NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana gagal

Pagi itu Karin bangun dengan perasaan senang sekali. Tadi malam dia baru saja terpikir ide bagus mau membuatkan sarapan spesial buat Arkan sebagai tanda terima kasih terutama setelah dia tau sikap tegas cowok itu di kampus cuma buat melindungi dirinya. Dia sudah beli bahan kemarin sore diam-diam, berharap pagi ini bisa bikin kejutan kecil yang manis.

Masalahnya... Karin itu jago ngomong, jago ngerjain tugas, tapi soal masak-memasak di luar nasi goreng telur dadar biasa, kemampuannya masih diuji coba terus.

Dia mengintip ke kamar sebelah, pintu Arkan masih tertutup rapat. Bagus, berarti cowok itu belum bangun atau masih beres-beres. Karin langsung lari ke dapur dengan semangat berapi-api. Dia mau bikin nasi uduk sederhana, telur balado, dan kerupuk kesukaan Arkan yang pernah dia lihat di keranjang belanja minggu lalu.

"Pertama, nyalakan kompor. Oke, aman. Masukkan beras dan santan..." katanya sambil liat resep di hp lalu dia Cicipi garamnya. "kurang asin, tambah lagi aaaa. " saking semangat nya dia tak sadar terlalu banyak menumpahkan garam "Eh, kebanyakan ini..., Ooo kata nya kalau kebanyakan garam bisa tambah air lagi."

karin terlalu bersemangat Sampai akhirnya nasinya jadi agak lembek kayak bubur setengah matang. Karin menggaruk kepala bingung, tapi berusaha Gak apa-apa, yang penting niatnya tulus.

"oke selanjutnya...bikin sambal balado. merica merah, bawang, tomat, terus tumis dengan minyak yang lumayan banyak. Aromanya emang sedap banget kalau udah cheff karin masak hihi...," pujinya pada diri sendiri sampai hidungnya gatal. Tapi karena pengen rasanya nendang kayak di warung langganan, dia menambahkan sepuluh buah cabai rawit lagi tanpa berhitung.

"Arkan kan suka pedas, pasti cocok!" batinnya yakin.

Saat dia sedang sibuk mengaduk wajan dengan semangat, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar terbuka. Arkan muncul dengan kemeja rapi, tas sudah tersampir di bahu, siap berangkat ke kampus. Dia berhenti di ambang pintu dapur, matanya melotot melihat pemandangan di depannya.

Meja dapur penuh cangkang bawang, tumpahan tepung di lantai, wajan berasap tebal, dan Karin yang pipinya memerah, matanya berair, sambil mengaduk sambal sekuat tenaga.

"Kamu... lagi ngapain?" tanya Arkan pelan, bingung setengah khawatir.

Karin kaget sampai sendoknya hampir jatuh. "Eh! Bapak kok udah bangun? Kan rencananya mau kejutan!"

"Kejutan apa? Kejutan mau bakar dapur saya?" Arkan mendekat, menutup hidung karena asap yang makin tebal. "Itu minyaknya udah mau meletup lho."

"Ah enggak kok! Ini aku bikin sarapan spesial buat Bapak!" Karin tersenyum bangga, lalu menyendok sedikit sambal itu ke piring kecil. "Coba deh, aku bikin sendiri lho."

Arkan tidak tega menolak. Dia mengambil sendok, mencicipi sedikit. Detik itu juga matanya membelalak lebar, bibirnya langsung memerah, dan keringat dingin seketika menetes di pelipisnya. Dia diam diam menahan rasa panas yang menjalar dari lidah sampai ke perut, sampai telinganya pun terasa panas.

"Gimana? Enak kan?" tanya Karin antusias.

Arkan menelan ludah susah payah, lalu buru-buru mengambil gelas air putih dan menghabiskannya sekaligus. "Karin... ini bukan pedas biasa. Ini rasanya kayak habis gigit gunung berapi yang lagi meletup. Kamu pakai berapa cabai sih?"

