"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Vito mendengus kasar saat melihat kelakuan dua orang di belakangnya yang mendadak bisu dan malah sibuk saling main mata satu sama lain.
"Kalau kalian ke sini cuma untuk main-main, pulang sekarang. Menatap salju nggak akan bikin perut kita kenyang."
"E-eh, enggak kok, Kak! Ini... kami lagi fokus mendeteksi keberadaan mangsa lewat... lewat udara!" dusta Julian asal ceplos dengan tampang seserius mungkin.
Yisla langsung menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha setengah mati agar tawanya tidak menyembur keluar mendengar alasan seabsurd itu.
Vito hanya memutar bola matanya dengan malas, tidak sudi menanggapi bualan Julian. Ia kembali menghadap kegelapan hutan.
"Diam, dan perhatikan langkah kalian. Kita sudah masuk wilayah perburuan."
Kesunyian hutan malam yang mencekam seketika kembali menguasai.
Wush...
Udara mendadak drop lagi, tanda-tanda kedatangan Duo Hemisphere sialan itu.
"Author," panggil Animus yang tiba-tiba sudah duduk di atas ranting pohon kering, sementara Anima bergelayut manja di pundak Astra.
"Sayangku~" bisik Anima tepat di telinganya. "Gimana kalau kita tambahkan genre horror-thriller di bab ini? Biar ada bumbu monster pemakan daging yang mengintai di balik kegelapan. Seru, kan? Rawwwsss~"
"Nggak! Gak mau! Aku tolak keras!" balas Astra spontan dengan bisikan histeris yang tertahan, sembari menggelengkan kepalanya dengan brutal.
"Aku maunya cukup genre survival biasa aja, jangan ditambah horor sialan!"
"Julian?" Yisla yang berjalan di sampingnya langsung menoleh keheranan, menatap Julian yang tampak komat-kamit sendirian.
"Kamu... kamu ngobrol sama siapa?"
Wush! Duo Hemisphere itu langsung lenyap seketika, meninggalkan Astra dengan Yisla yang kebingungan.
Julian tersentak, buru-buru menyengir kaku sambil mengusap tengkuknya.
"E-eh? Gak ada siapa-siapa, Yisla. Anu... udara malam ini dingin banget, ya? Bawaannya emang suka bikin halu, hehe..."
Yisla mengerp-erjapkan matanya beberapa kali, makin yakin kalau teman barunya ini agak kurang beres akibat benturan meja tadi siang.
Tiba-tiba, Vito mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi ke udara. Langkah kakinya kini berhenti total.
"Berhenti," bisik Vito.
Yisla dengan sigap menarik lengan Julian, menahan pemuda itu agar tidak menabrak punggung Vito. Di depan mereka, Vito sengaja menurunkan cahaya obornya. Mata pria itu seolah bisa menembus kegelapan, tertuju lurus ke arah semak-semak yang berjarak dua puluh meter di depan mereka.
Astra ikut menyipitkan mata. Jantungnya kini berdegup kencang. Di balik ranting-ranting kering, tampak sepasang mata berwarna merah menyala yang bersinar di kegelapan, menatap lurus ke arah mereka.
Srett... Jasss!
Tanpa aba-aba, Vito dengan kecepatan luar biasa melepas anak panah dari busurnya. Anak panah itu melesat membelah angin malam dan langsung menancap telak di balik semak itu.
Ckiieeeekkk!
Suara pekikan melengking yang terdengar kesakitan langsung memecah kesunyian hutan.
"Kena," gumam Vito datar, melangkah maju menghampiri semak-semak tersebut.
Astra dan Yisla buru-buru mengekor di belakangnya. Begitu semak-semak itu disibak oleh Vito, tampak seekor hewan kecil berbulu putih bersih yaitu seekor rubah salju—sedang terkapar dengan anak panah yang menancap di kaki belakangnya. Hewan malang itu merintih pelan dengan sepasang mata merahnya yang tampak berkaca-kaca seolah sedang menahan sakit.
Melihat kondisi hewan yang begitu menggemaskan namun terluka itu, hati Yisla langsung terenyuh. Gadis itu spontan memegang lengan kakaknya dengan raut wajah memohon.
