Empat belas hari.
Hanya selama itu Ghazi Farhan dan Adzra Hanum saling mengenal sebelum akhirnya menikah melalui proses ta'aruf.
Siapa sangka, pernikahan yang awalnya dipenuhi ketenangan justru berakhir dengan satu talak setelah sepuluh bulan bersama.
Sejak hari itu, Adzra meyakini bahwa dirinya hanyalah perempuan yang pernah gagal menjadi istri.
Sementara Ghazi memilih memikul penyesalan yang bahkan tidak pernah berani ia jelaskan.
Sepuluh tahun berlalu.
Mereka sama-sama belum menikah.
Bukan karena belum ada yang datang, tetapi karena ada luka yang belum benar-benar selesai.
Ketika sakit sang ibu mempertemukan mereka kembali, Ghazi tidak meminta Adzra kembali menjadi istrinya.
Ia hanya meminta satu kesempatan.
"Bolehkah... kita mengulang empat belas hari itu?"
Namun, apakah ta'aruf kedua mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh satu talak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Dari Sebuah Kepercayaan
#Satu minggu setelah rapat evaluasi
Pukul enam pagi.
Pintu Klinik Arafah Medika bahkan belum dibuka.
Namun di teras kecil yang menghadap jalan, belasan orang sudah duduk berjejer di bangku panjang. Seorang ibu muda menggendong balitanya yang masih terlelap. Di sudut lain, seorang kakek sibuk mengipasi istrinya dengan map berwarna biru. Sesekali terdengar sapaan antarpasien yang rupanya saling mengenal.
"Apa Bapak juga baru pertama ke sini?"
"Bukan. Ini yang ketiga."
"Jauh-jauh dari kecamatan sebelah?"
"Kalau dokternya baik, perjalanan terasa dekat."
Ucapan itu disambut anggukan beberapa orang.
Tak ada yang menyadari, beberapa meter dari mereka sebuah mobil putih baru saja berhenti.
Adzra mematikan mesin, tetapi tangannya masih bertahan di atas setir.
Ia memandang antrean itu cukup lama.
"Dok..."
Rina yang duduk di kursi sebelah ikut terpaku.
"...kita salah lihat, ya?"
Adzra menggeleng pelan.
"Sepertinya tidak."
"Jam praktik kita masih empat puluh lima menit lagi."
"Iya."
Rina menghela napas.
"Biasanya paling lima atau enam orang."
Hari itu jumlahnya hampir tiga kali lipat.
Belum lagi beberapa motor terus berdatangan.
Seorang bapak paruh baya turun sambil menggandeng anak laki-lakinya.
"Pak, antreannya sudah panjang?"
"Alhamdulillah, masih kebagian."
Adzra dan Rina saling berpandangan.
Tak ada rasa bangga di wajah mereka.
Yang muncul justru kekhawatiran.
***
Begitu pintu klinik dibuka, antrean bergerak tertib.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Suara salam bersahutan memenuhi ruang tunggu.
"Pelan-pelan ya, Bu."
Rina membantu seorang nenek menuju kursi.
"Jangan berdiri dulu. Nanti kami panggil."
"Terima kasih, Nak."
Adzra berjalan melewati ruang tunggu.
Beberapa pasien berdiri hendak menyalaminya.
Ia buru-buru mengangkat tangan.
"Bapak, Ibu... silakan tetap duduk."
"Tidak usah berdiri."
"Yang penting sehat dulu."
Seorang ibu tersenyum malu.
"Maaf, Dok."
"Saya dengar dokter ini sabar."
Adzra tersenyum hangat.
"Kalau begitu jangan dibuat tidak sabar karena harus melayani saya dulu."
Ucapan itu membuat ruang tunggu dipenuhi tawa kecil.
Suasana yang tadinya tegang berubah lebih ringan.
Di balik meja pendaftaran, Rina berbisik pelan.
"Dok."
"Hm?"
"Kalau setiap pagi begini..."
"...kayaknya saya harus mulai sarapan dua kali."
Adzra menahan tawa.
"Kenapa?"
"Biar kuat."
"Kuat menghadapi pasien?"
"Bukan."
"Menghadapi dokter yang tidak mau istirahat."
Adzra menggeleng kecil.
"Nanti kita bahas."
"Berarti benar, ya?"
"Rina."
"Iya, Dok?"
"Mulai bekerja."
"Iya, Dok."
Namun senyum di wajah Rina belum juga hilang.
Ia tahu, candaan kecil sering kali menjadi obat paling murah ketika hari diperkirakan akan sangat panjang.
***
Satu per satu pasien mulai diperiksa.
Ruangan praktik tak pernah benar-benar kosong.
Belum sempat Adzra merapikan meja setelah satu pasien keluar, ketukan pelan kembali terdengar.