"Lumayan, dikit aja kok," jawab Karin polos. "Bapak kan suka pedas."

"Suka pedas bukan berarti mau makan sambal yang bisa bikin lidah mati rasa begini!" Arkan tertawa kecil sambil mengipasi mulutnya dengan tangan. "Dan ini nasinya... kita mau makan nasi uduk atau bubur nasi?"

Wajah Karin langsung layu kayak kerupuk kena air. Dia menunduk melihat kakinya. "Maaf ya... tadi kebanyakan air. Aku cuma mau makasih soal kemarin..."

Melihat wajah sedih Karin yang benar-benar seperti anak kucing yang salah tingkah, hati Arkan langsung luluh. Dia meletakkan gelas kosong itu, lalu menepuk pelan atas kepala Karin.

"Ya sudah, niatnya bagus. Terima kasih ya sudah repot-repot bangun pagi," ucapnya lembut. "Tapi kalau mau masak yang aneh-aneh, nanti panggil aku saja. Kita bikin bareng-bareng. Masak itu seni, bukan uji nyali buat perut,apa lagi di pagi hari seperti ini."

Akhirnya sarapan pagi itu berubah jadi roti tawar dan selai yang ada di kulkas. Tapi anehnya, justru suasana jadi lebih seru. Arkan tertawa melihat ekspresi kecewa Karin, dan Karin sendiri akhirnya ikut tertawa menyadari betapa konyolnya dirinya tadi.

Siang harinya di kampus, nasib Karin belum berakhir.

Pak Arkan mengadakan ujian lisan dadakan di tengah pelajaran. Mahasiswa dipanggil satu per satu ke depan meja dosen untuk menjawab pertanyaan secara langsung. Giliran Karin datang, dia berjalan dengan hati-hati takut salah jawab, dan takut kalau Arkan sengaja menanyakan hal sulit gara-gara kejadian sambal tadi pagi.

"Jelaskan kenapa fenomena ini bisa terjadi secara mendadak," tanya Arkan sambil menatapnya tenang.

Karin bernapas lega, pertanyaannya ternyata tidak terlalu sulit. Dia mulai menjawab dengan lancar, sampai di bagian akhir dia lupa istilah yang tepat. Alih-alih diam saja, mulutnya bergerak sendiri "Jadi... intinya itu kayak... kayak sambal yang aku bikin pagi tadi Pak! Tiba-tiba meledak dan nggak ada persiapan!"jawab karin sambil berbisik pelan yang dikiranya tidak dapat di dengar oleh anak lain padahal nyatanya salah.

Seluruh ruangan kelas hening sejenak, lalu meledak tertawa bersamaan.

"HAH? Sambal? Apa hubungannya sambal sama pelajaran ini?" tanya teman sebelahnya sambil menahan tawa.

Wajah Karin seketika merah padam sampai ke leher. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, ingin sekali menghilang masuk ke dalam lantai. Arkan pun kaget, tapi dia berusaha tetap serius sebagai dosen padahal sudut bibirnya jelas bergetar menahan tawa sekuat tenaga.

"Ehm... maksud saya... eh maksud saya..." Karin bingung mau menjelaskan apa, makin panik makin salah ngomong. "Maksudnya... persiapannya kurang matang! Bukan sambalnya yang kurang matang!"

Teman-teman makin tertawa keras, bahkan ada yang sampai tepuk tangan. Arkan akhirnya tidak tahan lagi, dia tertawa kecil sambil mengetuk meja pelan supaya suasana tenang kembali.

"Sudah, cukup," kata Arkan sambil tersenyum tipis. "Intinya kamu benar persiapan yang kurang matang memang bisa menyebabkan hal yang tidak terduga. Nilai kamu aman, tapi lain kali jangan bawa-bawa menu sarapan ke dalam ujian ya."

Karin mengangguk cepat, lalu lari kembali ke tempat duduk dengan wajah yang masih merah menyala.

"kalau laper bilang karin mending makan dulu sana." ledek salah-satu mahasiswa sampai yang lain ikut tertawa.

