NovelToon NovelToon
Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung

Status: tamat
Genre:Teen / Misteri / Horor / Eksplorasi-misteri dan gaib / Tamat
Popularitas:557.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Rani Je

(Revisi)
Tahun 2000, menjadi awal tahun baru bagi Merri yang bersekolah di SMA KASANOVA. Ia ingin mulai hari baru dengan tidak mau terlibat dengan hal gaib lagi. Sebab, salah satu penyebab ia pindah sekolah karena teman sekelas dari sekolah terdahulu merasa takut dengan kemampuan Merri yang ternyata bisa melihat Hantu. Oleh sebab itu ia berusaha menutupi keahliannya.

Namun ternyata, baru satu hari bergabung di SMA KAsanova dn berteman baik dengan Arinda, seorang siswi di kelasnya meninggal dengan tidak wajar. Semua siswa yang penasaran mulai mencari tau penyebabnya, dan mereka memutuskan bermain Jailangkung. NAmun, saat pesta itu di mulai Dia yang ingin di perhatikan dan di Akui mengambil kesempatan itu. Dari sana hari-hari Merri kembali tidak tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8 The Cranberries

“Lu ga liat hujan deras kemaren. Ga biasanya hujan begitu

lebat tau.” Begitu lah Agus masih masih kekeuh dengan pendapatnya.

Padahal hari ini terlalu pagi untuk mempermasalahkan kematian Mikha. Tapi tampaknya beberapa siswa masih belum terima akan kepergian salah satu temannya.

“Udahlah, namanya juga masih bulan Januari, ya jelas masih

ada sisa musim hujan. Lagian ga ada yang aneh. Hujan deras emang kayak gitu.”

Fitri mengeluarkan pendapat.

Arinda duduk disamping Fitri, dia mencoba untuk mencerna argumen

Agus. “Sungguh tidak masuk akal.” Pikir Arinda.

“Tapi ada yang lebih parah lagi, sebelum kejadian Mikha

meninggal." Tambah Agus. " Setahun yang lalu salah satu pegawai yang bekerja di resto bapaknya

Mikha ada yang sakit-sakitan. Dia di bawa pulang ke rumah keluarganya yang

berada di luar daerah. Dia udah di obati baik dari medis maupun dari obat

kampung, namun tetap ga ada hasil. Tapi saat keluarga si kariawan itu membawa ke

dukun, disana baru lah diketahui jika dia, si kariawan ini tengah di awasi satu

makhluk yang sangat ganas.” Jelas Agus lagi.

Semua siswa memperhatikannya. Mereka merasakan atmosphire

ketakutan yang sama. Fitri menelan ludah, dia memang tidak suka jika bahas hal-hal berbau mistis. Sedangkan Arinda justru mengkerutkan dahinya. Dia tidak percaya sama sekali dengan apa yang di bahas Agus.

Disaat itu Merri datang dan memasuki kelas. Tidak lama

kemudian di susul Tito yang masih terlihat sangat berduka. Semua siswa tidak

memperhatikan mereka. Kecuali Fitri dan Arinda.

“Syukur lo datang To.” Ungakp Arinda.

Merri menarohkan tasnya dan memperhatikan teman-teman di

kelas yang terlihat serius.

“Gue ga habis fikir kenapa Agus mulai ngomong ga masuk akal.

Gua ga suka kalo dia udah bahas hantu dan sebagainya. Lu tau kan, gua ga

percaya dukun atau mistis-mistisan. Pikirannya itu kampungan.” Celetuk Arinda.

Merri hanya menunduk mendengar pendapat Arinda. Dia tidak

tersinggung, hanya saja ia bersikap lebih was-was. Akan lebih gawat orang

seperti Arinda tau bagaimana latar belakang keluarganya.

“Gus!” Tito angkat suara. Sekarang semua perhatian tertuju

ke Tito. “Lu dapat cerita omong kosong itu dari mana?” tanyanya kemudian.

“Mikha sakit, dia di rawat di rumah sakit.” Lanjut Tito.

“Kemaren gua udah bilangkan, kakak gue pernah kerja disana.

