NovelToon NovelToon
The Unexpected Pair : ArrabelLeo

The Unexpected Pair : ArrabelLeo

Status: tamat
Genre:Teen / Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:129.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saras Wati

Sequel dari Pesona Setelah Menjadi Janda

(Mohon untuk membaca novel sebelum nya agar kalian tidak bingung)

***

Arra, gadis berusia delapan belas tahun yang baru saja melangkah ke dunia perkuliahan, tengah menghadapi berbagai perubahan dalam hidupnya. Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah—keberadaan Leo Rexander.

Leo mengaku sebagai pacarnya. Arra tidak pernah mengiyakan. Namun Leo tetap yakin, seolah hubungan mereka telah terpatri sejak lama. Sikapnya yang tenang namun posesif, membuat banyak orang meragukan ucapannya. Dan keraguan itulah yang mendorong sejumlah pria mencoba merebut tempat yang tak pernah benar-benar kosong di sisi Arra.

Meski seringkali berbenturan, Arra dan Leo justru saling melengkapi—dua kutub berbeda yang terus tertarik satu sama lain, meski tak pernah tahu kapan harus berhenti.

Ini bukan sekadar kisah cinta remaja, tapi tentang dua hati yang keras kepala, saling mempertahankan tanpa pernah benar-benar saling mengucap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saras Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beruntung Karena Memiliki Leo

"Lo sekelas kan sama Gladys?" tanya Leo pada Arra. Saat itu mereka sudah berada di depan kelas untuk mata kuliah pertama Arra.

Arra mengangguk. "Iya, tapi kayaknya dia belum datang deh."

"Kalau gitu, gue tungguin di sini sampai dia datang. Ayo masuk," ajak Leo, lalu melangkah lebih dulu masuk ke ruang kelas.

Leo memang berbeda jurusan dengan Arra. Awalnya, dia juga ingin mengambil jurusan psikologi agar bisa selalu bersama Arra, namun ayahnya menentang dan meminta Leo masuk ke jurusan bisnis manajemen. Akhirnya, Leo pun menuruti permintaan ayahnya itu. Selama masih berada di universitas yang sama, Leo tak mempermasalahkannya.

Ia memilihkan tempat duduk di barisan tengah untuk Arra.

"Duduk di sini. Nanti Gladys duduk di belakang lo," ucap Leo.

"Kalau Gladys biarin aja dia pilih tempat duduknya sendiri. Aku nggak enak ngatur-ngatur gitu."

Leo hanya diam. Ia ikut duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Di dalam kelas baru ada beberapa mahasiswa, sehingga banyak kursi masih kosong.

Tak lama kemudian, suara cukup menggelegar mengalihkan perhatian mereka dari ponsel masing-masing.

"Arra!"

Arra tersenyum. "Gladys."

Gladys langsung berlari masuk dan menghampiri Arra.

"Maaf ya, tadi malam telpon sama chat lo telat gue bales. Soalnya ribet banget di belakang panggung kemarin," ucap Gladys.

Arra mengangguk. "Nggak apa-apa. Aku kira kamu nggak datang, makanya aku telepon. Eh, ternyata kamu tampil. Btw, kamu tadi malam keren banget, beneran kayak idol Korea."

Gladys tersenyum malu. "Bisa aja lo. Gue belum sehebat itu kali. Tapi kayaknya lo tadi malam pulang sebelum acaranya selesai, ya?"

Arra sempat melirik Leo yang hanya diam memperhatikan mereka, lalu kembali menatap Gladys dan mengangguk. "Iya, aku tiba-tiba sakit perut semalam."

"Ya ampun, lo salah makan?" tanya Gladys.

"Kalau gue minta lo duduk di belakang Arra, lo mau?" potong Leo tiba-tiba, membuat Arra mengurungkan niat menjawab Gladys.

Gladys menoleh ke arah Leo yang seperti biasa berekspresi datar, lalu menatap Arra. Tak lama, ia mengangguk.

"Nggak masalah kok. Gue duduk di mana aja aman. Lagian emang rencana gue mau duduk dekat Arra."

Arra tersenyum lega.

Leo langsung berdiri. "Gue keluar. Lo kalau mau ke mana-mana, minta temenin Gladys. Jangan sendirian. Ngerti?"

Arra mendongak dan menatap mata Leo, lalu mengangguk. "Iya, ngerti."

Leo tersenyum tipis, kemudian mengelus rambut Arra yang hari ini dibiarkan tergerai.

"Gue pergi dulu," ucapnya lembut.

Arra hanya mengangguk dengan wajah sedikit memerah. Ia malu karena Gladys menyaksikan bagaimana Leo memperlakukannya seperti anak kecil.

