"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Di dalam private room yang remang-remang, cahaya lampu warna kuning temaram memberi kesan dingin sekaligus mencekam. Asap rokok elektrik menguar tebal di udara, meninggalkan aroma manis yang menyengat.
Seorang lelaki dengan pipi chubby, kumis tipis mirip sungut lele, dan kacamata berbingkai agak tebal tampak duduk bersandar di sofa empuk. Perutnya yang buncit kempas-kempis—setiap kali ia menarik napas, perut dan pipinya yang bergelambir ikut bergoyang. Di atas meja kaca di hadapannya, bertengger beberapa gelas kristal dan sebuah botol wine mahal yang sudah terbuka.
Pria itu adalah Dani, salah satu petinggi Bank Surya yang malam ini ditugaskan menjadi eksekutor perangkap untuk Amira.
Kringgg... Kringgg...
Ponsel Dani di atas meja berdering nyaring. Dani mendengus kesal begitu melihat nama pemanggil di layarnya, lalu menggeser ikon hijau.
"Ada apa?!" cerca Dani tanpa basa-basi.
"Santai dong..."suara Angga terdengar dari seberang telepon, penuh nada ejekan. "Kamu bisa masuk dan duduk di kursi empuk Bank Surya itu kan karena aku. Sekarang saatnya kamu balas budi."
"Aku rutin memberi kamu uang setiap bulan! Apa itu belum cukup?!" sergah Dani seraya membetulkan letak kacamatanya.
"Uang kamu tidak akan pernah cukup untuk memenuhi ambisiku,"balas Angga dingin.
Dani mengepalkan tangannya rapat-rapat, dadanya sesak oleh amarah yang terpendam. "Ini menjijikkan, Angga! Lebih baik aku bayar dan menikmati lonte daripada harus merusak masa depan orang yang tidak bersalah!"
"Berisik!"potong Angga tajam. "Jangan sok bermoral di hadapanku!"
Dani menghela napas berat, matanya terpejam erat. Ia sadar betul posisinya terkunci mati. Angga memegang kartu truf terbesar dalam hidupnya—sebuah rahasia kelam yang jika terbongkar, tak hanya menghancurkan reputasi dan kariernya di perbankan, tetapi juga mengancam keselamatan ibunya yang sangat ia sayangi.
"Tugas kamu simpel: pastikan Amira hancur malam ini. Dan jangan lupa, rekam semuanya tanpa terlewat,"intruksi Angga mendikte.
"Mukaku tidak akan muncul di rekaman itu, kan?" tanya Dani cemas.
"Itu semua sudah kuatur, tenang saja."
"Bagaimana kalau nanti dia mengusut kejadian ini?!" cecar Dani, rasa paniknya mulai memuncak. "Aku ini petinggi Bank Surya! Kalau hal ini sampai masuk ke ranah hukum dan diusut media, karierku hancur!"
"Makanya buat dia trauma berat! Kalau perlu, buat dia sampai gila sekalian! Orangku sudah menyiapkan obat dosis tinggi untuknya."
"Kalau... kalau nanti rencana ini gagal, bagaimana?!"
"Jangan ada kata gagal! Harus berhasil!"bentak Angga di telepon.
"Jikapun gagal, antisipasinya bagaimana?!" desak Dani tak mau kalah.
Angga terkekeh pelan—sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Dani berdiri. "Gampang. Tanggung semua kesalahan itu sendirian. Kamu saja yang menderita di penjara, dan aku jamin keluarga serta ibumu aman. Tapi sebaliknya... kalau kamu coba-cual cari aman sendiri dan bernyanyi, aku pastikan keluargamu yang tidak akan selamat."
"Dasar manusia licik!" maki Dani penuh kebencian.
"Aku tidak licik. Aku hanya sedang mewujudkan ambisiku."
TUT.
Sambungan telepon terputus sepihak. Dani menghela napas panjang untuk menetralkan debar jantungnya. Dengan tangan sedikit gemetar, ia kembali menghirup rokok elektriknya dalam-dalam, lalu meneguk wine langsung dari gelasnya hingga kandas.
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu private room terdengar dari luar. Dani membetulkan posisi duduknya, menekan tombol pada microphone meja yang terhubung ke speaker pintu luar.
"Masuk," ucap Dani dengan suara yang dikondisikan sedingin dan seberwibawa mungkin.
Pintu tebal berornamentasi kayu itu pun perlahan terbuka. Rini melangkah masuk lebih dulu dengan senyum manis buatan, disusul oleh Amira yang melangkah anggun namun dengan tatapan mata yang penuh kewaspadaan.
Amira melangkah masuk ke dalam ruangan. Seketika, hidungnya menangkap bau asap rokok yang pekat bercampur aroma alkohol yang menyengat. Pandangannya mengedar meneliti interior ruangan yang serba remang-remang. Insting kewaspadaannya langsung menyala merah.
"Selamat malam, Pak Dani," sapa Rini memecah canggung seraya mengumbar senyum manisnya.