Di restoran bapaknya Mikha. Keluarga kariawan itu salah satu teman baik kakak

gue. Orang tuanya datang kerumah gua dan cerita hal itu kekakak gua. Mereka

juga datang ke rumah bapaknya Mikha, meminta pertanggung jawaban. Tapi ga ada hasil. Kariawan itu tetap meninggal dengan keadaan yang ganas.” Jelas Agus.

“Trus menurut lo, keluarga kariawan itu balas dendam gitu,

lalu pelet mereka malah kesasar ke Mikha. Itu maksud lo?” tanya Tito balik.

Agus terdiam, dia berfikir sejenak, “Gua ga tau juga. Bisa

jadi dari mereka, atau...” Agus menarik nafas dalam-dalam, “Atau Mikha

sengaja di tumbalin.” Agus terlihat ragu-ragu mengungkapkannya.

“Udah ah, bisa ada penjelasan ilmiah ga sih? Gua ga percaya

sama cerita lo. Terlalu drama tau gasih?” Arinda meninggikan suaranya.

“Sorry Rin, awalnya gua juga ga percaya. Tapi orang-orang itu

datang kerumah gua. Mereka yang cerita apa yang tengah di alami anaknya selama

sakit-sakitan. Masa ada orang muntah paku?” jelas Agus.

“Iiihh jijik.” Fitri dan siswi lain berseru.

“Apalagi muntah paku. Gua rasa lu kebanyakan nonton film

horor deh.” Tanggap Arinda. Wajahnya gondok menahan emosi.

“Rin, lo jangan egois gitu dong. Walau bagaimanapun mereka

itu ada dan jangan di abaikan.” Agus membalas dengan suara yang lebih tinggi

lagi.

Arinda menahan nafasnya. Dia menahan semua emosinya di dada.

“Terlalu pagi buat marah, Nda.” Fitri mengelus punggung Arinda. “Sabar, cantik!”

bujuk Fitri dengan penuh kelembutan.

“Lo lah yang jangan berfikiran sempit seperti itu!” Bukan

Arinda, namun Tito yang terlihat marah. Ia tidak terima cara Agus membentak

Arinda. Tanpa sadar Tito menunjuk Agus dengan menggunakan jari di tangan

kirinya. Hal itulah yang membuat Agus semakin kesal.

“Ini bukan pikiran sempit. Gua bicara yang sebenarnya. Kenapa

kalian ga ada yang percaya sama gua. Kalian yang otaknya terlalu dangkal,

terlalu sok skeptis. ” Agus sampe meninjuk meja didepannya, sehingga menimbulkan

suara yang heboh.

“Banyak bacot, lu!” Tito melemparkan tas ke Agus. Dia

merenggangkan kancing bajunya. Ia gerah dengan omong kosong Agus. Bak

kesetanan, Tito meraih kerah baju Agus. Pria yang sebenarnya memiki tubuh lebih

tinggi darinya terlihat kaget. Satu tinju melayang tepat di pipi Agus.

“BUK!!!”

“Kenapa lo pukul gue?!” Agus yang tersulut emosi membalas

pukulan Tito.

“Tito...!!!” Arinda meneriaki nama Tito disaat ia menerima

pukulan tepat di pipi kirinya.

“Sudah hentikan, sudah...!!!!” teriak Arinda berusaha melarai

mereka. Ia berlari di tengah-tengah dua petarung amatir itu.

“Hentikan...!!!”

 Teriakan Arinda tidak

memberikan perubahan apa-apa. Beberapa siswa dan siswi juga mencoba melarai

mereka. Namun keduanya terlanjur Emosi, panas di hati Tito menjadi amunisi dan

kekuatannya untuk melampiaskannya kepada Agus. Sedangkan, Agus yang memang memiliki

tubuh lebih tinggi dan besar lebih menilai jika lawan di depannya hanya seperti

samsak.

“SUDAH HENTIKAAAAAAANNNNN!!!!” teriak Arinda..