"Gue titip Arra," kata Leo sambil melirik sekilas ke arah Gladys, lalu melangkah keluar dari kelas.

Arra dan Gladys memperhatikan pemuda itu sampai ia tak terlihat lagi di balik pintu.

"Arra, lo beruntung banget dibucinin sama cowok kayak Leo," seru Gladys.

Arra mengibaskan tangannya. "Dia nggak semanis itu. Aslinya dia itu mengerikan."

Ia teringat wajah marah Leo yang bahkan membuatnya sendiri merasa takut.

Gladys kemudian duduk di kursi yang tadi ditunjuk Leo, yaitu di belakang kursi Arra.

Arra memutar tubuhnya agar bisa mengobrol dengan Gladys. Mereka bercerita banyak hal tentang diri masing-masing. Kelas pun mulai ramai seiring berdatangannya mahasiswa lain. Setengah jam kemudian, dosen pertama datang dan kelas pun menjadi hening.

---

Sementara itu, Leo sudah berada di kelasnya. Tanpa ia sadari, ternyata Prilly—gadis yang mencoba mendekatinya semalam—adalah teman sekelas sekaligus satu jurusan dengannya. Prilly duduk tepat di depannya.

"Leo, nggak nyangka kita satu jurusan dan satu kelas," ujar Prilly sambil tersenyum lebar. Wajahnya tampak berseri sejak melihat Leo di ruangan yang sama.

Leo tidak menghiraukannya. Ia sibuk memainkan ponsel.

"Leo, kamu beneran pacaran sama cewek yang semalam itu?" tanya Prilly, berbalik menghadap Leo.

Leo masih diam, sama sekali tidak terpengaruh oleh kehadiran Prilly.

"Padahal kalian nggak cocok. Kamu itu cool, keren, ganteng. Tapi cewek yang semalam itu kelihatan manja dan lemah. Pokoknya kalian nggak serasi," cerocos Prilly seolah sudah sangat akrab dengan Leo.

Leo mengangkat wajah, menatap datar ke arah Prilly.

"Terus gue cocoknya sama lo?" tanyanya. Suaranya berat, membuat siapa pun yang mendengarnya bisa berdebar.

Prilly terlihat malu. Ia memilin jari-jarinya dan memasang wajah yang dibuat-buat manis.

"Ih, kalau kamu nanyanya gitu, berarti kamu merasa dong kalau kita cocok?"

Leo mencodongkan wajahnya, mendekati Prilly. Jarak yang dekat membuat Prilly salah tingkah. Ia ingin menyentuh wajah Leo yang begitu tampan dari dekat, namun kalimat Leo menghentikannya.

"Ya, kita cocok. Sebagai majikan dan pembantu. Bahkan pembantu di rumah gue lebih cantik dari lo."

Leo langsung berdiri dan pindah tempat duduk.

Tangan Prilly yang masih menggantung di udara langsung terkepal. Jika tadi ia malu karena salah tingkah, kini ia malu karena direndahkan.

Ia pun membalikkan badan, duduk menghadap ke depan. Tangan mengepal, berusaha menahan rasa kesal.

Tak lama, dosen datang dan kelas pun menjadi senyap.

---

Jam pelajaran pertama selesai dengan cepat, karena hanya berisi perkenalan dosen dan materi kuliah.

Kini Arra dan Gladys berada di kantin, menunggu pesanan sambil mengobrol. Tiba-tiba terdengar keributan antar mahasiswi yang menarik perhatian.

Arra menyipitkan mata, mencoba melihat lebih jelas.

"Loh, itu Kak Monica, kan?" tanya Gladys.

Arra akhirnya mengenali wajah yang dimaksud dan mengangguk pelan.

"Eh, Kak! Gara-gara lo, gue dipanggil dosen! Gue cuma nurut perintah lo, tapi gue yang kena getahnya!" teriak seorang gadis dengan nada marah.

"Apaan sih lo? Datang-datang ngamuk nggak jelas. Stres ya?" sahut Monica dengan angkuh.

Gadis itu makin marah, lalu menarik Monica agar berdiri dari tempat duduknya.

"Lo pura-pura nggak ngerti? Oke, gue ingetin. Tadi malam, lo nyuruh gue nganterin minuman yang udah lo campur obat pencahar ke salah satu maba. Udah inget belum?"

Wajah Monica mendadak pucat.

"A-apa sih? Nggak ngerti gue maksud lo."

"Mau gue tunjukin chat yang lo kirim semalam, hah?" gertak gadis itu.

Arra terdiam. Kini ia tahu siapa pelaku yang membuatnya sakit perut semalam.

"Wih, gila sih Kak Monica. Tapi kira-kira siapa ya maba yang dikasih obat itu?" tanya Gladys, lalu menoleh pada Arra. "Jangan-jangan lo ya, Ra? Lo kan sakit perut semalam."

