Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!
Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!
Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPK 5
"Apa mungkin dia sudah memiliki ilmu kanuragan sebelum datang ke perguruan ini?" gumamnya bertanya-tanya dalam hati.
"Sudah jelas dia berbohong, Paduka. Mana mungkin manusia lemah seperti dia bisa membunuh empat perampok yang cukup terkenal di daerah ini. Kalaupun Arya bisa ilmu kanuragan, kenapa setiap kali hamba hajar tidak pernah membalas?" cerocos Teja tanpa sadar.
Ki Sambernyawa mendelik lebar menatap putranya yang lepas kendali. "Apa kau bilang? Berarti lebam-lebam di tubuh Arya itu karena ulahmu?"
Teja tiba-tiba tersadar telah salah bicara. Dia tidak mungkin menarik kembali ucapan yang sudah terlontar dari bibirnya. Nasi sudah menjadi bubur, Teja dengan sedikit menyombongkan diri mengakui perbuatannya.
"Manusia lemah seperti dia tidak pantas ada di perguruan kita, Ayah! Selama dia ada di sini, aku tidak akan berhenti mengganggu sampai dia pergi!"
"Kau telah melakukan kesalahan fatal, Teja. Jika kau tahu siapa Arya sebenarnya, memandang matanya saja kau tidak akan berani!" bentak Ki Sambernyawa.
Teja mengernyitkan dahinya kebingungan. Dia tidak paham apa yang apa yang sudah diucapkan ayahnya.
Setali tiga uang dengan Teja, Raja Gajayana dan Putri Citra pun tak bisa menyembunyikan kebingungan mereka. Pandangan mereka tertuju tajam kepada pemuda berambut kemerahan yang tetap menundukkan kepalanya.
"Sudah, Guru. Tidak usah dilanjutkan lagi. Benar apa yang dikatakan Teja, aku hanya orang biasa yang lemah, dan selamanya akan tetap begitu," sela Arya. Dia tidak ingin jati dirinya terungkap di depan semua orang yang sedang menatapnya.
"Mohon maaf, Paduka. Hamba harus memasukkan kayu bakar itu ke dalam," sambungnya.
"Tidak, Arya. Kau tetap di sini dan tidak boleh kemana-mana! Teja harus mendapat hukuman berat karena kesalahan yang sudah dibuatnya kepadamu," sahut Ki Sambernyawa.
Arya tidak memperdulikan ucapan KI Sambernyawa. Dia melangkahkan kakinya mendekati kayu bakar yang teronggok tidak jauh dari tempatnya berdiri semula.
Setelah meletakkan ikatan kayu bakar di atas pundaknya, Arya memandang Ki Sambernyawa untuk sesaat. "Sepertinya hari ini adalah hari terakhir aku berada di perguruan ini, Guru," ucapnya sebelum melangkahkan kaki untuk menyimpan kayu bakar di dekat dapur.
"Sebenarnya Arya itu siapa, Ayah?" intonasi suara Teja jauh lebih rendah dari pada semula.
"Jangan banyak bertanya. Jika Arya sampai pergi dari perguruan ini, maka kau akan mendapat hukuman berat!" balas Ki Sambernyawa.
Teja tertunduk ketakutan setelah mendapat ancaman dari ayahnya. Dia tidak berani untuk bertanya lebih lanjut meski rasa penasarannya belum terjawab.
"Ki, apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku? Siapa Arya sebenarnya?" kali ini ganti Raja Gajayana yang bertanya.
"Sebaiknya kita bicara di dalam saja, Paduka. Hamba sudah berjanji kepada orang tua Arya untuk tidak membocorkan identitasnya."
"Hmmm, baiklah kalau begitu."
"Mari, Yang Mulia, Gusti Putri!" ajak KI Sambernyawa.
