Shira adalah pengasuh ke-14 yang berhasil bertahan lebih dari dua bulan dan satu-satunya pengasuh yang berhasil membuat Lulu - gadis kecil pemurung yang diasuhnya - tersenyum. Ia menyukai pekerjaannya, karena dia setulus itu mengasuh Lulu. Sampai suatu malam, Ruan - ayah Lulu - yang sedingin es kutub, memberikannya tawaran kerjasama dengan gaji lima kali lipat dan bonus gaji setiap hari! Tawaran fantastis yang tidak bisa diabaikan oleh seseorang yang sedang membutuhkan suntikan dana darurat seperti Shira.
Masalahnya kerjasama itu berupa pernikahan kontrak dimana Shira harus berperan sebagai istri sungguhan di depan semua orang. Kontrak itu akan diatur dalam pasal-pasal tertulis yang disepakati bersama, salah satunya adalah "Tidak boleh melibatkan perasaan pribadi dalam menjalankan peran."
Tapi masalahnya, ketika sandiwara membuat peran terasa nyata, Shira menyadari perasaannya telah melanggar pasal. Ia tidak lagi bisa meneruskan, apa lagi ketika ibu kandung Lulu datang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08. Pasal Baru
Shira cemas. Bagaimana tidak? Siang hari bolong tiba-tiba ponselnya menampilkan notifikasi inbox masuk dari email yang dimilikinya. Dia menggigit bibir, kakinya mulai bergerak tak nyaman, ibu jari hanya berjarak satu senti dari permukaan layar untuk bisa menyentuh dan membuka isi dari notifikasi email masuk itu, dan jantungnya berdegup cepat. Namun pada akhirnya dia menyentuh notifikasi itu setelah mengatur napasnya sedemikian rupa selama sepuluh menit.
Dan bagaikan hujan badai di tengah cuaca yang terik, Ruan rupanya benar-benar mengubah isi pasal yang sebelumnya sudah ditandatangani, yang sebelumnya kontrak pernikahan mereka hanya sampai kesembuhan dan kemandirian Lulu. Tapi sekarang …
“Pasal satu, tidak ada perpisahan.” Shira membaca isi pasal, pelan-pelan. Seperti mendengar seseorang yang sedang menceritakan cerita horor ketika mendeskripsikan ketakutan yang dirasakan. Dan membaca isi pasal baru itu melebihi menonton film horor yang paling menyeramkan.
“Pihak Kedua wajib menjalankan tugas sebagai seorang istri yang sah secara hukum dan agama.”
Mendadak ternggorokannya dipenuhi ratusan lebah yang menyengat.
“Tamatlah sudah …. Tamatlah sudah …” Shira melemparkan ponselnya di atas kursi tunggu di depan ruang psikolog anak, seolah ponselnya adalah laba-laba beracun yang mematikan. Matanya melebar, kecemasan memenuhi wajahnya.
Ia berdiri, berjalan mondar-mandir sembari menatap tajam pada ponselnya yang tergeletak, seolah ponselnya itu telah melakukan kesalahan fatal atas hidupnya.
“Menjalankan kewajiban seorang istri yang sah secara hukum dan agama berarti aku harus … harus … iiiihhh!” Shira bergidik geli dan ngeri sendiri membayangkan bagaimana jika dia harus melakukan hal ‘itu’ bersama pria kaku, dingin, sinis dan sama sekali tidak dia suka.
Rasanya Shira ingin sekali menjerit di depan wajah Ruan, memaki majikannya itu yang seenak jidat mengubah isi pasal.
“Apa aku bawa Lulu kabur aja, ya?” Ide gila terlintas. Bahkan dari ide gila selintas itu, dia langsung memikirkan kota mana yang akan dia datangi untuk bersembunyi dari Ruan.
“Apa yang sedang kamu rencanakan?”
Shira menjerit pelan saking kagetnya, dia berbalik dan melihat Ruan dengan tubuhnya yang tinggi berbalut jas sudah berdiri di belakangnya, kedua tangannya terlipat di depan dada dengan tatapan matanya yang menyorot penuh selidik.
“P-P-Pak Ruan? Kok bisa ada di sini?” Shira mundur dua langkah, suara gugupnya mengambarkan dengan jelas bagaimana kehadiran Ruan sama sekali tidak dia prediksi.
“Kenapa? Apa saya ga boleh menunggu Lulu juga? Atau ada rencana lain yang kamu susun di belakang saya?”
“Rencana apa?” Shira terkekeh garing.
“Misalnya, rencana untuk membawa kabur anak saya?”
Shira nyengir lebar sampai lesung pipi pada pipi kirinya begitu jelas terlihat. “Saya ga serius kok, Pak.”
