lalu mengerang karena sakit. "Hehe... jangan terlalu percaya berita, Nak. Kadang berita itu dilebih-lebihkan."
James tersenyum. "Tapi aku tahu satu hal yang pasti. Kamu rela mati demi aku. Itu sudah cukup membuktikan bahwa kamu ayah yang hebat."
Helena, yang berdiri di sisi lain tempat tidur, menangis pelan. Dia melihat bagaimana Arthur dan James saling menatap dengan penuh kasih sayang. Sebuah ikatan yang terputus selama lima belas tahun, kini mulai tersambung kembali.
Robert mendekati Helena, menepuk bahunya. "Kita semua harus berterima kasih padamu, Helena. Kau sudah membesarkan James dengan baik, meskipun kau melakukannya sendirian."
Helena menatap Robert. "Saya hanya melakukan apa yang terbaik untuk James. Dan sekarang, dia bisa bertemu ayahnya."
Arthur menatap James. "James, aku ingin kamu tahu. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi. Aku janji."
James mengangguk. "Aku juga tidak akan meninggalkan kamu, Pa. Meskipun Mama mungkin belum setuju, tapi aku ingin sering bertemu kamu. Aku ingin mengenal kamu lebih dekat."
Helena mendengar itu, dan dia tersenyum. "James, Mama tidak akan menghalangi. Ayahmu sudah membuktikan bahwa dia layak menjadi bagian dari hidupmu. Mama akan mendukung apa pun keputusanmu."
Arthur menatap Helena dengan tatapan penuh terima kasih. "Hel... terima kasih."
Helena tersenyum, mengusap pipi Arthur. "Jangan banyak bicara. Kau perlu istirahat."
Malam itu, James tidak mau meninggalkan ruang perawatan. Dia meminta izin untuk tidur di kursi di samping Arthur. Helena mengizinkan, dan dia sendiri duduk di sofa di sudut ruangan, menemani mereka berdua.
Suasana ruang perawatan menjadi hangat. Arthur dan James berbicara tentang hal-hal ringan—tentang sekolah James, tentang teman-temannya, tentang cita-citanya menjadi arsitek seperti Arthur. Helena mendengarkan dari kejauhan, dengan senyuman yang tidak pernah pudar.
Robert dan Maria pulang lebih dulu, tapi mereka berjanji akan kembali besok pagi. Sebelum pergi, Robert menatap Arthur dan James. "Arthur, kau beruntung memiliki anak seperti James. Jangan sia-siakan kesempatan ini."
Arthur mengangguk. "Aku tidak akan, Ayah. Aku berjanji."
Saat ruangan tinggal berisi Arthur, James, dan Helena, Arthur menatap Helena. "Hel, apa kamu mau tinggal di Jakarta? Bersama James? Aku tidak memaksa, tapi aku ingin kita semua bersama."
Helena tersenyum. "Aku belum bisa memutuskan, Arthur. Tapi aku janji, aku tidak akan pergi lagi. James bisa tetap tinggal di Surabaya atau di sini. Tapi aku akan selalu ada untuknya. Dan untukmu."
Arthur tersenyum. "Itu sudah cukup, Hel. Aku hanya ingin kalian aman."
Malam semakin larut. James tertidur di kursi, dengan kepala bersandar di pinggir tempat tidur Arthur. Arthur menatap putranya yang tertidur, dan dia tersenyum.
Inilah yang aku inginkan selama lima belas tahun. Sebuah keluarga.
Helena duduk di sofa, menatap Arthur dan James. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, dia merasa tenang. Tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi rahasia. Hanya ada keluarga.
Dan di luar jendela rumah sakit, bintang-bintang bersinar terang, menerangi malam yang penuh harapan.