"Silakan masuk."
Seorang bapak berusia sekitar enam puluh tahun masuk dengan langkah pelan.
Wajahnya tampak gugup.
"Duduk saja, Pak."
"Terima kasih."
Adzra membuka rekam medis.
"Keluhan apa yang dirasakan?"
Bapak itu justru diam.
Tangannya saling menggenggam.
Adzra menutup kembali pulpennya.
Ia tidak terburu-buru mengulang pertanyaan.
"Sudah sarapan?"
Bapak itu mengangkat wajah.
"Sudah."
"Menu apa?"
"Lontong sayur."
"Pedas?"
Sedikit.
Adzra tersenyum.
"Kalau begitu kita sama."
Bapak itu akhirnya ikut tersenyum.
Ketegangan di wajahnya perlahan mencair.
"Anak saya yang menyuruh ke sini, Dok."
"Katanya dokter di sini tidak galak."
Adzra tertawa pelan.
"Kalau saya galak, nanti anak Bapak protes."
Percakapan sederhana itu membuat pemeriksaan berlangsung jauh lebih mudah.
Dari balik kaca kecil di pintu, Rina memperhatikan dengan kagum.
Berkali-kali ia melihat hal yang sama.
Dokter lain mungkin memulai dari stetoskop.
Adzra selalu memulai dari manusia di hadapannya.
***
Menjelang siang.
Ruang tunggu masih penuh.
Rina mengetuk pintu ruang praktik.
"Dok."
"Masuk."
"Ini pasien terakhir sebelum istirahat."
Adzra melihat daftar antrean.
"Terakhir?"
Rina menggaruk kepala.
"Sebenarnya..."
"...masih ada sembilan orang."
Adzra menatapnya.
"Yang ini terakhir sebelum dokter saya paksa makan."
Adzra tersenyum tipis.
"Kamu bekerja sama dengan siapa?"
"Dengan perut dokter."
Belum sempat Adzra menjawab, terdengar suara dari luar.
"Maaf..."
Seorang ibu berdiri di depan pintu.
"Kalau boleh..."
"...anak saya duluan."
Wajah anak perempuan di sampingnya pucat.
Tubuh kecilnya bersandar lemah.
Adzra langsung berdiri.
"Bawa masuk."
Rina sigap membantu.
Pemeriksaan dilakukan cepat namun tetap tenang.
Setelah beberapa menit, Adzra mengembuskan napas lega.
"Demamnya tinggi, tapi kondisinya masih stabil."
Ibunya hampir menangis.
"Alhamdulillah..."
"Saya takut terlambat."
Adzra menyerahkan resep.
"Ibu sudah melakukan hal yang benar dengan membawanya ke sini."
Perempuan itu menggenggam kedua tangan Adzra.
"Terima kasih, Dok."
"Saya tidak tahu harus membalas apa."
Adzra menggeleng pelan.
"Doakan saja."
"Semoga kami tetap mampu menjaga amanah ini."
Perempuan itu mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"Aamiin."
***
Sore hari.
Pasien terakhir akhirnya pulang.
Rina menjatuhkan tubuhnya ke kursi.
"Dok..."
"Hm?"
"Saya baru sadar."
"Apa?"
"Kita bahkan belum sempat minum teh."
Adzra melihat jam dinding.
Sudah lewat pukul empat.
Ia tersenyum kecil.
"Maaf."
Rina menggeleng.
"Dokter selalu minta maaf."
"Padahal..."
"...yang bikin saya bertahan kerja di sini justru karena dokter."
Adzra menatapnya heran.
"Maksudmu?"
"Dulu saya pikir kerja di klinik itu soal obat."
Rina tersenyum.
"Sekarang saya tahu."
"Soal apa?"
"Soal membuat orang pulang dengan harapan."
Ruangan kembali hening.
Adzra menundukkan kepala sejenak.
Kalimat itu terasa lebih berat daripada pujian.
Karena harapan adalah amanah.
Dan amanah...
Tak pernah ringan dipikul.
Di waktu yang sama, di kantor Safa Amanah Tour, sebuah laporan baru tiba di meja Ghazi.
Ja'far menyerahkannya tanpa banyak bicara.
"Mas."
Ghazi membuka halaman pertama.
Alisnya sedikit bertaut.
"Jumlah pasien meningkat empat puluh persen?"
"Sejak rapat minggu lalu."
Ghazi menutup map perlahan.
Ia tidak tampak senang.
Justru wajahnya berubah serius.
Ja'far memperhatikan.
"Bukankah ini kabar baik?"
Ghazi menggeleng.
"Belum tentu."
"Kenapa?"
"Karena kepercayaan..."
Ia memandang keluar jendela.
"...selalu datang bersama tanggung jawab."
