NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Simpanan Tuan Douglas

Mendadak Jadi Simpanan Tuan Douglas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Transmigrasi
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

WARNING!! HANYA UNTUK DEWASA!!

Cecilia tidak menyangka, baru saja pindah jiwa ke tubuh wanita lain malah terjebak jadi simpanan Tuan Douglas yang dingin.

Cecilia pun berpikir untuk bisa kabur dari jeratan Tuan Douglas, semakin Cecilia menjauh maka semakin kuat juga Tuan Douglas ingin memilikinya.

"Kau hanya milikku sayang, sampai kapanpun akan tetap menjadi milik ku!" Douglas

"Enak saja! Lebih baik aku mati saja daripada jadi simpanan!" Cecilia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Emosi Yang Terpendam

"Argh! Sialan! Sialan! Sialan!" maki Cecilia setengah berbisik sambil melangkah terburu-buru menaiki anak tangga kos-kosan.

​Langkah kakinya dihentak-hentakkan dengan kasar ke lantai, menjadi pelampiasan atas rasa kesal, marah, dan takut yang kini berkecamuk di dalam dadanya. Betapa malang nasibnya! Dia memang sangat mendambakan sebuah kisah transmigrasi, tapi dalam bayangannya, dia ingin menjadi gadis desa yang lugu atau seorang putri bangsawan zaman kerajaan yang hidup terhormat, bukan malah masuk ke dalam raga seorang wanita simpanan alias pelakor!.

​"Aku ini benci pelakor! Kenapa takdir malah mempermainkanku separah ini?!" rutuknya dalam hati, terus menaiki tangga dengan napas yang memburu.

​Sesampainya di lantai dua, tepat di tikungan koridor yang agak gelap menuju kamarnya, kekacauan kembali terjadi. Karena jalannya terburu-buru dan pikirannya sedang melayang jauh memikirkan ancaman Douglas, Cecilia tidak melihat arah depan.

​Bruk!

​Tubuhnya menabrak dada bidang seseorang dengan cukup keras. Kantong plastik berisi nasi goreng hangat yang baru saja dibelinya langsung terlepas dari genggamannya dan melayang jatuh ke lantai.

​Beruntung, bungkusan itu mendarat mulus tanpa langsung robek. Namun, akumulasi dari rasa kesal, marah, lelah, dan ketakutan yang sudah mencapai puncaknya membuat pertahanan mental Cecilia mendadak runtuh seketika.

​Bukannya bersyukur makanannya selamat, Cecilia justru langsung jongkok di lantai koridor. Ia memeluk lututnya, menatap nanar bungkusan plastik nasi gorengnya yang tergeletak di lantai, lalu pecah tangisnya sejadi-jadinya.

​"Hiks... hiks... Jahat banget! Kenapa semuanya menyebalkan?! Aku lapar, aku capek, aku mau hidup tenang! Kenapa pria kulkas itu terus menerorku?!" tangis Cecilia histeris, bahunya bergetar hebat.

​Pria yang tidak sengaja ditabrak Cecilia terperanjat kaget luar biasa. Ia berdiri mematung menatap gadis di depannya yang mendadak menangis meraung-raung di lantai koridor.

​Pria itu tidak lain adalah penghuni berbadan tegap berkaos oblong abu-abu yang sempat berpapasan dengan Cecilia tadi sore, pria dingin yang sebelumnya dengan sengaja mengabaikan senyuman ramah Cecilia.

​Raut wajah sang pria kontan berubah panik. Ia celingukan menatap ke sekeliling lorong yang sepi. Bagaimana jika penghuni kamar lain keluar dan melihat kejadian ini? Apa kata mereka nanti? Pria itu dikenal sebagai pribadi yang sangat malas berinteraksi dengan orang lain, apalagi terlibat dalam drama cengeng seperti ini.

​Ingin rasanya ia mengabaikan dan melangkah pergi begitu saja ke kamarnya. Tapi melihat seorang gadis menangis sesenggukan di depan pintunya sendiri, rasanya terlalu kejam dan aneh jika ditinggalkan begitu saja.

​Dengan gerakan canggung, pria itu berjongkok di samping Cecilia.

​"Ehem... Nona, hei... tenanglah," ucap pria itu dengan suara berat yang terdengar kaku. Ia mengulurkan tangan ragu-ragu untuk membantu Cecilia berdiri.

"M-Makananmu tidak hancur kok. Hanya jatuh ke lantai. Jangan menangis seperti itu, nanti dikira aku berbuat jahat padamu."

​Cecilia mendongakkan wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Matanya yang memerah menatap tajam ke arah sang pria, sementara isak tangisnya justru semakin menjadi-jadi.

