Arkana Wibowo Seorang Dosen tampan yang terkenal killer. Diusianya yang mencapai kepala tiga. Pria berjambang tipis itu masih betah melajang. Satu ketika ia bertemu dengan Kanaya, salah satu mahasiswinya yang super aneh, dan selalu membuat Arka kesal. Namun dibalik tingkah menyebalkan Kanaya. Gadis itu mengetahui sesuatu yang Arkana tak menyadarinya. Apakah sebenarnya yang Kanaya tahu tentang dosen killernya itu? Temukan keseruan jawabannya di setiap bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Kanaya merasa malu saat keluar dari WC yang ada di ruangan Arka, dosen yang selama ini selalu menyulitkannya. Gadis itu menatap dirinya dalam gaun santai yang diberikan Arka, merasa tidak percaya bahwa ia mengenakannya. Dengan langkah ragu, Kanaya mendekati meja dosen berwajah tegas itu."Hem, kamu lebih terlihat perempuan tulen jika seperti ini," ujar Arka dengan nada santai, membuat Kanaya membulatkan matanya kesal."Jadi, Pak Arka meragukan saya sebagai wanita?" desis Kanaya dengan nada sengit. Arka hanya terkekeh mendengar balasan Kanaya, lalu mengajaknya berbicara lebih jauh."Tidak begitu juga. Tapi jujur, memang lebih menarik melihatmu mengenakan gaun santai seperti ini," jawab Arka sambil menatap Kanaya tajam.Kanaya merasa jengkel dengan perkataan Arka, namun ia tak bisa menahan rasa kesalnya, mengapa pula, dosen Killer itu tiba-tiba begitu peduli padanya. Sementara itu, Arka terus memperhatikan Kanaya dengan tatapan misterius yang membuat gadis itu semakin merasa tidak nyaman.Mereka terdiam sejenak, suasana di ruangan tersebut menjadi sangat tegang. Hingga akhirnya, Arka menghela napas dan berdiri.
"Ayo lah, orang tuaku sudah menunggu," ucap Arka bangun dari kursi kerjanya. Pria itu lalu menyambar kunci mobilnya, membawa Kanaya untuk dikenalkan pada orang tuanya. Di dalam mobil, Kanaya duduk dengan perasaan bercampur aduk; hatinya terasa gugup. Meski dirinya hanya sebagai kekasih bohongan untuk Pak Dosennya itu, namun tetap saja, bagi Kanaya, hal itu sungguh menegangkan.Arka menoleh dan melihat wajah tegang Kanaya. "Wajahmu terlihat tegang, rileks lah. Jangan buat orang tuaku merasa curiga karena wajahmu itu," ujar Arka memberitahu Kanaya. Kanaya menoleh ke arah Arka, memaksakan senyum sembari mengangguk.Mobil mereka perlahan melaju memasuki kawasan perumahan mewah yang eksklusif, Kanaya menatap dengan mata nanar, seolah tempat tersebut membangkitkan ingatan masa lalu yang tersimpan di relung hatinya. "Ada apa?" tanya Arka, sorot matanya mengkhawatirkan. Namun, Kanaya hanya menggeleng pelan, tak kuasa membuka mulutnya. Dalam hati, Kanaya berbisik memohon, "Ya Tuhan, semoga ketakutanku ini tak terjadi." Ia terus menggumamkan doa, hati bergetar ketakutan, sepanjang memasuki kompleks perumahan yang identik dengan sosok dosen galak itu. Dibawa Arka, mobil mulai mengarah ke rumah yang tak asing, tempat di mana Kanaya sering menghabiskan waktu bermain. "Pak Arka, apakah kita tidak salah rumah?" tanya Kanaya, ingin memastikan sembari berusaha menyembunyikan rasa cemasnya. Arka menyeringai, balas memandang Kanaya. "Kamu pikir saya pikun? Hingga lupa rumah sendiri?" jawab Arka dengan nada semringah yang menyebalkan. Dada Kanaya berdesir, merasakan gelembung kekecewaan berkumpul. Ia menghela nafas panjang, kemudian membuangnya kasar, mencoba meresapi situasi yang semakin mendebarkan. "Ayo turun," ajak Arka. Sedangkan, di depan pintu, berdiri pria dan wanita paruh baya yang tak bisa Kanaya lupakan. Wajah-wajah yang pernah ada dalam kehidupannya, dan mungkin sebentar lagi, akan kembali mengisi babak baru yang penuh tanda tanya.
Kanaya turun dari mobil dengan hati berdebar-debar. Arka segera mendekat, mengepalkan tangannya untuk menggandeng tangan Kanaya. Namun, reaksi Kanaya sungguh di luar dugaan Arka. Dengan wajah pucat dan mata berbinar ketakutan, Kanaya langsung menghindar dan menepis tangan dosen kesayangannya itu. Arka pun tercengang, tak mengerti penyebab reaksi Kanaya yang begitu hebat. "Aku hanya ingin menggandeng tanganmu, kamu lupa..? Jika Kamu sekarang kekasih, dari Arkana Wibowo," ujar Arka sambil mengingatkan Kanaya tentang hubungan mereka. Kanaya menelan ludah, serak dan penuh ragu.