"Kalau jumlah pasien terus bertambah sementara tenaga mereka tetap sama..."
"...orang-orang akan mulai menunggu lebih lama."
Ja'far mulai memahami arah pikirannya.
"Dan kalau mereka lelah..."
Ghazi mengangguk pelan.
"Orang yang paling mudah lupa beristirahat adalah mereka yang terlalu sibuk memikirkan orang lain."
Ia kembali melihat laporan itu.
Tatapannya berhenti pada satu nama.
Dr. Adzra Hanum.
Beberapa detik ia terdiam.
Lalu berkata pelan, lebih seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
"Semoga Dokter tidak sedang memikul semuanya sendirian."
Di luar jendela, langit mulai berubah jingga.
Tak seorang pun menyadari...
Kepercayaan yang selama ini mereka syukuri perlahan berubah menjadi ujian pertama.
Dan setiap ujian...
Selalu datang diam-diam, sebelum seseorang sadar bahwa dirinya sedang diuji.
***
Menjelang pukul lima sore, ruang tunggu akhirnya mulai lengang.
Rina memutar papan bertuliskan "Pendaftaran Ditutup", lalu mengembuskan napas panjang.
"Alhamdulillah..."
Ia menoleh ke ruang praktik pertama.
Pintunya masih tertutup.
"Belum selesai juga?"
Baru saja ia hendak melangkah, pintu ruang praktik di sebelahnya terbuka lebih dulu.
Seorang perempuan berhijab krem keluar sambil melepas stetoskop dari lehernya.
"Napasmu kedengaran sampai sini, Rin."
Rina tersenyum lebar.
"Dokter Nabila!"
Nabila terkekeh.
"Kenapa? Baru sehari ramai begini sudah menyerah?"
"Bukan menyerah..."
Rina memegang perutnya.
"...lapar."
Nabila tertawa kecil.
"Itu baru alasan yang masuk akal."
Ia melirik jam dinding.
"Adzra sudah makan?"
Rina langsung menggeleng.
"Belum."
"Lagi?"
"Iya."
Nabila menghela napas, lalu mengetuk pintu ruang praktik Adzra tanpa menunggu jawaban.
"Masuk."
Adzra masih menunduk memeriksa hasil laboratorium pasien terakhir.
Beberapa berkas menumpuk di sisi kanan meja.
"Kalau hasil lab itu bisa dimakan..."
"Nggak apa-apa kamu lanjut."
Adzra mendongak.
Senyumnya langsung mengembang.
"Nabila."
"Alhamdulillah."
"Akhirnya kamu ingat masih punya teman."
Adzra terkekeh pelan.
"Aku benar-benar sibuk."
"Aku tahu."
Nabila menarik kursi lalu duduk begitu saja.
"Tapi sibuk bukan alasan untuk menyiksa lambung."
Rina yang berdiri di ambang pintu mengangguk cepat.
"Nah, kan. Dokter Nabila juga bilang begitu."
Adzra menatap keduanya bergantian.
"Jadi kalian bersekongkol?"
"Bukan."
Nabila menyilangkan tangan.
"Kami sedang menyelamatkan direktur klinik."
"Direktur?"
Adzra tertawa.
"Sejak kapan aku jadi direktur?"
"Sejak semua orang di sini panik kalau kamu belum makan. Dan ya, kamu memang pemilik klinik ini bukan."
Suasana ruangan dipenuhi tawa ringan.
Namun sesudah tawa itu reda, wajah Nabila kembali serius.
"Berapa pasien hari ini?"
"Empat puluh delapan."
Rina menjawab lebih dulu.
"Belum termasuk yang dirujuk."
Nabila terdiam.
"Itu terlalu banyak."
Adzra menutup mapnya.
"Masih bisa kita tangani."
"Untuk hari ini, iya."
Nabila menatap sahabatnya lekat-lekat.
"Tapi bagaimana dengan minggu depan?"
Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak sunyi.
***
Beberapa menit kemudian, ketiganya duduk di ruang kecil yang biasa dipakai untuk rapat internal.
Di atas meja hanya ada tiga kotak nasi yang sudah mulai dingin.
"Kalau begini terus..."
Nabila membuka pembicaraan.
"...kita harus menambah dokter jaga."
Adzra mengangguk pelan.
"Aku juga memikirkannya."
"Bukan cuma dokter."
Rina ikut menyela.
"Bagian pendaftaran juga mulai kewalahan."
Nabila tersenyum.
"Nah, akhirnya ada yang membela kamu."
Rina mengangkat bahu.
"Saya membela diri sendiri, Dok."
Mereka bertiga tertawa.
Setelah suasana kembali tenang, Adzra membuka buku catatannya.
"Ada satu hal yang ingin kubahas."
