Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Keesokan harinya, sekitar pukul sepuluh pagi, deru mobil Ardi terdengar memasuki halaman rumah. Di dalam kamar, Sarah yang sedang berdiri di depan cermin besar langsung menarik napas dalam-dalam.
Hari ini, dia tidak memakai daster longgarnya yang biasa. Sarah sengaja memilih Dres berwarna pastel yang pas di tubuhnya, memoles wajahnya dengan riasan tipis yang segar, dan menyemprotkan parfum beraroma mawar yang lembut. Dia ingin memastikan bahwa ketika Ardi pulang, pria itu tidak melihat "ibu rumah tangga yang kusam", melainkan seorang istri yang cantik, penurut, dan sepenuhnya berada di bawah kendalinya.
Saat mendengar langkah kaki Ardi di ruang tamu, Sarah memasang senyum paling manisnya lalu melangkah turun.
"Eh, Mas sudah pulang?" sapa Sarah dengan suara selembut sutra, langsung menghampiri Ardi.
Ardi menoleh, dan untuk sesaat, langkahnya terhenti. Matanya menatap Sarah dari atas ke bawah dengan sedikit terkejut. "Kamu... dandan hari ini?" tanya Ardi, agak heran melihat penampilan istrinya yang tampak jauh lebih segar dan menarik dari biasanya.
"Iya dong, Mas. Kan suamiku pengusaha sukses, masa istrinya kelihatan kusam terus di rumah," jawab Sarah manja.
Sarah mengulurkan tangan untuk mengambil tas kerja Ardi, lalu meraih tangan suaminya untuk menciumnya takzim—sebuah tanggung jawab dan tradisi yang selalu dia lakukan selama lima tahun pernikahan mereka. Namun, begitu kulitnya bersentuhan dengan kulit Ardi, perut Sarah serasa bergejolak. Aroma parfum wanita lain—parfum Tyas—masih samar-samar tertinggal di kerah kemeja Ardi.
Jijik, satu kata itu menjerit keras di dalam dada Sarah. Rasanya dia ingin segera berlari ke kamar mandi dan mencuci tangannya dengan sabun antiseptik sampai bersih. Kulit pria di depannya ini baru saja menyentuh wanita lain beberapa jam yang lalu di hotel mewah, dan sekarang dengan tidak tahu malunya pulang ke rumah mencari pelayanan.
Namun, Sarah menahannya dengan sangat sempurna. Tidak ada satu pun otot di wajahnya yang berkedut salah.
"Mas pasti capek banget ya rapat semalaman dengan investor luar kota? Mau aku siapkan air hangat untuk mandi?" tanya Sarah, suaranya terdengar begitu tulus dan penuh perhatian.
Ardi yang melihat perubahan sikap dan penampilan Sarah langsung tersenyum lebar. Rasa curiga yang sempat terlintas sedetik lalu langsung menguap, digantikan oleh ego yang melonjak ke langit. Dia merasa keputusannya memamerkan uang kemarin benar-benar berhasil menjinakkan istrinya.
"Boleh, siapkan air hangatnya. Oh ya, buatkan kopi juga setelah itu," sahut Ardi besar kepala. Pria itu menepuk-nepuk bahu Sarah dengan nada meremehkan yang khas. "Bagus kalau kamu sudah sadar. Istri pria sukses itu memang harus pintar merawat diri, jangan cuma tahu urusan dapur saja. Biar saya tidak malu kalau sesekali ada kolega yang lihat."
"Iya, Mas. Aku minta maaf ya kalau selama ini sering membuat Mas Ardi pusing dengan urusan rumah. Aku kan memang bodoh, tidak paham urusan bisnis luar rumah seperti Mas," ucap Sarah sambil menunduk polos, pura-pura merasa bersalah.
Ardi tertawa renyah, merasa dirinya adalah pemenang mutlak di rumah dan di kantor. "Hahaha, tidak apa-apa. Yang penting sekarang kamu tahu posisi kamu. Sudah, sana siapkan air mandinya."
Saat Ardi melangkah naik ke lantai dua dengan siulan puas, Sarah berdiri mematung di kaki tangga. Senyum manis di wajahnya luruh seketika, menyisakan tatapan mata yang sedingin es. Dia mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya, mengusap telapak tangannya yang tadi menyentuh Ardi dengan cengkeraman kuat, lalu membuang sapu tangan itu ke tempat sampah.
Tersenyumlah selagi bisa, Ardi, bisik Sarah dalam hati dengan sangat kejam. Nikmati pelayanan dari istri 'bodoh'mu ini, karena sebentar lagi, kamu bahkan tidak akan punya uang untuk sekadar membeli sabun mandi.