Sementara itu, setelah meletakkan kayu bakar di tempat penyimpanan, Arya bergegas menuju kamarnya. Pemuda itu sudah bertekad untuk meninggalkan Perguruan Elang Putih dan pergi mengembara. Meski tidak punya arah dan tujuan, tapi dia berkeyakinan jika di luar sana kemampuannya akan lebih dibutuhkan.
Dengan berjalan mengendap-endap, Arya keluar dari kamarnya. Matanya menatap ke sekeliling untuk memastikan tidak ada yang melihatnya. Sebuah bungkusan kain yang berisi pakaian sehari-hari sudah tergantung d bahunya. Dan di tangan kanannya, sebilah pedang pemberian ibunya tergenggam dengan erat.
Dalam satu lompatan ringan, Arya dengan mudah melompati dinding kayu yang mengelingi kompleks perguruan Elang Putih.
Di satu ruangan, Raja Gajayana dan Putri Citra masih menunggu jawaban dari rasa penasaran yang menghantui pikiran mereka.
Sebelum berbicara, Ki Sambernyawa menghela napas berat dan menghembuskannya perlahan secara berulang.
"Hamba akan mengatakan siapa Arya sebenarnya. Tapi sebelumnya hamba minta agar Paduka tidak mengatakan kepada siapapun terkait apa yang kita bicarakan di tempat ini. Sebab hamba sudah berjanji kepada kedua orang tuanya tentang rahasia yang harus hamba jaga," ucap Ki Sambernyawa.
"Aku berjanji akan menjaga rahasia ini dengan baik. Kedua orang tuanya pasti mempunyai suatu tujuan tentang hal ini,” balas Raja Gajayana.
"Benar sekali, Paduka. Kedua orang tua Arya menginginkan agar putranya hidup tanpa tergantung nama besar ayah dan ibunya, dan kebetulan sekali itu berbanding lurus dengan sifat Arya yang sederhana." Ki Sambernyawa menuang sebuah kendi berisi air ke dalam 3 buah gelas dan mempersilahkan Raja Gajayana dan Putri Citra untuk meminumnya.
"Apa Paduka pernah mendengar nama seorang pendekar legenda, pendekar yang paling kuat dari yang terkuat dan telah lama menghilang dari dunia persilatan. Pendekar itu bernama Ranu atau yang berjuluk Pendekar Dewa Api?" sambung Ki Sambernyawa.
"Apa Ranu itu ayahnya Arya?" tanya Raja Gajayana. Tangannya meraih gelas bambu yang ada di depannya.
"Benar, Paduka."
Senyuman lebar nan hangat tercetak di bibir Raja Gajayana. Dugaannya tentang sosok Ranu yang terlihat dari sorot mata Arya ternyata benar adanya. Padahal dia tadi sempat meragukannya.
"Bukan hanya mendengarnya, Ki. Bahkan aku sangat mengenalnya. Selain memiliki kekuatan yang jauh di luar batas kemampuan manusia, sifat Ranu yang sederhana juga begitu luar biasa. Dulu jaman masih mudanya dia, aku pernah menawarinya untuk menjadi pejabat penting di istana. Tapi dia menolak dengan halus dan tidak punya keinginan untuk memiliki pangkat atau posisi di istana."
Putri Citra yang memiliki nama Citra Cendana berpikir dalam-dalam, siapa yang dimaksud dalam pembicaraan keduanya, dan kenapa ayahnya tidak pernah bercerita kepadanya.
Pandangan 3 pasang mata di dalam ruangan itu teralih ke arah pintu yang terketuk dari luar.
"Masuk!" kata Ki Sambernyawa.
Seorang murid berjalan masuk dengan wajah tertunduk dan air mukanya tertekuk seperti menyimpan suatu kegundahan.
Setelah memberi hormat, murid tersebut kemudian mulai berbicara, "Mohon maaf, Guru. Arya sudah tidak ada di kamarnya, bahkan semua pakaiannya pun dibawanya pergi. Aku sudah mencarinya di seluruh penjuru tempat yang ada di dalam perguruan kita, tapi tak juga menemukan keberadaannya."
Deg!