Sepanjang sisa pelajaran dia tidak berani mendongak lagi, yakin sekali Arkan pasti menahan tawa setiap kali melihat ke arahnya.

Sore hari saat pulang ke apartemen, Arkan langsung menyambung pembicaraan itu begitu pintu tertutup.

"Jadi sambal itu masuk materi kuliah juga sekarang ya?" godanya sambil meletakkan tas.

"Udah ah jangan diingat-ingat terus!" seru Karin sambil melempar bantal sofa ke arahnya. "Aku kan panik tadi! Siapa suruh bapak nanya pertanyaan susah!"

Arkan menangkap bantal itu dengan santai, lalu mendekat ke arah Karin yang masih cemberut manja. "Tapi lucu kok. Belum pernah ada mahasiswa saya yang pakai contoh sambal saat ujian lisan. Kamu yang pertama."

"Itu bukan prestasi!"

"Bagi saya itu prestasi," jawab Arkan tiba-tiba nadanya berubah lembut. "Setidaknya kamu berani bicara, berani jujur kalau kurang siap. Dan yang paling penting... kamu bisa bikin saya tertawa seharian ini. Padahal biasanya saya jarang senyum-senyum sendiri di kantor."

Karin terdiam, rasa malunya perlahan hilang berganti rasa hangat di dada. Dia menunduk senyum-senyum sendiri. "Bapak emang aneh deh."

"Mungkin iya," Arkan mengangkat bahu, lalu berjalan ke arah dapur. "Udah sana cuci muka, istirahat dulu. Kali ini biar saya yang masak. Kita bikin sayur bening dan ikan goreng saja, aman dari ledakan cabai."

Malam itu mereka makan bersama dengan tenang, sambil sesekali tertawa mengingat kejadian pagi dan siang tadi. Tidak ada momen romantis yang berlebihan, tapi kebersamaan yang penuh tawa dan kecerobohan kecil justru membuat hati mereka makin terikat erat.

Karin sadar satu hal di samping sosok dosen yang kaku dan serius, Arkan ternyata orang yang paling santai. Dan Arkan pun sadar, hidupnya yang dulunya cuma berisi jadwal kuliah dan berkas-berkas kertas, sekarang jadi jauh lebih berwarna dan seru berkat tingkah gadis ceroboh di sebelahnya.

1
Ariany Sudjana
pasti ini si pelacur murahan Laras yang ketemu Rio
Ariany Sudjana
semoga Arkan bisa mengungkap siapa pelaku pembunuhan
Ariany Sudjana
pasti ini kerjaan si pelacur murahan Laras
Mbak tii: mari kita liat nanti 🤭
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, finally Karin and Arkan together forever 😄
Mbak tii: hehe Harus dong
total 1 replies
Ariany Sudjana
mampus kamu Laras, terima saja kamu kalah kelas dibanding Karin. heh jalang, karin itu perempuan baik-baik dan cerdas, sedangkan kamu hanya pelacur murahan yang ga tahu diri dan bodohnya kebangetan... kamu itu harus dibunuh... ga ada gunanya pelacur murahan seperti kamu itu hidup
Mbak tii: hihi🤭😄
total 1 replies
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Laras, kamu kalah kelas dibanding Karin dan perempuan sampah seperti kamu cocoknya di rumah bordil 😂😂🤣🤣
Mbak tii: iyapsss🤭
total 1 replies
falea sezi
lacur gatel🤣
Mbak tii: kk tahan🤭🤣
total 1 replies
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Laras, kamu kalah jauh dibandingkan Karin, yang kamu bilang kampungan itu.... perempuan sampah seperti kamu lebih cocok di rumah bordil 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
kenapa Arkan bukannya bilang kalau Karin sudah punya suami? tapi jangan bilang kalau Arkan itu suaminya
elief
lanjut thor
Mbak tii: siap kk
total 1 replies
elief
Luar biasa👍
Mbak tii: mksih kk
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!