"Malam," jawab Dani dingin tanpa beranjak dari posisi duduknya.
"Terima kasih sudah menyediakan waktu Anda, Pak. Saya diwakilkan oleh Bu Ratna untuk mengajukan pinjaman ke bank yang Bapak pimpin," ucap Rini membuka pembicaraan.
Dani memandang Rini sekilas, lalu beralih menatap Amira dengan intens. "Anda ini siapa?" tanya Dani memotong pembicaraan.
"Saya Rini, Pak... sekretarisnya Ibu Amira."
"Kenapa jadi Anda yang bicara?" tebas Dani dengan nada suara yang meninggi. "Harusnya CEO yang bicara! Apakah Anda berniat melangkahi posisi CEO Anda sendiri?"
Rini terdiam skakmat. Ekor matanya melirik tajam ke arah Amira yang masih berdiri mematung. Amira menarik napas panjang, memahami kode situasi itu. Dengan enggan, ia akhirnya bersuara.
"Maaf, Pak Dani. Saya Amira," potong Amira tenang. "Apapun yang dikatakan oleh Rini adalah wewenang yang saya berikan. Jadi, tidak masalah kan kalau sekretaris saya yang menjelaskan detailnya?"
"Tidak bisa!" sentak Dani kaku. "Saya ingin mendengar suara Anda... bukan mendengar celotehan sekretaris Anda!"
Asap rokok elektrik kembali menguar tebal dari mulut Dani, membuat dada Amira makin sesak dan tidak nyaman. Amira kembali melirik ke atas meja—hanya ada piring kecil berisi kacang, botol wine, dan dua gelas kristal. Tidak ada minuman air mineral atau camilan netral lainnya. Amira makin bertekad kuat di dalam hatinya: malam ini, ia tidak akan menyentuh makanan atau minuman apapun di ruangan ini! Ia tidak boleh membiarkan tragedi jebakan malam itu terulang kembali.
"Baiklah, Pak Dani," ucap Amira datar, mencoba profesional. "Ngomong-ngomong, apakah lampu ruangan ini bisa diterangkan sedikit?"
Dani memicingkan matanya. "Untuk apa?"
"Supaya Bapak bisa membaca dokumen portofolio perusahaan saya dengan jelas," sahut Amira sigap.
Dani tertawa terkeh-keh, perut buncitnya ikut bergoyang. "Tidak usah! Malam ini saya sedang tidak ingin membaca kertas. Saya cuma ingin mendengar suara manis kamu."
"Amira, untuk masalah berkas portofolio, nanti biar aku email saja ke beliau," bisik Rini menyela cepat.
"Nah! Sekretaris kamu pintar itu," puji Dani seraya menyeringai. "Sekarang, aku hanya ingin mendengar kamu mempresentasikan perusahaan kamu secara langsung."
Amira melihat ke arah Rini. Rini menganggukkan kepalanya pelan, memberi kode agar Amira mengikuti saja kemauan pria di hadapannya itu.
Bagi Amira, mempresentasikan kondisi perusahaan adalah hal yang sangat mudah karena seluruh data sudah di luar kepalanya. Dengan lugas, Amira mulai memaparkan cash flow, proyeksi profit, dan rencana ekspansi perusahaannya. Dani tampak mendengarkan dengan antusias, tetapi tatapan matanya yang jalang terus menguliti lekuk tubuh Amira tanpa malu-malu—tatapan yang seolah hendak menelanjangi Amira di tempat.
"Jadi Pak Dani, progress perusahaan kami sangat bagus dan sehat. Kami yakin pihak Bank Surya tidak akan rugi bekerja sama dengan kami," tutup Amira mengakhiri penjelasannya.
Dani menyesap wine-nya pelan, lalu bersandar. "Itu cuma cerita verbal. Semua orang bisa mengarang cerita indah. Aku butuh jaminan yang real."
"Jaminan apa, Pak? Perusahaan kami sedang tumbuh pesat dan track record perbankan kami sangat bersih."
"Untuk mendapatkan pinjaman sebesar 3 miliar... saya butuh jaminan yang sepadan," ujar Dani serak.
Amira mengerutkan dahi. "Kami hanya mengajukan pinjaman sebesar 1,5 miliar, Pak. Tidak sebanyak itu."
"Saya yang menawarkan untuk menaikkan plafonnya jadi 3 miliar... asalkan kamu mau memberikan jaminan yang saya minta," kekeh Dani dengan senyum menjijikkan.
Amira mencoba menahan emosinya. "Kalau untuk jaminan aset, beberapa sertifikat gudang dan gedung kantor saat ini dipegang oleh Mamah saya. Nanti saya bisa koordinasikan dulu dengan beliau."
"Saya tidak butuh kertas-kertas sertifikat itu!" potong Dani cepat.
"Lalu, Bapak butuh jaminan apa?" tanya Amira mulai habis kesabaran.
Dani menegakkan posisi duduknya, menatap Amira dengan pandangan penuh gairah kotor.
"Saya hanya ingin tubuh kamu yang jadi jaminannya."