Karena hutang kedua orang tuanya, seorang gadis berusia 25 tahun terpaksa harus menerima nasibnya untuk menjadi istri seorang duda paruh baya berusia 55 tahun.
Anyelir, nama gadis malang itu. Ia diperistri, namun lebih layak disebut pembantu.
Namun kisah lain muncul dibalik semua derita yang menderanya. Anyelir secara tidak sadar telah jatuh cinta pada laki-laki tampan yang kini menjadi anak tirinya. Diam-diam, keduanya menyimpan rasa yang sama dan menimbulkan sebuah masalah.
Akankah cinta terlarang mereka menemukan jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Menakutkan
Tengah hari, Dorman sudah kembali pulang. Ia terkejut mendapati Anyelir telah keluar dari gudang. Sebelum sang ayah kembali mengamuk dan menyiksa Anyelir, Reiga segera menghampiri Dorman dan berbicara pada ayahnya tentang apa yang terjadi.
"Jangan menyakitinya, Ayah. Dia tidak pernah mengatakan apapun padaku, apalagi tentang keinginannya bercerai dengan Ayah. Semua yang aku katakan adalah inisiatif ku sendiri. Aku hanya berniat membantunya," terang Reiga.
"Jadi, kau mengeluarkannya dari gudang?" tanya Dorman.
"Dia kedinginan sepanjang malam, tubuhnya demam. Seharusnya Ayah tidak perlu melakukan hal seperti itu."
Dorman nampak tidak peduli. Ia menghela napas panjang sambil memperhatikan anaknya.
"Kali ini Ayah memaafkanmu. Tapi jangan sekali-kali ikut campur masalah apapun tentang ibu tirimu!" seru Dorman menegaskan.
Reiga tidak memberi jawaban, ia hanya diam dan menatap punggung Dorman yang berjalan meninggalkannya.
Sore harinya, Anyelir sudah berada di dapur. Gadis itu sedang memasak untuk makan malam mereka nanti. Reiga yang baru saja keluar dari kamar, menghampiri Anyelir ke dapur dan duduk di kursi makan.
"Apa kau sudah merasa sehat?" tanya Reiga.
"Hmm." Anyelir mengangguk.
"Apa Ayah sedang pergi?"
"Ya, sepertinya sedang ada urusan mendadak."
"Kau tidak dimarahi lagi, kan?" Reiga penasaran sekaligus khawatir.
Anyelir tersenyum tipis sambil menggeleng. "Tidak. Ini semua berkat kau."
Reiga pun ikut tersenyum dan merasa lega. "Sekali lagi, aku minta maaf."
"Tidak apa-apa."
"Apa yang sedang kau masak? Mau ku bantu?" tawar Reiga. Ia bangkit dari kursinya dan mendekati Anyelir.
"Kau mau membantu? Aku akan membuat tumis sayur dan ayam panggang teflon."
"Hmm, masakanmu enak. Kau mengingatkanku pada Ibu," ucap Reiga sambil mengambil alih pisau dari tangan Anyelir. Laki-laki itu membantu ibu tirinya memotong bawang sementara Anyelir beralih mencuci sayuran.
"Benarkah? Terima kasih."
"Ngomong-ngomong, berapa umurmu?"
"Aku? Aku dua puluh lima tahun," jawab Anyelir.
"Wah, kau benar-benar masih muda. Kita selisih dua tahun dan aku lebih tua darimu."
Reiga benar-benar sosok yang ramah dan sopan. Ia berbicara dan bercerita pada Anyelir seakan-akan mereka sudah dekat dan saling mengenal lama. Reiga menceritakan tentang kehidupannya di kota serta pekerjaannya.
Anyelir merasa senang dan terhibur. Akhirnya, ada orang lain di rumah ini yang bisa membuatnya merasa nyaman.
"Apa kau punya pekerjaan sebelumnya?" tanya Reiga.
"Tidak, aku lulusan SMA. Aku biasa mengajar les anak-anak sekolah dasar di dekat rumahku. Terkadang, orang tua mereka memberiku uang setiap minggu meskipun aku tidak pernah memintanya."
"Kau berbakat jadi guru?"
"Aku pernah memiliki cita-cita seperti itu."