Semua siswa terdiam. Agus dan Tito juga berhenti. Suara itu,

baru pertama kali mereka dengar. Selama ini Arinda tidak pernah berteriak seperti itu di kelas.

Semua pandangan mata mengarah kepadanya. Arinda merasa bersalah telah bersikap berlebihan.

“Sorry, gua ada maksud.” Arinda berlari meninggalkan kelas.

Di saat bersamaan Karin yang baru saja datang sempat heran,

kenapa Arinda tidak menyapanya saat berselisih di depan pintu kelas. Tapi gadis

tomboy itu mengabaikannya, ia memiliki hal lebih penting untuk di bicarakan

dengan teman-teman kelasnya. Dengan sebuah majalah yang ia pegang dengan sangat erat. Dimana di halaman pertamanya telah di tulis dengan huruf bercetak tebal

“JAILANGKUNG.”

.

.

.

.

“Ide yang bagus.” Seru Agus mendengar usulan Karin.

“GUA GA SETUJU...!!!” Pekik Fitri.

“Karin, lo jangan melakukan hal bodoh.” Saran Tito.

Berbagai pendapat dari siswa yang ada di kelas dua IPA C

terus beradu. Banyak dari mereka yang tidak setuju. Merri yang dari awal tidak

mau terlibat sudah menghilang dari kelas tanpa di ketahui oleh siswa-siswa

lainnya.

“Guys, ini bukan hal bodoh. Kita hanya mencoba. Siapa tau berhasil?” saran Karin dengan senyum

cemerlangnya.

“Tapi, hanya orang gila yang mau ngomong sama makhluk yang

namanya syaiton!” tegas Fitri. Dia

paling keras mengatakan tidak setuju. “Gue yakin Arinda pasti ga setuju sama

ide ini.” lanjutnya.

“Ini sifatnya sukarela kok. Tapi disarankan kalian semua

harus ikut.” Lanjut Karin.

“Kenapa Gue sama yang lain-lain harus ikut?” tanya Tito.

“Pertama biar kita sama-sama dengar dan sama-sama membuktiin

bahwa ga ada yang bohong dintara kita lagi. Kedua, biar kita bisa bertemu dan mengucapkan kata

perpisahan ke Mikha.” Jelas Karin. “Gue belum sempat minta maaf sama dia.”

Suara karin tertahan karena ia merasa iba. Sejujurnya, dia juga sedih seperti

yang lainnya.

Tito juga terdiam. Samahalnya dengan Mikha, dia juga belum

mengungkapkan isi hatinya yang sebenar-benarnya. Dia belum mengucapkan kata

perpisahan. Tito melihat kelangit-langit kelas. Ia tidak ingin mengeluarkan air

mata kesedihan terutama saat masih di kelas.

“Gue setuju.” Seru Agus. “Gua juga ga yakin ini akan

berhasil, tapi mencoba tidak ada salahnya sih.”

“Itu yang mau coba gue jelasin.” Tambah Karin.

“Mencoba bermain jailangkung???” Fitri dan beberapa siswi

lainnya protes.

“Demi solidaritas.” Lanjut Karin.

“Demi kebenaran ceritanya. Gue siap kalian ejek atau jadi

pesuruh kalian selama setahun, jika apa yang gue omongin ini salah.” Lanjut

Agus.

Semua mata kembali terfokus ke Agus. Tito terlihat kesal

dengan gaya Agus yang mencoba sok cool.

“Ok, gue mau.” Tito menyetujui ide gila Karin.

“Bagus!” Karin tersenyum lebar.

“Hanya sekali ini aja, berikutnya gue ga mau.” Tambah Tito.

“Ya gue janji.” Angguk Karin. “Fit?” dia menunggu salah satu

teman karibnya.

“Gue tanya ke Arinda.”

“Dia ga bakal ikutan. Ini bukan ranah yang akan di sentuh

Arinda, meski dia mati penasaran. Dia pasti tidak akan ikut. Lagian juga, Kalau dia ikut dan

ibu Lira tau, bisa mati dia. Gue ga mau dia dikurung dikamar seminggu sama EMaknya itu karna kita.” Jelas

Karin.