"Em...maaf," gumamnya dengan wajah memucat. Tidak menyerah, Arka kembali mencoba meraih tangan Kanaya yang masih ketakutan. Gadis itu menatap Arka dengan tatapan canggung. Arka mengangguk, lalu berbisik tepat di belakang telinga Kanaya. Ketika kata-kata itu masuk ke telinga Kanaya, tubuhnya seketika menegang. Kenangan masa lalu saat Kanaya menjadi korban pelecehan ketika pembullyan di sekolah melintas dalam benaknya.
"Tersenyumlah, santai saja. Orang tuaku tipe orang yang penyayang," bisik Arka lembut untuk menenangkan Kanaya. Kanaya mendengus dan berusaha mengesampingkan perasaannya,
"Saya sudah tahu," ujar Kanaya tegas. Arka menyipitkan matanya. Namu pria itu, mengabaikan ucapan Kanaya dan tetap menjaga senyum untuk memberi dukungan kepada mahasiswi menyebalkan itu.
Arka membawa Kanaya ke rumah untuk mengenalkannya pada ibu dan ayahnya. Begitu mereka masuk, Arka langsung dengan sopan memperkenalkan Kanaya, "Ma,Pa, kenalkan, ini Kanaya." Namun, alih-alih memberikan respon yang diharapkan Arka, Karisma malah menyipitkan matanya dan langsung memeluk Kanaya dengan penuh kebahagiaan. Sementara Wibowo malah mengelus lembut kepala Kanaya.
"Sayang, kamu apa kabar? Masyaallah cantiknya, udah lama gak, main ke sini" puji Karisma pada Kanaya, sahabat putrinya. Arka hanya bisa menyipitkan matanya, bingung dengan sambutan hangat ibunya pada Kanaya."Makasih, Tan, iya Tan soalnya jadwal kuliah padat setiap minggunya" ujar Kanaya dengan senyum hangat, yang menenangkan. Karisma lalu berbalik pada Arka, wajahnya berseri-seri."Mama gak nyangka lo, Mas. Ternyata wanita pilihanmu itu Naya," ungkap Karisma dengan nada penuh kebahagiaan. Karisma dengan senangnya hingga menepuk-nepuk piki putranya dengang gemas. Arka terdiam, tertegun oleh pengakuan ibunya. Dia tidak menyangka ibunya ternyata sudah mengenal dekat dengan Kanaya sebelumnya.
Arka merasa mati kutu, seketika. Kecemasan menyeruak di hatinya.
"Oh, sial, ternyata Mama mengenalnya," pikirnya dengan panik yang memuncak. Dia merasa terperangkap dalam jaring permainan, yang telah ia buat sendiri. Mereka pun duduk di meja makan. Tak lama, Sasa tiba dari pusat perbelanjaan, membawa perbekalan untuk kembali ke luar negeri. Melihat situasi yang sedang berlangsung, Sasa mengernyit bingung.
"Naya..." Sasa terkejut dan heran melihat sahabatnya yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Sedangkan Kanaya tersenyum canggung, mata berkaca-kaca dan langsung berdiri tegak dari tempat duduknya. "Maaf, kehadiranku mengejutkan kalian semua," bisik Kanaya dengan wajah yang penuh dengan rasa bersalah. Batinnya meronta, hatinya berkecamuk karena harus membohongi sahabat serta orang tua Arka yang telah lama, Kanaya kenal baik padanya. Semua itu terjadi atas tekanan yang diberikan Arka padanya. Kanaya menatap tajam pada dosennya yang tak berperasaan itu, matanya memancarkan kekesalan yang tak terbendung. Arka pun membalas tatapan Kanaya dengan dingin.
Di antara semua orang yang ada di ruangan itu, hanya Kanaya yang tahu betapa jahatnya sosok Arka, yang mereka percayai sebagai putra terbaiknya itu.
Lalu pandangan Kanaya beralih pada Sasa, yang sedang memeluknya.
"Gak, papa aku senag malah. Tapi kenapa kamu tidak kasih tahu aku kalau kamu mau ke sini? tau gitukan tadi aku beliin kamu soto babad kesukaanmu," ujar Sasa, lalu kembali membawa Kanaya duduk. Sementara, Kanaya hanya bisa tersenyum kikuk; dia tidak tahu harus menjawab apa. Dalam kebingungan, gadis itu menatap Pak Dose-nya, memberi isyarat agar ia menjelaskan situasi yang kini membelit mereka. Sementara itu, Arka merasa seakan darahnya membeku di dalam tubuhnya, saat sadar jika ternyata adiknya juga mengenal Kanaya, gadis yang dengan gegabah ia ajak menjadi kekasih pura-puranya itu.
"Ya Tuhan, apa lagi ini?" gumam Arka sambil meletakkan sendok di tangannya kembali ke atas piring, ketidakmampuan untuk makan semakin terasa jelas. Selera makannya seketika menguar entah kemana.
jgn lemah dong jd cewek nay...
si naya jgn tolol2 amat deeh...mdh luluh aj sm arja..tegas dikit woyy...😏😜😏
si arka cuma bafsu aj yg gedek ke naya bukan cinta...
kalau gak cinta aja sih mending ya, tapi tuh dosen cinta sama orang lain.
kalau dianya gak cinta juga masih ada mendingnya minimal gak makan hati, Lah ini nikah bertepuk sebelah tangan mau lagi ampun
harusnya tegas dong jangan mau di nikahi dengan alasan apapun