"Lalu?"
"Anak dari keluarga miskin sepertiku mana mungkin bisa kuliah. Lagipula, aku tidak bisa meninggalkan kedua orang tuaku. Jadi, aku memutuskan untuk membantu mereka di kebun teh setiap pagi hingg siang, lalu sore mengajar anak-anak les."
"Ah, begitu." Reiga menganggukkan kepala pelan. Tidak heran, semua warga yang mengenal Anyelir pasti membanggakan gadis itu. Tidak hanya cantik dan baik hati, Anyelir juga sosok yang sangat berbakti pada kedua orang tuanya.
Dengan bantuan Reiga, Anyelir bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Semua menu yang akan ia hidangkan telah selesai. Kini, Anyelir bisa duduk bersantai di halaman depan rumah mereka.
Suasana sore yang nyaman membuat Anyelir melamun, ia merindukan orang tuanya dan mencemaskan keadaan ibunya. Ia ingin pulang, namun tidak punya keberanian untuk meminta izin pada Dorman.
...****************...
Setelah makan malam, Anyelir beristirahat di dalam kamarnya, sementara Dorman dan Reiga asik menonton acara sepak bola bersama.
Di dalam kamar, Anyelir gelisah dan khawatir. Sejak pagi menstruasinya sudah berhenti. Ia semakin takut setiap kali memikirkan sikap buruk sang suami. Terlebih, ia sama sekali tidak pernah menginginkan sesuatu terjadi di antara mereka. Memikirkannya saja sudah membuat Anyelir jijik, apalagi jika itu semua sampai terjadi.
Menjelang tengah malam, Dorman masuk ke dalam kamar. Ia melihat Anyelir sudah memejamkan kedua matanya. Sebelum naik ke atas tempat tidur, Dorman masuk ke dalam kamar mandi. Ia melihat tempat sampah di dalam kamar mandi dalam keadaan kosong. Biasanya, selalu ada satu sampah pembalut yang sudah dicuci bersih di dalam sana.
Dorman segera kembali ke kamar dan mendekati Anyelir, ia duduk di dekat kaki Anyelir dan meraba tubuh istrinya.
Anyelir yang tengah berpura-pura tidur pun menjadi gugup dan takut. Ia sama sekali tidak bergerak meskipun tangan Dorman mulai menelisik ke dalam bajunya.
"Bangun!" sentak Dorman.
Seketika, Anyelir membuka mata.
"Apa kau sedang menipuku? Aku tahu kau sudah tidak haid lagi. Apa kau benar-benar tidak bersedia melayaniku?" tanya Dorman.
"Tidak, bukan maksud saya begitu." Anyelir menggeleng cepat.
"Bohong!" seru Dorman. Ia menampik lampu tidur di samping Anyelir hingga jatuh dan pecah. Dorman lalu menarik tubuh Anyelir dan membuka selimut tebal yang menutupi tubuh gadis itu.
Dari ruang tengah, Reiga bisa mendengar suara gaduh dari dalam kamar ayahnya. Ia penasaran sekaligus mencemaskan keadaan Anyelir, namun masuk ke dalam kamar ayah dan ibu tirinya di malam hari tentu bukanlah hal yang bisa ia lakukan sesuka hati. Kini, Reiga hanya bisa berdoa dan berharap semuanya baik-baik saja.
Di dalam kamar, Dorman melepas semua kain yang menempel di tubuh Anyelir dengan kasar. Tidak ada yang bisa Anyelir lakukan selain berpasrah. Jika ia memberontak sedikit saja, Anyelir tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dorman pun melepas pakaiannya. ia memaksa Anyelir memuaskan hasratnya secara oral. Seakan tidak puas, sesekali Dorman bahkan mencambuk tubuh Anyelir dengan ikat pinggang untuk mendapatkan sensasi yang berbeda.
Anyelir hanya bisa menangis dan pasrah. Ia melakukan apapun yang Dorman inginkan meski dengan hati yang tidak rela.
Lagi-lagi, Anyelir menghabiskan malam yang panjang dengan tangisan penderitaan yang tiada habisnya.
...****************...
trus knp kamu masih diem aja dn peduli sm orang kyk gtu 🤔🤦♀️