"Serius Bu Lira segila itu?" yang lain celetuk tidak percaya.

“Ya, untuk kali ini, jangan libatin dia.” Lanjut Tito, “gue

kenal betul gimana kalo ibu Kepsek itu marah.”

“Tapi kalian semua ikutkan?” tanya Fitri.

“Iya!”

“Janji!”

“Janji!”

“Ya udah. Tapi gua ga mau acaranya tengah malam.” Lanjut

Fitri.

“Iya, gua ga bisa pulang malam.” Jelas anak-anak lainnya.

“Nanti masalah transportasi biar gua, Tito dan teman-teman

yang punya kendaraan yang urus.” Lanjut Karin.

“Masalah atributnya biar gua aja.” Agus terlihat bersemangat.

“Ok!” Karin mengangguk. Dia agak bingung, kenapa Agus begitu

antusias. Melihat senyum Agus, bulu kuduk Karin lansung berdiri. “Kenapa dia

seperti psikopat gitu sih?” pikir Karin. “Aduh, kebanyakan nonton film jadi

eror otak gue.” Geleng Karin.

“Oo ya, gue lupa.” Ucap Karin tiba-tiba, “Merri, lo...?” suaranya

terhenti, bangku Merri kosong. Dia mulai garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.

“Sejak kapan tuh bocah ilang?” pikirnya.

.

.

.

.

Arinda mulai mengitari rak-rak buku di perpustakaan.  Sebenarnya ia tidak berminat untuk membaca

buku apapun. Dia hanya ingin menghilangkan suntuk dan moodnya yang kacau balau.

Ia biarkan stero tape memutarkan lagu kesukaannya. Saat lagu kesukaannya

perputar, ia terus mengitari satu persatu rak buku dan melihat judul-judul buku

yang ada di sana. Ia tak sadar, sejak tadi punggungnya telah di buntuti oleh

sesuatu. Ia tidak merasakan jika satu aura jahat sedang berdiri dan

membututinya dari belakang punggungnya.

Understand the things I say, don’t tur away from me

Cause I’ve spent half my life out there, you wuldn’t disagree

Do you see me? Do you see me? Do you like me?

Do you like me standing there? Do you notice?

Do you know? Do you see me? Do you see me?

Does anyone care?

“BERISIIKKK!!!!” satu

suara membuat Arinda segera melepaskan earphone. Barusan seseorang dengan wajah kriput membentaknya, wajah itu jelas sekali berada di sebelah kirinya. Berteriak di kupingnya. Ekor matanya jelas melihat ekspresinya yang sangat marah. Namun saat da kembali menoleh, tidak ada siapa-siapa. Suasana perpustakaan pagi itu begitu hening. Hanya ada dua petugas yang sedang duduk di meja mereka masing-masing.

Lantas siapa yang tadi berteriak? Bulu kuduknya seketika  merinding.

BUKKH...!!

Satu buku terjatuh dari rak bertuliskan koleksi sastra. Ia menoleh

kebelakang dan sekitarnya. Sekali lagi tidak ada orang. Semua lengang. Mungkin

karena saat ini masih jam pelajaran. Dan ia baru ingat baru saja bolos kelas

pagi.

Arinda menaroh buku itu di tempat semulanya sambil terus berfikir,  “Mungkin efek kurang tidur atau kelelahan. Atau jangan-jangan aku sedang mengalami stress?” Itulah pendapatnya.

Saat ia menatap satu sisi rak yang kosong, ia melihat

sepasang mata juga tengah menatapnya. Sepasang mata yang tampak pucat dengan

lingkaran hitam di sekitarnya. “Hah!!” hal itu leboh melihat mengejutkan karena

dua bola mata itu di tutupi rambut hitam yang menutupi hampir separoh dari

wajah itu. “Siapa kau?Hantu?!” Arinda berteriak.

“Hah! Astaga!!” si pemilik mata pucat itu juga ikut kaget,

dia membelalakkan matanya dan berseru “Arinda, maaf, aku Merri.” Sahutnya. Ia segera menghampiri Merri. Ternyata gadis itu sedang memilih beberapa buku pelajaran.