Semua orang langsung menoleh ke arah Arra.

"Iya, Kak Monica nyuruh gue nganter minuman ke dia," kata gadis itu.

Bisik-bisik langsung terdengar. Monica makin malu.

"Gimana? Masih mau ngelak lagi?"

Tiba-tiba seseorang datang—Leo.

Monica menatap Leo dengan marah.

"Lo yang nyuruh dia fitnah gue, kan?" tuduhnya.

Leo mendekat, tangan masih di saku.

"Bukti di depan mata, lo masih bisa putar balik fakta? Mau gue bikin dia dikeluarin dari kampus ini biar lo ngaku?"

Gadis yang jadi saksi langsung geleng cepat.

"Please jangan DO gue. Gue baru masuk. Ini semua salah Kak Monica. Gue siap jadi saksi, bahkan serahin bukti chat-nya."

Monica melotot.

"Eh, gila! Gue cuma kasih obat pencahar, bukan racun! Ngapain sampai lapor polisi!"

Leo tersenyum miring. "Ngaku juga akhirnya."

"Gue peringatkan lo terakhir kalinya. Jangan pernah ganggu pacar gue lagi. Kalau sampai lo ulangi, gue pastikan lo kehilangan sesuatu dalam hidup lo. Paham?"

Monica tak berani menatapnya.

Leo mendekat, lalu berbisik, "Waktu SMA, gue pernah nyiram air keras ke orang yang nyakitin pacar gue. Lo bisa jadi orang berikutnya."

Leo lalu pergi menghampiri Arra yang masih syok.

"Woi, gue nggak bakal DO, kan?" teriak si gadis.

Leo hanya mengangkat jempol tanpa menoleh.

Gadis itu lega, lalu menggertak Monica dan pergi.

Monica menahan malu, lalu berlari meninggalkan kantin dengan air mata meleleh.

"Lo udah makan?" tanya Leo setelah duduk di samping Arra.

Arra masih diam.

"Hei, kenapa? Sakit?"

Arra menoleh. "Jadi Kak Monica pelakunya?"

Leo mengangguk. "Iya, dan gue udah balas dia dua kali lipat. Dia nggak akan berani gangguin lo lagi."

Gladys menatap Leo kagum.

"Lo keren banget. Semoga gue bisa dapetin pacar kayak lo. Arra, lo beruntung banget punya Leo."

Leo mengangguk kecil, setuju.

"Kalau gitu, ambil aja Leo. Aku udah bosan," ucap Arra membuat Leo dan Gladys menoleh.

Leo langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Arra.

"Lo yakin? Lupa kalau dulu lo pernah marah cuma gara-gara ada cewek yang peluk gue? Hm?"

Wajah Arra langsung memerah. Ia pun membuang muka.

"Gue sama lo udah ditakdirin bersama. Nggak ada siapa pun yang bisa misahin kita. Bahkan gue udah minta langsung sama Tuhan supaya lo jadi pasangan gue seumur hidup. Jadi, jangan pernah mikir buat lari dari gue, Arrabella Cassius." ucap Leo dengan suara rendah, lembut seperti bisikan, tapi menyimpan kegelapAn yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat.

1
loura cahya
seru banhet thor ud baca novel sebelmunya, in kok mandek dsni, smngat lagi berkarya thor😍😍😍
Rita Juwita
seruuu abiss thor..
Rita Juwita
ceritanya bagus thor seruu di lanjutkan ya thor...
Mely Kanzafaiz
udah lupa ceritax gimana saking lamax ga update 😄🙏
Yulia
Hem...ini lanjut apa enggak sih .....padahal lg seru serunya
mika
tidak ada sambungan lagi ke
Diyah Ayu
ayo ka lanjut, , nanggung
Sri Siyamsih
apa sdh tamat k . up lg dong ,seru critanya
sri endah
.
zaeeeeee
hah
Halim Lim
karyanya bagus
Afdul Mutholip
kok gk di lanjut kak..?
Asih Sulastri
sangat seru, mohon up lagi kelanjutannya
Asih Sulastri
kak up dong, seru nih ceritanya🙏🙏🙏
Intan Nurwulan
Ini up nya kpn ka othor? Udh lama bgt🙏
BZNILUFER
kak up dong kakak lama banget gak up aku fans kakak loh
v3r4
Bagus ceritanya👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Dedeh Dian
ternyata bagus alur ceritanya...ok lanjut author.. makasih
Aurelia Pelni harefa
cinta segitiga ya Thor😂😂😂
Neti Herawati
sgt menarik jln cerita'y tdk mbosankan yg mbaca'y..smgat thour💪💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!