​"Kamu tidak tahu apa-apa! Hiks... nasibku sedang hancur lebur! Hidupku berantakan! Dan sekarang nasi gorengku ikut terancam tidak bisa dimakan!" racaunya dengan suara parau bercampur isakan khas orang yang sedang stres berat.

​Melihat Cecilia semakin histeris, kepanikan sang pria mencapai puncaknya. Ia pikir wanita di depannya menangis hanya karena makanannya jatuh.

​"Baiklah, baiklah! Jangan menangis lagi, kumohon," bujuk pria itu dengan nada putus asa. Ia meraih kantong plastik nasi goreng yang tergeletak di lantai.

"Nasi gorengnya masih terbungkus rapat, belum tumpah. Kalau kamu tidak mau makan itu karena kotor, nanti aku ganti uangnya dua kali lipat, atau aku belikan yang baru. Jadi, tolong hentikan tangisanmu sekarang."

​Alih-alih mereda, mendengar perkataan pria itu justru membuat Cecilia semakin meraung kencang. Tangisannya menggema di sepanjang koridor lantai dua yang sunyi.

​Kriek...

​Suara pintu kamar di dekat mereka mendadak terbuka lebar. Seseorang dari kamar sebelah melongokkan kepala keluar, tampak terganggu oleh suara keributan di luar.

​Wajah sang pria langsung menegang panik. Jika situasi ini berlarut-larut, seluruh penghuni kos akan keluar dan mengerubungi mereka. Tanpa pikir panjang lagi, pria itu langsung meraih pergelangan tangan Cecilia, menarik tubuh gadis itu berdiri, lalu menyeretnya secara paksa masuk ke dalam kamarnya sendiri.

​Brak!

​Pintu kamar ditutup rapat dan dikunci dari dalam.

​Di dalam kamar sang pria yang bernuansa minimalis dan rapi, Cecilia tidak melawan sama sekali. Ia hanya pasrah ditarik masuk, berdiri mematung di dekat pintu sambil terus menunduk dan terisak pelan, tenggelam dalam kebingungan dan keputusasaannya yang sudah mencapai tingkat akut. Pikirannya benar-benar sudah buntu.

​Pria itu menghela napas panjang dengan kasar, melepaskan pegangan tangannya dari tangan Cecilia. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, merasa frustrasi menghadapi makhluk cengeng di hadapannya ini.

​"Duduklah di sana," kata pria itu dengan nada memerintah namun tidak bernada galak, menunjuk ke arah sebuah sofa single di sudut kamar.

​Cecilia tidak menjawab. Dengan langkah terhuyung-huyung seperti orang linglung, ia berjalan pelan menuju sofa yang ditunjuk, lalu kembali mendudukkan diri sambil memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya di antara lipatan tangan. Isak tangisnya berubah menjadi isakan kecil yang menyayat hati.

​Pria itu berjalan ke atas meja kerjanya, mengambil selembar tisu kotak, lalu berbalik mendekati Cecilia. Ia menyodorkan tisu tersebut ke hadapan gadis itu.

​"Nih, bersihkan air mata dan ingusmu. Jangan menangis seperti anak kecil yang kehilangan permen," ucap pria itu datar, berusaha menetralkan rasa canggung di antara mereka.

​Cecilia mendongak perlahan, mengambil tisu dari tangan sang pria dengan jari-jarinya yang masih sedikit bergetar. Ia menyeka pipinya yang basah, lalu menatap pria di depannya dengan tatapan kosong dan memerah.

​"Kamu... kenapa membawaku masuk ke kamarmu?" suara Cecilia terdengar serak dan lemah, jauh berbeda dari karakternya yang biasanya cerewet dan berapi-api.

"Apa kamu mau berbuat jahat padaku juga? Silakan saja... hidupku sudah hancur hari ini. Diusir dari apartemen, diteror mantan sugar daddy, dicap sebagai pelakor, dan sekarang terjebak di kos-kosan antah berantah..."

​Pria itu mengerjap pelan, tertegun mendengar rentetan kalimat frustrasi yang meluncur begitu saja dari bibir Cecilia. Alis tebalnya bertaut bingung.

"​Sugar... sugar daddy? Pelakor? Apa wanita ini sedang berhalusinasi atau mengalami gangguan jiwa ringan?" batin pria itu bertanya-tanya.

​"Aku tidak berniat berbuat jahat padamu, Nona," balas pria itu dengan suara beratnya, melipat kedua tangan di depan dada sambil bersandar di tepi meja.

"Aku hanya tidak ingin kamarku digerebek oleh tetangga sebelah karena ada wanita yang menangis histeris di depan pintuku tengah malam begini. Reputasiku bisa hancur."

