NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Awan

elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Kembali Bertugas, Suami Melesat Naik

“Maaf mengganggu cutimu,” kata Bu Ratna begitu Nan Shin menjawab telepon. “Kami kekurangan orang untuk jadwal minggu depan.”

Sepuluh minggu telah berlalu sejak Cheng An meninggalkan kamar bersalin karena panggilan rumah sakit. Pagi itu, Nan Shin sedang menyusui ketika giliran ponselnya yang berdering.

Nan Shin melihat Yi Ming yang mulai tertidur di lengannya. Bayi itu baru selesai menyusu. Satu tangannya masih menggenggam ujung baju ibunya.

“Cuti saya belum selesai, Bu.”

“Saya tahu.” Suara Bu Ratna terdengar berat. “Saya sudah coba cari pengganti. Dua orang izin, satu belum bisa masuk karena administrasinya tertahan.”

Nan Shin diam.

“Kalau kamu belum siap, saya nggak bisa memaksa,” lanjut Bu Ratna. “Tapi evaluasi kontrak juga sebentar lagi. Saya cuma mau kamu tahu situasinya.”

Kalimat terakhir membuat tubuh Nan Shin menegang.

Kontrak.

Ia menatap kamar sempit yang kini penuh perlengkapan bayi. Susu, popok, biaya kontrol, dan sewa tidak bisa dibayar dengan hak untuk beristirahat.

“Saya masuk minggu depan,” jawabnya.

Cheng An baru pulang malam itu. Nan Shin menyampaikan keputusan saat suaminya mencuci tangan di dapur.

“Cuti kamu belum selesai,” katanya.

“Rumah sakit kekurangan orang.”

“Bilang kamu belum bisa.”

“Kalau penilaian kontrakku jelek, bagaimana?”

Cheng An menutup keran. “Kita bisa atur uang sementara.”

Nan Shin ingin bertanya sampai kapan. Gaji suaminya memang lebih tinggi, tetapi sebagian besar masih masuk cicilan dan tabungan rumah. Ia juga tidak ingin dua belas minggu cuti membuat pekerjaannya dianggap mudah digantikan.

“Aku tetap masuk,” katanya.

Cheng An bersandar pada meja dapur. “Berapa shift yang mereka minta?”

“Belum tahu. Bu Ratna baru bilang mulai minggu depan.”

“Kamu sudah punya tempat memompa ASI?”

“Ada ruang kecil dekat ruang ganti, tapi pintunya tidak bagus.”

“Minta diperbaiki.”

“Aku akan bilang. Kamu bisa bantu simpan ASI kalau pulang lebih dulu?”

“Kalau aku sempat.”

Nan Shin menatapnya. “Aku butuh jawaban yang bisa dipakai membuat jadwal.”

Cheng An mengembuskan napas. “Baik. Kalau aku pulang dulu, aku langsung masukkan ke pendingin.”

“Dan beri tahu Mama jangan mengocok kantongnya.”

“Aku bilang.”

Ibu Kho yang mendengar dari ruang depan segera menyahut, “Yi Ming sama Mama. Kamu nggak perlu khawatir.”

Keputusan itu selesai tanpa pembicaraan lebih panjang.

Pada hari pertama kembali bekerja, payudara Nan Shin terasa penuh sebelum tengah hari. Ia menyelesaikan pemberian obat, menyerahkan pasien kepada Kak Sri, lalu masuk ke ruang kecil dekat ruang ganti untuk memompa ASI.

Pintu ruang itu tidak bisa dikunci sempurna. Nan Shin menahan gagangnya dengan kursi, memasang pompa, dan melihat foto Yi Ming di ponsel agar ASI lebih mudah keluar.

Belum sepuluh menit, seseorang mengetuk.

“Kak Nan Shin, bed dua muntah lagi.”

Nan Shin memejamkan mata. “Dua menit, Kak Sri.”

“Baik.”

Ketukan terdengar sekali lagi sebelum langkah Kak Sri menjauh.

“Kalau belum selesai, bilang,” seru Kak Sri dari balik pintu. “Aku bisa pegang bed dua sebentar.”

“Antrean obat Kakak bagaimana?”

“Masih aman. Jangan buru-buru sampai ASI-nya tumpah.”

Nan Shin menahan gagang pompa. “Terima kasih, Kak.”

“Nanti ganti bantu aku saat makan siang.”

“Pasti.”

Ia menuang ASI ke kantong penyimpanan, menulis tanggal dan jam, lalu menyimpannya dalam tas pendingin kecil. Saat kembali ke IGD, seragam bagian dadanya masih terasa lembap.

Tidak ada yang bertanya apakah ia sudah pulih sepenuhnya.

Semua orang hanya lega karena satu nama kembali mengisi jadwal.

Suatu sore, ponselnya bergetar saat ia sedang serah terima. Ibu Kho menelepon dengan suara Yi Ming menangis di belakangnya.

“Dia nggak mau minum dari botol,” kata Ibu Kho. “ASI yang kamu tinggal juga tinggal satu kantong.”

Nan Shin menjepit ponsel di bahu sambil menandatangani catatan obat. “Coba hangatkan pelan, Ma. Jangan dikocok. Aku pulang setelah laporan selesai.”

“Kalau dia tetap menolak?”

“Gendong tegak sebentar, lalu coba lagi. Jangan paksa waktu dia menangis keras.”

“Mama sudah urus bayi sebelum kamu lahir.”

Nan Shin menahan suaranya. “Saya tahu. Tapi kantongnya tinggal satu, jadi saya perlu Mama mengikuti cara penyimpanannya.”

“Kamu pulang jam berapa?”

“Kalau laporan selesai tepat waktu, kurang dari satu jam.”