“Merri?” pikir Arinda, lalu beberapa detik kemudian dia

berseru, “Merri, lu ikutin gue?” tanya Arinda.

Di balik rak itu Merri menggeleng, “Ga, Aku kesini karena

anak-anak di kelas bahas rencana nanti malam. Aku, aku.. ga mau ikut.” Jelas

Merri.

“Kenapa? Apa lo memiliki satu pemahaman dengan gue?” tanya

Arinda. Merri melihat Arinda bingung. “Lo juga beranggapan kalau hantu itu Bulls**t alias bohong.”

Merri menutup dua mulutnya rapat-rapat. Dia tidak tau harus

menjawab apa.

“Benarkan?” desak Arinda.

Merri menatap bola mata Arinda yang berbinar. Sepintas, ia

iri dengan sepasang mata bulat dan cantik itu. Mata itu sepatutnya juga ia

miliki. Mata cantik yang selalu bersinar, mata dengan bulu mata yang lentik.

Mata yang hanya bisa melihat yang semetinya tanpa harus melihat keberadaan mereka.

Andai saja ia terlahir sebagai Arinda.

“Kalo gitu kita satu pendapat, di dunia ini tidak ada yang

namanya hantu atau setan yang bergentayangan. Benarkan?” tanya Arinda memegang

tangan kurus Merri.

Merri tersipu dengan apa yang ia terima. Sambutan tangan

hangat dan ramah dari Arinda. Dia semakin sulit untuk menyanggah pendapat

Arinda. Terpaksa Merri mengangguk jika :”Ya, tidak ada hantu atau setan, mereka

tidak ada.” Lanjut Merri sedikit gugup, sebab yang ingin ia sangka itu berdiri

tepat di belakang Arinda. Dengan dua bola mata merah dan ada titik biru di

tengahnya itu, ia terus menatap geram ke arah Merri. Seolah ia tidak suka di ~~~~abaikan.

“Seharusnya aku tidak

terlibat apapun.” Bisik Merri dalam hati.

1
Witri Ayu
Luar biasa
Norhafizah
Thor2
Norhafizah
Udh habis?!
Ravana
sumpah ,aku baru baca novel ini langsung jatuh cinta sama gaya tulisannya, asyik gile
Madame Jeanne
luv luv buat author
Madame Jeanne
ampun Mbah,wes tak like iki
Bunda Israh Wahyuni Yuni
rani je.. klw ada sumur di ladang,jgn lupa siram tanaman yg ada di ladang,klw buat karya keren ky gini lg,jgn lupa kabari aku. semangat rani je
Bunda Israh Wahyuni Yuni
wes tak like mbah,tp aku ra gelem d kei kopi pait,wes idupku pait,pait kuwadrat mbah.. ke i z sm rani je,men iso dekne melek an nyelesaikn karya kerenny ini.
Bunda Israh Wahyuni Yuni
rani je.. karyamu keren y.. kucing mu jg imut. jantan p betina?
Bunda Israh Wahyuni Yuni
yuhuuuu thor... keren y alurny.. aku jd terbawa ne.. btw aw,,kekny aku g berani ne bc karyamu mpe mlm2.. takut. 🤭🤭
atmaranii
klo Dy brsikap bgtu mlh mngundNg prhatian...n lbh trksan aneh...knp GK brsikap normal aj
atmaranii
crtanya mnarik ...tulisan n bhsa jg ok
Ayu Marshella
yahhh udah selesai? ceritanyaa ngegantung ihhh
Diana Sujito
aku penggemar cerita horor..lanjut thor😁
author killua
gk serem
Uchi Young
👍👍👍
Anik Rubiyanti
cerita nya bagus....
Author Garis Biru
keren sih, dari awal pas baca sinopsisnya penasaran, sampai disini makin keliatan beberapa plot cerita yg gak ketebak dan buat cerita nya lebih nyata, semangat deh untuk author nya yang udah buat cerita semenarik ini
Noer Toifah
best best....moga d lanjut
Elly Arsida Lubis
keren novelnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!