​Cecilia mendengus pelan, menarik napas panjang untuk menstabilkan dadanya yang sesak. Ia menatap sekeliling kamar pria itu. Suasananya tampak tenang, bersih, dan berbau maskulin. Sama sekali tidak ada kesan menyeramkan seperti yang ia khawatirkan tadi.

​"Terima kasih..." cicit Cecilia lirih, suaranya terdengar jauh lebih tenang dari sebelumnya, meskipun sisa-sisa air mata masih menghiasi wajah cantiknya.

"Dan minta maaf karena aku sudah menabrakmu dan membuat keributan di luar."

​Pria itu menatap Cecilia lekat-lekat selama beberapa detik, mengamati bagaimana gadis di depannya ini berubah dari sosok yang meledak-ledak marah di lorong tadi menjadi sosok yang begitu rapuh dan kebingungan di dalam kamarnya.

​"Sudahlah. Jangan dipikirkan," jawab pria itu singkat. Ia menunjuk kantong plastik nasi goreng yang tadi sempat diletakkannya di atas meja.

"Makanlah nasi gorengmu itu sebelum benar-benar dingin. Kamu bilang tadi kelaparan, kan? Perut kosong tidak akan membantumu menyelesaikan masalah."

​Cecilia menatap bungkusan makanan di atas meja, lalu kembali menatap sang pria dengan pandangan penuh rasa bersalah sekaligus heran. Pria yang tadi siang tampak begitu dingin dan mengabaikannya, kini justru memberinya tempat berlindung dan menyuruhnya makan.

​"Kamu... tidak sedang berniat meracuniku, kan?" selidik Cecilia setengah bercanda, mencoba memulihkan sedikit sifat cerewetnya.

​Pria itu mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang nyaris tak terlihat.

"Kalau aku berniat meracunimu, aku tidak perlu repot-repot menarikmu masuk ke kamarku dan memberikan tisu. Makan saja sana."

​Cecilia menghela napas panjang. Rasa laparnya yang sempat hilang karena panik kini kembali merajai perutnya. Dengan ragu-ragu, ia membuka bungkusan plastik tersebut. Aroma gurih nasi goreng langsung menguar di dalam kamar, membuat perutnya kembali bergemuruh pelan.

​Di tengah situasi hidupnya yang jungkir balik dan penuh ketidakpastian ini, setidaknya malam ini Cecilia mendapatkan sedikit kehangatan dari seseorang yang tidak disangkanya sama sekali.

Bersambung...

1
partini
gimana ceritanya ko jijik sama tunangan apa tau suka open lobang
kalau jijik mah batalin aja ga jadi nikah lah masih romantis pula dasar laki" gedeon 🤦
partini
ehh ternyata
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Potatoes 🥔
Clingy banget 😒
Potatoes 🥔
Makanya, komunikasi yang bener😒
partini
mau kabur kemana mending ga usah lah nanti ketemu lagi percuma aja
Mia Camelia
seneng nya ngliat mereka berdua akur2 jom and jerry🤣🤣🤣🤣
Mia Camelia
coba dari dulu doghlas bersikap manja ky bgini, pasti cecil gk bakal kabur🤣🤣🤣
Mia Camelia
waduh jangan2 doughlas udah berubah nih jadi greenflag🤔🤔🤔
ati2 cecil🤭🤭🤭
Mia Camelia
akhir nya cecilia udah semangat lgi🤭🤭🤭
ati2 doughlas klo cecilia kabur🤣🤣🤣🤣
Mita Paramita
douglas terlalu kejam
Mia Camelia
kalo sama2 susah berkomunikasi ky gini, kasian cecilia nya😔😔😔
thor plis kasih doughlas pelajaran dong,jdi gemes nih🤣🤣🤣🤣
It's me Ri🥕: Tentunya kita kasih pelajaran, cuma kan ga mungkin langsung masuk kesitu kak, bentar lagi konflik kok dan Douglas nyesel😁 Ditunggu yaaa
total 1 replies
partini
kaya rollercoaster mereka berdua
mungkin methong kedua kali cil baru bebas
Alissia
awas nanti cilcila hamil🤭🤭😖😖
Alissia: hamil thor tapi sama Dougles di paksa anu anu sampek keguguran cilcilanya😢😢
total 2 replies
Alissia
kok gak peka sih Dougles tak getok palamu🤭🤭
Alissia
apa Douglas punya ke pribadian ganda 🤔🤔🤭🤭
Alissia
bayi tuanya mimik cucu 🤣🤣
Alissia
kayaknya Douglas udah jatuh cinta sama Ciilcila tapi gengsi mau menggungkapkan🤭🤭
Alissia
awas bucin Douglas🤭🤭🤭
Dewi Anggraeni
Lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!