“Anak menangis tidak bisa menunggu laporan.”

“Pasien yang saya serahkan juga tidak bisa ditinggal tanpa laporan.”

Ibu Kho terdiam, lalu berkata, “Ya sudah. Mama coba lagi.”

Tangisan Yi Ming semakin keras. Tubuh Nan Shin merespons lebih cepat daripada pikirannya. Dadanya terasa penuh dan nyeri.

Cheng An kebetulan lewat menuju ruang bedah dengan seragam bersih. Nan Shin menutup sambungan dan memanggilnya.

“Kamu bisa lihat Yi Ming waktu istirahat siang?”

Cheng An melihat jam. “Aku ada dua operasi.”

“Sebentar saja.”

“Kamu kan sebentar lagi pulang.”

Ia mengucapkannya tanpa nada buruk, seolah itu pembagian yang paling masuk akal. Lalu ia berjalan pergi.

Nan Shin menyelesaikan serah terima dengan tas pendingin ASI menggantung di bahu dan tangisan putranya masih terngiang di telinga.

Hari-hari berikutnya membentuk pola. Nan Shin menyusui sebelum berangkat, bekerja sambil menahan rasa penuh, memompa ASI di sela panggilan, lalu pulang membawa kantong-kantong kecil yang harus segera dimasukkan ke pendingin.

Kalau Yi Ming menangis malam hari, Nan Shin bangun.

Kalau pagi berikutnya ia mendapat shift, Nan Shin tetap berangkat.

Cheng An juga semakin sibuk. Bedanya, kesibukan suaminya datang bersama pujian.

Ia dipercaya ikut lebih banyak operasi sulit. Namanya mulai disebut dalam rapat. dr. Hartono pernah menepuk bahunya di koridor dan berkata, “Kerjamu bagus, Dok. Tim bedah memang butuh orang seperti kamu.”

Nan Shin mendengar kalimat itu saat lewat membawa berkas pasien. Ia berhenti dan tersenyum.

“Selamat,” katanya kepada suaminya.

Cheng An terlihat bangga. “Belum resmi apa-apa. Cuma tanggung jawabnya bertambah.”

“Tetap bagus.”

Nan Shin benar-benar ikut bahagia. Ia tahu berapa banyak malam yang dihabiskan Cheng An membaca laporan dan mempelajari kasus. Ia tahu suaminya tidak mendapatkan kepercayaan itu secara cuma-cuma.

Hanya saja, setiap kali tanggung jawab Cheng An bertambah, tanggung jawab di rumah tidak berpindah kepadanya.

Tanggung jawab itu jatuh ke Nan Shin atau Ibu Kho.

Ketika tim bedah Cheng An berhasil menangani kasus besar, rumah sakit mengadakan makan malam kecil di Restoran Phoenix Garden. Cheng An mengirim undangan digital ke istrinya.

Datang, ya. Cuma orang unit dan pasangan.

Nan Shin melihat jadwalnya. Namanya berada di kolom shift malam.

Ia meminta tukar jadwal kepada dua orang. Satu harus menjaga anak sakit. Satu lagi sudah memiliki acara keluarga. Bu Ratna mencoba membantu, tetapi daftar perawat malam terlalu tipis.

“Maaf, Nan,” katanya. “Kalau saya lepas kamu, IGD tinggal tiga orang.”

Nan Shin mengirim balasan kepada Cheng An.

Aku nggak bisa. Jaga malam.

Balasan suaminya datang beberapa menit kemudian.

Ya sudah. Nanti lain kali.

Tidak ada lain kali.

Malam acara itu, Nan Shin mengganti perban pasien sambil sesekali melihat foto yang masuk ke grup rumah sakit. Cheng An berdiri di tengah para dokter, mengenakan kemeja gelap dan memegang plakat penghargaan tim. Orang-orang di sekelilingnya tersenyum. Di meja restoran, kursi pasangan di samping Cheng An kosong.

Kak Sri melihat layar ponselnya. “Itu dr. Kho, ya? Keren.”

Nan Shin mengangguk. “Iya.”

“Kak Nan Shin harusnya ada di sana.”

“Di sini juga butuh orang.”

“Dia sempat telepon?”

“Belum. Acaranya mungkin belum selesai.”

Kak Sri mengembalikan ponsel itu. “Nanti bilang kamu ikut senang. Tapi bilang juga kamu ingin dia melihat siapa yang menjaga rumah sakit malam ini.”

Nan Shin tersenyum tipis. “Kalau aku bilang begitu, kedengarannya seperti menagih.”

“Kadang orang baru sadar setelah ditagih.”

Ia memasukkan ponsel ke saku dan melanjutkan pekerjaannya.

Tahun-tahun bergerak cepat. Yi Ming belajar berjalan, lalu masuk kelompok bermain. Cheng An menjadi salah satu dokter yang paling diandalkan di unit bedah. Nan Shin tetap berpindah dari jadwal pagi, sore, dan malam dengan status kontrak yang diperbarui setahun demi setahun.

Hampir empat tahun setelah kelahiran Yi Ming, rasa mual datang ketika Nan Shin sedang memasang infus pada shift malam.

Ia menahan sampai pekerjaan selesai, lalu membeli alat tes kehamilan di apotek rumah sakit.

Dua garis muncul sebelum ia sempat menghitung satu menit.

Nan Shin berdiri di kamar mandi staf, menatap hasil itu dengan tangan dingin.

Di luar pintu, papan jadwal bulan depan baru saja ditempel.

Namanya kembali memenuhi kolom shift malam.

1
Lili Inggrid
tetap semangat...
Ika Kirana
terlalu lambat alur ny thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!