Nabila langsung fokus.
"Apa?"
"Kerja sama dengan Safa Amanah Tour."
Nabila mengangguk.
"Jumlah jamaah pasti bertambah."
"Iya."
"Belum lagi pasien umum."
Rina menghela napas.
"Berarti tambah ramai?"
"Bukan hanya ramai."
Adzra memandang sahabatnya.
"Kita harus memastikan kualitas pelayanan tidak berubah."
Nabila tersenyum tipis.
"Itu baru Adzra yang kukenal."
"Boleh kliniknya kecil."
"Tapi jangan pernah membuat pasien merasa diperlakukan seadanya."
Adzra membalas senyum itu.
"Karena kepercayaan dibangun dari hal-hal kecil."
"Betul."
Nabila menunjuk ke arah ruang tunggu.
"Pasien datang bukan hanya mencari obat."
"Mereka mencari rasa tenang."
Kalimat itu membuat Adzra mengangguk pelan.
Ia tahu...
Sahabatnya benar.
***
Sementara itu, di kantor Safa Amanah Tour.
Ja'far membawa dua gelas teh hangat ke ruang kerja Ghazi.
"Mas."
"Hm?"
"Masih membaca laporan yang sama?"
Ghazi menutup map perlahan.
"Bukan laporannya."
"Lalu?"
"Cara membacanya."
Ja'far tersenyum kecil.
"Bedanya?"
"Dulu aku membaca angka."
"Sekarang aku mencoba membaca beban di balik angka."
Ja'far duduk di hadapan Ghazi.
"Mas khawatir dengan Klinik Arafah?"
Ghazi mengangguk.
"Kalau pasien terus bertambah..."
"...sementara tenaga mereka tetap..."
"...yang pertama kali dikorbankan biasanya waktu istirahat."
Ja'far mengusap dagunya.
"Lalu?"
"Apa kita perlu membantu?"
Ghazi tidak langsung menjawab.
Ia justru balik bertanya.
"Menurutmu?"
Ja'far berpikir sejenak.
"Kalau kita datang menawarkan bantuan sekarang..."
"...bisa saja mereka merasa kita meragukan kemampuan mereka."
Ghazi tersenyum tipis.
"Itu juga yang kupikirkan."
"Lalu bagaimana?"
"Kita tunggu."
"Menunggu?"
"Bukan diam."
Ghazi menyandarkan tubuhnya.
"Kita perhatikan dulu."
"Kalau mereka membutuhkan..."
"...kita hadir."
"Bukan sebagai penyelamat."
"Tapi sebagai rekan."
Ja'far mengangguk mantap.
"Itu lebih tepat."
***
Malam mulai turun.
Lampu-lampu klinik satu per satu dimatikan.
Rina sudah berpamitan pulang.
Dokter Nabila juga bersiap menuju parkiran.
Sebelum masuk ke mobil, ia menoleh ke arah jendela ruang kerja Adzra.
Lampunya masih menyala.
Nabila menggeleng pelan.
"Anak itu..."
Ia kembali masuk ke klinik.
Pintu ruang kerja diketuk perlahan.
"Masuk."
Adzra masih menatap layar laptop.
"Masih belum pulang?"
tanya Nabila.
"Sebentar lagi."
"Itu jawabanmu satu jam yang lalu."
Adzra tersenyum bersalah.
"Aku cuma ingin menyelesaikan laporan."
Nabila berjalan mendekat, lalu menutup laptop itu perlahan.
"Cukup."
"Nabila..."
"Dengarkan aku."
Nada suaranya tetap lembut, tetapi kali ini tegas.
"Kamu memang bisa menggantikan banyak orang."
"Tapi tubuhmu tidak."
Adzra terdiam.
Nabila menggenggam tangan sahabatnya.
"Aku tidak ingin suatu hari pasien datang mencari Dokter Adzra..."
"...sementara dokter itu justru terbaring sebagai pasien."
Mata Adzra melembut.
Ia tahu.
Kalimat itu lahir dari kepedulian.
Bukan teguran.
Bukan pula kemarahan.
"Maaf."
Nabila tersenyum hangat.
"Besok minta maafnya."
"Hari ini..."
"...ayo pulang."
Adzra mengangguk pelan.
"Baik."
Ia mematikan laptop, mengambil tasnya, lalu melangkah keluar bersama Nabila.
Tak ada yang mereka sadari.
Di seberang jalan, sebuah mobil berhenti beberapa saat.
Pengemudinya memperhatikan papan nama Klinik Arafah Medika sebelum kembali melaju perlahan.
Belum ada yang mengetahui siapa orang itu.
Namun kedatangannya...
Akan menjadi awal dari ujian yang lebih besar bagi klinik kecil yang sedang bertumbuh itu.
— Bersambung —