“Tapi bahasa tubuhmu mengatakan sebaliknya.”
Shira spontan malah melakukan peregangan, “Saya cuma lagi stretching-streching aja kok Pak.”
Ruan mendengkus, lalu menempati salah satu kursi dengan gayanya yang selalu terlihat elegan bahkan saat mereka sedang berada di dalam ruang tunggu bernuansa biru muda dan khakhi.
“Sudah kamu baca pasal yang baru?”
Shira menelan ludahnya yang terasa pahit, kemudian mengangguk ragu.
“Bagus, kamu ga perlu lagi mencemaskan akan mengecewakan Nenek, Lulu dan keluarga saya yang lainnya.”
“Tapi, Pak, apa saya boleh tanya?”
Ruan mengangguk.
“Maksudnya ‘menjalankan kewajiban seorang istri yang sah secara hukum dan agama’ itu apa, ya, Pak? Apakah saya dan Pak Ruan harus … harus …” Shira menempelkan ujung jari telunjuk tangan kanan dan kirinya. “Begituan?” lanjutnya dengan bernada ragu-ragu.
Ruan menyilangkan kakinya, memajukan punggungnya dengan menggantungkan lengannya di atas pangkuan. “Jika situasi mengharuskan.” jawabnya kemudian.
“Hah? Maksudnya?!”
“Tidur satu kamar dan satu ranjang, ga perlu sampai berhubungan secara fisik.”
“Jadi, saya dan Pak Ruan ga akan … begituan, kan?” Shira memastikan kembali.
Ruan kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Apa yang membuatmu berpikir saya akan melakukan itu denganmu?”
“Ya lagian tulisan Pak Ruan di pasal ambigu banget, pikiran saya, kan, jadi traveling kemana-mana. Mana saya belum pernah pacaran, saya belum tau gimana rasanya jatuh cinta, masa tau-tau saya harus menyerahkan mahkota saya ke laki-laki yang ga saya cinta.” jawab Shira dengan perasaan yang lebih lega. Dia hanya perlu tidur di dalam kamar yang sama dan membatasi ranjang dengan bantal yang banyak saja.
“Kamu belum pernah jatuh cinta?” Ruan bertanya, dengan nadanya yang tenang tapi tersirat rasa penasaran.
Shira mengangguk sembari memungut kembali ponselnya, ia meneruskan membaca pasal tanpa memperhatikan perubahan ekspresi pada wajah Ruan.
Perasaannya sudah jauh lebih ringan. Lalu dengan mengagetkan, Shira menahan suara pekikannya, matanya menatap Ruan dengan tatapan tak percaya.
“Apa lagi?”
“Ini beneran, Pak?!” Suaranya begitu bersemangat.
“Apa?”
“Pak Ruan akan membiayai pengobatan Nenek saya? Serius? Demi apa?” Shira bahkan spontan mengguncang pelan lengan Ruan.
“Demi Tuhan Yang Maha Esa.”
Shira sontak berdiri, menghentakkan kedua tangannya ke atas seperti seorang suporter yang menyaksikan bagaimana tim andalannya mencetak angka.
“Terima kasih, Pak! Terima kasih!” Shira menyambar tangan Ruan lalu menyalimi tangan pria itu seperti menyalimi tangan pak guru yang telah berhasil mendidiknya dan membuatnya diterima oleh universitas unggulan.
Ruan berusaha menarik tangannya dari cekalan Shira dengan lumayan sulit.
“Eh, maaf Pak, saya kelewat senang!’ Shira akhirnya melepaskan tangan Ruan seperti meletakkan barang mahal di atas meja.
“Tapi itu ga gratis.”
“Apakah saya harus potong gaji?”
“Saya ga tertarik dengan gajimu.”
“Trus kalo ga gratis, saya balikin ke Pak Ruan dengan apa?”
“Jika kamu setuju dengan pasal baru ini, itu artinya kamu harus mengganti biaya itu dengan hidupmu selamanya menjadi istri dari laki-laki yang ga akan membuatmu jatuh cinta dan ga akan mencintaimu.”
Berangsur senyum pada wajah Shira menghilang. Dia kembali terduduk dengan semangat yang sudah melayang.
“Saya hanya akan menjalankan kewajiban saya untuk menafkahimu secara lahir, ga dengan batin. Begitu pun dengan kamu, wajib menjaga nama baik saya dan pernikahan ini ketika di luar. Ga boleh ada perselingkuhan. Jika ada, sanksi akan berlaku.”
Shira terdiam.
“Kali ini, saya beri kamu waktu dua jam untuk memutuskan.”
Bersambung