"Kak Vito, tunggu!" seru Yisla iba. "Tolong cabut panahnya pelan-pelan, Kak... Kasihan rubahnya, jangan dibunuh ya! Dia lucu banget soalnya, kita bawa pulang dan obati saja, ya? Terus kita pelihara!"
Vito menatap adiknya, lalu beralih menatap rubah salju itu dengan dahi berkerut, menimbang-nimbang antara isi perut mereka atau rasa kasihan sang adik.
Vito mendengus ragu. "Yisla, stok makanan kita menipis. Rubah salju ini kalau dijual ke pasar harganya setara tiga koin emas. Cukup buat beli stok makanan selama sebulan."
Mendengar nominal itu, Astra langsung menelan ludah. Tiga koin emas melayang dong?!
"Kak, kumohon..." suara Yisla bergetar, ia meremas lengan jaket Vito.
"Kita bisa cari cara lain. Jangan jual dia... lihat matanya, ketakutan banget tahu. Kumohon, Kak Vito..."
Yisla mengeluarkan jurus tatapan memelas legendarisnya. Vito sempat membuang muka, lalu menggerutu pasrah. Titik lemah fatalnya memang cuma adiknya sendiri.
"Cih, terserah kau sajalah," gumam Vito ketus. Ia berlutut, lalu mencabut anak panah di kaki rubah itu dengan satu gerakan cepat dan presisi.
Ckiiek! Rubah itu memekik kecil, lalu terkulai lemas saat Vito membalut lukanya dengan kain yang dia sobek dari pakaiannya.
"Cepat bungkus dia dan taruh di gerobak," perintah Vito pada Julian. "Kalau dia mati di jalan, kau yang tanggung jawab."
"S-siap, Kak!" Julian dengan sigap membungkus hewan berbulu putih itu dengan syalnya, lalu meletakkannya dengan ekstra hati-hati ke dalam gerobak.
Yisla langsung berseri-seri. "Terima kasih, Kak Vito! Kamu emang yang terbaik!"
"Berhenti memujiku atau aku akan berubah pikiran," sahut Vito dingin sambil menyampirkan busurnya.
"Ayo lanjut. Kita harus cari buruan lain yang bisa dimakan dan dijual."
Dua jam telah berlalu di tengah-tengah kegelapan hutan yang makin menusuk.
Vito bahkan sudah memasang tiga jebakan tali dan umpan di titik-titik strategis. Mereka bertiga meringkuk di balik semak-semak, menunggu dalam keheningan yang amat sangat.
Namun, jangankan beruang atau rusa, tanda-tanda keberadaan kelinci pun sama sekali tidak ada.
"Haaaaahhhummm..." Julian menguap lebar untuk kesekian kalinya hingga air matanya menetes. Kepalanya sudah angguk-angguk saking mengantuknya, hampir saja ambruk ke tumpukan salju.
"Julian, hussh! Jangan berisik," bisik Yisla, sambil menyenggol lengan Julian pelan. "Nanti mangsanya kabur tahu!"
"Boro-boro kabur, Yisla... mangsanya aja kayaknya udah pada tidur selimutan," balas Julian berbisik lemas, matanya kini sudah setengah terpejam.
"Insting predatorku sekarang mendadak berubah menjadi insting pengen kasuran."
Vito yang berdiri tak jauh di depan mereka akhirnya mengembuskan napas berat. Ia menurunkan busurnya, lalu berbalik dengan wajah frustrasi yang tertahan.
"Sial. Gak ada apa-apa malam ini," gerutu Vito, menatap hamparan salju yang kosong melompong. "Jebakannya gak tersentuh sama sekali."
Yisla menghela napas kecewa, lalu melirik ke arah Julian yang matanya sudah merem-melek menahan kantuk.
"Terus gimana, Kak? Kita pulang aja? Julian juga kelihatannya udah mau pingsan berdiri."
Vito melirik Julian dengan pandangan merendahkan. "Katanya punya insting predator kuat. Baru begini saja sudah mau mati nampaknya."
Julian langsung mengerjapkan matanya, ia meringis kaku sambil menegakkan punggungnya dengan terpaksa.
"E-eh? Nggak kok, Kak! Ini... ini namanya teknik tidur berjalan ala predator, Kak! Hehe..."
Vito tidak berniat meladeni ucapan pemuda freak itu. "Pulang. Angkat gerobaknya, Julian. Kita tidak bisa dapat apa-apa lagi malam ini."